Tampilkan postingan dengan label MY FANFICTION. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MY FANFICTION. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Juni 2013

Black Day With Spooky Girl


Hannam-dong, Yongsan-gu, Seoul, Korea Selatan

“Nggak punya Yeojachingu sampai sekarang? Hahaha! Kau kalah, Min-ie . Yoochun-hyung yang tubuhnya subur saja bisa dapat Yeojachingu. Kenapa kau nggak bisa?” seloroh seorang pemuda berwajah imut—kalau tak mau dibilang cantik—dan bermata bulat, bernama Han Jaejoong.

“Walau aku agak gemuk yang penting kan, pesonaku tetap terpancar kuat jadi gampang ngedapetin yeojachingu. Dari pada magnae itu?” Yoochun yang merasa terhina tak terima. Dagunya mengedik sengak ke arah pemuda yang menjadi bahan pembicaraan.

Penghuni rumah sewa termuda itu, Shim Changmin hanya duduk mengkerut di sofa paling ujung sambil masang muka super masam.
Sedangkan pemuda lain yang duduk di sebelah Changmin nepuk-nepuk bahunya sambil tersenyum geli.

“Sudah terima saja kekalahanmu,” kata pemuda yang nepuk bahu Changmin itu. Kim Junsu namanya atau lebih sering dipanggil Dolphin karena suaranya yang merdu.

“Besok sudah black day lho... Jadi—”

Yunho, pemuda bermata tajam menyela omongan Jaejoong. “Terima hukumanmu besok!”

Dan semua yang ada di ruangan utama ketawa berbarengan kecuali...

“Aish! Kalian ini kejam! Tega banget sih ngebiarin aku kencan dengan makhluk bukan manusia seperti itu demi sewa gratis sebulan?!” pekik Changmin dengan ekspresi berlebihan. Kelihatan banget kalau dia belum bisa nerima kekalahannya.

***

Di salah satu area rumah yang disewa secara patungan dan dihuni oleh 5 orang namja . Tercetuslah pada suatu malam—karena kesibukan masing-masing: Jaejoong dan Yunho di Seoul untuk kuliah, Yoochun bekerja, Junsu dan Changmin yang masih nyandang status sebagai Pelajar SMU yang juga merangkap menjadi Trainee di sebuah Perusahaan Musik—sebuah kesepakatan bahwa mereka semua yang notabene tak punya seorang pun Yeojachingu, harus nyari sebelum Black Day. Kalau kalah, mau tak mau harus kencan sama Min
Ja Young, anak Pemilik rumah yang mereka tinggali.

Beberapa hari sebelum ide nyari Yeojachingu ini tercetus, Min-ahjumma pernah berkeluh kesah—sekaligus secara nggak langsung ngasih sayembara gitu deh—bahwa siapa pun Penghuni rumahnya yang mau kencan sama Ja Young maka dia bakal ngegratisin biaya sewa selama sebulan. Tapi tak ditanggapi oleh 5 Namja itu lantaran mereka tahu betapa menakutkannya Ja Young. Itu jugalah yang jadi kendala kenapa Ja Young tetap menjomlo dan bikin Min-ahjumma kebakaran jenggot lantaran takut anaknya nggak laku seumur hidup.

Black Day pun tiba...

“Sial! SIALLL!!!” Cangmin teriak-teriak kesal. Rasa geregetan itu memang sejak matanya melek sudah bersemayam tapi menjadi semakin naik dosisnya setelah dia memakai pakaian berwarna suram itu.

Kenapa harus ada Black Day? Dan kenapa juga aku harus menjomlo di tanggal 14 April? Kenapa??? Changmin ngomel-ngomel dalam hati. Bikin dia ngacak-acak rambut saking frustasinya.

“Sudahlah, Min-ie. Tak perlu memasang ekspresi kayak itu. Nanti bisa cepat tua lho? Nggak kayak aku, walau umur 100 tahun pun bakalan terus sweet seventeen. Hehehe...,” ucap Jaejoong, Roomate-nya yang duduk di pinggir ranjang tepat di belakang Changmin.

Pagi tadi dialah pelaku yang ngebangunin Changmin dengan semena-mena lalu milihin kemeja lengan panjang warna hitam itu untuk Changmin pakai dan sampai sekarang tak mau hengkang dari kamar si Magnae. Bisa Changmin lirik sosok Jaejoong tengah senyum-senyum mengejek dalam pantulan cermin yang dia tatap.

“Kenapa Hyung dulu harus setuju dengan ide gila si Dolphin, sih?” Changmin berbalik, menatap Jaejoong tajam. “Walau taruhan kita berlima, aku yang kalah karena nggak dapet Yeojachingu. Tapi hyung bela aku, dong! Masa, aku yang tampan ini harus ikut
Black Day? Ditambah nge-black day-nya bareng Alien nyeremin kayak gitu. Mau ditaruh di mana muka tampanku? Bisa turun pamorku di mata Yeoja jika aku yang paling populer seantero Sekolah, ketahuan kencan bareng makhluk nggak banget kayak gitu di
Restoran Jajangmyeon . Sial!” Changmin berteriak kesal tapi narsis. Lagi.

Pletak!

Jaejoong pun mendekat lalu menoyor kepalanya. “Sok kecakepan!”

“Hehehe....”

Mendengar kekehan mengejek, Changmin lantas menyorotkan mata ke orang yang menyembulkan kepala dari luar pintu kamar.

“Tuhan memang adil, Min-ie. Biasanya kami yang sering kau dikerjai. Sekarang nerima karmanya, kan? Hahaha!” Junsu semakin tertawa terbahak-bahak di ambang pintu.

“Sudahlah. Dengan memasang wajah kecut terpaksa begitu nanti Min-ahjumma ngerasa tersinggung lho, Min-ie. Kalau kau tak makan
Jajangmyeon bareng Ja Young yang juga ngelakuin Black Day. Lalu kencan dengannya sambil ngenalin gimana asyiknya jadi Yeoja biasa, uang sewa kau bayar penuh sebulan.” timpal Yoochun yang sosoknya tak nampak dari dalam kamar.

Changmin menghentakkan kaki kesal dan keluar dari kamar, disusul oleh Penghuni lain yang mengekorinya sambil berkasak kusuk.

“KALIAN SEMUA! Awas nanti! Akan kubalas! Pasti!”

Brakkk!!!

Suara pintu kebanting yang lumayan keras menghilangkan sosok Changmin yang menyedihkan tapi cukup membuat semua orang yang tersisa di dalamnya bahagia. Terbukti, sepeninggal Changmin mereka ketawa lagi dengan suara yang lebih kencang minus Yunho tentunya karena orang satu itu pelit ngeluarin suara. Hanya senyum tipis yang bisa dia keluarkan.

Tak berselang, 4 orang Namja itu buru-buru ngambil dompet, jaket dan benda lain lalu bergegas keluar ruangan untuk ngebuntutin Changmin. Bisa saja, kan? Changmin nggak ngelaksanain hukuman tapi malah asyik pergi ke tempat lain.

***

“NGGAK MAU!!!” tolak Jayoung. Dia pun kabur dari ruang tamu, di mana Changmin dan ibunya berada menuju ‘oasis’nya yang damai.

Ibunya sontak ngejar tapi nggak lupa ngegandeng tangan Changmin biar mau ikutan ke kamar Jayoung.

Brakkk!

Jayoung nutup pintu kasar. Ruangan bercahaya lampu minim dengan interiornya yang aneh atau bisa dibilang nyeremin. Menjadi tempatnya biasa ‘berteduh’ setelah melakukan bermacam-macam pekerjaan rumah yang mengharuskan dirinya bertemu dengan banyak orang dan terpapar sinar matahari yang bikin silau—bagi dia.

Brak!

“HYAAA!!!”

Changmin melompat keluar kamar karena kaget dengan penampakan benda-benda menyeramkan yang tergeletak di kamar Jayoung. Baru kali ini dia ngelihat kamar semenyeramkan ini. Bahkan Wahana permainan Rumah Hantu di Lotte World yang pernah dimasukinya kalah seram dibandingkan kamar Jayoung.

“Astaga, Jayoung-ah . Eomma hanya pengen kamu bisa kayak Yeoja normal yang suka shopping, jalan-jalan terus main ke taman hiburan, nggak jadi yeoja horor kayak gini.” Ibunya nyoba ngebujuk dengan nampilin muka melas supaya Jayoung ngerasa bersalah.

“Wah! Kalau aku jual tiket masuk untuk uji nyali di sini bisa laku keras nih!” Changmin yang syoknya sudah hilang malah berbalik jadi natap seluruh isi kamar Jayoung dengan terkagum-kagum. Naluri bisnisnya nongol.

Pletak!

Kepalan tangan melayang indah di kepala Changmin. Dia sudah sukses bikin Ibunya Jayoung tambah gondok. “Bukan saatnya memikirkan itu! Bujuk putriku biar mau pergi!” hardik Ibu Jayoung.

“Ya, maaf, Ahjumma! Maklumlah, saya kan punya bakat bisnis,” jawab Changmin santai sambil ngusap-usap benjol di kepalanya.

