Kamis, 16 Mei 2013

EXO - What Is Love


ROMANIZATION

Girl, I can’t explain what I feel
Oh baby my baby, baby, baby, baby yeah

haruga machi ilbunchorom neukkyojige mandeulji
nomanisseumyon yonghwasoge juin-gong
nol borodallyoganeun eksyonsinirado jjigeulgot chorom nan machi yongungi dwen gotchorom

non nege wanbyok sangsanghebwasso
hamkkeramyon ottolkka yeah
nan noman gwenchantago malhejumyon modu wanbyokhe oh baby

I lost my mind noreul choeummannasseultte
no hanappego modeun-goseun get in slow motion
nege mar-hejwo ige sarangiramyon

meil geudewa sumaneun gamjongdeureul-lanwojugo bewogamyo
ssaugo ulgo anajugo
nege mar-hejwo ige sarangiramyon

sesangnamjadeul modu nalburowohe
noreul gajin nega jiltuna jukgennabwa
hega gado dari gado jolde anbyonhe
nan bogiboda ujikhage mideullamjaraneun-gol
non algedweltenikka

I don’t know why joldejogin igamjong
nega senggakjocha hesseulkka
ne gyote isseultte nan jomjom dedanhan namjaga dwedo bitnaneun gol

I lost my mind noreul choeummannasseultte
no hanappego modeun-goseun get in slow motion
nege mar-hejwo ige sarangiramyon

meil geudewa sumaneun gamjongdeureul-lanwojugo bewogamyo
ssaugo ulgo anajugo
nege mar-hejwo ige sarangiramyon

ganjor-hi barago barandamyon
i-rwojilkka donghwayegichorom
yongwonhan dulmane happy ending happily ever after
namaneun nol midojugo jikyojugo dallejulkke
nipyoni dwelkke
nigyoteso jolde anttona

I lost my mind noreul choeummannasseultte
no hanappego modeun-goseun get in slow motion
nege mar-hejwo ige sarangiramyon

meil geudewa sumaneun gamjongdeureul-lanwojugo bewogamyo
ssaugo ulgo anajugo
nege mar-hejwo ige sarangiramyon

sesangnamjadeul modu nalburowohe
noreul gajin nega jiltuna jukgennabwa
My babe, baby babe, baby baby
nolaraboneun-gol ige sarangin-gol
aichorom nol jaju utgemandeulgo
chingguchorom nol gajang pyonhage mandeulkkoya
My babe, baby babe, baby baby
mar-hejwo nege what is love

ENGLISH

Girl, I can’t explain what I feel.
Oh baby my baby, baby, baby, baby.. yeah.

Making a day feel like a minute
With you, I’m the main character of a movie
As if I’m about to film an action scene to come see you, as if I’ve become a hero

You’re perfect to me, I imagined
How would it be if we were together?
If only you say okay, everything is perfect, oh baby

* I lost my mind, the moment I saw you
Except you, everything get in slow montion
Tell me, if this is love
Sharing and learning countless emotions everyday with you Fighting, crying and hugging
Tell me, if this is love

All the guys in the world are jealous of me
They must be jealous to death of me, for having you
Even after the sun goes down and moon goes down, it will never change
You will find out that I’m a guy whom you can trust

I don’t know why, this unconditional emotion
Did I ever imagine?
Next to me, your shine more brightly as I become a better guy

* I lost my mind, the moment I saw you
Except you, everything get in slow montion
Tell me, if this is love
Sharing and learning countless emotions everyday with you Fighting, crying and hugging
Tell me, if this is love

If you wish and wish earnestly
Will it come true, like the fairytales?
A never-ending happy ending, happily ever after
I will trust you, protect you and comfort you
I will be on your side
I will never leave your side

* I lost my mind, the moment I saw you
Except you, everything get in slow montion
Tell me, if this is love
Sharing and learning countless emotions everyday with you Fighting, crying and hugging
Tell me, if this is love

All the guys in the world are jealous of me
They must be jealous to death of me, for having you
My babe, baby babe, baby baby
I can tell, this is love I will make you smile often like a child
I will make you feel the most comfortable, like a friend
My babe, baby babe, baby baby
Tell me, what is love

INDONESIAN

Sayang.. Aku tak mampu untuk menjelaskan apa yang sedang aku rasakan
Oh baby my baby, baby, baby, baby.. yeah.

Karenamu, satu hari terasa seperti hanya satu menit
Ketika bersamamu, aku merasa menjadi seorang karakter utama dalam sebuah film
Rasanya aku adalah seorang pahlawan dalam adegan film action yang akan datang menyelamatkanmu

Kau sempurna bagiku, aku membayangkan…
Bagaimana jadinya jika kita bersama?
Hanya dengan kata oke darimu, semuanya menjadi sempurna, oh baby

*Aku akan kehilangan akal, ketika aku melihatmu
Kecuali dirimu, apapun yang ada didunia ini akan bergerak lambat
Katakanlah padaku, jika yang aku rasakan ini adalah cinta
Berbagi dan belajar berbagai hal yang aku rasakan bersama denganmu
Perjuangan, tangisan dan pelukan
Katakanlah padaku, jika yang aku rasakan ini adalah cinta

Semua pria di dunia cemburu padaku
Mereka pasti cemburu setengah mati padaku
Bahkan hingga matahari dan bulan sudah tenggelam, perasaanku takkan pernah berubah
Kau akan menyadari bahwa akulah seorang pria yang bisa kau percaya

Aku tak tahu mengapa, ini adalah perasaan tak bersyarat
Apakah aku pernah membayangkan hal ini?
Disampingku, kau bersinar lebih terang membuatku menjadi seorang pria yang lebih baik

* Aku akan kehilangan akal, ketika aku melihatmu
Kecuali dirimu, apapun yang ada didunia ini akan bergerak lambat
Katakanlah padaku, jika yang aku rasakan ini adalah cinta
Berbagi dan belajar berbagai hal yang aku rasakan bersama denganmu
Perjuangan, tangisan dan pelukan
Katakanlah padaku, jika yang aku rasakan ini adalah cinta

Jika kau ingin dan mengharapkannya dengan sungguh-sungguh
Akankah semuanya terwujud, seperti cerita dongeng?
Berakhir bahagia, bahagia selamanya
Aku akan mempercayaimu, melindungimu dan menghiburmu
Aku akan berada disampingmu
Aku takkan pernah meninggalkanmu

* Aku akan kehilangan akal, ketika aku melihatmu
Kecuali dirimu, apapun yang ada didunia ini akan bergerak lambat
Katakanlah padaku, jika yang aku rasakan ini adalah cinta
Berbagi dan belajar berbagai hal yang aku rasakan bersama denganmu
Perjuangan, tangisan dan pelukan
Katakanlah padaku, jika yang aku rasakan ini adalah cinta

Semua pria di dunia cemburu padaku
Mereka pasti cemburu setengah mati padaku
Aku bisa mengatakannya, yang ku rasakan ini memang cinta
Aku akan membuatmu tertawa sesering mungkin, seperti seorang anak kecil
Aku akan membuatmu merasa lebih nyaman, seperti seorang teman
Jelaskanlah padaku apa itu cinta..

English taken from pop!gasa

Translated & Edited to INDO by ciwbaik.wordpress.com


Hanafubuki



Rasa senang perlahan merayap. Membuatku menghela nafas lega. Malam telah lama datang. Bukannya aku beristirahat tapi malah memilih untuk mengendap-endap keluar dari kamar pesakitan.

Terus berjalan dengan susah payah dan berusaha seminim mungkin mengeluarkan suara yang ditimbulkan hentakan kakiku. Tak mau perawat memergokiku dan menyeretku kembali ke kamar pengap itu, aku terus melangkah menuju taman yang berada tepat di tengah-tengah rumah sakit.

Sungguh! Ini harus kulakukan. Aku sudah merasa muak dengan bau obat yang menyeruak di kamar. Aku sudah lelah tersenyum ceria, sok kuat pada orang-orang yang memandangku kasihan. Aku hanya ingin menjadi diriku. Diriku sebenarnya yang sebetulnya lemah dan butuh penghiburan bukannya terus terkungkung dalam bangsal sesak penuh bau menyengat.

Tertatih-tatih sambil menghimpun sisa kekuatan yang kumiliki, aku terus melangkah dengan kaki gemetar. Ini bukan misi melarikan diri. Aku hanya ingin keluar sebentar. Hanya semalam saja sebelum besok siksaan berat kembali menghantam. Mungkin saja kan, besok aku tak lagi bisa melihat dunia? Mengingat besok aku akan menjalani operasi yang menentukan hidup dan matiku. Yah, kalau perkiraanku menjadi kenyataan aku malah berlega hati, rasa sakit yang menggerogoti dan sudah lama menyiksaku ini tak lagi bisa menyerang. Aku pasti akan menuju ke alam yang lebih damai. Ini sikap putus asa memang, tapi aku sungguh-sungguh sudah lelah. Dan untuk yang terakhir kalinya aku ingin melihat sakura mekar meski kesempatan itu datang di malam hari—karena di siang hari aku tak diperbolehkan keluar kamar dan pastinya taman akan penuh dengan orang-orang.

