Tampilkan postingan dengan label Read Big Challenge. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Read Big Challenge. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Februari 2016

[Master Post] Read Big Challenge 2016


Yeay! Ternyata Read Big Challenge ada lagi. XD
Gara-gara RC ini, aku jadi terobsesi mengumpulkan buku bantal di sepanjang tahun 2015 dan alhasil ada yang belum kebaca hingga sekarang. Nah, bersyukur diadakan lagi oleh Legitur, so timbunan buku bantal bisa semangat dibaca lagi.

Baiklah, langsung aja ke syaratnya aja:
  1. Jumlah halaman di atas 500. Supaya kesan seksi dan sensasi tebalnya terasa (>_<), tidak boleh berupa ebook atau audio book, harus berupa buku cetak ya ^^
  2. Manga, graphic novel, buku dengan banyak ilustrasi (contoh: Hugo Cabret), tidak diperbolehkan. 
Syarat ikutan:
  1. Mendaftar di link di bawah posting ini. Tidak ada batas waktu untuk mendaftar, boleh mendaftar kapan saja selama masih dalam periode challenge.
  2. Memasang button Read Big pada blog dan untuk Master Post nya tidak wajib posting kok. 
  3. Boleh menentukan kelas/level di awal.
  4. Membuat review untuk buku yang dibaca. Review bisa dimuat di blog, Goodreads atau Notes Facebook. dan masukkan link-nya ke linky yang ada di bawah.
  5. Untuk yang memiliki blog, langsung saja dirangkap di wrap-up. Sedang, yang memakai Goodreads dan Facebook, gunakan link review yang disediakan. 
  6. Jika membuat review sebuah buku di lebih dari satu media, masukkan salah satu saja. Buku dibaca di bulan Januari dan direview pada periode 15 Januari 2016 - 14 Januari 2017.
  7. Buku boleh re-read, tapi review harus baru (bukan repost), dan diposting pada periode challenge.
  8. Boleh overlapping dengan reading challenge lain.
  9. Membuat wrap up post di akhir periode, yang berisi: a) Kelas apa yang berhasil dicapai, dan b) Daftar buku apa saja yang dibaca beserta link review-nya.
  10. Wrap post ditunggu hingga 1 Februari 2017, linky akan tersedia pada 31 Desember 2016. 
Kelas yang dipertandingkan:
  1. Featherweight / Kelas Bulu: membaca 1 - 4 buku
  2. Middleweight / Kelas Menengah: membaca 5 - 8 buku
  3. Heavyweight / Kelas Berat: membaca > 8 buku 
Selain kelas-kelas utama tersebut, ada pula

Kelas Khusus: Incredible Bulk: membaca minimal 1 (satu) buku dengan jumlah halaman >1000 

Giveaway!

  1. Giveaway ini menggunakan sistem poin; nantinya akan dipilih 1 pemenang dengan poin tertinggi dan 1 pemenang yang dipilih secara random.
  2. Jika ada 2 orang atau lebih memiliki poin tertinggi yang sama, maka akan diundi.
Perhitungan poin:
  • Untuk setiap 1 buku yang dibaca & direview mendapat 1 poin
  • Untuk setiap 1 buku yang masuk Kelas Khusus mendapat 2 poin
Di akhir periode, jumlah buku yang dibaca diakumulasikan dan jika berada pada:
  • Kelas 1: mendapat tambahan 1 poin
  • Kelas 2: mendapat tambahan 2 poin
  • Kelas 3: mendapat tambahan 3 poin
  • Kelas Khusus: mendapat tambahan 1 poin
Contoh perhitungan poin:

Amy berhasil membaca 3 buku di mana salah satunya >1000 halaman;
  • Buku a: 1 Buku
  • b: 1 Buku
  • c (>1000): 2 
  • Kelas 1: 1 
  • Kelas Khusus: 1 
  • Total poin: 6 
 Hadiahnya:
  • Untuk 1 pemenang dengan poin terbanyak : buku seharga maksimal Rp 150.000 *(sebelum diskon dan tidak termasuk ongkos kirim) 
  • Untuk 1 orang yang dipilih secara acak: buku seharga maksimal Rp 100.000 * (sebelum diskon dan tidak termasuk ongkos kirim)
Nah, kelas yang aku ambil sama kayak tahun lalu yaitu: HEAVYWEIGHT
Doakan berhasil. Yosh!

Sabtu, 30 Januari 2016

[Review] THE BLOOD OF OLYMPUS


Penulis : Rick Riordan
Penerjemah : Reni Indardini
Penerbit : Mizan Fantasi
Terbit : November 2014
Halaman : 528
ISBN : 978-602-1306-71-0
Sinopsis :
Api Yunani berkobar ... Membakar sebagian besar monster.
Tanah menggemuruh.
Semua gelembung membran berlendir meletus, mengepulkan debu.
Setetes darah jatuh dari dagu Percy ... mendarat di tanah ...
mendesis seperti di wajan.
Darah Olympus mengairi bebatuan kuno.

Para raksasa bangkit, menyebar di sepenjuru dunia. Mereka mengumpulkan bala tentara--dewa-dewi yang terbuang dan para monster--yang rela menghancurkan demigod. Mereka memburu darah dua demigod, demi membangkitkan Gaea, sang Ibu Bumi.

Ketujuh demigod pemegang ramalan berusaha bertahan hidup dari serangan serta menyatukan Perkemahan Blasteran. Mereka bahkan tak bisa mengharapkan bantuan para dewa.

Waktu yang dimiliki Percy dan kru Argo II tidak banyak. Pembagian tugas dilakukan, peran masing-masing ditentukan. Mereka harus bergegas mencegah kebangkitan Gaea, dalam sebuah pertarungan hidup dan mati.

***

Kisah 7 pahlawan dalam ramalan akhirnya sampai di penghujung. Argo II hampir sampai di Athena dan rombongan Nico, Reyna dan Pelatih Hedge juga sudah memasuki benua Amerika. Dua kelompok ini akan menjadi penentu kesuksesan misi penyelamatan dunia.

Aku kurang setuju bila disebutkan ada 7 tokoh utama dalam seri Heroes of Olympus. Karena Reyna dan Nico juga memiliki peran penting dalam misi perdamaian memersatukan bangsa Yunani dan Romawi. Makanya cukup senang aku, kala menemukan Nico mendapat porsi di novel ini--karena di seri sebelumnya Nico tidak mendapat bagian sorot utama dari penulisnya.