***

Cheonggycheon, Myeong-dong, Seoul, Korea Selatan

Akhirnya dengan air mata bombay sang Ibu—yang tak ketinggalan ancaman kalau tak mau pergi, Jayoung akan dipaksa masuk ke kelas menari, perawatan tubuh rutin, dan melakukan hal-hal merepotkan lain—dengan lunglai, Jayoung mau juga keluar rumah. Sekarang mereka sudah sampai di Cheonggycheon. Kawasan di mana ada sungai yang tertata indah dengan taman bunga yang diapit 2 jalan raya. Untung sekarang musim semi jadi bunga sedang bagus-bagusnya pada mekar termasuk bunga mawar merah di depan sana.

Tentunya karena Changmin yang pinter ngegombal alias ngebujuk Ibu Jayoung. Alhasil acara kencannya dengan si gadis aneh penyuka kegelapan itu seratus persen nggak bermodal karena dari rumah Jayoung, Cangmin dapat kartu kredit unlimited yang tinggal gesek.

Eits! Tentunya segala yang gratis itu ada imbal baliknya. Selain ngasih dana kencan, sang ibu yang frustasi itu juga ngasih list ke tempat-tempat yang harus Changmin datangi bareng Jayoung.

Jurus rayuan ala Changmin yang biasanya sukses bikin luluh Siswi-siswi di sekolahnya mulai dilancarkan. “Jayoung, lihat! Mawarnya indah dan wangi ya?” Changmin pun nyoba metik mawar merah sekuntum.

“Iya, semerah darah,” jawab Jayoung asal sambil ngamati mawar merah itu dengan senyuman iblis.

Crasss!

“Aduh!” pekik Changmin ketika tangannya tergores duri mawar yang tajam. Darah pun bercucuran dari jari-jarinya.

Mata Jayoung tiba-tiba berbinar-binar. Wajahnya kelihatan sumringah sambil natap telunjuk Changmin yang berdarah. Sigap,

Jayoung meraih tangan Changmin. “Wah…” Jayoung memegangi punggung tangan Changmin dan tangan satunya mengusap darah yang keluar di permukaan kulit jarinya.

“Hoh… Jayoung ternyata bisa punya ekspresi manis juga, ya?” Jaejoong terpukau.

4 Namja yang mengintip dari balik tanaman merambat memandang adegan manis itu dengan muka berseri-seri. Baru kali ini mereka melihat Jayoung tangkas membantu orang yang terluka. Selama ini mereka lumayan tahu bagaimana Jayoung. Yeoja aneh yang suka hal-hal suram dan horor. Selalu ngomong sedikit tapi jleb! Tajam. Dan benar-benar tak seperti Yeoja kebanyakan.

Srakkk! Brukkk!

“AAA!!!” Teriakan kaget sekaligus kesakitan muncul dari mulut Changmin karena sekarang dengan sukses tubuhnya terkapar di atas tanaman mawar yang berduri. Jayoung lah tersangka yang sudah mendorong tubuh Changmin kelautan duri mawar dengan sadis.

“Hihihi~ Pemandangan yang indah… Rasanya kayak jadi Elisabeth Bathory saja. Hihihi~” Jayoung malah terkikik senang.

4 orang pengintip kencan orang, masih melongo antara tak percaya dan syok berat. Mereka terpaku beberapa saat, setelah otak bekunya mampu menerima peristiwa di luar nalar barusan, barulah mereka bertiga berlari tergopoh-gopoh menolong Changmin yang masih meraung-raung kesakitan dan berusaha bangun dari tempatnya terjatuh. Cukup sulit ternyata untuk bangun dari tumpukan tumbuhan manis nan berbahaya ini karena bajunya nyantol di duri-duri mawar.


“Percuma saja. Percuma melakukan apa pun juga. Kasihan Min-ie jika harus terus jalan-jalan bareng Jayoung.” Junsu berkata dengan lesu.

Changmin yang merasa dibela mulai kembang kempis hidungnya. “Dolphin! Kau memang yang paling pengertian.” Tak segan Changmin meluk Junsu tapi cepat-cepat dipisah Yunho.

“Tetap lanjutkan acara kencan! Aku jadi penasaran kenapa tuh Yeoja jadi sesadis itu.” Yunho berseloroh sambil ngelirik Jayoung yang berjongkok di pinggir sungai, lagi main air.

Ingin rasanya Changmin nonjok Yunho tapi sayang Yunho terlalu nakutin buat dilawan. Dia cuma bisa merengek minta pulang.

“Sudah. Sudah. Aku setuju tuh sama Yunho.” Jaejoong menengahi lalu merampas kertas list dari Ibu Jayoung yang tadi dikasih ke
Changmin. “Min-ie, Ajak Jayoung ke tempat selanjutnya,” perintah Jaejoong.

Changmin memasang puppy eyes biar Jaejoong dan ketiga kawan serumahnya kasihan tapi sayangnya gagal.

***

Pierre Garnaire, Gangnam-gu, Seoul, Korea Selatan

“Aduh!” Jayoung sweatdrop melihat di sekelilingnya semua berkerlip berkilau-kilau. Matanya memicing dan keringat dingin meluncur di keningnya.

“Di sini yang paling terkenal lezat kata si Pelayan tadi itu Cordon bleu. Kau mau pesan itu?” Senyum flamboyan—meski was-was
—terukir manis di bibirnya.

“Min-ie! Aku juga mau dong, Cordon bleu-nya?” Tak jauh dari meja Changmin dan Jayoung, Yoochun ikut-ikutan minta makan dengan nggak elegan.

Pletak!

Garpu yang tergeletak rapi di meja mendarat mulus di kepala Yoochun. Yunho geram melihat teman kampungannya itu. Sedangkan
Changmin yang beda meja dengan mereka berempat, pura-pura nggak kenal dan bertampang sok cool. Dalam hati dia merutuki nasib
kenapa punya teman senorak Yoochun.


59 menit 59 detik kemudian…

Keringat sejagung-jagung Jayoung makin deras mengalir dan akhirnya karena nggak tahan lagi dengan silaunya tempat di mana dia berada. Jayoung pun meraih gorden yang menempel apik di jendela besar Restoran dan...

Brettt!

Jayoung menarik gorden itu sekuat tenaga. Dipakainya gorden itu untuk menutupi seluruh tubuhnya yang berbalut gaun tanpa lengan warna pastel—tadi sempat pulang dan dipaksa ganti gaun sama ibunya—sampai ke mukanya.

“NO-NONAAA!!!” pekik salah seorang Pelayan. Changmin dan 4 namja lain melotot bin melongo melihat fenomena ganjil yang kembali
terulang.

“Anu, Ja-Jayoung… An-anu…” Changmin mulai panik. Selanjutnya sibuk meminta maaf pada Manajer Restoran yang datang dengan muka begis. Pengunjung lain ada yang terkikik geli, menatap horor penampakan Jayoung yang beraura gelap nan seram dan ada yang terpana tak berkedip sejak tadi melihat beberapa namja yang tampan dan keren.

“Nggak tahan! Nggak tahan! Pengen pulang!” Jayoung ngedumel sendiri sambil melangkah keluar dari Restoran.

***

“Sudah! Kita pulang saja! Sudah capek hati tahu ngeliat kelakuan aneh Jayoung!” keluh Jaejoong yang jadi juru bicara dari isi hati yang lain kecuali Yunho.

Dia malah merasa Jayoung itu unik dan lumayan merasa geli. Tak pernah sekalipun dalam 22 tahun hidupnya dia menemui Yeoja ‘sekeren’ Jayoung. Tapi sayangnya Yunho terlalu gengsi bilang, jadi teman-temannya menganggap Yunho sepemikiran dengan mereka.

“Hei, bukan kah list-nya masih belum semuanya dilaksanakan?” Yunho Angkat bicara. Semua serempak menatap Yunho aneh karena
wejahnya tak seekspresi dengan mereka. Wajah itu nampak tersenyum tipis.

“Hyung mau meneruskan? Nih, kartu kredit-nya.”

“Kami pulang ya. Jaga si Alien itu baik-baik!”

Yunho hanya tersenyum miring mendengar celotehan teman-temannya sebelum berjalan ke halte bus terdekat.


“Nonton film drama? Ngebosenin.” Yunho sibuk membaca secarik kertas di tangannya. Sejenak dia lupa keberadaan Jayoung yang
menjauh karena tertarik dengan poster pilm ‘Puss in Boots’. Begitu sadar, Yunho celingukan mencari Jayoung.

“Wah! Pilmnya seru tuh kayaknya.” Yunho yang mendekat tanpa Jayoung sadari dan tiba-tiba ngomong berhasil bikin Jayoung kaget.
Spontan dia membalik badan dan tak sengaja malah nabrak dada Yunho. “Ayo. Puss on Boots!” Ajak Yunho sambil ngegandeng tangan Jayoung erat.