“Sampai...,” gumamku lirih seraya menatap hamparan rerumputan yang tertata apik, bebatuan yang mengelilingi kolam kecil dimana nampak bambu berayun naik turun sesuai dengan debit air yang terisi dan yang terpenting pohon sakura yang menjulang tinggi dengan bunga-bunganya yang berwarna pink berada di tengah-tengah seolah dia menjadi pusat pemandangan menarik dari semua tanaman yang tumbuh di sekelilingnya.

Aku yang sempat terpaku kembali melanjutkan langkah. Menuju ke sebuah kursi taman yang terletak tepat di bawah pohon sakura yang nampak jelas karena lampu-lampu yang menyoroti semua penjuru taman.

Duduk disini sendirian rasanya nyaman walau terselip hawa kesepian. Andai aku tak mendekam terlalu lama di bangunan yang didominasi warna putih itu. Pasti hari-hari dimana sakura mekar seperti sekarang, aku sudah duduk bersama-sama kaa-san , tou-san dan nee-chan di bawah pohon sakura di taman Ueno untuk merayakan Hanami . Hahhh... Kapan ya aku merayakan hanami seperti itu? Sepertinya sudah sangat lama aku tak lagi menghabiskan waktu untuk sekedar berlibur dengan keluarga.

“Hei, kenapa duduk sendirian malam-malam begini? Apa kau tak takut diculik hantu?” Suara seseorang membuat bayanganku mengabur lenyap.

Kutatap dia dengan wajah tak suka. Kesendirianku terganggu oleh sosok asing berambut awut-awutan yang di tangannya sedang membawa setoples entah apa itu isinya.

“Hantu? Orang sepertiku sudah tak merasa takut dengan ‘calon teman’nya,” sahutku dengan muka datar.

Ternyata ide kabur diam-diam ke taman tak hanya aku yang memikirkannya, dia pun juga. Dan sekarang kami bertemu, saling menatap dengan sorot menelisik lalu duduk bersebelahan. Sungguh tak terduga.

“Sepertinya kau ini pasien berpenyakit kronis ya? Kelihatan sekali dari keputusasaan yang secara tak langsung kau utarakan.” Dia tersenyum sambil meletakkan toples kaca itu di sampingnya.

Aku hendak menanggapi celotehnya yang lumayan menohok tapi begitu melihat isi dalam toples kaca, aku malah terkekeh.

“Tsuru ? Masih percaya dengan takhayul rupanya?” ejekku dan suaraku semakin terbahak tapi ekspresi yang dia tunjukkan
tak sesuai dugaan. Tak nampak amarah atau rasa jengkel muncul di raut wajahnya.

“Ini bukan takhayul atau dongeng anak-anak. Tsuru kertas ini adalah doa dan api penyemangat, nona,” sanggahnya seraya menatap toples itu lekat-lekat.

Ucapannya membungkamku. Ah, bukan! Bukan kata-katanya yang membuatku tak bisa menyahut tapi ekspresi di wajahnya. Lampu neon yang menyorot pohon sakura dan kami, membuatku jelas dapat melihat betapa seburat merah di pipinya itu muncul tiba-tiba. Wajahnya melembut begitu tatapan mata itu tertumbuk pada benda kecil-kecil di dalam toples. Apakah tsuru kertas itu buatan seseorang yang begitu dia sayang? Sampai-sampai ekspresinya berubah seperti orang yang dilanda kasmaran.

“Jangan-jangan kau tak mengerti esensi dari mitos tsuru? Ini tak sekedar sebuah ritual untuk meminta sesuatu. Apa kau tahu? Setiap hari Hirano melipat kertas-kertas kecil ini setelah sebelumnya menorehkan kata-kata penyemangat di dalamnya. Dia menuliskan permohonan. Doa, agar aku cepat sembuh. Kesungguhan hatinya sangat tersampaikan dan membuatku terharu.” Dia menghela nafas sesaat, melirik bunga-bunga yang menempel di dahan yang berada tepat di atas kami lalu beralih menatapku dan kembali berucap, “Bukan 1000 tsuru kertasnya yang membuat permohonan si pembuat terkabul tapi kesungguhan hatinya lah yang membuat keinginannya yang tulus menjadi kenyataan.” Tangannya memutar-mutar tutup toples dan mengeluarkan satu bangau kertas selanjutkan dia berikan padaku. “Bukalah.”
Aku mengernyit bingung seraya menerima tsuru itu. Kubuka lipatan-lipatan pada kertas dan seketika terpaku menatap kalimat yang tertoreh di dalamnya. “Taro-kun , kau pasti akan sembuh! Kau kan sekuat Tora . Jadi, terus berjuang ya?!” Aku berbisik lirih membaca tulisan dari gadis bernama Hirano.

Pasti sangat melelahkan menulisi satu-satu lembaran-lembaran kertas lipat sebanyak itu dan setelahnya melipat dengan teknik lipatan yang serumit ini. Aku saja terharu melihatnya apalagi pemuda itu. Pantas dia bersemu bahagia tadi.
“Kau beruntung ya? Pacarmu sangat menyayangimu,” ucapku lirih sambil kembali melipat kertas ini ke bentuk semula. Aku menuduk. Mataku terfokus pada apa yang kupegang tapi rasanya hatiku mendadak sakit. Aku... Aku merasa... Iri!

Kudengar kursi berdecit lirih dan kurasakan pergerakan darinya. Dia berdiri tepat di depanku.

“Kau ini tak bisa membuat origami tsuru ya? Sini, biar aku saja.” Dia merampas apa yang selama semenit lebih ini
kutekuni tapi tak kunjung berhasil melipat sama persis seperti tadi.

Mau tak mau aku mendongak menatapnya. Ternyata, jika diperhatikan dengan seksama dia nampak gagah dan... tampan. Kenapa tadi tak kusadari?

“Kenapa? Baru sadar aku tampan?” ucapnya narsis begitu menyadari sedang kupandangi.

“Eh? Ti-tidak kok. Siapa juga yang melihatmu. Aku hanya mengamati cara membuat tsuru,” sahutku gugup.

Dia mengangkat alisnya. “Ternyata kau benar-benar tak bisa melipat tsuru ya? Baru tahu aku, kalau ada orang Jepang yang tak bisa membuatnya. Nona, kau tak pernah diajari di sekolah?”

Eh? Awal-awal pertemuan tadi kupikir dia itu orang yang ramah dan lembut ternyata aslinya seketus ini? Narsis pula!
Cih! Waktu menikmati sakura yang sangat susah kudapatkan menjadi sia-sia karena dia. Menyebalkan!

“Memangnya kenapa kalau aku tak bisa melipat kertas hah? Aku memang tak pernah sekolah!” Aku menyahut tak kalah ketus.

“Mana ada orang yang tak pernah sekolah?” Dia bertanya dengan wajah terheran-heran. Aktifitasnya melipat tertunda.

Dia duduk lagi menjejeriku tapi kali ini lebih dekat bahkan siku kami saling bersinggungan.

Aku menyadari bahwa reaksiku barusan berlebihan, “Tidak sepenuhnya tak pernah sekolah sih. Tapi karena aku memang lemah sejak lahir jadi lebih sering membolos berhari-hari untuk memeriksakan diri di rumah sakit atau beristirahat di rumah. Hingga akhirnya aku merasa percuma sekolah. Jadi aku tak mau sekolah lagi.” Aku mengaku. Luka lama kembali muncul, membuat hatiku sedih dan dadaku sakit ketika menceritakannya. Tapi kenapa aku menceritakan hal ini pada orang asing sih? Tak biasanya aku berkata-kata sebanyak ini kepada orang—termasuk keluargaku sendiri.

“Kau tahu? Hirano sering bilang, tak ada yang percuma di dunia. Semua yang kita lakukan pasti berdampak. Setidaknya dengan bersekolah kau bisa merasa lebih hidup ‘kan? Bertemu dengan banyak orang, mendapatkan teman dan tentunya tak kesepian.”