Sebelum sampai di Akropolis, rombongan Argo II singgah ke Delos demi menemui dewa-dewi kembar--Apollo dan Artemis--guna mendapatkan obat dari tabib. Memang sih mereka tidak mendapat obatnya dan seakan Rick memang memperpanjang perjalanan mereka tapi aku sangat terhibur dengan bagian Leo yang mencoba bertawar menawar dengan Apollo. Dengan jenius dia membuat sebuah alat musik dan sekali lagi aku suka dengan karakter Leo--kalau Apollo sih sejak novel Percy aku sudah sangat suka. Karakter unik berjumpa dengan karakter unik, membuat setiap adegan di Delos membekas susah buat dilupakan.

Di tim Nico dkk, adegan favoritku adalah sewaktu Nico bersama Will. Aku merasa karakter Will kok 11-12 dengan Leo ya? Kocaknya, cueknya, pedulinya. Terus berkat Will, Nico bisa move on dari Percy--puji Tuhan! Nah, kalo Nico sama Will aku setuju banget. Sifat mereka itu serasa cocok saling melengkapi, beda bila Nico dengan Percy. Sayangnya Nico-Will kurang banyak dituliskan, padahal baru ini aku menyukai couple boy x boy dalam novel Percy dan HoO. hahaha~

Meski Nico merasa amat menyesal sudah membunuh dua nyawa tapi aku amat bersyukur dua manusia itu lenyap. Karena ditilik dari kejahatan Octavian dan Bryce, mereka memang pantas mendapatkannya. Kalau keduanya diberi hidup pun, aku sangsi mereka bakal bisa berubah lebih baik. So, Nico sayang... Jangan terlalu merasa bersalah. Will tak benci kamu kok.

Cerita petualangan di seri terakhir HoO ini lumayan seru dan sama seperti yang lainnya, menambah pengetahuan baru di otakku. Tapi memang betul bahwa segala sesuatu tak ada yang sempurna. Kekurangan novel ini menurutku adalah ending nya kurang... apa ya? DUARRR!!! gitu. Sejak seri satu, kita digiring untuk merasa bahwa Gaea bangun maka malapetaka dahsyat terjadi. Makanya selama berminggu-minggu bahkan bulan, Tim 7 melakukan perjalanan, membasmi banyak musuh juga melalui banyak kesulitan, menyusuri berbagai petuah atau petunjuk sesuai dengan yang dikatakan dewa-dewi. So, bila mereka gagal pun dan Gaea bangkit, harusnya ada hal spektakuler yang terjadi. Tapi apa? Cuma gitu. Dengan gampangnya sang 'Kiamat' diciduk Leo. Beda dengan ending Percy Jackson yang kedahsyatan perangnya kerasa sekali sampai berbagai kota porak-poranda tak cuma di satu tempat. Terus yang namanya perang pasti ada korban dan membuat pembaca ikut merasa kehilangan. Nah, di sini tidak kutemukan. Bahkan aku tak ikut sedih saat Leo dinyatakan mati karena dalam kepalaku pasti tidak mati.

Kesimpulannya sebagai seri terakhir, kurang greget. Seri HoO ke empat menurutku yang paling greget. Ada sedih, tegang, lucu, dan lain-lain.

Berikut kutipan yang aku favoritkan:
"Rasa sakit terkadang tidak boleh serta-merta dienyahkan. Rasa sakit mesti dihadapi, bahkan diterima."--hal. 403
Cuma itu. Hehehe~ sudah selesai lumayan lama dan baru niat review sekarang so, sebagian kutipan favorit lupa ada di mana. Wkwkwk~

Terakhir 4 bintang dari 5 bintang untuk Blood of Olympus. Harapanku sih ada kelanjutannya tapi sepertinya tidak ada ya? Sayang sekali padahal berkat novel Percy dan HoO aku jadi makin suka tentang mitologi lho.

Minggu, 03 Januari 2016

[Review] THE HOUSE OF HADES


Penulis : Rick Riordan
Penerbit : Mizan Fantasi
Terbit : Februari 2014
Halaman : 640
Sinopsis :
Semua pilihan mengandung risiko.
Kau boleh percaya... atau mengabaikannya.
Tapi, ingat, apa tujuanmu?

Setelah terjatuh ke dunia bawah, Percy dan Annabeth disiksa oleh rasa lapar dan dahaga serta suara tangisan tak terperi yang membuat pikiran mereka kacau. Tak hanya itu, para monster yang telah mereka bunuh pun bermunculan, bermaksud membalas dendam. Sementara di langit, kru Argo II mati-matian mempertahankan kapal dari serangan para putra Gaea, kura-kura raksasa, dan seorang dewa berkaki busuk.

Di tengah petualangan menantang itu, kecerdasan dan jiwa kepemimpinan mereka ditantang. Pilihan harus diambil, keputusan besar harus dibuat, sedangkan kematian menghantui dan masa depan dunia menjadi taruhan. Akankah mereka membuat keputusan dan memilih jalan yang tepat?

***

Aku jarang mengomentari cover novel dalam sebuah review. Tapi, cover ini bagus. Aku sungguhan suka. Kalau tidak melihat cover ini, mungkin bayanganku tentang Argo II sejak pertama baca--di novel sebelumnya--beda jauh pakai banget. Banyak hal atau kata dalam novel Percy maupun HoO yang susah untuk dibayangkan. Bagaimana bentuk para makhluk, monster maupun dewa, deskripsi tempat dan suatu benda, aku sering lumayan susah untuk membayangkan walaupun sangat menikmati betapa serunya petualangan Tim 7 orang dalam ramalan ini. Ini juga kekurangan dalam novel HoO dibanding Percy Jackson, yakni kurang gambar ilustrasi. Malah nyari tak ada, beda dengan Percy Jackson yang hampir tiap bab ada gambarnya.

Oke, mengesampingkan gambar ilustrasi yang tak ada di House of Hades, ceritanya semakin seru. Selain itu ada dua bagian dalam novel yang membuatku terharu sekaligus sedih--kebetulan adekku juga muter lagu Remembernya Josh Groban, klop sudah hati ini teriris pilu #lebay soalnya itukan juga lagu backsound-nya film Troy saat Hector mati gara-gara perang. Ish, makin melantur. Yah, walau adegannya tak sedramatis perang Troya tapi sama nyeseknya.