Waktu berlalu tanpa terasa. Mereka berdua menyusuri trotoar, jalan pelan-pelan. Yunho seperti tak mau melepas genggaman tangannya pada Jayoung. Padahal Yeoja itu sejak keluar dari gedung bioskop merasa risih tapi tak cukup punya keberanian uat narik keras tangannya. Serasa ada sesuatu dalam dirinya yang bikin dia tak mampu untuk menolak perlakuan Yunho.

“Emmm...” Jayoung bergumam tak jelas. Mencari ancang-ancang untuk bicara tapi tak juga bisa ngomongin apa yang lewat di benaknya dan sudah mendesak sejak tadi untuk diungkapkan.

Yunho tak menoleh. Wajahnya tetap lurus mandangin apa yang terhampar di depannya. “Kalau mau mengatakan sesuatu, katakan saja,” ucapnya seolah tahu bahwa ada hal yang ingin Jayoung bicarakan.

“Em... It-itu... yang tadi... Si Puss itu...” Kegugupan melanda. Mulut Jayoung seperti kena lem super anti badai.

Kaki Yunho berhenti melangkah, alhasil Jayoung yang terus berjalan nunduk nubruk punggung tegap itu. “Aish!” Jayoung mundur selangkah. Pengennya sih mundur berlangkah-langkah tapi apa daya tangannya terbelenggu gitu.

“Ah, kau lapar tidak? Kita makan dulu, oke?” Yunho menggoncang-goncang gandengan tangan itu seraya tersenyum ramah.

Jayoung hanya diam, melirik sekilas lalu kembali natap aspal.

“Tenang. Aku tak seperti Changmin yang mata duitan, kok. Aku yang traktir. Kartu kredit punya Eomma-mu tak kupakai secuil pun.
Ayo!” Ditariknya kencang tangan Jayoung. Tak lama masuklah mereka ke sebuah warung Bulgogi .

“Eh? Tapi—” Jayoung mencoba nolak tapi tenaganya kalah jauh dari Yunho.

“Karena kita sama-sama sudah kenyang. Ayo, kau mau ngomong apa, hm?” Yunho yang kesehariannya jarang tersenyum, seharian tadi entah kenapa sering tebar senyuman lembut pada Jayoung.

Hening. Jayoung hanya nunduk kayak biasa.

“Baiklah, kalau kau tak mau bicara.” Yang tadi bertopang dagu kini kembali nyandarin tubuhnya ke sandaran kursi. “Aku tahu semua tentangmu jadi karena itulah aku tak begitu heran, kau malah memilih menonton ‘Puss in Boots’ ketimbang pilm horor. Itu kan yang mau kau tanyakan?”

Jayoung ngangguk gamang. Matanya mulai berani menatap Yunho.

“Tahu tidak? Selama ini aku memperhatikanmu. Kau itu gadis teraneh yang pernah aku kenal. Suka hal-hal horor, selalu memasang raut menyeramkan tapi di balik itu, kau berubah lembut ketika merasa iba melihat kucing yang terluka di pinggir jalan.”

Ja Young langsung melotot kaget. “Kenapa kau tahu soal kucing?” tanyanya lancar selancar seluncuran anak TK.

“Beberapa minggu lalu kau duduk berjongkok di pinggir jalan membantu kucing yang masuk selokan, kan? Aku mulai penasaran padamu sejak itu. Ternyata setelah tahu banyak hal tentangmu. Kau tak semenakutkan apa yang selalu nampak. Kau menyukai kucing, tapi
karena Eomma-mu alergi kucing kau tak bisa memeliharanya. Wajah galak yang terpampang dan hal-hal menyeramkan yang kau suka itu sebenarnya hanya kamuflase, kan? Aku juga tahu itu.” Yunho mendekatkan wajahnya ke arah Jayoung tapi Jayoung malah mundurin wajah. Jantungnya berdetak tak beraturan. Rasanya dia seperti tersanjung karena ada yang tahu sedetail itu tentang dirinya.

Tapi... Kamuflase?

“Kenapa ka-kau bilang kamuflase?”

“Eomma-mu pernah cerita kalau kau berubah begini sejak Eonni-mu yang kau anggap cantik sempurna dan selalu kau idolakan itu meninggal. Kau takut pada semua Namja karena Eonni-mu meninggal karena disakiti oleh namja. Benar, kan?” Yunho mengulurkan tangan lalu meraih tangan Jayoung. “Percayalah, tak semua namja itu jahat. Kalau ada yang menjahatimu kelak, bilang saja padaku. Aku akan melindungimu.” Matanya menatap lekat Jayoung. Berusaha mengalirkan kehangatan dan melunakkan hatinya yang sudah beku.

Tanpa Jayoung sadari, matanya mulai ngabur perlahan. Cairan hangat menggenang lalu mengalir, membuatnya langsung nunduk karena merasa malu ketahuan nangis di depan Yunho.

“Hei, menangislah. Mungkin dengan begitu rasa sakitmu selama ini bisa hilang. Tapi setelah kuharap kau kembali pada dirimu yang dulu. Oke?” Diusap-usapnya puncak kepala Jayoung penuh sayang. Alhasil Jayoung nangis makin keras.

***

Beberapa hari kemudian...

“Hei, hyung. Kok bisa sih kau menaklukkan Yeoja horor itu?” Junsu bertanya penasaran.
Yunho malah mendelik. “Hei, namanya Jayoung. Mengerti?!”
Seketika Junsu mengangguk takut.

“Wah... Kalau tahu Jayoung aslinya cantik begitu sudah kudekati dia dari dulu.” Changmin menatap keluar jendela dengan sorot berbinar.

Plak!

“Auw!”

Yunho tanpa aba-aba ngejitak kepala Changmin. “Kau dekati dia, awas kau!”

“Ampun, hyung.” Changmin mengusap-usap kepalanya seraya meringis.

“Anyway, thanks ya, Yun-ie. Berkat kau biaya sewa kita gratis sebulan.” Jaejoong merangkul Yunho sambil cengar cengir. Yoochun
yang sibuk ngemil sambil nonton Televisi mengangguk setuju.

“Siapa bilang gratis? Aku menolak penggratisan itu. Aku tak mau dibilang mendekati Jayoung karena ada maksud terselubung.
Mengerti?” Yunho berkacak pinggang.

Yoochun seketika langsung tersedak, “Tap-tapi, hyung?”

“Sudah, ah! Aku mau berkencan dulu dengan Yeoja-ku Min Jayoung,” pamer Yunho lalu melangkah keluar rumah.

“Hyung, tapi aku sudah terlanjur menghabiskan uangku, hyung.” Yoochun melanjutkan kata-kata yang terpotong.

“Betul, hyung!” Yang lainnya kompak memprotes.

“Bukan urusanku!”

Brak! Yunho menutup pintu keras.

End

Minggu, 20 Januari 2013

MOON


~MOON~

==============================

“Luka goresan ini bukanlah hal utama yang membuatku menangis. Namun sakit dari dalamlah, yang entah dibagian mana membuatku merasakan sesak yang amat sangat. Rasanya aneh dan menyiksa… Membuatku ingin lebih memilih mati daripada harus menjalaninya.”

“Sejak saat itu aku mengerti, ternyata di dunia ada juga rasa yang seperti ini. Inilah rasanya ‘cinta’ yang sering diagungkan oleh MANUSIA. Jika berpisah dengan orang yang dicintai akan terasa sangat sepi dan kehilangan. Padahal sudah sekian lama aku sendirian namun baru kali ini kurasakan kesepian serta kerinduan. Rasanya benar-benar menyakitkan. HANA!!! Aku hanya ingin bersamamu! Mustahilkah itu?”

“Itu adalah saat pertama aku mengenal apa itu impian, cita-cita dan tujuan hidup. Kau sederhana namun kehadiranmu membuat perasaanku menjadi kompleks.”

(Andrew Quote)


===============================

Andrew’s PoV.

Aku bergidik gelisah di ujung tembok. Duduk meringkuk dengan manik mata terpaku tak lepas menatap sekelumit pemandangan mengerikan—yang pasti hanya terlihat biasa jika berada disituasi yang berbeda—di ruangan yang hanya diterangi sinar bulan yang menyorot teduh dari luar jendela.

Aku tak meratapi dan menyesali perbuatanku namun aku hanya merasakan ketakutan yang tak dapat kujabarkan. “Hana pasti marah padaku… Dia pasti akan sangat membenciku.” Racauku lirih. Hanya dialah sumber ketakutanku. Bukan hal yang lain. Hanya Hana…

Cairan merah berbau anyir menggenang tepat didepanku. Tubuh sepasangan suami istri tergeletak tak bernyawa. Organ dalam mereka terburai akibat ulahku yang lepas kendali. Cakaranku sekali lagi membawa maut.

“Orang tuaku telah mati tapi Paman dan Bibiku yang begitu baik sangat menyayangiku. Membuatku tak lagi bersedih karena ditinggalkan ayah dan ibu.”

Terdengar kembali ucapan riang Hana ketika dirinya menceritakan kehidupannya tanpa kuminta. Matanya berbinar bening, senyumnya merekah polos tanpa ada raut keangkuhan ataupun ketakutan.