“Aku tak punya dan tak mungkin mendapat teman,” sanggahku cepat. “Tak ada yang mengingatku karena aku jarang muncul. Aku ada atau tidak pun tak berarti apa-apa bagi mereka. Jadi kehadiranku itu tak berpengaruh apa-apa?! Tak berdampak! Percuma! Sejak kecil aku terlahir dengan fungsi jantung yang tak normal. Setiap waktu harus menikmati pemandangan rumah sakit yang menjemukan, melihat ekspresi murung orang-orang di sekitar dan terlebih lagi... aku... selalu merasa was-was dengan kematian yang setiap saat mengintip. Tahu apa kau tentang penderitaanku? Dan... dan lagi si Hirano itu. Dia tak pernah merasakan hal sama denganku jadi segampang itu dia bisa berbicara!” sangkalku dalam sekali tarikan nafas. Aku terengah-engah dan dadaku seketika terasa seperti ditusuk-tusuk. Emosiku sepertinya sudah tak terbendung. Segala perasaan yang terpendam dalam hati tumpah begitu saja di hadapan orang asing yang bahkan belum memperkenalkan diri.

Raut mukanya menujukkan keterkejutan tapi cuma sesaat. Beberapa detik kemudian dia kembali tersenyum. Terlihat lembut. Sontak aku menjadi merasa bersalah.

“Hirano pasti tahu apa yang kau rasakan. Karena dia mengerti betul bagaimana rasanya sakit itulah, dia memberiku ini.” Di sorongkannya toples itu ke arahku. Senyumnya menghilang.

“Maksudnya?”

“Ini benda terakhir yang Hirano berikan padaku sebelum dia meninggal beberapa hari yang lalu. Padahal kami sudah berjanji untuk melihat bunga sakura sama-sama disini sambil menunggu hanafubuki. Tapi Tuhan berkehendak lain.” Dia diam sesaat. Raut kesedihan terpatri jelas. Begitu melihat kelopak bunga gugur. Tangannya terulur menadah, berusaha menangkap kelopak yang terjatuh perlahan itu. “Hirano mengidap leukimia. Untuk sembuh, dia membutuhkan cangkongan sumsum tulang belakang dan sangat susah menemukan orang yang cocok sebagai pendonor. Sedangkan aku hanyalah orang yang kebetulan seruangan dengannya yang sama-sama menderita sebuah penyakit. Dulu aku sepertimu. Pesimis. Putus asa dalam menjalani hidup. Tapi begitu mengenal Hirano semangat hidupku kembali meletup-letup. Aku beruntung bertemu dengannya. Kalau tidak, pasti sekarang aku sudah mati dalam keputusasaan. Hidupnya memang singkat tapi sangat membekas terutama dalam ingatanku. Aku berhutang nyawa padanya. Jantungku ini pemberiannya dan semangat yang kurasakan sekarang juga berkat dirinya. Jadi jangan manja, nona. Semangat hiduplah yang membuat seseorang merasa hidup. Nikmatilah hidupmu semaksimal mungkin.” Dia mengusap-usap rambutku lembut. Membuatku merona. Kikuk.

“Ak-Akanishi. Yukio Akanishi namaku, bukan nona.”

“Akanishi ya? Salam kenal. Namaku Shotaro Akichi.” Tangannya terulur menunggu tanganku menjabatnya.

Ini adalah permulaan persahabatan kami. Hingga langit berubah warna menjadi kebiruan, kami tetap berada disini. Berbicara, bercanda dan menikmati bunga-bunga yang mendominasi ranting-ranting yang menaungi kami.

Sebelum kami kembali ke tempat kami masing-masing, janjinya yang tak terpenuhi pada Hirano, dia layangkan padaku. Dia ingin kami kembali bertemu saat hanafubuki tiba. Menikmati kelopak-kelopak indah itu berguguran seraya melanjutkan obrolan-obrolan panjang yang mengasyikkan.

“Aku akan datang ke pohon itu Akichi. Pasti.” Kembali kuucapkan sumpahku dalam hati lalu memejamkan mata karena rasa kantuk yang mendera. Entah mengapa, kamar yang paling kubenci dan selalu saja tak dapat membuatku tidur nyenyak ini, kini terasa nyaman. Mendamaikan.

***

Mataku terbelalak tapi langsung memicing begitu menatap lampu di atap yang terasa sangat menyilaukan. Kuedarkan pandanganku dan kutemukan dokter yang sepertinya sudah selesai memeriksaku, kaa-san, tou-san dan nee-chan juga ada di sekelilingku. Lontaran kata-kata sukacita dan pelukan-pelukan hangat aku terima begitu dokter menyimpulkan bahwa aku sudah melewati masa kritis.

Hatiku pun ikut bahagia. Terlebih ketika kurasakan tubuhku seolah lebih ringan. Tak ada nafas yang terputus-putus karena dada sesak dan pastinya rasa sakit yang menusuk tak lagi menyerang. Aku hidup kembali. Operasi transplatansinya berhasil. Dan itu artinya aku menjadi gadis normal. Bisa melakukan banyak aktifitas yang kusukai, bersekolah dan..., Eh? Tora! Untung saja aku teringat dengannya juga janji kami.

Serta merta aku bertanya, “Kaa-san, musim sakura mekar masih ada ‘kan?”

“Eh? Kenapa Yuki-chan tiba-tiba bertanya soal sakura?” Nee-chan menimpali dan tou-san serta kaa-san hanya menatapku bingung.

“Jawab saja!” pintaku tak sabar seraya bangun dari ranjang dan bersiap-siap turun.

“Eh-eh! Yuki-chan, kau baru siuman jangan langsung bangun. Kau ini kenapa sih? Panik begitu.”

Tanpa menunggu jawaban yang tak kunjung datang aku langsung berjalan menuju pintu keluar tapi cengeraman tangan
mereka sungguh menunda maksudku, “Lepaskan aku. Ku mohon. Aku ada janji melihat hanafubuki.” Aku berontak, berusaha melepaskan cengeraman mereka.

“Janji? Dengan siapa?”

“Akichi. Aku ingin bertemu.” Aku kembali membujuk mereka.

Masih dengan saling menatap bingung akhirnya cengekeraman ini lepas sudah. Kontan aku langsung berlari menuju taman. Kuharap aku tak terlambat. Pohon sakura, kumohon jangan gugurkan bungamu sebelum aku datang.

Bunga-bunga sakura yang dulu mendominasi semua dahan-dahan kini tak nampak lagi. Seluruh permukaan pohon dipenuhi daun-daun hijau. Terlebih lagi tak kulihat Shotaro Akichi di kursi itu.

Tentu saja dia tak ada. Hanafubuki sudah lewat. Janji kami sudah kedaluarsa karena aku tak datang. Namun... tetap saja aku merasa kecewa. Pohon tak mungkin bisa menunggu tapi Tora, kenapa tak menungguku? Aku ingin bertemu! Aku ingin menceritakan bahwa semangat hidupku sudah kembali. Aku mendapatkan jantung baru dan tentu saja yang terpenting dari semuanya aku ingin lebih dekat dengannya. Walau hanya sekali itu bertemu tapi aku merasa suka. “Aku menyukai
Tora. Ingin bertemu Tora.” Tanpa sadar mulutku mengeluarkan suara. Airmataku tak terbendung lagi, mengalir deras tanpa bisa berhenti.

“Kenapa kau tak menungguku? Dan bodohnya aku, kenapa waktu itu tak bertanya tentang rumah dan asal usulmu? Kenapa? Kenapa? Kalau begini aku tak bisa mencarimu Tora!” Kakiku melemas dan membuatku duduk berjongkok seraya menyembunyikan wajah di antara lutut.

***

Minggu demi minggu berlalu... Sesuai dengan nasehat seseorang, aku berusaha untuk menikmati hidupku. Melakukan apa yang kusuka dan tentu saja kembali bersekolah.

Aku tertegun lama. Melamun dengan sorot mata yang tak beralih dari pintu gerbang utama Tokyo gakuen . Bukannya aku gugup untuk melangkah lebih jauh dan merasakan lingkungan yang baru tapi entah mengapa melihat bangunan sekolah itu aku jadi teringat Akichi.

“Bahkan usiamu saja aku tak tahu,” gumamku lirih. Perasaanku sendu.

“Hahhh... Tarik nafas... Hembuskan... Ya, sudah cukup persiapannya. Jangan gugup saat memperkenalkan diri Yukio! Ganbatte! ” ucapku pada diri sendiri di depan pintu kelas. Tinggal menunggu Matsuda-sensei menyuruhku masuk maka

perjuangan di sekolah baru resmi dimulai.

“Ayo masuk,” perintah sensei begitu membukakan pintu. Aku hanya mengangguk seraya melangkahkan kaki.

“Anak-anak inilah teman baru kalian,” ujar Matsuda-sensei berusaha menguasai keadaan yang tadi sempat sedikit riuh begitu aku masuk. “Akanishi, silakan memperkenalkan diri.”