Bagian nyeseknya adalah:

  • Saat Nico dan Jason menghadapi Cupid. Sama seperti Jason, sebelumnya Cupid kugambarkan seperti malaikat-malaikat bayi bugil bawa-bawa panah. Tapi di sini? Dia sendiri yang bilang bahwa kematian (Thanatos) jauh lebih ramah daripada cinta. Cupid berhasil membuat Nico mengaku bahwa dia memendam perasaan pada Percy. Dituliskan dengan dramatis yakni ada kilasan-kilasan masa lalu antara Nico dan Percy yang membuatku ikut merasakan betapa sedihnya ingin membenci tapi tak bisa membenci malahan perasaan suka makin tumbuh subur. #IniBukanCurhat Sehabis baca, aku makin bersimpati pada Nico. Sedang Percy? Kok tak begitu suka. Apalagi hingga sebelum jatuh ke Tartarus Percy masih saja berprasangka negatif pada Nico membuat Jason juga tak begitu percaya pada siapa Nico berpihak.
  • Sepanjang kisah Bob yang menemani dan membantu Percy dan Annabeth di Tartarus. Piye perasaanmu? Andai ada di posisi Bob? Di masa lalu, Percy, Nico, Thalia bertarung dengan Lapetus di dunia bawah. Lapetus jatuh ke sungai Lethe (maaf kalau salah tulis, aku susah ingat nama-nama), hilang ingatan lalu dititipkan kepada Hades yang justru Lapetus yang dinamai Percy, Bob dijadikan budak yang harus bersih-bersih. Karena Nico--lagi-lagi menolong secara tak langsung--menengok Bob dan suka menceritakan soal Percy, kini Bob mati-matian menolong Percy dan Annabeth hingga bisa memasuki pintu ajal. Sedang dia sendiri na'as, dikeroyok banyak monster dan terancam dibunuh Tartarus. Padahal Percy mah apa atuh? Ingat Bob aja tidak apalagi nengok. Oke, Percy. Berterima kasihlah pada Nico! Oh iya, si Kucing keren yang berubah jadi Singa dan raksasa, Damasen juga berkorban nyawa buat Percy dan Annabeth. Yeah, tokoh utama selalu menang dan figuran selalu dijadikan korban. #LirikRickRiordanTajam Tapi ada hal yang bisa kupetik. Hukum karma atau hukum tebar tuai itu ada. Andai di masa lalu Percy dkk membunuh Bob, misi ke Pintu Ajal takkan berhasil.


Ada bagian sedih bin nyesek pastilah ada juga bagian happy--atau lucu menurutku--dan tentu saja keren, kan? Ini nih yang aku suka. Cekidot:

  • Leo terdampar di pulaunya Calypso. Interaksi mereka mmanis dan terasa wajar juga lucu. Jadi beda dulu saat Percy yang terdampar di pulau. Bagi yang tidak tahu. Calypso ada anak Atlas yang dihukum dewa terasing di Ogygia. Di sini disebutkan sudah 3 pahlawan yang terdampar di sana--tidak termasuk Leo. Dia dikutuk akan mencintai Pahlawan yang terdampar tapi Pahlawan akan memilih untuk pergi dari pulau. Nah, beda dengan Pahlawan lain, Leo awalnya tak disukai Calypso. Mengatai ceking, pendek dan lain sebagainya karena biasanya Pahlawan yang terdampar ya fisiknya tampan sempurna (Percy tampan?). Tapi berlalunya waktu interaksi merekalah yang membuat Calypso jatuh cinta. Jadi untuk kali ini Calypso tidak mencinta karena fisik luar. Yah, walau akhirnya Leo juga meninggalkannya sih. Apakah di buku selanjutnya Leo bakal menepati janjinya untuk menjemput Calypso?
  • Hazel dan Jason bernegosiasi dengan perompak yang membuat kapal mereka tak bisa berlayar karena Argo II ditahan kura-kira raksasa sebesar pulau (aku malah keingat One Piece :v). Lucunya dimana? Simpel sih. Cowok yang sejak lahir ditakdirkan jadi pemimpin, berpenampilan sempurna, gagah dan berkharisma tampak sangat lucu--bila dibayangkan--harus mencuci kaki bulukan sang perompak dan dengan gampangnya ditendang hingga mencelat tepat di mulut kura-kura. Menurutmu tidak lucu, tapi bagiku ini lucu dan... ironis. #KibarBenderaAntifansJason
  • Frank saat menghadapi ratusan sapi gila di Venesia juga saat melawan monster-monster di bawah tanah. Frank yang dalam pandanganku adalah cowok gemuk, imut-imut, kalem berubah menjadi cowok tangguh yang fisiknya berubah lebih kuat karena restu Mars. Bayangkan saja seorang diri membunuhi sapi gila dengan background kota Venesia yang terasa romantis. Epic sekali kan. Dan tambahkan adegan saat Frank dengan gagahnya mengatur ratusan mungkin ribuan para zombie romawi saat melawan monster. Andai ada filmnya pasti akan bagus banget.


Beda dengan Mark of Athena yang hanya berfokus pada 4 demigod saja, di sini fokusnya lebih banyak yaitu, Leo, Piper, Jason, Annabeth, Percy, Hazel dan Frank. Oh, semuanya mendapat bagian. Membuat tak hanya aku yang makin paham karakter dan kemampuan tiap-tiap tokoh tapi antar sesama tokoh juga jadi semakin memahami dan solid. Contoh: Hazel-Jason waktu kejadian kura-kura. Awalnya kedua orang ini tak begitu akrab, bahkan Hazel masih menyimpan rasa tak suka pada Jason sehingga di kepalanya masih ada pikiran negatif soal Jason. Dijelaskan apa yang membuat Hazel tak suka juga sebaliknya apa yang membuat Jason tak nyaman bila bersama dengan Hazel saja. Tapi makin tantangan mereka lalui, makin mereka saling mengerti kelebihan masing-masing.  Begitu pula dengan Jason-Nico. Bahkan di antara mereka semua hanya Jason yang mengerti pangkal masalah Nico, kenapa selama ini dia lebih suka menyendiri. Leo yang memberi Frank hadiah tempat untuk kayu bakarnya yang rentan terbakar supaya dia tak takut lagi, dan lain sebagainya.

Tak lupa, aku menemukan quote-quote yang bagus:

  • "Tapi, sihir tidaklah jahat atau baik. Sihir adalah alat, seperti pisau. Apakah pisau jahat? Hanya jika pemegangnya jahat."--Hecate: hal. 20
  • "Cinta bukan permainan! Cinta bukan kelembutan penuh bunga! Cinta adalah kerja keras--pencarian tanpa akhir. Cinta menuntut segalanya darimu--terutama kebenaran. Hanya setelah itu cinta membuahkan ganjaran."--Cupid: hal. 302
  • Kau tak bisa memburu-buru kesempurnaan."--Leo Valdes: hal. 421


Terakhir, aku kasih ranking 4,5 bintang dari 5 bintang untuk Heroes of Olympus #4 ini. Yuk cuz ke seri berikutnya!