Hana maafkan aku! Sudah membunuh kerabatmu yang tersisa. Padahal aku sudah bersumpah pada diri sendiri untuk selamanya melindungimu dan menjaga agar senyumanmu selalu melekat. Tapi aku malah…
Tunggu dulu, bukankah aku bersumpah untuk melindunginya?
Melindungi Hana…
Melindungi Hana?
Bukankah ini termasuk perlindungan? Bukankah 2 manusia tamak ini sedang berencana buruk pada Keponakannya sendiri demi menguasai harta Hana yang diwariskan dari kedua orang tuanya? Sahkan jika kelicikan mereka aku bungkam? Mulut berbisa dan topeng domba mereka aku sibak dengan merenggut nyawa? Hana, aku harap kau memaklumi perbuatanku ini.

@@@

Pintu kayu Oak terbuka kasar. Decitannya menghentakkan jantungku. Namun yang membuatku rongga dadaku lebih terpacu takut adalah tatapan matanya yang terbelalak melotot, terkejut dan terpaku. Tubuh rapuh mungilnya berdiri mematung. Untuk sesaat nyawa gadis manis ini seolah melesat lepas seiring dengan ketidakpercayaannya pada penglihatannya sendiri.

“Paman… Bibi…” Bibirnya yang bergetar, terucap lemah. Sesaat setelahnya kulihat dia ambruk, bersimpuh lalu lelehan airmata mengalir membanjiri wajahnya.

Aku tak suka melihat tatapan sedih yang baru pertama kali ini dia pancarkan. Aku harus menjelaskan semuanya. Orang yang dia jadikan pengganti orang tuanya, ternyata begitu jahat. Serigala berbulu domba yang pantas kubunuh karena mereka sudah pernah mencoba merenggut nyawa Hana namun gagal dan sesaat sebelum ku pergoki, mereka sedang merencanakan hal buruk lain untuk Hana. Ayolah Hana, jangan menangisi sampah. Airmatamu terlalu berharga.

“Hana mereka—” Ucapanku terhenti. Tenggorokanku mandul berkata-kata karena tatapan matanya yang sarat akan rasa takut memandangku seolah aku ini makhluk mengerikan. Diapun terseok-seok, beringsut menjauh ketika kudekati. Uluran tanganku dia hindari.

“Ja-jangan men-mendekat! Jangan bu-bunuh ak-ku!” Nafasnya menderu namun terhembus kelelahan emosi disana. Ketakutannya ketika menatapku membuat hatiku ngilu. Rasanya sungguh perih dan tak tertahankan.

Aku masih berusaha melangkah mendekatinya. Kujulurkan tanganku, memaksakan senyuman terpoles di wajah pucatku. Berusaha menentramkan hatinya yang terpenjara oleh keterpurukan.

“—mereka ingin,”

“Pergi! KAU MONSTER!” Teriaknya histeris.

Monster? Rasanya begitu sakit ketika umpatan itu terucap dari bibir plum mungilnya. Aku sudah terbiasa dikatai monster, iblis dan segala sebutan makhluk-makhluk biadab didunia oleh korbanku sebelum mereka kucabik oleh kuku tajamku dan meregang nyawa menjadi sebuah kudapan. Sejak sebelum dia memeluk hatiku dengan kehangatan lalu mematrinya dengan perasaan yang manusia sebut ‘cinta’. Namun entah mengapa lontaran dari mulutnyalah yang membuat perasaanku terluka. Rasanya seperti godam yang membentur jantungku. Membuatku kalah telak dan membisu.

Hana, apalah arti sumpahku untuk melindungimu jika diriku sendiri merupakan ancaman bagimu.

Andrew’s PoV. end

@@@

Author PoV.

Sosok berjubah hitam bertudung layaknya malaikat pencabut nyawa yang berpatroli terlihat melangkah dan meloncat-loncat ringan dari satu genting ke genting gedung yang lain. Terus saja menapaki tiap atap dan meniti beberapa utas kabel listrik tanpa oleng. Seolah gaya gravitasi tak berlaku baginya.

Langkahnya terhenti ketika dirinya sampai pada sebuah puncak menara yang dipucuknya telah berdiri penangkal petir yang menatang langit. Dia berdiri menghadap rembulan. Matanya tak terlihat, tertutupi oleh tudung yang kebesaran. Namun wajahnya tersirat kesedihan dan rasa penyesalan yang amat sangat dalam. Tanpa dia sadari, lelehan air asin mendarat hingga dipipinya terus turun menapak ditelapak tangannya.

“Hanya kau yang bisa membuatku menangis.” Kepalanya tertunduk, menyorot genangan kecil airmata ditelapak tangannya. Airmata bening itu bercampur dengan darah kering, dari luka goresan ditangan yang tercampur darah manusia dari sisa korban bunuhannya.

“Luka goresan ini bukanlah hal utama yang membuatku menangis. Namun sakit dari dalam ini, yang entah dibagian mana membuatku merasakan sesak yang amat sangat. Rasanya aneh dan menyiksa… Hana! Seiring berjalannya waktu, jika kita bertemu lagi. Apakah sorot mata ketakutanmu akan menghilang? Apakah senyum ceria lucumu bisa kembali? Akan kutunggu dirimu pulih dari trauma kenangan buruk. Dan jika saat itu tiba, aku akan mendekat lagi padamu. Akan kujelaskan semua peristiwa ini. Mereka yang jahat, bukan aku.” Batin yang membuncah kembali mengucapkan sumpah dengan disaksikan oleh bulan purnama seperti ketika dirinya mendeklarasikan sumpah untuk selalu bersama Hana dan melindunginya dari hal apapun beberapa bulan lalu.

@@@

Flashback…

Andrew PoV.

“TOLONGGG… BERHENTI!!!” Teriakan histeris membahana memecah kesunyian malam.

Terlihat dikejauhan sana kuda berlari sangat kencang sambil menggeret kereta yang sudah terpontang-panting tak karuan yang diakibatkan roda kayunya menerjang jalanan terjal berbatu-batu. Untung saja manusia yang meronta ketakutan didalam sana tak terpental keluar. Hanya terombang-ambing layaknya naik perahu saat badai.

“Santapan lezat…” Gumamku lirih seraya mengusap-usap perutku yang lapar.

Kubasahi bibirku dengan jilatan lidahku, nafsuku merayap naik. Aku tak sabar untuk menelan daging lembut gadis muda karena jarang sekali ada orang yang melintasi hutan ini sehingga aku tak dapat memilih manusia macam apa yang bisa dimakan. Menemukan manusia lewat saja aku sudah kegirangan…

“Saatnya berburu.” Kugumamkan kata-kata penyemangat. Akupun mulai melesat, melompat ke tiap-tiap dahan pohon. Mencoba menyamai gerak laju kuda hitam dibawah sana.

Hemm… Menarik. Kuda pacu yang berlari garang itu membuat adrenalinku meningkat. Kunikmati sensasi rasa sulit mendapatkan buruan lezat. Yah, kesulitannya pasti sepadan dengan hasilnya kelak. Dagingnya yang kenyal dan teksturnya yang lembut, tulang yang masih muda dengan kerenyahan yang gurih ketika kukunyah dan darah pekat segar dari seorang gadis kecil yang belum tercemar racun dunia. Sangat nikmat… Itu pasti!

Andrew PoV. End

@@@

Author PoV.

“KYAAA!!!” Lengkingan yang tinggi melucur dari seorang gadis belasan tahun yang melongokkan kepalanya keluar jendela kereta sambil tangannya terulur mengais-ngais angin.

Kuda hitam yang berlari kesetanan sudah mencapai ujung daratan. Namun tetap saja meneruskan langkah cepatnya hingga kereta yang ditariknya terjun bebas bersama kejurang yang dalam. Tebing tandus dengan ujung terendahnya hanya terdapat sungai dengan aliran deras yang siap menelan apapun yang terjatuh kepadanya.

“DAPAT!” Teriakan kegirangan meluncur dari sosok yang sejak tadi mengejar kereta. Tangannya mampu mencapai buruannya sebelum buruan itu ikut jatuh terpelanting bersama kereta beserta kudanya dilahap derasnya sungai yang berada beberapa puluh meter dibawah sana.

Gadis ini mendongak, memandangi sosok yang menyeringai dengan sorot mata lapar. Anehnya dia tak merasakan takut seperti perasaan yang baru saja menyerangnya tadi. Akan tetapi kelegaan menelisik hatinya. Seringai gelap dia pandang seolah itu adalah senyuman lembut seorang manusia.

Perlahan kelegaannya menghasilkan rasa yang teramat kantuk. Matanya semakin tertutup perlahan dan akhirnya benar-benar kehilangan kesadaran sebelum sosok Pria bertudung ini berhasil menarik tubuhnya hingga sampai ditepi jurang.

Author PoV. End

Flashback end…


@@@

Andrew PoV.

“Terima kasih… Kau sangat baik.”

Suara Hana terngiang kembali. Suara merdu gadis kecil yang selama sekian tahun membuatku bersabar menunggu ini selalu terdengar di otakku ketika bulan dilangit membentuk bulatan sempurna.