“Ba-baik.” Aku membungkuk singkat pada Matsuda-sensei lalu memutar arah menghadap murid-murid 1A yang tak lagi mengeluarkan suara sedikitpun. “Wa-watashiwa wa —“ Begitu aku melayangkan pandang ke arah puluhan murid, seketika mataku tertumbuk pada wajah yang sangat kukenal. “Sho-Shotaro Akichi?!” pekikku kaget. Buru-buru aku membungkam mulutku saat kusadari keterkejutanku membuat mereka menatapku aneh.

Akichi menegakkan badan lalu tersenyum kepadaku. Membuatku seketika merasa diguyuri ribuan kelopak bunga. Hatiku bersorak gembira. Rasanya aku ingin berlari ke arahnya dan memeluknya erat.

Dia ada disini. Satu sekolah denganku. Tak ada lagi rasa kecewa di hati karena takdir sudah berbaik hati mempertemukan kami. Akichi, kuharap ini adalah sebuah pertanda bahwa kita terhubung. Pertemuan pertama bisa disebut kebetulan tapi untuk yang kedua, boleh ‘kan aku mengatakan bahwa kita berjodoh?

Sepertinya musim semi tahun depan aku bisa menikmati hanafubuki yang tertunda nih, batinku girang. Tak apa jika aku menjadi terlalu percaya diri. Kan, takdir sudah mengatakan dengan jelas bahwa kami berjodoh. [ ]

Senin, 25 Februari 2013

Curug 7 Bidadari: Setiap Tempat Punya Cerita [Hana Pratiwi]





Curug 7 Bidadari berada di daerah Sumowono dan 3 jam perjalanan dari Semarang, naik motor. Pegel banget dah. Untungnya pas ke sana aku diboncengin Adek, jadi nggak capek-capek amat. Aku ke sana bareng ke 5 teman-temanku. Kalau capek di perjalanan kami berhenti sejenak lalu kembali lanjut jalan kalau capeknya udah ilang. Tapi asyik lho... coz bisa lebih leluasa mengamati pemandangan sekitar yang masih asri banyak pepohonan.

Tiket masuk cuma 4000 rupiah aja. Murah, 'kan? Apalagi kalau ngeliat pemadangan air terjun yang lumayan lebar dengan airnya yang masih jernih itu. Pokoknya capek-capek dalam perjalanan dijamin langsung ilang deh. Sejuk, airnya dingin, pemandangan indah. Nggak rugi ke sana.

Di sana ada saung sama penjual makanan tentunya, jadi bagi yang nggak bawa bekal bisa beli. Tarifnya bersahabat kok, nggak nyekek leher. Hehehe~

Kenapa disebut air terjun 7 bidadari? Karena kalau dihitung air terjunnya ada 7. Kalau nggak percaya itung sendiri sana.

Penasaran? Penasaran pengen ke sana? Buruan deh ke sana. Tapi cuma menghimbau, jangan ke sana kalau musin hujan. Percuma, airnya jadi keruh coklat soalnya.

Sudah ya... Ceritanya... Sampai jumpa di ceritaku selanjutnya.

Minggu, 20 Januari 2013

MOON


~MOON~

==============================

“Luka goresan ini bukanlah hal utama yang membuatku menangis. Namun sakit dari dalamlah, yang entah dibagian mana membuatku merasakan sesak yang amat sangat. Rasanya aneh dan menyiksa… Membuatku ingin lebih memilih mati daripada harus menjalaninya.”

“Sejak saat itu aku mengerti, ternyata di dunia ada juga rasa yang seperti ini. Inilah rasanya ‘cinta’ yang sering diagungkan oleh MANUSIA. Jika berpisah dengan orang yang dicintai akan terasa sangat sepi dan kehilangan. Padahal sudah sekian lama aku sendirian namun baru kali ini kurasakan kesepian serta kerinduan. Rasanya benar-benar menyakitkan. HANA!!! Aku hanya ingin bersamamu! Mustahilkah itu?”

“Itu adalah saat pertama aku mengenal apa itu impian, cita-cita dan tujuan hidup. Kau sederhana namun kehadiranmu membuat perasaanku menjadi kompleks.”

(Andrew Quote)


===============================

Andrew’s PoV.

Aku bergidik gelisah di ujung tembok. Duduk meringkuk dengan manik mata terpaku tak lepas menatap sekelumit pemandangan mengerikan—yang pasti hanya terlihat biasa jika berada disituasi yang berbeda—di ruangan yang hanya diterangi sinar bulan yang menyorot teduh dari luar jendela.

Aku tak meratapi dan menyesali perbuatanku namun aku hanya merasakan ketakutan yang tak dapat kujabarkan. “Hana pasti marah padaku… Dia pasti akan sangat membenciku.” Racauku lirih. Hanya dialah sumber ketakutanku. Bukan hal yang lain. Hanya Hana…

Cairan merah berbau anyir menggenang tepat didepanku. Tubuh sepasangan suami istri tergeletak tak bernyawa. Organ dalam mereka terburai akibat ulahku yang lepas kendali. Cakaranku sekali lagi membawa maut.

“Orang tuaku telah mati tapi Paman dan Bibiku yang begitu baik sangat menyayangiku. Membuatku tak lagi bersedih karena ditinggalkan ayah dan ibu.”

Terdengar kembali ucapan riang Hana ketika dirinya menceritakan kehidupannya tanpa kuminta. Matanya berbinar bening, senyumnya merekah polos tanpa ada raut keangkuhan ataupun ketakutan.

Hana maafkan aku! Sudah membunuh kerabatmu yang tersisa. Padahal aku sudah bersumpah pada diri sendiri untuk selamanya melindungimu dan menjaga agar senyumanmu selalu melekat. Tapi aku malah…
Tunggu dulu, bukankah aku bersumpah untuk melindunginya?
Melindungi Hana…
Melindungi Hana?
Bukankah ini termasuk perlindungan? Bukankah 2 manusia tamak ini sedang berencana buruk pada Keponakannya sendiri demi menguasai harta Hana yang diwariskan dari kedua orang tuanya? Sahkan jika kelicikan mereka aku bungkam? Mulut berbisa dan topeng domba mereka aku sibak dengan merenggut nyawa? Hana, aku harap kau memaklumi perbuatanku ini.

@@@

Pintu kayu Oak terbuka kasar. Decitannya menghentakkan jantungku. Namun yang membuatku rongga dadaku lebih terpacu takut adalah tatapan matanya yang terbelalak melotot, terkejut dan terpaku. Tubuh rapuh mungilnya berdiri mematung. Untuk sesaat nyawa gadis manis ini seolah melesat lepas seiring dengan ketidakpercayaannya pada penglihatannya sendiri.

“Paman… Bibi…” Bibirnya yang bergetar, terucap lemah. Sesaat setelahnya kulihat dia ambruk, bersimpuh lalu lelehan airmata mengalir membanjiri wajahnya.

Aku tak suka melihat tatapan sedih yang baru pertama kali ini dia pancarkan. Aku harus menjelaskan semuanya. Orang yang dia jadikan pengganti orang tuanya, ternyata begitu jahat. Serigala berbulu domba yang pantas kubunuh karena mereka sudah pernah mencoba merenggut nyawa Hana namun gagal dan sesaat sebelum ku pergoki, mereka sedang merencanakan hal buruk lain untuk Hana. Ayolah Hana, jangan menangisi sampah. Airmatamu terlalu berharga.

“Hana mereka—” Ucapanku terhenti. Tenggorokanku mandul berkata-kata karena tatapan matanya yang sarat akan rasa takut memandangku seolah aku ini makhluk mengerikan. Diapun terseok-seok, beringsut menjauh ketika kudekati. Uluran tanganku dia hindari.

“Ja-jangan men-mendekat! Jangan bu-bunuh ak-ku!” Nafasnya menderu namun terhembus kelelahan emosi disana. Ketakutannya ketika menatapku membuat hatiku ngilu. Rasanya sungguh perih dan tak tertahankan.

Aku masih berusaha melangkah mendekatinya. Kujulurkan tanganku, memaksakan senyuman terpoles di wajah pucatku. Berusaha menentramkan hatinya yang terpenjara oleh keterpurukan.

“—mereka ingin,”

“Pergi! KAU MONSTER!” Teriaknya histeris.

Monster? Rasanya begitu sakit ketika umpatan itu terucap dari bibir plum mungilnya. Aku sudah terbiasa dikatai monster, iblis dan segala sebutan makhluk-makhluk biadab didunia oleh korbanku sebelum mereka kucabik oleh kuku tajamku dan meregang nyawa menjadi sebuah kudapan. Sejak sebelum dia memeluk hatiku dengan kehangatan lalu mematrinya dengan perasaan yang manusia sebut ‘cinta’. Namun entah mengapa lontaran dari mulutnyalah yang membuat perasaanku terluka. Rasanya seperti godam yang membentur jantungku. Membuatku kalah telak dan membisu.