Kamis, 31 Desember 2015

[Wrap Up Post] Read Big Challenge


Finally, Read Big Challenge telah berakhir. Cukup senang mengikuti challenge yang diadakan oleh Alvina lewat Challenge ini. Kenapa? Sejak ikutan, aku malah terobsesi ngumpulin novel-novel bantal. Dari yang awal Januari cuma punya 2-3 novel yang jumlah halamannya >500, kini malah sudah ada puluhan. #ngakak Yah, walau pada akhirnya nasib mereka malah jadi timbunan coz nggak sempat ngejar waktu buat baca. :'( Berharap semoga tahun 2016 diadakan lagi Read Big Challenge. Hehehe~

Baiklah! Berikut buku-buku bantal yang sudah berhasil aku taklukkan :
  1. Supernova #4: Partikel by Dee - 508 hal
  2. Halo by Alexandra Adornetto - 568 hal
  3. Hades by Alexandra Adornetto - 544 hal
  4. Dongeng ke Tiga Belas by Diane Setterfield - 608 hal
  5. Divergent by Veronica Roth - 544 hal
  6. Vampire Flower #1 by Shin Ji Eun - 518 hal
  7. The Bartimaeus Trilogy #1: The Amulet of Samarkand by Jonathan Stroud - 512 hal
  8. The Bartimaeus Trilogy #2: The Golem's Eye by Jonathan Stroud - 624 hal
  9. Insurgent by Veronica Roth - 551 hal
  10. Heroes of Olympus #1: The Lost Hero by Rick Riordan - 600 hal
  11. Supernova #5: Gelombang (Repackage) by Dee - 572 hal
  12. The Heroes of Olympus #3: The Mark of Athena  by Rick Riordan - 616 hal
  13. The Heroes of Olympus #4: The House of Hades by Rick Riordan - 640 hal
  14. The Heroes of Olympus #5: The Blood of Olympus by Rick Riordan - 528 hal

Kelas yang dipertandingkan:
  • Featherweight / Kelas Bulu: membaca 1 - 4 buku
  • Middleweight / Kelas Menengah: membaca 5 - 8 buku
  • Heavyweight / Kelas Berat: membaca > 8 buku
Selain kelas-kelas utama tersebut, ada pula Kelas Khusus:
Incredible Bulk: membaca minimal 1 (satu) buku dengan jumlah tebarconffeti

Berarti aku masuk kelas... HEAVYWEIGHT!!! YEAY!!! XD #tebarconffeti

Okay score yang aku dapat sebagai berikut:
Buku bantal 14 + kelas berat 3 = 17 point

Terakhir, makasih banyak buat Alvina yang sudah mengadakan. Ikutan Reading Challenge tuh selain menaikkan minat baca, juga menaikkan minat review. Aslinya aku paling males kalau disuruh buat review. Apalagi kalau review buku bantal susah buat ingat-ingat bagian-bagian favorit, jadi notes sama pen wajib di dekat kalau lagi baca. :v


[Review] THE MARK OF ATHENA



THE HOUSE OF OLYMPUS #3: THE MARK OF ATHENA
Penulis                 : Rick Riordan
Penerjemah       : Reni Indardini
Penerbit              : Mizan Fantasi
Terbit                    : Oktober 2012
Halaman              : 616
ISBN                      : 978-979433-740-0
Sinopsis               :
Ikuti Tanda Athena
Balaskan dendamku

Rencana Annabeth menjemput Percy dengan damai ternyata gagal dilakukan. Leo mengacau membuat perkemahan Jupiter memburunya. Namun, misi Ramalan Tujuh harus tetap dilaksanakan. Diabayngi kejaran para mata-mata dan pasukan demigod Roma, Percy, Frank, Hazel, Jason, Piper, Leo dan Annabeth tetap berusaha mencegah rencana jahat Gaea, berlayar menuju negeri kuno di Roma.

Dalam perjalanan penuh tantangan itu, Annabeth yang baru saja merasakan sedikit kebahagiaan setelah bertemu Percy, menyimpan kegalauan. Titah sang Ibu, Athena, untuk mengikuti Tanda Athena dan menghancurkan Roma terus membebaninya. Haruskah dia mengkhianati Percy dan teman-teman Roma barunya demi mengikuti Tanda Athena?

Bersama empat narator, Mark of Athena akan membawa kita ke dalam petualangan melintasi angkasa dan samudra yang penuh jebakan dan terror mengerikan.
***
Aku pikir, setelah membaca The Lost Hero dan langsung lompat membaca HoO #3 ini akan terasa ganjil. Pasalnya kisah sebelum ini tidak aku ketahui seperti apa. Rupanya tanpa membaca Son of Neptune dan langsung membaca ini tak terlalu terasa ada janggal—meskipun kuakui aku lumayan penasaran soal kisah Percy, Frank dan Hazel di Alaska.

Argo II selesai dibuat—aku jadi ingat kisah tiga sekawan Leo, Jason dan Piper di buku Demigod Diaries, lumayan wajib juga buku itu dibaca soalnya beberapa kali kisah disitu disinggung di novel ini. Team Annabeth dari Perkemahan Blasteran menyambangi Roma Baru bermaksud menjemput Percy. Awalnya kedatangan mereka diterima meski ada yang tak suka kedatangan demigod Yunani, tapi tak terlalu mengkhawatirkan. Percy jadi Praetor seolah menggantikan Jason, terlihat sekali dia diterima oleh Perkemahan Jupiter. Ada Tyson dan anjing neraka milik Percy yang bermain-main dengan Harpy yang bisa meramal, Ella. Annabeth berbincang-bincang dengan Reyna anak dewi Perang Romawi dan Leo yang mengajak Octavian jalan-jalan di Argo II. Lalu selanjutnya tiba-tiba Leo menembak perkemahan dan membuat semua pekemah Romawi marah besar. Mereka pun dikejar-kejar.

Perjalanan berlanjut ke Great Salt Lake. Argo II berhenti disitu karena ada kerusakan pada kapal. Leo perlu perunggu langit, kapur dan lainnya untuk memperbaiki kapal. Di sana Leo dan Hazel bertemu Nemesis, Dewi Pembalasan yang memberikan Leo kue keberuntungan serta beberapa wejangan untuk Leo. Dalam pencarian perunggu langit, dia bertemu Echo dan bekerjasama dengannya serta Hazel untuk ‘menolong’ Narcissus sekaligus membawa perunggu langit yang dipakai Narcissus untuk berkaca mengagumi wajahnya yang amat tampan—tapi saat baca ini rasanya pingin getok Narcissus dan para peri hutan fans-nya. Aku suka sekali dengan Leo yang selalu mengeluarkan humornya bahkan di saat genting sekalipun. Di sini dia bersikap konyol dengan berdandan ala cowok keren—yang tak keren—dan membuat Narcissus berpaling dari perunggu langit karena tak terima Leo mengolok-olok dirinya kalah cakep daripada Leo.