“Aku Hana Einsenheim dan aku berhutang nyawa padamu. Mau aku bayar dengan sebuah pertemanan?”

Kupejamkan mataku dan sontak wajahnya yang tersenyum bahagia muncul. Kenangan awal pertemuan dengan Hana yang kucinta dan akan segera kutemukan masih melekat kuat di memoriku. Pelukan yang hangat dan spontan ketika dia tersadar dari pingsannya setelah kutarik dari pinggiran tebing masih terasa hingga kini. Genggaman tangannya yang erat ketika dia memperkenalkan diri dengan bahasa tubuh yang begitu bersemangat berhasil membuatku melongo waktu itu. Tak ada pancaran kecurigaan dari matanya yang berbinar cerah. Bahkan rasa takut padaku tak pernah terlintas di ekspresi lugunya. Dia menganggapku sebagai penyelamat padahal nyatanya aku ingin memakannya. Tanpa segan dia bercerita tentang dirinya sambil berjalan kesana kemari dengan riang sepanjang malam. Berceloteh dari A sampai Z tanpa memberiku kesempatan untuk melanjutkan niatku memangsanya. Bersama dirinya membuat hidup sunyiku berubah ramai dalam hitungan jam. Meski dia baru mengenalku namun tanpa ragu serta segan dia mengajakku pulang bersamanya—lebih tepatnya memintaku mengantarnya pulang. Memberiku tempat tinggal yang harusnya tak lazim untuk kusinggahi karena aku ini Andrew, Si Setan gunung pemangsa manusia.

“Sejak saat itu aku mengerti, ternyata di dunia ada juga rasa yang seperti ini. Inilah rasanya ‘cinta’ yang sering diagungkan oleh MANUSIA. Jika berpisah dengan orang yang dicintai akan terasa sangat sepi dan kehilangan. Padahal sudah sekian lama aku sendirian namun baru kali ini kurasakan kesepian serta kerinduan setelah aku mengenalnya. Rasanya benar-benar menyakitkan. HANA!!! Aku hanya ingin bersamamu! Mustahilkah itu?”

Andrew PoV. End

@@@

Author PoV.

“Andrew atau yang dulu sering dipanggil Setan Gunung sepertinya berada disekitar London, Lady. Apa yang harus kami lakukan?” Tanya sosok Pria berjas hitam dan berkemeja putih berdasi kepada sosok Wanita yang tengah menatap langit malam diluar jendela ruangannya.

“Apa kau yakin itu Andrew? Bukan pembunuh gila yang menyebut dirinya Jack The Ripper?” tanyanya singkat namun sarat akan ketegasan dari suaranya. Matanya tak beralih dari pancaran bulan yang menggantung sempurna dilangit malam.

“Saya yakin. Terlihat dari ciri korban yang mempunyai robekan menganga yang disebabkan oleh cabikan bukan sayatan layaknya cabikan hewan buas namun lebih brutal karena tubuh korban ada yang hilang. Mungkin disantap oleh Andrew. Selain itu ada saksi yang mengatakan melihat sosok berjubah hitam dengan tudung yang menutupi kepala berlarian di atap-atap rumah.” Terangnya mantap dan meyakinkan.

“Hmmm… Great job Jordan. Kerahkan seluruh Timmu untuk menangkap Andrew.” Wanita ini berbalik arah. Menatap Pria didepannya intens, mengalirkan kewibawaan dalam memerintah sehingga membuat aura seorang pemimpin ambisius terpancar lekat di wujudnya yang bersahaja.

Pria inipun melangkah pergi setelah sebelumnya menunduk memberi hormat.

“Aku tak akan tidur dengan nyenyak sebelum berhasil membunuhmu Andrew. Karena kau, setiap aku memejamkan mata yang kulihat hanyalah darah dan mayat terkapar. Jika seperti ini jadinya lebih baik aku tak usah kau selamatkan.” Bisiknya penuh dendam. Tangannya mengepal kuat, menyalurkan segenap emosi amarah yang sudah lama tertahan.

Kembali terngiang kejadian pembantaian beberapa tahun lalu ketika dirinya masih seorang gadis kecil yang lugu. Kedua orang yang sangat dia sayangi dan dia anggap orang tuanya sendiri mati mengenaskan didepannya. Dan hal yang membuatnya lebih shock, sang Pembunuh adalah penyelamatnya. Orang—setidaknya dulu dia berpikir begitu—baik hati yang dia sayangi karena sudah mengisi hari-hari yang semula dipenuhi kesendirian tanpa adanya sosok teman menjadi hari-hari penuh gelak tawa. Andrew, monster yang belakangan—setelah kejadian itu—baru dia ketahui bukan manusia namun sosok kejam yang bermukim di gunung yang letaknya tak jauh darinya bermukim dulu. Adalah makhluk yang banyak menjadi buah bibir dan momok menakutkan yang membuat Penduduk disekitar gunung tak mau melintas kesana disaat hari sudah gelap.

“Tapi, kenapa kau bisa sampai ke London? Kenapa kau meninggalkan Hampshire tempat asalmu, desa kelahiranku?” Terlontar pertanyaan yang tiba-tiba melintas di benaknya. “Ck~ Itu bukan urusanku!” Kepalanya menggeleng penuh penolakan.

Author PoV. End

@@@

Andrew PoV.

Hana, dimana kau? Aku berlarian mengelilingi kota dan gedung-gedung tinggi tapi tak juga kutemukan kau. Apa wujudmu sangat berubah sejak terakhir kita bertemu. Kerinduanku terus menggerogoti dan membuat perasaanku tersiksa.

Hana, ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu. Ini buatanku sendiri. Karya pertama dalam hidupku yang panjang. Bukankah kau yang menyuruhku untuk membuat ini? Kau bilang aku terampil saat membuatnya. Mata berbinarmu yang penuh kekaguman ketika memandangi hasil karyaku membuatku untuk pertama kalinya mempunyai tujuan hidup. Tak hanya sekedar mencari mangsa didalam hutan dan melompat-lompat tak tentu arah. Namun kutemukan keinginan yang menggebu untuk dapat meuwujudkan apa yang kita sebut cita-cita. Kitapun memimpikan membangun toko kecil di Hampshire. Menjual benda-benda hasil karya kita. Itu adalah saat pertama aku mengenal apa itu impian, cita-cita dan tujuan hidup. Kau sederhana namun kehadiranmu membuat perasaanku menjadi kompleks.

Aku menoleh kilat. Kupingku yang tajam menangkap sebuah, bukan! Beberapa pergerakan. Mereka, sekitar 5-7 orang. Mengendap-ngendap mendekatiku. Sepertinya mereka mau menangkapku. Siapa mereka?

Sebuah tembakan berhasil kuhindari dengan gesit. Membuat si penembak mengumpat. Serangan bertubi-tubi dari arah lain juga menyerangku. Jangan harap akan mengenaiku. Kalian terlalu cepat jutaan tahun untuk mengalahkanku.

“Shit! Monster itu ternyata lebih hebat dari yang dijelaskan Lady Eisenheim.” Puluhan meter dariku, dipuncak gedung sana kudengar suara umpatan kesal.

Tapi… Eisenheim dia bilang? Hana Eisenheim kah? Sontak aku menapaki atap gedung ini cepat. Melesat, melompat menuju gedung sebelah yang menjulang lebih tinggi dibandingkan dimana aku berpijak ditempat si Pengumpat itu berada. Serangan tembakan bahkan anak panah yang langsung meledak ketika menancam pada sasaran masih dengan mudah mampu kuhindari.

Sedikit lagi aku sampai. Kulayangkan kakiku yang cukup panjang, mencoba mencapai jendela terbuka dengan si Pengumpat didalamnya. Dia terkejut hingga Senapan yang dia pegang jatuh. Langsung kulancarkan tendangan ke arahnya yang telak mengenai mukanya hingga membuatnya tersungkur.

“Hana kah yang kau maksud?!” tanyaku sambil mencengkeram lehernya dan dengan ringan kuangkat tubuhnya yang terpojok di tembok hingga kakinya tak menapak lantai. Dia tercekik dan tubuhnya meronta minta dilepaskan.

“Ekh-lep-pass!” Dia berucap kesusahan. Tapi belum sempat dia menjawab, sebuah anak panah berbahan peledak melesat masuk menuju keruangan dimana kami berada. Sontak aku langsung menghempaskan Pria berjas hitam itu lalu memukul tembok hingga jebol dan bersembunyi di sisi tembok lain. Meledaklah ruangan dimana sumber informasiku ikut terpanggang. Sial! Mereka menyusahkan. Kalau begini mau tak mau aku harus mengalahkan dan menangkap salah satu dari mereka.

Andrew PoV. End

@@@

Author PoV.

“Meledak? Dan satu anak buahmu mati? Tapi apa Andrew juga ikut meledak didalamnya?”

“Belum saya pastikan Lady kare—” Sambungan telponnya terputus. Wanita ini membelalak kaget sesaat selanjutnya seluruh benda-benda yang tergeletak dimejanya berserakan dilantai. Dia menggebrak meja penuh amarah karena merasa misinya gagal.