Hana, apalah arti sumpahku untuk melindungimu jika diriku sendiri merupakan ancaman bagimu.

Andrew’s PoV. end

@@@

Author PoV.

Sosok berjubah hitam bertudung layaknya malaikat pencabut nyawa yang berpatroli terlihat melangkah dan meloncat-loncat ringan dari satu genting ke genting gedung yang lain. Terus saja menapaki tiap atap dan meniti beberapa utas kabel listrik tanpa oleng. Seolah gaya gravitasi tak berlaku baginya.

Langkahnya terhenti ketika dirinya sampai pada sebuah puncak menara yang dipucuknya telah berdiri penangkal petir yang menatang langit. Dia berdiri menghadap rembulan. Matanya tak terlihat, tertutupi oleh tudung yang kebesaran. Namun wajahnya tersirat kesedihan dan rasa penyesalan yang amat sangat dalam. Tanpa dia sadari, lelehan air asin mendarat hingga dipipinya terus turun menapak ditelapak tangannya.

“Hanya kau yang bisa membuatku menangis.” Kepalanya tertunduk, menyorot genangan kecil airmata ditelapak tangannya. Airmata bening itu bercampur dengan darah kering, dari luka goresan ditangan yang tercampur darah manusia dari sisa korban bunuhannya.

“Luka goresan ini bukanlah hal utama yang membuatku menangis. Namun sakit dari dalam ini, yang entah dibagian mana membuatku merasakan sesak yang amat sangat. Rasanya aneh dan menyiksa… Hana! Seiring berjalannya waktu, jika kita bertemu lagi. Apakah sorot mata ketakutanmu akan menghilang? Apakah senyum ceria lucumu bisa kembali? Akan kutunggu dirimu pulih dari trauma kenangan buruk. Dan jika saat itu tiba, aku akan mendekat lagi padamu. Akan kujelaskan semua peristiwa ini. Mereka yang jahat, bukan aku.” Batin yang membuncah kembali mengucapkan sumpah dengan disaksikan oleh bulan purnama seperti ketika dirinya mendeklarasikan sumpah untuk selalu bersama Hana dan melindunginya dari hal apapun beberapa bulan lalu.

@@@

Flashback…

Andrew PoV.

“TOLONGGG… BERHENTI!!!” Teriakan histeris membahana memecah kesunyian malam.

Terlihat dikejauhan sana kuda berlari sangat kencang sambil menggeret kereta yang sudah terpontang-panting tak karuan yang diakibatkan roda kayunya menerjang jalanan terjal berbatu-batu. Untung saja manusia yang meronta ketakutan didalam sana tak terpental keluar. Hanya terombang-ambing layaknya naik perahu saat badai.

“Santapan lezat…” Gumamku lirih seraya mengusap-usap perutku yang lapar.

Kubasahi bibirku dengan jilatan lidahku, nafsuku merayap naik. Aku tak sabar untuk menelan daging lembut gadis muda karena jarang sekali ada orang yang melintasi hutan ini sehingga aku tak dapat memilih manusia macam apa yang bisa dimakan. Menemukan manusia lewat saja aku sudah kegirangan…

“Saatnya berburu.” Kugumamkan kata-kata penyemangat. Akupun mulai melesat, melompat ke tiap-tiap dahan pohon. Mencoba menyamai gerak laju kuda hitam dibawah sana.

Hemm… Menarik. Kuda pacu yang berlari garang itu membuat adrenalinku meningkat. Kunikmati sensasi rasa sulit mendapatkan buruan lezat. Yah, kesulitannya pasti sepadan dengan hasilnya kelak. Dagingnya yang kenyal dan teksturnya yang lembut, tulang yang masih muda dengan kerenyahan yang gurih ketika kukunyah dan darah pekat segar dari seorang gadis kecil yang belum tercemar racun dunia. Sangat nikmat… Itu pasti!

Andrew PoV. End

@@@

Author PoV.

“KYAAA!!!” Lengkingan yang tinggi melucur dari seorang gadis belasan tahun yang melongokkan kepalanya keluar jendela kereta sambil tangannya terulur mengais-ngais angin.

Kuda hitam yang berlari kesetanan sudah mencapai ujung daratan. Namun tetap saja meneruskan langkah cepatnya hingga kereta yang ditariknya terjun bebas bersama kejurang yang dalam. Tebing tandus dengan ujung terendahnya hanya terdapat sungai dengan aliran deras yang siap menelan apapun yang terjatuh kepadanya.

“DAPAT!” Teriakan kegirangan meluncur dari sosok yang sejak tadi mengejar kereta. Tangannya mampu mencapai buruannya sebelum buruan itu ikut jatuh terpelanting bersama kereta beserta kudanya dilahap derasnya sungai yang berada beberapa puluh meter dibawah sana.

Gadis ini mendongak, memandangi sosok yang menyeringai dengan sorot mata lapar. Anehnya dia tak merasakan takut seperti perasaan yang baru saja menyerangnya tadi. Akan tetapi kelegaan menelisik hatinya. Seringai gelap dia pandang seolah itu adalah senyuman lembut seorang manusia.

Perlahan kelegaannya menghasilkan rasa yang teramat kantuk. Matanya semakin tertutup perlahan dan akhirnya benar-benar kehilangan kesadaran sebelum sosok Pria bertudung ini berhasil menarik tubuhnya hingga sampai ditepi jurang.

Author PoV. End

Flashback end…


@@@

Andrew PoV.

“Terima kasih… Kau sangat baik.”

Suara Hana terngiang kembali. Suara merdu gadis kecil yang selama sekian tahun membuatku bersabar menunggu ini selalu terdengar di otakku ketika bulan dilangit membentuk bulatan sempurna.

“Aku Hana Einsenheim dan aku berhutang nyawa padamu. Mau aku bayar dengan sebuah pertemanan?”

Kupejamkan mataku dan sontak wajahnya yang tersenyum bahagia muncul. Kenangan awal pertemuan dengan Hana yang kucinta dan akan segera kutemukan masih melekat kuat di memoriku. Pelukan yang hangat dan spontan ketika dia tersadar dari pingsannya setelah kutarik dari pinggiran tebing masih terasa hingga kini. Genggaman tangannya yang erat ketika dia memperkenalkan diri dengan bahasa tubuh yang begitu bersemangat berhasil membuatku melongo waktu itu. Tak ada pancaran kecurigaan dari matanya yang berbinar cerah. Bahkan rasa takut padaku tak pernah terlintas di ekspresi lugunya. Dia menganggapku sebagai penyelamat padahal nyatanya aku ingin memakannya. Tanpa segan dia bercerita tentang dirinya sambil berjalan kesana kemari dengan riang sepanjang malam. Berceloteh dari A sampai Z tanpa memberiku kesempatan untuk melanjutkan niatku memangsanya. Bersama dirinya membuat hidup sunyiku berubah ramai dalam hitungan jam. Meski dia baru mengenalku namun tanpa ragu serta segan dia mengajakku pulang bersamanya—lebih tepatnya memintaku mengantarnya pulang. Memberiku tempat tinggal yang harusnya tak lazim untuk kusinggahi karena aku ini Andrew, Si Setan gunung pemangsa manusia.

“Sejak saat itu aku mengerti, ternyata di dunia ada juga rasa yang seperti ini. Inilah rasanya ‘cinta’ yang sering diagungkan oleh MANUSIA. Jika berpisah dengan orang yang dicintai akan terasa sangat sepi dan kehilangan. Padahal sudah sekian lama aku sendirian namun baru kali ini kurasakan kesepian serta kerinduan setelah aku mengenalnya. Rasanya benar-benar menyakitkan. HANA!!! Aku hanya ingin bersamamu! Mustahilkah itu?”

Andrew PoV. End

@@@

Author PoV.

“Andrew atau yang dulu sering dipanggil Setan Gunung sepertinya berada disekitar London, Lady. Apa yang harus kami lakukan?” Tanya sosok Pria berjas hitam dan berkemeja putih berdasi kepada sosok Wanita yang tengah menatap langit malam diluar jendela ruangannya.

“Apa kau yakin itu Andrew? Bukan pembunuh gila yang menyebut dirinya Jack The Ripper?” tanyanya singkat namun sarat akan ketegasan dari suaranya. Matanya tak beralih dari pancaran bulan yang menggantung sempurna dilangit malam.