“Kau akan selalu menjadi orang luar, Nemesis memberitahunya. Roda ketujuh. Kau takkan menemukan tempat di antara saudara-saudara seperjuanganmu.”—hal. 81

Gara-gara nasehat itu, Leo jadi kepikiran. Tapi kalau dipikir-pikir ada benarnya juga sih. 7 orang, tapi ada 3 pasangan manusia yang berpacaran, sedang Leo? Masa sama Pelatih Hedge? Kalau aku ada di posisi Leo, aku bakal merasa seperti dikacangin. Tapi aku lumayan suka kalau Hazel sama Leo bukan sama Frank. Hahaha! Walaupun begitu, dari ketujuh demigod dalam ramalan, Leo salah satu yang paling ambil peran penting dalam kisah di novel ini. Justru aku rasa karakternya Leo terasa lebih kuat ketimbang Percy—yang sampai sekarang aku masih merasa dialah sang tokoh utama karena aku belum bisa move on dari novel Percy Jackson.

Keseruan dalam novel ini bergulir menuju petualangan mereka di Atlanta menemui Dewa Lau Kuno anak Gaea, bermaksud meminta tolong tapi malah Percy dan Frank hampir saja menjadi piaraan koleksi sang Dewa. Bertemunya mereka dengan udangsaurus yang membuat Frank, Leo dan Hazel tenggelam dan diselamatkan oleh kerabat jauh Chiron, membuat ketiganya menjadi makin saling memahami satu sama lain. Tim ini hanya diberi waktu enam hari dan semakin berkurang untuk menyelamatkan Nico di Angelo juga menggagalkan bangunnya Gaea. Lumayan surprise bahwa Nico punya saudara selain Bianca. Sepertinya sih bukan satu ibu—nah, ini juga yang membuatku sangat ingin baca seri sebelumnya, kayaknya part Nico lumayan banyak di sana. Ah, Nico… aku suka bocah ini. Sepertinya dia sayang Percy sampai-sampai dia mengatakan Percy adalah demigod yang paling kuat yang pernah dia lihat. Sweet…!!! Wkwkwkwk!!! Oh iya, sekilas baca ada penyataan Annabeth yang bilang Nico pernah menyukainya tapi Annabeth merasa Nico terlalu muda dan bukan tipenya. Benarkah? Di buku Percy Jackson and the Olympians yang seri ke berapa ya? Aku malah merasa ada ‘sinyal’ dari Nico ke Percy bukan ke Annabeth.

Bertemu berbagai monster dan makhluk mitologi, menjalani misi Hercules supaya bisa masuk Mediterania, mencari patung Athena Parthenos dan menyelamat Nico serta membunuh kembar raksasa dituliskan oleh Rick Riordan dengan begitu asyik, lincah dan mudah dipahami. Tak ada bagian yang membosankan dalam buku ini menjadikan kita tak bisa berhenti saat membacanya. Pokoknya aku suka novel-novel karya Rick. Ya sayangnya itu tadi, banyaknya tokoh utamanya di dalamnya—walaupun di sini di fokusnya ke 4 orang sebagai narasi yaitu Leo, Piper, Percy dan Annabeth—membuat karakter beberapa terasa mirip. Percy dan Jason misalnya. Tak ada kesan menonjol pada 2 orang itu. Beda dengan Leo bahkan Pelatih Hedge, ada karakter yang menonjol yang membuat mereka akan selalu diingat dan menjadi cirri khas mereka.

So, bagaimana dengan kelanjutannya? Apakah Tim 7 ini bisa mengagalkan Gaea bangun dan menemukan Pintu Ajal lalu menutupnya? Karena di akhir Percy dan Annabeth tertimpa musibah yang kupikir mustahil mereka masih hidup—tapi Nico dengan yakin bilang mereka hidup. Terus ke mana lagi mereka akan pergi? Di mana tuh Epirus? Yuk! Kita baca kelanjutannya—sambil terus mencari yang jual Son of Neptune dengan harga murah. Hahaha!

4,5 bintang dari 5 bintang untuk novel ini. Yang lagi-lagi membuatku selesai baca dalam 2 hari saja. Sangat jarang aku bisa selesaikan novel setebal bantal hanya dalam 2 hari.

Selasa, 24 November 2015

[Review] Gelombang (repackage)



GELOMBANG
DEE LESTARI
BENTANG PUSTAKA
Terbit : 12 Oktober 2015
Halaman: 562
ISBN : 9786022911302
Sinopsis:
Sebuah upacara gondang mengubah segalanya bagi Alfa. Makhluk misterius yang disebut Si Jaga Portibi tiba-tiba muncul menghantuinya. Orang-orang sakti berebut menginginkan Alfa menjadi murid mereka. Dan, yang paling mengerikan dari itu semua adalah setiap tidurnya menjadi pertaruhan nyawa. Sesuatu menunggu Alfa di alam mimpi.
Perantauan Alfa jauh membawanya hingga ke Amerika Serikat. Ia berjuang sebagai imigran gelap yang ingin mengubah nasib dan status. Pada suatu malam, kehadiran seseorang memicu Alfa untuk menghadapi ketakutan terbesarnya. Alam mimpinya ternyata menyimpan rahasia besar yang tidak pernah ia bayangkan. Di Lembah Yarlung, Tibet, jawaban mulai terkuak. 
Sementara itu, pencarian Gio di Rio Tambopata menemui jalan buntu. Pada saat yang tak terduga, pria yang pernah menemuinya di Vallegrande kembali muncul. Pria itu mengarahkan Gio ke pencarian baru. Petunjuknya adalah empat batu bersimbol, merepresentasikan empat orang, dan Gio ternyata adalah salah seorang dari mereka.
***
GELOMBANG adalah seri Supernova ke lima yang sudah lama ditunggu-tunggu. Dan, sekarang saya berharap INTELEGENSIA EMBUN PAGI juga cepatlah muncul. Sesuai apa yang saya harapkan, Gelombang cukup bagus, tak terduga dan kompleks seperti di seri Supernova sebelumnya. Meski saya paling suka dengan PARTIKEL. Dan juga Gelombang ada sesuatu yang terasa datar saat dibaca. Tapi kisah Alfa Sagala sungguh unik. Sejak dia kecil hingga tumbuh dewasa.