Menit demi menit berlalu dalam ketidakpastian. Pikirannya gelisah. Kakinya berjalan hilik mudik menunggu informasi selanjutnya. Akan tetapi tak juga ada suara dering telepon lagi dari bawahannya. ‘Matikah mereka semua?’ Batinnya bertanya-tanya, kecemasan melanda membuat kepalanya pening.

Suara pintu terbuka dengan kasar membuatnya terlonjak kaget. Matanya spontan menatap kearah pintu yang sukses rusak, lepas dari engselnya.

“KAU?!” Dengan suara tertahan Wanita ini memekik kaget. Menatap dengan sinar mata penuh dendam sekaligus ketakutan. Kejadian berdarah itu kembali muncul menghantuinya ketika dilihatnya makhluk didepannya tersenyum kepadanya. Kini berbalik efek. Senyum cerah penuh kegembiraan, dimatanya hanyalah sebuah seringai menakutkan.

“Hana! Kau benar-benar Hana kan?” Sosok yang baru memasuki ruang kerja Hana langsung menghambur kearahnya. Tangannya merentang. Siap untuk memeluk Wanita yang sudah lama amat dia rindukan.

‘DORRR!’ Letusan senapan membuat senyuman di wajah Andrew memudar tergatukan dengan keterkejutannya.

Tak jauh berbeda dengan raut muka Hana. Ditangannya sudah mengacung sebuah pistol yang tadi sempat dia raih diam-diam dari dalam laci mejanya. Wajahnya sangat tegang ketika pelatuk pistol itu dia tekan.

“Mati kau Andrew! Itu balasan karena kau sudah membunuh Paman dan Bibiku dengan kejam!” Pekiknya penuh emosi masih dengan tangan mengacung ke arah Andrew yang belum roboh meski dadanya sudah tertembus peluru.

“Ternyata kau masih membenciku Hana.” Ucapnya lirih disela-sela kernyitan kesakitan. Kakinya melangkah lagi perlahan, tangannya terulur ingin disambut oleh Hana.

‘DORRR! DORRR! DORRR!’
“Kenapa kau tak mati-mati juga hah?!” Hana berteriak frustasi. Langkahnya semakin mundur seiring dengan Andrew yang berusaha mendekat.

“Hana, mereka ingin mencelakaimu. Aku mendengar langsung tanpa sengaja ketika malam itu aku melintas di kamar mereka. Mereka jugalah yang membuatmu hampir mati tercebur ke jurang. Aku hanya—” Ucapannya terputus disaat kakinya yang tertembus peluru tak mampu lagi menopang tubuhnya. Darahnya deras mengalir. Nafasnya tersengal-sengal. Jantungnya berdetak melemah.

Hana berjalan mendekat dengan perasaan gamang. Sambil berusaha memutar ulang kenangan masa lalunya dan mencari realita disana, tangannya masih sigap berjaga-jaga jika sewaktu-waktu andrew menyerangnya dia dapat dengan mudah menembakkan pelurunya yang masih tersisa 2.

Beribu pertanyaan kembali bersarang di kepalanya. Dan pertanyaan-pertanyaan itu berujung pada satu jawaban yakni, ucapan Andrew patut dipercaya. Nyatanya Andrew tak melawannya. Seharusnya dia menghindari utusan Pembasmiku dengan tetap berada di hutan dekat Hampshire namun dia malah mendekat kedalam bahaya demi untuk menemuiku yang sudah bersiap diri melakukan aksi balas dendam dengan membentuk organisasi rahasia yang dikhususkan untuk membasmi makhluk-makhluk berbahaya sepertinya.

“Hana dimanakah kau yang dulu… Tersenyumlah, aku mohon. Aku merindukan gadis polos yang ceria itu.” Andrew berhenti sejenak, mengatur nafasnya yang terputus-putus. Tubuh lemahnya terkapar tak dapat bergerak. “Maaf, memang tak seharusnya aku membunuh Paman dan Bibimu tapi, akh! tapi aku hanya ingin melindungimu.” Andrew memasukkan tangan kanannya kedalam balik jubahnya.

Hana masih berdiri kaku menatap nanar Andrew yang tergeletak tak berdaya. Lamat-lamat setetes airmata meluncur perlahan dari ujung kelopak matanya. Pistol yang terus dia pegang terbating dilantai.

“Kau ingat ini?” Dengan tangan yang berlumuran darah, Andrew membuka telapak tangannya. Diulurkannya benda yang dia pegang itu kepada Hana.

“Bo-boneka itu—”

“Kayu yang kuukir dari kuku-kuku tajamku. Miniaturmu…”
“Miniaturku.” Ucap Hana bersamaan. Airmatanya yang tadinya hanya setetes semakin banyak berjatuhan. Tangisannya pecah seketika. Digapainya tubuh Andrew yang nyawanya tinggal menghitung menit. Dipangkunya kepala Andrew dan dipeluknya penuh penyesalan tubuh Andrew yang bersimbah darah hitam.

“Ak-ku mencintai—” Pernyataan yang sekian lama ingin dia ucapkan tak berlanjut. Nyawanya sudah lepas dari raganya. Tubuhnya lunglai, menjadi mayat. Meninggalkan Hana yang makin menangis histeris melihat Andrew sudah tak bernyawa lagi. Tubuh yang mendingin ini terus-terusan dia peluk. Dia ciumi dan dia tangisi hingga sinar Matahari terbit dan cahayanya memasuki ruangan dimana dia berada. Hingga banyak orang berkerumun memasuki ruangannya dan memaksa dirinya melepaskan pelukannya dari makhluk yang dia sayangi. Meski sosok Andrew sudah menghilang dari pandangan, Andrew tetap meraung dan meraung, meratapi nasib hidupnya yang terlampau menyakitkan.

==============================

Secuplik masa lalu Andrew & Hana…

“Hei, kenapa kau menyeret-nyeret batang pohon itu? Tubuhmu terlalu kecil untuk membawa benda sebesar itu.” Sosok yang tak pernah mau melepaskan jubah hitam bertudungnya berucap sinis pada gadis bercelana monyet yang sedang kesusahan menyeret kayu.

“Ini untukmu. Daripada nanti kau diusir Paman dan Bibi karena selalu merusak barang-barang lebih baik isi waktumu untuk membuat sesuatu.” Ujar Gadis ini. Senyuman manis tersungging dibibirnya. Senyuman yang akhir-akhir ini membuat Sosok bertudung itu kecanduan, tak dapat lepas dari pesonanya.

‘Seandainya kau tahu, bahwa aku bukanlah manusia sama sepertimu. Kau pasti—’

“Ayo cepat. Buatlah sesuatu. Kukumu kan nyaris setajam pisau.” Suara sang gadis menghentikan benaknya yang sudah sibuk berandai-andai.

Di tatapnya gadis manis yang baru saja duduk di rerumputan taman belakang rumah yang hampir menyamai kastil. Selanjutnya senyuman terukir diwajahnya disaat ide brilliant melesat masuk ke otaknya. “Oke! Akan kubuatkan sesuatu untukmu.”
~
~
~
~
Beberapa saat setelahnya…

“Ini apa?”

“Ini miniaturmu.”

“Aku?”

“Ya! Kenapa?”

“Tidak mirip! Buat lagi yang bagus!” Diserahkannya lagi benda yang sudah dibuat dengan susah payah itu dengan wajah ketidakpuasan. “berkali-kali membuat pasti karyamu semakin bagus. Lalu kalau miniaturku sudah jadi harus kau berikan padaku ya?” Ujarnya memberi semangat.

“Baik.”

“Selama kau memahat, akulah pengkritikmu. Jadi kau tak boleh jauh dariku. Kau maukan terus bersamaku?” Gadis berkepang dua ini mengacungkan kelingkingnya ke arah Sosok bertudung, seraya mengulas senyum ceria.

Sosk bertudung terdiam sejenak. Memandangi kelingking Hana bingung. “Hm. Aku mau.” Ucapnya kemudian lalu kelingkingnya dia kaitkan dan mereka tertawa bersama sambil merebahkan diri direrumputan menunggu senja berganti malam dan bulan muncul menyorot bumi.
~
~
~
~
Hutan kecil di pegunungan dekat Hampshire, setelah kejadian pembunuhan Paman dan Bibi Hana…

“Aku akan terus memahat boneka kayu yang sama sepertimu. Jika aku berhasil membuat miniaturmu dengan bagus, barulah aku akan menemuimu. Meluruskan semua kesalahpahaman ini dan kita pasti akan bersama lagi. Karena aku sangat mencintaimu Hana…” Guman Sosok yang kini tengah duduk didahan pohon Oak sambil punggungnya bersandar pada batang pohon itu. Kepalanya mendongak menatap bulan lekat.

Puas dirinya menatap rembulan dan menggumamkan janji, tangannya kembali berkutat pada kayu yang kini akan menjadi bahan untuk membuat suatu karya. Dibawah sana sudah tergeletak banyak sekali kayu-kayu berserakan dengan beragam bentuk. Karya-karya buatannya yang dianggap gagal.