“Saya yakin. Terlihat dari ciri korban yang mempunyai robekan menganga yang disebabkan oleh cabikan bukan sayatan layaknya cabikan hewan buas namun lebih brutal karena tubuh korban ada yang hilang. Mungkin disantap oleh Andrew. Selain itu ada saksi yang mengatakan melihat sosok berjubah hitam dengan tudung yang menutupi kepala berlarian di atap-atap rumah.” Terangnya mantap dan meyakinkan.

“Hmmm… Great job Jordan. Kerahkan seluruh Timmu untuk menangkap Andrew.” Wanita ini berbalik arah. Menatap Pria didepannya intens, mengalirkan kewibawaan dalam memerintah sehingga membuat aura seorang pemimpin ambisius terpancar lekat di wujudnya yang bersahaja.

Pria inipun melangkah pergi setelah sebelumnya menunduk memberi hormat.

“Aku tak akan tidur dengan nyenyak sebelum berhasil membunuhmu Andrew. Karena kau, setiap aku memejamkan mata yang kulihat hanyalah darah dan mayat terkapar. Jika seperti ini jadinya lebih baik aku tak usah kau selamatkan.” Bisiknya penuh dendam. Tangannya mengepal kuat, menyalurkan segenap emosi amarah yang sudah lama tertahan.

Kembali terngiang kejadian pembantaian beberapa tahun lalu ketika dirinya masih seorang gadis kecil yang lugu. Kedua orang yang sangat dia sayangi dan dia anggap orang tuanya sendiri mati mengenaskan didepannya. Dan hal yang membuatnya lebih shock, sang Pembunuh adalah penyelamatnya. Orang—setidaknya dulu dia berpikir begitu—baik hati yang dia sayangi karena sudah mengisi hari-hari yang semula dipenuhi kesendirian tanpa adanya sosok teman menjadi hari-hari penuh gelak tawa. Andrew, monster yang belakangan—setelah kejadian itu—baru dia ketahui bukan manusia namun sosok kejam yang bermukim di gunung yang letaknya tak jauh darinya bermukim dulu. Adalah makhluk yang banyak menjadi buah bibir dan momok menakutkan yang membuat Penduduk disekitar gunung tak mau melintas kesana disaat hari sudah gelap.

“Tapi, kenapa kau bisa sampai ke London? Kenapa kau meninggalkan Hampshire tempat asalmu, desa kelahiranku?” Terlontar pertanyaan yang tiba-tiba melintas di benaknya. “Ck~ Itu bukan urusanku!” Kepalanya menggeleng penuh penolakan.

Author PoV. End

@@@

Andrew PoV.

Hana, dimana kau? Aku berlarian mengelilingi kota dan gedung-gedung tinggi tapi tak juga kutemukan kau. Apa wujudmu sangat berubah sejak terakhir kita bertemu. Kerinduanku terus menggerogoti dan membuat perasaanku tersiksa.

Hana, ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu. Ini buatanku sendiri. Karya pertama dalam hidupku yang panjang. Bukankah kau yang menyuruhku untuk membuat ini? Kau bilang aku terampil saat membuatnya. Mata berbinarmu yang penuh kekaguman ketika memandangi hasil karyaku membuatku untuk pertama kalinya mempunyai tujuan hidup. Tak hanya sekedar mencari mangsa didalam hutan dan melompat-lompat tak tentu arah. Namun kutemukan keinginan yang menggebu untuk dapat meuwujudkan apa yang kita sebut cita-cita. Kitapun memimpikan membangun toko kecil di Hampshire. Menjual benda-benda hasil karya kita. Itu adalah saat pertama aku mengenal apa itu impian, cita-cita dan tujuan hidup. Kau sederhana namun kehadiranmu membuat perasaanku menjadi kompleks.

Aku menoleh kilat. Kupingku yang tajam menangkap sebuah, bukan! Beberapa pergerakan. Mereka, sekitar 5-7 orang. Mengendap-ngendap mendekatiku. Sepertinya mereka mau menangkapku. Siapa mereka?

Sebuah tembakan berhasil kuhindari dengan gesit. Membuat si penembak mengumpat. Serangan bertubi-tubi dari arah lain juga menyerangku. Jangan harap akan mengenaiku. Kalian terlalu cepat jutaan tahun untuk mengalahkanku.

“Shit! Monster itu ternyata lebih hebat dari yang dijelaskan Lady Eisenheim.” Puluhan meter dariku, dipuncak gedung sana kudengar suara umpatan kesal.

Tapi… Eisenheim dia bilang? Hana Eisenheim kah? Sontak aku menapaki atap gedung ini cepat. Melesat, melompat menuju gedung sebelah yang menjulang lebih tinggi dibandingkan dimana aku berpijak ditempat si Pengumpat itu berada. Serangan tembakan bahkan anak panah yang langsung meledak ketika menancam pada sasaran masih dengan mudah mampu kuhindari.

Sedikit lagi aku sampai. Kulayangkan kakiku yang cukup panjang, mencoba mencapai jendela terbuka dengan si Pengumpat didalamnya. Dia terkejut hingga Senapan yang dia pegang jatuh. Langsung kulancarkan tendangan ke arahnya yang telak mengenai mukanya hingga membuatnya tersungkur.

“Hana kah yang kau maksud?!” tanyaku sambil mencengkeram lehernya dan dengan ringan kuangkat tubuhnya yang terpojok di tembok hingga kakinya tak menapak lantai. Dia tercekik dan tubuhnya meronta minta dilepaskan.

“Ekh-lep-pass!” Dia berucap kesusahan. Tapi belum sempat dia menjawab, sebuah anak panah berbahan peledak melesat masuk menuju keruangan dimana kami berada. Sontak aku langsung menghempaskan Pria berjas hitam itu lalu memukul tembok hingga jebol dan bersembunyi di sisi tembok lain. Meledaklah ruangan dimana sumber informasiku ikut terpanggang. Sial! Mereka menyusahkan. Kalau begini mau tak mau aku harus mengalahkan dan menangkap salah satu dari mereka.

Andrew PoV. End

@@@

Author PoV.

“Meledak? Dan satu anak buahmu mati? Tapi apa Andrew juga ikut meledak didalamnya?”

“Belum saya pastikan Lady kare—” Sambungan telponnya terputus. Wanita ini membelalak kaget sesaat selanjutnya seluruh benda-benda yang tergeletak dimejanya berserakan dilantai. Dia menggebrak meja penuh amarah karena merasa misinya gagal.

Menit demi menit berlalu dalam ketidakpastian. Pikirannya gelisah. Kakinya berjalan hilik mudik menunggu informasi selanjutnya. Akan tetapi tak juga ada suara dering telepon lagi dari bawahannya. ‘Matikah mereka semua?’ Batinnya bertanya-tanya, kecemasan melanda membuat kepalanya pening.

Suara pintu terbuka dengan kasar membuatnya terlonjak kaget. Matanya spontan menatap kearah pintu yang sukses rusak, lepas dari engselnya.

“KAU?!” Dengan suara tertahan Wanita ini memekik kaget. Menatap dengan sinar mata penuh dendam sekaligus ketakutan. Kejadian berdarah itu kembali muncul menghantuinya ketika dilihatnya makhluk didepannya tersenyum kepadanya. Kini berbalik efek. Senyum cerah penuh kegembiraan, dimatanya hanyalah sebuah seringai menakutkan.

“Hana! Kau benar-benar Hana kan?” Sosok yang baru memasuki ruang kerja Hana langsung menghambur kearahnya. Tangannya merentang. Siap untuk memeluk Wanita yang sudah lama amat dia rindukan.

‘DORRR!’ Letusan senapan membuat senyuman di wajah Andrew memudar tergatukan dengan keterkejutannya.

Tak jauh berbeda dengan raut muka Hana. Ditangannya sudah mengacung sebuah pistol yang tadi sempat dia raih diam-diam dari dalam laci mejanya. Wajahnya sangat tegang ketika pelatuk pistol itu dia tekan.

“Mati kau Andrew! Itu balasan karena kau sudah membunuh Paman dan Bibiku dengan kejam!” Pekiknya penuh emosi masih dengan tangan mengacung ke arah Andrew yang belum roboh meski dadanya sudah tertembus peluru.

“Ternyata kau masih membenciku Hana.” Ucapnya lirih disela-sela kernyitan kesakitan. Kakinya melangkah lagi perlahan, tangannya terulur ingin disambut oleh Hana.

‘DORRR! DORRR! DORRR!’
“Kenapa kau tak mati-mati juga hah?!” Hana berteriak frustasi. Langkahnya semakin mundur seiring dengan Andrew yang berusaha mendekat.