Diceritakan bahwa Thomas Alfa Edson tumben tidak dibawa mengungsi saat upacara gondang diadakan. Disitulah segalanya bermula. Alfa melihat sosok hitam besar yang dukun setempat sebut si Jaga Portibi. Alfa mulai mengalami mimpi buruk.

Di kampung Alfa, masih menjunjung tinggi tradisi sehingga dukun setempat pun begitu disegani. Dukun itu bernama Ompu Togu Urat yang menganggap Alfa istimewa dan ingin mengangkatnya menjadi murid. Begitu juga dengan dukun lain di kampung jauh yang awalnya Alfa tak begitu suka karena sosoknya yang mencurigakan.

Nasib Alfa bergulir hingga ayahnya memutuskan untuk memboyong seluruh keluarganya ke Jakarta. Alfa yang cerdas seharusnya bisa meneruskan studi ke universitas bergengsi plus mendapat beasiswa namun dia malah bersedia menggantikan sang kakak yang dipaksa ayahnya merantau ke Amerika Serikat sebagai pekerja di sana.

Singkat cerita, di Amerika Serikat dia tinggal di apartemen yang lingkungannya sungguh berbahaya dan sewaktu-waktu dia bisa kena pukul. Kepintaran Alfa mampu membuatnya menjadi semacam guru privat dan berhasil membuat dua temannya juga dirinya diterima di Cornell.

Kala Alfa menjadi sosok dewasa, suatu ketika dia bertemu dengan seorang wanita bernama Ishtar. Selama hidupnya Alfa takut tidur karena hanya akan mengantarnya pada mimpi buruk namun Ishtar adalah wanita yang bisa membuatnya tidur amat nyenyak setelah sekian lama. Sejak itu Alfa terus berusaha mencari Ishtar, tapi nihil. Alfa juga berusaha menguak misteri kenapa dia terus saja diikuti si Jaga Portibi hingga membawa dirinya sampai Tibet dan bertemu seorang wanita lain yang setia bersamanya dan ikut membantunya. Namun entah mengapa saya lumayan curiga dengan wanita ini. Mungkin kecurigaan saya akan terjawab di seri Supernova selanjutnya.

Khas Dee Lestari. Dalam setiap karyanya tak hanya kau temukan teka-teki, haru dan ketegangan namun juga bisa menemukan kelucuan. Setiap saya membaca Supernova, dalam hati saya selalu bergumam keren, kok bisa punya ide begini? Pokoknya seri Supernova recomended untuk dibaca. Harapannya sih di seri berikutnya semua tokoh di Supernova kan bakal bertemu, kan? Semoga seri selanjutnya lebih greget lagi. Karena di Gelombang terasa turun. Maksudnya dari Ksatria, Putri, Bintang Jatuh saya dibuat pusing dan tak begitu paham. Di Akar dan Petir saya mulai menyukai Supernova, tokoh Elektra juga Bodhi memikat saya dan semakin suka lagi saat baca Partikel, Zara membuat saya tercengang tapi di Gelombang ada penurunan ada bagian-bagian yang membuat pembaca bosan. Semoga selanjutnya tidak.

4 bintang dari 5 bintang untuk gelombang.

Jumat, 20 November 2015

[Review] THE LOST HERO


THE LOST HERO

Penulis: Rick Riordan

Penerbit: Mizan Fantasi
Halaman: 585
ISBN: 978-979-433-6533-3
Sinopsis:
Tiga demigod baru bergabung di perkemahan Blasteran. Jason yang tidak bisa mengingat jati dirinya, Piper dengan rahasia masa lalunya, dan Leo dengan kemampuan mekaniknya yang luar biasa. Bersama-sama, ketiganya mengemban sebuah misi penyelamatan. Misi yang juga akan mengungkap sebuah rahasia besar di masa lalu mereka. Bergabunglah dengan para demigod dari Perkemahan Blasteran dan nikmati petualangan serunya!

***

Yang membaca Percy Jackson & the Olympians wajib lanjut baca seri Heroes of Olympus. Setelah di akhir seri Percy Jackson, Oracle memberikan ramalan, nah rupanya nggak sesuai perkiraan Apollo bahwa ramalan itu masih akan terjadi bertahun-tahun kemudian.

Diceritakan saat Sekolah Alam Liar berwisata di Grand Canyon, Jason mendadak ada disitu tapi siapa pun seolah sudah kenal lama disertai ingatan palsu soal Jason. Padahal Jason sendiri nggak mengingat mereka termasuk yang katanya pacarnya, Piper.--lebih tepatnya dia nggak ingat apapun selain bahwa namanya Jason. Nah, disitu aksi pertama para pahlawan bertarung melawan roh badai dan pelatih mereka Gleeson lenyap.


Sehabis itu bantuan datang. Annabeth dan Buck menjemput tiga demigod--Jason, Piper, Leo--untuk membawa mereka ke perkemahan blasteran. Dan keseruan-keseruan selanjutnya bergulir dengan asyiknya. Mereka yang naik naga, bertemu dewa angin, Medea, Midas, Anak Bumi, Gaea dan lain-lain. Lalu satu persatu larik ramalan terealisasi di setiap petualangan mereka dalam melaksanakan misi penyelamatan Hera.


Seru! Walau di awal agak kurang terbiasa soalnya biasa baca Percy yang pakai pov. 1 sekarang pakai pov. 3 yang fokus penceritaannya berganti-ganti tapi cukup terbantu karena di setiap awal bab baru ada nama yang tercantum yang pasti menjadi sorot utamanya dalam bab itu.


Aku suka Jason. Terus terang saja sejak baca di awal aku suka Jason. Aku sebal dengan Leo yang tengil. Oh, iya... Aku juga suka Piper yang menurutku nggak Aphrodite banget. Namun makin ke belakang, aku suka ketiganya sama rata. Mereka menonjol semua. Piper yang makin menarik dan cantik dengan gayanya sendiri serta kehidupan dia dengan sang ayah ada kesingkronan yang aku temukan yang membuatku membatin, oh pantes sifatnya begitu. Leo juga. Kecuali Jason. Pembawaan yang tenang itu pas dengan style Romawi yang pernah dituliskan.

Ada tokoh-tokoh menyebalkan yang diijinkan untuk hadir tapi juga membuatmu berubah pikiran dan tak jadi membencinya. Hera dan Gleeson. Hahaha~ Waktu baca pingin pites dua tokoh itu. Tapi kan ya namanya karakter, itu memang ciri khas mereka jadi tokoh-tokoh inipun diijinkan menolong--sedikit--para pahlawan dengan caranya sendiri.