¬-END¬¬

Minggu, 11 Maret 2012

[Oneshoot] Selamat Natal Selamat Tinggal



Author : Hana Pratiwi

Genre : Drama

Cast : Yesung & Lee Hyori



Huwe… Aku nggak nyangka bisa nemu ide cerita ini… Ini emang bukan FF pertamaku tapi ini adalah FF oneshoot pertama. Jadi kalau terlalu simple ceritanya harap maklum. Ternyata bikin cerita simple lebih susah ketimbang bikin cerita ribet bin jlimet. Soalnya isi otakku ini udah kayak benang ruwet. Btw… FF ini udah ku revisi jadi yang sudah baca di SJFF, mian disitu banyak kesalahan pengetikan Habis begitu dapet ide langsung ngetiknya ngebut sih. Maksudnya biar idenya nggak keburu lupa eh, malah jadinya banyak salah ketik kata-kata.

Eniwei… Selamat membaca… Aku menerima kok kritik dan saran yang membangun tapi jangan pedes-pedes yah? AKu nggak doyan sambel. (?)



@@@



Ini sudah malam natal, tapi rasanya sukacita menyambut natal tidak kurasakan seperti ditahun-tahun sebelumnya. Rumahku sepi, semua orang pergi dengan kesibukan masing-masing. Yang paling membuatku sedih adalah dia, Si penghuni rumah yang berada tepat disebelahku. Dia sedang sibuk bekerja karena bosnya yang tak tahu aturan itu terus menyuruhnya bekerja tanpa henti meskipun ini malam natal.

Akupun berjalan kebalkon kamarku sambil menatap balkon diseberang sana tempat Yesung-oppa tinggal. Teringat saat-saat kami sering ngobrol disini, saling memandang dan menguntit gerak gerik masing-masing disini pula. Hah… Aku tak sanggup melihat kamar sepi dan gelap itu sekarang. Akupun berbalik dan hendak kembali kedalam kamarku.



“Selamat malam natal Chagi…”

Ucapan lembut yang dikeluarkan oleh seorang namja diseberang sana membuatku terperangah. Otomatis aku berbalik dan melihat kearah balkon yang berada diseberang. Aku sangat terkejut karena tiba-tiba saja dia terlihat ada di balik Jendela diseberang balkon kamarku. Yesung-oppa mulai berjalan keluar ke balkon seraya tersenyum manis padaku.

“Selamat malam natal Yesung-oppa. Kenapa kau tiba-tiba ada disitu? Sejak kapan?” Tanyaku ingin tahu. Aku sungguh-sungguh penasaran. Karena baru tadi kulihat kamarnya gelap gulita dan kini menjadi terang benderang.

“Sejak tadi.” Sahutnya seraya tersenyum simpul. Senyumnya sungguh menggetarkan hatiku.

“Bukankah kau sekarang seharusnya ada Seoul oppa?”

“Aku kembali khusus untukmu Chagi. Aku tidak ingin kau merayakan natal ini sendirian tanpaku. Kesini! Ada hadiah untukmu.”



Ajakannya itu membuatku bahagia sekaligus langsung lari kalang kabut. Aku dengan langkah yang terburu-buru berlari menuju gedung sebelah, tempat Yesung-oppa tinggal. Aku benar-benar ingin cepat bertemu dengannya. Rasa rinduku begitu besar. Kalau sudah sampai disana, aku akan mengutarakan perasaanku padanya. Kami sudah menjalin hubungan dekat selama 8 bulan sejak dia tinggal diseberang rumahku kurang lebih setahun lalu. Tapi sayangnya aku belum pernah mengutarakan isi hatiku yang sebenarnya. Bibirku terasa kelu setiap aku ingin bicara ‘Saranghae’. Kenapa aku sepenakut itu sih?!



Aku sudah sampai didepan rumahnya dan bermaksud untuk menekan bel. Tapi terlebih dulu aku mematut diriku didepan kaca yang ada dipintu rumahnya. Kurapikan rambutku yang terlihat sedikit acak-acakan. Setelah dirasa sudah penampilanku sudah sipa untuk bertemu dengannya akupun mulai menekan bel dengan wajah sumringah.

“Oppa!” Panggilku sambil memencet-mencet bel tak sabar.

Kenapa tak dibuka juga? Ayolah! Kau mau membuatku mati menahan rindu?

“Oppa!” Panggilku sekali lagi sambil terus memencet bel rumahnya. Tak juga ada tanda-tanda pintu ini akan dibukakan.

Aku jadi jengkel sendiri. Tadi siapa yang menyuruhku kemari? Kenapa sekarang tidak dibukakan pintu? Yesung-oppa! Kau mau mempermainkanku ya?!

Akupun kembali kerumah dengan hati dongkol. Rumahnya benar-benar terlihat gelap gulita. Seperti tak ada tanda-tanda kehidupan didalamnya. Akupun sekarang berada dihalaman rumahku. Kulirik kamarnya dari sini. Kamarnya kenapa jadi gelap sekarang? Tadi tidak tuh?! Dimana orang aneh itu?



@@@



“Ya? Dengan siapa ini?” Tanyaku ketika aku menerima telpon dari nomor asing.

“Apa?! Ti-tidak mungkin! Tidak mungkin!!! Yesung-oppa… Tidak mungkin!”

Tanganku mendadak lemas. Ponselku terjatuh dilantai dan aku yang sekarang hendak menaiki tangga untuk kembali kekamar langsung berbalik arah. Kembali ke rumah Yesung-oppa disebelah. Sesampainya disana, kuketuk-ketuk pintunya sekuat tenaga. Ketika tanganku sudah mulai sakit kupencet-pecet bel secara membabi buta. Tapi Yesung-oppa tak kunjung membuka pintu. Jangan-jangan yang dikatakan perawat di telpon tadi benar! Yesung-oppa sudah… Tidak mungkin! Aku tadi melihatnya ada diseberang kamarku. Wajahnya nyata! Aku tidak bermimpi. Dia tadi ada dikamarnya mengucapkan selamat malam natal padaku. Lalu bagaimana bisa dia ada dirumah sakit dan…



@@@



“Oppa!!!”

Aku menangis histeris disamping peti mati. Memandanginya dengan airmata yang mengalir deras. Aku masih tak percaya dengan apa yang kulihat sekarang. Yesung-oppa terbujur kaku didalam peti. Wajahnya diam, begitu pucat dan matanya tertutup rapat. Mana senyumnya yang selama ini selalu kulihat?

“Hyori… Tenanglah!” Sahabatku Mika merangkulku dan menyuruhku untuk duduk dan menenangkan diri namun aku tetap saja tak menghiraukannya. Terus kupegang pinggiran peti itu dengan suara tangisan yang semakin pilu. Aku ingin terus menatap wajahnya. Aku tidak rela kehilangan dia. Aku belum mengatakan padanya bahwa aku juga mencintainya.

“Oppa!!! Bangun!” Teriakku histeris.

Sekarang ibukulah yang menghampiriku dan menyuruhku untuk tenang sambil memelukku. Dia memapahku dan sedikit memaksaku untuk menjauh dari peti itu karena peti itu akan ditutup.



Ketika pemakaman sudah selesai. Rasanya hatiku masih begitu berat untuk melepasnya pergi. Aku masih terus setia duduk disamping pusaranya, tak mau beranjak pergi. Kupandangi Ibu Yesung-oppa yang juga duduk tepat didepanku. Diapun menangis sedih sepertiku. Dia yang hanya punya satu-satunya putra, kini harus mulai hidup sendiri. Kuhampiri ibu Yesung lalu kamipun saling berpelukan dan menangis bersama dikubur Yesung-oppa yang semakin lama semakin sepi orang.



@@@

Flashback…



Aku sangat bahagia ketika Bu Direktur mengijinkanku pulang lebih awal. Ini malam natal dan aku harus segera pulang merayakannya dengan orang yang paling spesial di hatiku. Lee Hyori, pasti kau mengharapkanku datangkan? Aku akan membuat kejutan untukmu.

“Hyori-ah, pasti kini kau lagi manyun sendirian karena mengira aku tidak pulang. Hahaha... Seperti apa ya wajahnya saat melihatku pulang?” Gumamku sambil mengendarai mobilku dengan laju yang makin kencang.



Ketika aku melihat toko bunga tak jauh didepanku akupun menepi untuk membeli beberapa tangkai Chrissant untuknya. Hyori sangat suka bunga Chrissant, padahal menurutku mawar jauh lebih cantik dan harum daripada bunga itu.

“Trimakasih pemuda tampan.” Kata nenek penjual bunga.

Aku tersenyum padanya seraya menerima sebucket Chrissant, setelah itu keluar dari toko menuju mobilku yang terparkir didepan toko.



“Hei! Apa yang kalian lakukan pada mobilku!” Hardikku ketika melihat 3 orang laki-laki sedang mencongkel-congkel pintu mobilku dan berusaha membukanya dengan paksa.