“Hana, mereka ingin mencelakaimu. Aku mendengar langsung tanpa sengaja ketika malam itu aku melintas di kamar mereka. Mereka jugalah yang membuatmu hampir mati tercebur ke jurang. Aku hanya—” Ucapannya terputus disaat kakinya yang tertembus peluru tak mampu lagi menopang tubuhnya. Darahnya deras mengalir. Nafasnya tersengal-sengal. Jantungnya berdetak melemah.

Hana berjalan mendekat dengan perasaan gamang. Sambil berusaha memutar ulang kenangan masa lalunya dan mencari realita disana, tangannya masih sigap berjaga-jaga jika sewaktu-waktu andrew menyerangnya dia dapat dengan mudah menembakkan pelurunya yang masih tersisa 2.

Beribu pertanyaan kembali bersarang di kepalanya. Dan pertanyaan-pertanyaan itu berujung pada satu jawaban yakni, ucapan Andrew patut dipercaya. Nyatanya Andrew tak melawannya. Seharusnya dia menghindari utusan Pembasmiku dengan tetap berada di hutan dekat Hampshire namun dia malah mendekat kedalam bahaya demi untuk menemuiku yang sudah bersiap diri melakukan aksi balas dendam dengan membentuk organisasi rahasia yang dikhususkan untuk membasmi makhluk-makhluk berbahaya sepertinya.

“Hana dimanakah kau yang dulu… Tersenyumlah, aku mohon. Aku merindukan gadis polos yang ceria itu.” Andrew berhenti sejenak, mengatur nafasnya yang terputus-putus. Tubuh lemahnya terkapar tak dapat bergerak. “Maaf, memang tak seharusnya aku membunuh Paman dan Bibimu tapi, akh! tapi aku hanya ingin melindungimu.” Andrew memasukkan tangan kanannya kedalam balik jubahnya.

Hana masih berdiri kaku menatap nanar Andrew yang tergeletak tak berdaya. Lamat-lamat setetes airmata meluncur perlahan dari ujung kelopak matanya. Pistol yang terus dia pegang terbating dilantai.

“Kau ingat ini?” Dengan tangan yang berlumuran darah, Andrew membuka telapak tangannya. Diulurkannya benda yang dia pegang itu kepada Hana.

“Bo-boneka itu—”

“Kayu yang kuukir dari kuku-kuku tajamku. Miniaturmu…”
“Miniaturku.” Ucap Hana bersamaan. Airmatanya yang tadinya hanya setetes semakin banyak berjatuhan. Tangisannya pecah seketika. Digapainya tubuh Andrew yang nyawanya tinggal menghitung menit. Dipangkunya kepala Andrew dan dipeluknya penuh penyesalan tubuh Andrew yang bersimbah darah hitam.

“Ak-ku mencintai—” Pernyataan yang sekian lama ingin dia ucapkan tak berlanjut. Nyawanya sudah lepas dari raganya. Tubuhnya lunglai, menjadi mayat. Meninggalkan Hana yang makin menangis histeris melihat Andrew sudah tak bernyawa lagi. Tubuh yang mendingin ini terus-terusan dia peluk. Dia ciumi dan dia tangisi hingga sinar Matahari terbit dan cahayanya memasuki ruangan dimana dia berada. Hingga banyak orang berkerumun memasuki ruangannya dan memaksa dirinya melepaskan pelukannya dari makhluk yang dia sayangi. Meski sosok Andrew sudah menghilang dari pandangan, Andrew tetap meraung dan meraung, meratapi nasib hidupnya yang terlampau menyakitkan.

==============================

Secuplik masa lalu Andrew & Hana…

“Hei, kenapa kau menyeret-nyeret batang pohon itu? Tubuhmu terlalu kecil untuk membawa benda sebesar itu.” Sosok yang tak pernah mau melepaskan jubah hitam bertudungnya berucap sinis pada gadis bercelana monyet yang sedang kesusahan menyeret kayu.

“Ini untukmu. Daripada nanti kau diusir Paman dan Bibi karena selalu merusak barang-barang lebih baik isi waktumu untuk membuat sesuatu.” Ujar Gadis ini. Senyuman manis tersungging dibibirnya. Senyuman yang akhir-akhir ini membuat Sosok bertudung itu kecanduan, tak dapat lepas dari pesonanya.

‘Seandainya kau tahu, bahwa aku bukanlah manusia sama sepertimu. Kau pasti—’

“Ayo cepat. Buatlah sesuatu. Kukumu kan nyaris setajam pisau.” Suara sang gadis menghentikan benaknya yang sudah sibuk berandai-andai.

Di tatapnya gadis manis yang baru saja duduk di rerumputan taman belakang rumah yang hampir menyamai kastil. Selanjutnya senyuman terukir diwajahnya disaat ide brilliant melesat masuk ke otaknya. “Oke! Akan kubuatkan sesuatu untukmu.”
~
~
~
~
Beberapa saat setelahnya…

“Ini apa?”

“Ini miniaturmu.”

“Aku?”

“Ya! Kenapa?”

“Tidak mirip! Buat lagi yang bagus!” Diserahkannya lagi benda yang sudah dibuat dengan susah payah itu dengan wajah ketidakpuasan. “berkali-kali membuat pasti karyamu semakin bagus. Lalu kalau miniaturku sudah jadi harus kau berikan padaku ya?” Ujarnya memberi semangat.

“Baik.”

“Selama kau memahat, akulah pengkritikmu. Jadi kau tak boleh jauh dariku. Kau maukan terus bersamaku?” Gadis berkepang dua ini mengacungkan kelingkingnya ke arah Sosok bertudung, seraya mengulas senyum ceria.

Sosk bertudung terdiam sejenak. Memandangi kelingking Hana bingung. “Hm. Aku mau.” Ucapnya kemudian lalu kelingkingnya dia kaitkan dan mereka tertawa bersama sambil merebahkan diri direrumputan menunggu senja berganti malam dan bulan muncul menyorot bumi.
~
~
~
~
Hutan kecil di pegunungan dekat Hampshire, setelah kejadian pembunuhan Paman dan Bibi Hana…

“Aku akan terus memahat boneka kayu yang sama sepertimu. Jika aku berhasil membuat miniaturmu dengan bagus, barulah aku akan menemuimu. Meluruskan semua kesalahpahaman ini dan kita pasti akan bersama lagi. Karena aku sangat mencintaimu Hana…” Guman Sosok yang kini tengah duduk didahan pohon Oak sambil punggungnya bersandar pada batang pohon itu. Kepalanya mendongak menatap bulan lekat.

Puas dirinya menatap rembulan dan menggumamkan janji, tangannya kembali berkutat pada kayu yang kini akan menjadi bahan untuk membuat suatu karya. Dibawah sana sudah tergeletak banyak sekali kayu-kayu berserakan dengan beragam bentuk. Karya-karya buatannya yang dianggap gagal.

¬-END¬¬

Minggu, 11 Maret 2012

[Oneshoot] Selamat Natal Selamat Tinggal



Author : Hana Pratiwi

Genre : Drama

Cast : Yesung & Lee Hyori



Huwe… Aku nggak nyangka bisa nemu ide cerita ini… Ini emang bukan FF pertamaku tapi ini adalah FF oneshoot pertama. Jadi kalau terlalu simple ceritanya harap maklum. Ternyata bikin cerita simple lebih susah ketimbang bikin cerita ribet bin jlimet. Soalnya isi otakku ini udah kayak benang ruwet. Btw… FF ini udah ku revisi jadi yang sudah baca di SJFF, mian disitu banyak kesalahan pengetikan Habis begitu dapet ide langsung ngetiknya ngebut sih. Maksudnya biar idenya nggak keburu lupa eh, malah jadinya banyak salah ketik kata-kata.

Eniwei… Selamat membaca… Aku menerima kok kritik dan saran yang membangun tapi jangan pedes-pedes yah? AKu nggak doyan sambel. (?)



@@@



Ini sudah malam natal, tapi rasanya sukacita menyambut natal tidak kurasakan seperti ditahun-tahun sebelumnya. Rumahku sepi, semua orang pergi dengan kesibukan masing-masing. Yang paling membuatku sedih adalah dia, Si penghuni rumah yang berada tepat disebelahku. Dia sedang sibuk bekerja karena bosnya yang tak tahu aturan itu terus menyuruhnya bekerja tanpa henti meskipun ini malam natal.

Akupun berjalan kebalkon kamarku sambil menatap balkon diseberang sana tempat Yesung-oppa tinggal. Teringat saat-saat kami sering ngobrol disini, saling memandang dan menguntit gerak gerik masing-masing disini pula. Hah… Aku tak sanggup melihat kamar sepi dan gelap itu sekarang. Akupun berbalik dan hendak kembali kedalam kamarku.