Intinya nggak hanya imajinasi Rick Riordan yang keren dan detail, tokoh-tokoh sekecil apapun perannya mempunyai ciri khasnya sendiri dan karakter masing-masing tuh kuat. So, pantaslah kalau novel-novel karyanya jadi bestseller.


Berikut quote favorit yang aku temukan--dan sempat dituliskan sebelum lupa:
  • "Terus bergerak--itulah motonya. Jangan sesalkan yang sudah berlalu. Jangan berdiam diri terlalu lama di satu tempat. Itulah satu-satunya cara untuk menghindari kesedihan."
    --Leo Valdes, hal. 72
  • "Humor adalah cara yang bagus untuk menyembunyikan kepedihan."--Leo Valdes; hal. 86
  • "Untuk menjadi sempurna, kita harus merasa bahwa diri kita sempurna--janganlah menjadi orang lain."--Aphrodite, hal. 454
Udah. Tiga doang. Wkwkwk!!! Aslinya lebih banyak yang kutemukan tapi karena nggak ada kertas atau hape buat nyatat ya abis kelewat lupa deh quote kecenya ada di halaman berapa. Ternyata quote dari Leo lah yang paling banyak. Dia emang paling unik dari yang lain. Dia suka melucu namun rupanya melucu dan nggak pernah bersikap serius itu hanyalah sebuah pelariannya karena masa lalunya yang kelam dan hatinya yang terus menyalahkan diri perihal kematian ibunya.

Bintang 4 dari 5 bintang deh untuk novel ini. Tinggal menunggu kisah para pahlawan lainnya termasuk Percy yang katanya bertukar tempat dengan Jason. Aku penasaran seperti apa Camp Blasteran Romawi.

Selasa, 03 November 2015

[Review] INSURGENT


Penulis: Veronica Roth
Penerjemah: Nur Aini
Penerbit: Mizan Fantasi
Terbit: Cetakan X, September 2014
Halaman: 551
ISBN: 978-979-433-737-0
Sinopsis:
Satu pilihan bisa mengubahmu, atau justru menghancurkanmu.
 
Konsekuensi pilihan yang diambilnya membuat Tris terjebak dalam  faksi pengkhianat yang membunuh keluarganya. Kini, Tris harus mencoba menyelamatkan orang-orang yang disayanginya, juga dirinya sendiri, sementara benaknya dikacaukan oleh berbagai pertanyaan tentang kesetiaan, identitas, dan pengampunan.

Ketika ancaman perang dan perpecahan faksi semakin mengancam, Tris harus memutuskan, tetap pada identitasnya sebagai Dauntless atau memunculkan dirinya yang sejati. Sebagai Divergent. Sebuah identitas yang dianggap berbahaya dan dihindari semua faksi.

***

"Seperti hewan liar, kebenaran terlalu kuat untuk dikurung."
--dari manifesto faksi Candor

Dalam perjalananku membaca Insurgent, aku menemukan rupanya begitu banyak ketidaksamaan dengan film yang aku tonton--atau aku mungkin lupa beberapa detail di film, who knows? Tapi aku lebih suka versi novel daripada film. Syukurlah aku membaca Insurgent setelah sebelumnya merasa kalau harus membaca Allegiant saja toh Divergent dan Insurgent sudah nonton filmnya. Tak seperti Divergent yang sebagian besar sama dan membuat aku bosan kala membacanya karena sudah tahu ceritanya mau ke mana, beda dengan Insurgent masih saja lanjut dan lanjut membaca lantaran penasaran akan isi ceritanya.

Oke, aku akan menuliskan kesanku saja mengenai novel ini. Kenapa aku lebih suka Insurgent versi novel? Di sini interaksi Tris dengan berbagai orang lebih banyak. Dan menjadi lebih terasa realistis. Kita logika saja, Tris yang seorang Divergent dan dibilang Jeanine mempunyai otak istimewa yakni peniru atau sangat mudah beradaptasi dengan beberapa faksi pastilah juga akan dengan mudah membaur maupun akrab dengan berbagai jenis orang. Nah, di sini terbukti melalui beberapa interaksinya dengan beberapa orang. Melalui interaksinya, aku jadi menganggap orang-orang ini seperti: Marlene, Cara, Uriah, Lynn, Zeke, dll itu bukan sekedar cameo. Mereka termasuk penting dalam cerita meski kemunculannya cuma mendapat porsi sedikit. Sehingga saat aku menemukan bahwa ada tokoh yang harus meninggal (contoh: Marlene dan Fernando), aku merasa ikut menyesalkan juga. Beda dengan versi film yang tidak menonjolkan tokoh-tokoh cameo ini saat Tris berinteraksi dengan mereka, jadi ya saat ada yang mati, ya begitu saja, tidak ada perasaan ikut sedih. Itu karena mereka tidak menonjol sehingga penonton tidak mengenal mereka.

Selanjutnya soal jalan ceritanya ada beberapa tekhnologi yang muncul di film tapi tak ada di novel. Contoh: Alat pendeteksi yang bisa mengetahui berapa persentase Divergent dalam diri seseorang. Di novel tak ada tuh. Jeanine tahu Tris istimewa karena diberitahui Caleb bahwa Tris mendapat tiga faksi saat tes simulasi kecakapan. Lalu di akhir cerita juga agak berbeda tapi kalau dituliskan nanti yang belum membaca mendapat spoiler. Hehehe~

Oh, iya, kekurangan novel ini adalah ada beberapa typo yang kutemukan. Soal bahasa sih yang ditulis penerjemah cukup bagus, tidak monoton dan santai sehingga yang membaca mudah mengikuti tanpa mengerutkan dahi karena ada kata-kata atau kalimat njlimet yang kurang dimengerti. Dan karena ada Allegiant jadi ending-nya gantung tapi cukup bikin penasaran akan lanjutannya. Kepalaku jadi bertanya-tanya siapa Amanda juga Edith Prior? Terus apa yang terjadi pada dunia sebelum pembentukan faksi? Kok gerbang ke dunia luar dibawa faksi Amity segala. Apa yang ada di dunia luar sampai mereka harus mengisolasi diri dan membentuk faksi?