Mendengar suaraku mereka bukannya kabur tapi malah menghujaniku dengan tatapan tajam. Merekapun berhenti melakukan aktifitas negatifnya itu dan berjalan kearahku. Kini mereka mengepungku.

“Itu mobilmu ya? Bagus sekali. Apa boleh untukku?” Tanya salah seorang pria yang tengah membawa besi mirip linggis itu sambil menyeringai.

Mendadak aku merasakan hal buruk akan terjadi padaku. Aku menengok kanan kiri. Tempat ini sungguh sepi tak ada orang lain selain mereka bertiga dan aku. Aku harus bagaimana?

“Ap-apa mau kalian?” Tanyaku agak-agak takut.

“Kan sudah kubilang mobil.”

“Ak-aku akan memberi kalian uang tapi tolong pergilah.”

“Mana uangmu!”

Kukeluarkan dompetku dari saku celanaku. Belum sempat kuberikan salah seorang dari mereka langsung merampasnya.

“Tunggu! Ada yang mau aku ambil.”

“Ah, tidak perlu!”

“Aku mohon kembalikan cincin yang ada dalam dompet.” Pintaku.

“Cincin ini ya? Kayaknya mahal nih!” Ucap salah seorang pria seraya membawa cicin itu dan memamerkannya didepanku.

“Kembalikan!” Aku menghampirinya dan berusaha merebut cincin itu dari tangannya.

“Tidak akan! Dong So! Ambil kunci mobilnya, geledah dia kalau-kalau masih ada uang disaku pakaiannya.”

“Tidak! Jangan! Kalau kau ambil bagaimana aku pulang?”

“Aish! Itu bukan urusanku!” Ucap pria yang dipanggil Dong So itu dan menggeledahku. 2 orang lainnya memegang lenganku sehingga aku tak bisa berontak.

“Kalau begitu kembalikan cincinku. Hanya cincinku saja!” Aku mencoba menawar lalu berusaha melepaskan diri dari mereka.

“Sialan kau berani melawan?”

“Buagh!" Laki-laki yang ada disebelah kananku memukul perutku. Aku meringis kesakitan. Tapi aku harus mengambil cincin yang akan kuberikan pada Hyori.

“Kembalikan! AKH!”

Rasa sakit yang tak terkira datang di kepalaku. Kepalaku berdenyut-denyut. Mataku seketika buram. Aku berdiri dengan sempoyongan. Kuraba kepala bagian belakang. Terasa basah, kupandangi telapak tanganku setelah itu sayup-sayup terlihat tanganku berwarna merah karena darah. Akhirnya aku limbung dan jatuh tersungkur. Kulihat semuanya gelap. Rasa sakit ini sangat...



Flashback end…



@@@



Sehari setelah pemakaman Yesung… Dirumah Hyori…



“Chagi, saranghae...”

Aku terperanjat ketika suara Yesung-oppa sayup-sayup terdengar.

“Oppa? Kaukah itu?”

“Chagi, neomu neomu saranghae...” Mendengar suaranya, airmataku kembali menetes.

Kuturuni ranjangku dan berjalan kebalkon mengikuti suara Yesung-oppa. Terlihatlah dia sekarang, di seberang sana tersenyum padaku. Kamarnya yang gelap, malah membuatku bisa melihatnya dengan jelas sambil terus menangis.

“Chagi, selamat natal dan selamat tinggal... Hiduplah dengan baik tanpa aku...” Setelah mengatakan hal itu kulihat Yesung-oppa perlahan menghilang.

“Oppa! Jangan pergi!” Teriakku sambil mengulurkan tanganku berharap dia dapat meraihnya. Aku tidak rela melihatnya menghilang.

“Oppa! Akh!” Aku terus mengulurkan tangan sekuat tenaga.

Tubuhku yang berusaha menjangkau balkon kamarnya malah jatuh dan mendarat mulus ditanah. Aku merasa pusing. Badanku sakit semua tapi langit malam diatas sana terlihat terang. Kuulurkan tanganku keatas supaya silaunya langit sedikit terhalang oleh tanganku tapi akhirnya aku pingsan atau mungkin mati...



@@@



Mataku terbuka pelan-pelan. Kurasakan tubuhku tak sakit lagi. Saat aku bisa melihat dengan jelas, kulihat Yesung-oppa duduk disampingku yang sedang terkapar. Wajahnya terlihat marah. Ekspresi yang tak pernah kulihat sebelumnya. Akupun bangun dan duduk disampingnya.

“Oppa? Kenapa kau marah?” Tanyaku sambil bersandar di bahunya.

Dia tak menjawab. Wajahnya begitu serius.

“Oppa! Ah! Aku dimana? Kenapa semua terlihat putih.”

Baru kusadari bahwa semuanya yang ada disekitarku berwarna putih termasuk Yesung-oppa yang berpakaian putih kecuali aku. Aku masih memakai baju yang kupakai saat aku terjun tadi.

“Apa aku sudah mati?” Tanyaku padanya saat kusadari mungkin sekarang aku sudah berada di alam baka.

“Kalau kau benar-benar mati, aku akan sangat marah padamu.” Jawabnya ketus. Lalu menatapku dan kedua tangannya mencengkeram bahuku.

“Chagi, aku ingin melihatmu hidup bahagia. Bukan berakhir seperti ini! Aku sangat mencintaimu karena itu hiduplah dengan baik. Maka aku disini akan melihatmu dengan bahagia pula.” Ucapnya seraya menatapku lekat-lekat.

“Tidak! Aku akan disini bersamamu oppa.” Tolakku dan langsung memeluknya erat-erat. Aku benar-benar tidak mau melepas pelukan itu sedetikpun.

“Apa kau tidak memikirkan orang tuamu dan orang-orang lain yang menyayangimu Chagi?” Oppa mendorongku dan membuatku harus melepaskan pelukanku.

“Tapi aku ingin bersamamu oppa! Apa kau sudah tidak mau bersamaku?” Tanyaku dengan perasaan tak rela. Mataku mulai berkaca-kaca.

“Pergilah kesana…” Yesung-oppa menunjuk sebuah pintu yang besar diujung sana. Lalu lanjutnya, “Kembalilah pada mereka. Dunia kita sudah sekarang berbeda Chagi. Aku memang ingin bersamamu tapi bukan dalam keadaan seperti ini. Kau masih bisa melanjutkan hidupmu. Pergilah.”

“Tapi…” Aku terdiam. Ada hal yang sangat ingin aku ucapkan padanya namun begitu sulit untuk kukeluarkan.

“Pergilah…” Yesung-oppa berdiri dan menarik tanganku. Memintaku untuk mengikutinya berdiri juga.

“Oppa… Cup!” Akupun langsung memeluknya dan menciumnya.

“Saranghae…” Ucapku lirih tepat ditelinganya setelah itu memandangnya yang masih berada dalam pelukanku. Rasanya sangat berat melepaskan pelukan ini. Namun harus kulepaskan. Akupun melepaskan tanganku yang melingkar di lehernya.

“Aku tahu kalau kau mencintaiku. Tanpa kau mengatakanpun aku tahu Chagi. Karena itu sejak dulu aku tidak pernah memintamu untuk mengatakannya. Terima kasih sudah mencintaku dan mengisi hidupku dengan kegembiraan Chagi. Selamat tinggal..” Yesung-oppa pun balik memelukku dan kamipun kembali berciuman.



Akupun berjalan perlahan dengan perasaan tak rela sambil terus menoleh kebelakang memandang Yesung-oppa yang terus melambaikan tangannya dan tersenyum. Perlahan namun pasti akupun sampai pada pintu besar itu dan memasukinya. Langit didepanku kembali silau. Sampai aku harus memejamkan mata.



@@@



“Oppa…” Ucapku lirih. Tubuhku rasanya sakit semua dan mataku terasa begitu berat untuk terbuka.

“Hyori-ah… Kau sudah sadar?! Pak! Anak kita sudah sadar.” Kudengar sayup-sayup suara ibuku. Kubuka mataku pelan-pelan. Ternyata memang ibu. Wajahnya terlihat gembira melihatku sadar kembali.

“Dimana aku?” Tanyaku. Karena sekelilingku masih berwarna putih dan tercium bau obat yang lumayan menyengat.

“Kau dirumah sakit Hyori-ah.” Jawab ibuku.

“Syukurlah kau sadar… Ibu sangat kawatir padamu Hyori!” Ibuku langsung memelukku dengan berurai airmata.

“Auw! Ibu sakit.” Aku meringis kesakitan karena pelukannya.



Melihat mereka, orang tuaku yang begitu mengkawatirkanku. Seketika aku sadar. Apa yang Yesung-oppa bilang padaku benar. Banyak orang yang akan sedih jika kehilangan aku sehingga aku tidak boleh berbuat egois dengan mengikuti egoku sendiri untuk meninggalkan mereka. Mereka pasti akan sangat bersedih seperti aku yang sangat bersedih dengan kepergian Yesung-oppa.

“Yesung-oppa, aku takkan melupakanmu dan kenangan kita. Sampai jumpa… Suatu hari nanti kita pasti akan bertemu lagi…” Batinku.

-END-