Berikut quotes favoritku selama membaca buku ini:
"Untuk mendatangkan kedamaian, pertama-tama kita harus percaya."
--Johanna Reyes; hal. 39
"Terkadang, perubahan drastis membutuhkan tindakan drastis."
--Evelyn Johnson; hal. 125
"Biarlah rasa bersalah mengajarkanmu bagaimana harus bersikap di lain waktu."
--Andrew Prior; hal. 175
"Kita tak perlu menonjok muka orang untuk menunjukkan kekuatan kita."
--Tris; hal. 190
"Menurutku kita menangis untuk melepaskan bagian hewani dari diri kita tanpa kehilangan kemanusiaan kita."
--Tris; hal. 359
"Teknologi seharusnya membuat hidup jadi lebih baik."
"Apapun yang kau yakini, selalu ada teknologi untukmu."
--Cara; hal. 472
 "Tapi ingatlah, terkadang orang yang kau tindas menjadi lebih kuat daripada yang kau inginkan."
--Johanna Reyes; hal. 540

Sebagai penutup, aku kasih 4,5 dari 5 bintang untuk Insurgent yang berhasil bikin aku enggan berhenti membaca.

Rabu, 28 Oktober 2015

[Review] The Golem's Eye


THE BARTIMAEUS TRILOGY #2: The Golem's Eye

Penulis: Jonathan Stroud
Penerjemah: Poppy D. Chusfani
Penerbit: GPU
Terbit: Cetakan kedua, Agustus 2007
ISBN: 978-979-22-2963-9
Genre: Fantasi
Halaman: 624
Sinopsis:
Karier Nathaniel di pemerintahan terus meroket. Tapi kelompok pemberontak Resistance terus melakukan pengerusakan di London. Pekerjaan dan nyawa Nathaniel jadi terancam, bukan hanya akibat aksi Kitty dan teman-temannya, tapi juga karena suatu kekuatan yang tak dikenal serta membingungkan.
Nathaniel pun terpaksa melakukan misi berbahaya ke kota musuh, Praha, dan harus memanggil lagi jin menjengkelkan, misterius, dan berlidah tajam, Bartimaeus.
***

"Nathaniel. Aku bisa bilang apa? Meskipun kami kadang-kadang berbeda pendapat, aku pernah berharap ia akan menjadi orang yang sedikit berbeda daripada normalnya penyihir. Ia menunjukkan inisiatif besar di masa lalu, misalnya, dan sedikit lebih banyak sifat mementingkan orang lain."
--Bartimaeus; hal. 482-483

Tak hanya Bartimaeus yang mengeluh akan perubahan perangai Nathaniel, aku yang membaca pun juga, rasanya pingin aku ceburin itu bocah ke sungai Thames. Pasalnya, di sini Nathaniel lebih arogan, sombong dan sangat ambisius plus yang paling tak kusukai Nathaniel menjadi seorang pemuda pesolek yang terlalu memerhatikan penampilan dengan berlebihan juga menjadi bukan dirinya dengan cara meniru sikap penampilan penyihir lain agar dia bisa tampak sehebat mereka. Intinya Nathaniel di buku ke dua terlalu ingin cepat naik kariernya di kementrian.

Nah, hidupnya sehabis insiden Simon Lovelace itu amat mulus. Mendapat master baru yang lumayan berpengaruh dan bisa membuat dia semakin menjadi penyihir hebat, lalu direkrut masuk ke kementrian. Tapi semua itu menjadi porak-poranda sejak ada insiden beberapa tempat favorit dan terkenal di Inggris diserang Golem (katanya Bartimaeus yang disangsikan para menteri). Nathaniel yang disuruh bertanggung jawab menyelidiki dan menangkap dalang dari kejadian itu. Mulai di sini, dia semakin nggak respect dengan masternya juga merasa selalu terancam posisinya digulingkan. Belakangan, dia memilih mengejar resistance dan menangkap Kitty serta mengambil tongkat Gladstone yang dicuri sendirian supaya ambisinya mendapat kedudukan tinggi dan dihormati bisa tercapai. Tapi apa? Dia malah tertangkap Polisi Malam dan dituduh menjadi sekutu resistance. Poor, Nathaniel!

Untungnya, di sini ada tokoh utama lainnya yang porsinya tak kalah banyak daripada Nathaniel dan sang Jin Bartimaeus, eh? Malah porsinya lebih banyak daripada Nathaniel menurutku. Yak, seperti yang sudah kusebutkan, Kitty! Anggota Resistance yang di buku 1 hanya muncul sekilas saja.

"Itulah sebabnya aku tertarik waktu mengetahui kau datang untuk menyelamatkan Hyrnek. Akui saja, itu keputusan bodoh, dan kau sebetulnya tidak perlu mengambil resiko ini. Tidak ada seorang pun yang memaksamu. Kau salah langkah, tapi dengan alasan yang patut dikagumi..."
--Bartimaeus; hal. 542

Aku sepaham dengan kata-kata Bartimaeus di atas tentang Kitty. Aku suka sifat Kitty yang pemberani, peduli padahal bisa saja dia memilih untuk kabur daripada menolong dan peka. Kekurangannya hanya nekat. Kadang--dan memang begitulah bocah pada umumnya--dia terlalu ceroboh dan labil tapi kecerobohan berakibat fatal di masa tiga tahun lalu membuatnya menjadi sosok yang berhati-hati. Oh iya, aku jelaskan singkat siapa Kitty. Di masa lalu, Kitty lolos dari serangan mantra Jin yang dikendalikan Julius Tallow seorang Menteri Urusan Dalam Negeri. Bukan dia yang terluka melainkan sang teman bermain, Jacob. Sejak itu Kitty menaruh dendam pada para penyihir karena sudah bertindak tak adil padanya dan Jacob. Itulah juga yang membuat Kitty direkrut dalam kelompok pemberontak sekaligus pencuri benda-benda magis, Resistance yang dikepalai oleh Mr. Pennyfeather.

Misi pemcurian benda-benda magis di makam Gladstone membuat Kitty harus kehilangan seluruh rekan dari resistance--kecuali Nick yang kabur entah ke mana dan Mr. Hopkins yang tak bisa Kitty percayai. Dari semua benda jarahan yang tertinggal, Kitty berhasil membawa tongkat Gladstone yang pada akhirnya diinginkan banyak orang termasuk Nathaniel supaya kariernya naik tapi malah jadi tersangka. Di bagian ini setelah dituliskan dengan terpisah, Kitty - Nathaniel akhirnya bertemu. Ini yang aku tunggu-tunggu setelah sebelum baca buku ini aku mendapat spoiler kalau Nathaniel nanti mendapatkan pasangan(?). Hehehe...

Nah, setelah selesai membaca banyak muncul pertanyaan di kepala:

  • Siapa Mr. Hopkins? Sepertinya ada tujuan tertentu dia berada di resistance juga menjadi otak atas tindakan Duvall.
  • Siapa si pembunuh bayaran? Sampai di buku 2 belum nampak titik cerah identitasnya.
  • Sholto juga Makepiece sepertinya juga patut dicurigai deh.
Terakhir, aku kasih bintang 4,5 dari 5 bintang untuk novel ini.