“Selamat malam natal Chagi…”

Ucapan lembut yang dikeluarkan oleh seorang namja diseberang sana membuatku terperangah. Otomatis aku berbalik dan melihat kearah balkon yang berada diseberang. Aku sangat terkejut karena tiba-tiba saja dia terlihat ada di balik Jendela diseberang balkon kamarku. Yesung-oppa mulai berjalan keluar ke balkon seraya tersenyum manis padaku.

“Selamat malam natal Yesung-oppa. Kenapa kau tiba-tiba ada disitu? Sejak kapan?” Tanyaku ingin tahu. Aku sungguh-sungguh penasaran. Karena baru tadi kulihat kamarnya gelap gulita dan kini menjadi terang benderang.

“Sejak tadi.” Sahutnya seraya tersenyum simpul. Senyumnya sungguh menggetarkan hatiku.

“Bukankah kau sekarang seharusnya ada Seoul oppa?”

“Aku kembali khusus untukmu Chagi. Aku tidak ingin kau merayakan natal ini sendirian tanpaku. Kesini! Ada hadiah untukmu.”



Ajakannya itu membuatku bahagia sekaligus langsung lari kalang kabut. Aku dengan langkah yang terburu-buru berlari menuju gedung sebelah, tempat Yesung-oppa tinggal. Aku benar-benar ingin cepat bertemu dengannya. Rasa rinduku begitu besar. Kalau sudah sampai disana, aku akan mengutarakan perasaanku padanya. Kami sudah menjalin hubungan dekat selama 8 bulan sejak dia tinggal diseberang rumahku kurang lebih setahun lalu. Tapi sayangnya aku belum pernah mengutarakan isi hatiku yang sebenarnya. Bibirku terasa kelu setiap aku ingin bicara ‘Saranghae’. Kenapa aku sepenakut itu sih?!



Aku sudah sampai didepan rumahnya dan bermaksud untuk menekan bel. Tapi terlebih dulu aku mematut diriku didepan kaca yang ada dipintu rumahnya. Kurapikan rambutku yang terlihat sedikit acak-acakan. Setelah dirasa sudah penampilanku sudah sipa untuk bertemu dengannya akupun mulai menekan bel dengan wajah sumringah.

“Oppa!” Panggilku sambil memencet-mencet bel tak sabar.

Kenapa tak dibuka juga? Ayolah! Kau mau membuatku mati menahan rindu?

“Oppa!” Panggilku sekali lagi sambil terus memencet bel rumahnya. Tak juga ada tanda-tanda pintu ini akan dibukakan.

Aku jadi jengkel sendiri. Tadi siapa yang menyuruhku kemari? Kenapa sekarang tidak dibukakan pintu? Yesung-oppa! Kau mau mempermainkanku ya?!

Akupun kembali kerumah dengan hati dongkol. Rumahnya benar-benar terlihat gelap gulita. Seperti tak ada tanda-tanda kehidupan didalamnya. Akupun sekarang berada dihalaman rumahku. Kulirik kamarnya dari sini. Kamarnya kenapa jadi gelap sekarang? Tadi tidak tuh?! Dimana orang aneh itu?



@@@



“Ya? Dengan siapa ini?” Tanyaku ketika aku menerima telpon dari nomor asing.

“Apa?! Ti-tidak mungkin! Tidak mungkin!!! Yesung-oppa… Tidak mungkin!”

Tanganku mendadak lemas. Ponselku terjatuh dilantai dan aku yang sekarang hendak menaiki tangga untuk kembali kekamar langsung berbalik arah. Kembali ke rumah Yesung-oppa disebelah. Sesampainya disana, kuketuk-ketuk pintunya sekuat tenaga. Ketika tanganku sudah mulai sakit kupencet-pecet bel secara membabi buta. Tapi Yesung-oppa tak kunjung membuka pintu. Jangan-jangan yang dikatakan perawat di telpon tadi benar! Yesung-oppa sudah… Tidak mungkin! Aku tadi melihatnya ada diseberang kamarku. Wajahnya nyata! Aku tidak bermimpi. Dia tadi ada dikamarnya mengucapkan selamat malam natal padaku. Lalu bagaimana bisa dia ada dirumah sakit dan…



@@@



“Oppa!!!”

Aku menangis histeris disamping peti mati. Memandanginya dengan airmata yang mengalir deras. Aku masih tak percaya dengan apa yang kulihat sekarang. Yesung-oppa terbujur kaku didalam peti. Wajahnya diam, begitu pucat dan matanya tertutup rapat. Mana senyumnya yang selama ini selalu kulihat?

“Hyori… Tenanglah!” Sahabatku Mika merangkulku dan menyuruhku untuk duduk dan menenangkan diri namun aku tetap saja tak menghiraukannya. Terus kupegang pinggiran peti itu dengan suara tangisan yang semakin pilu. Aku ingin terus menatap wajahnya. Aku tidak rela kehilangan dia. Aku belum mengatakan padanya bahwa aku juga mencintainya.

“Oppa!!! Bangun!” Teriakku histeris.

Sekarang ibukulah yang menghampiriku dan menyuruhku untuk tenang sambil memelukku. Dia memapahku dan sedikit memaksaku untuk menjauh dari peti itu karena peti itu akan ditutup.



Ketika pemakaman sudah selesai. Rasanya hatiku masih begitu berat untuk melepasnya pergi. Aku masih terus setia duduk disamping pusaranya, tak mau beranjak pergi. Kupandangi Ibu Yesung-oppa yang juga duduk tepat didepanku. Diapun menangis sedih sepertiku. Dia yang hanya punya satu-satunya putra, kini harus mulai hidup sendiri. Kuhampiri ibu Yesung lalu kamipun saling berpelukan dan menangis bersama dikubur Yesung-oppa yang semakin lama semakin sepi orang.



@@@

Flashback…



Aku sangat bahagia ketika Bu Direktur mengijinkanku pulang lebih awal. Ini malam natal dan aku harus segera pulang merayakannya dengan orang yang paling spesial di hatiku. Lee Hyori, pasti kau mengharapkanku datangkan? Aku akan membuat kejutan untukmu.

“Hyori-ah, pasti kini kau lagi manyun sendirian karena mengira aku tidak pulang. Hahaha... Seperti apa ya wajahnya saat melihatku pulang?” Gumamku sambil mengendarai mobilku dengan laju yang makin kencang.



Ketika aku melihat toko bunga tak jauh didepanku akupun menepi untuk membeli beberapa tangkai Chrissant untuknya. Hyori sangat suka bunga Chrissant, padahal menurutku mawar jauh lebih cantik dan harum daripada bunga itu.

“Trimakasih pemuda tampan.” Kata nenek penjual bunga.

Aku tersenyum padanya seraya menerima sebucket Chrissant, setelah itu keluar dari toko menuju mobilku yang terparkir didepan toko.



“Hei! Apa yang kalian lakukan pada mobilku!” Hardikku ketika melihat 3 orang laki-laki sedang mencongkel-congkel pintu mobilku dan berusaha membukanya dengan paksa.

Mendengar suaraku mereka bukannya kabur tapi malah menghujaniku dengan tatapan tajam. Merekapun berhenti melakukan aktifitas negatifnya itu dan berjalan kearahku. Kini mereka mengepungku.

“Itu mobilmu ya? Bagus sekali. Apa boleh untukku?” Tanya salah seorang pria yang tengah membawa besi mirip linggis itu sambil menyeringai.

Mendadak aku merasakan hal buruk akan terjadi padaku. Aku menengok kanan kiri. Tempat ini sungguh sepi tak ada orang lain selain mereka bertiga dan aku. Aku harus bagaimana?

“Ap-apa mau kalian?” Tanyaku agak-agak takut.

“Kan sudah kubilang mobil.”

“Ak-aku akan memberi kalian uang tapi tolong pergilah.”

“Mana uangmu!”

Kukeluarkan dompetku dari saku celanaku. Belum sempat kuberikan salah seorang dari mereka langsung merampasnya.

“Tunggu! Ada yang mau aku ambil.”

“Ah, tidak perlu!”

“Aku mohon kembalikan cincin yang ada dalam dompet.” Pintaku.

“Cincin ini ya? Kayaknya mahal nih!” Ucap salah seorang pria seraya membawa cicin itu dan memamerkannya didepanku.

“Kembalikan!” Aku menghampirinya dan berusaha merebut cincin itu dari tangannya.

“Tidak akan! Dong So! Ambil kunci mobilnya, geledah dia kalau-kalau masih ada uang disaku pakaiannya.”

“Tidak! Jangan! Kalau kau ambil bagaimana aku pulang?”

“Aish! Itu bukan urusanku!” Ucap pria yang dipanggil Dong So itu dan menggeledahku. 2 orang lainnya memegang lenganku sehingga aku tak bisa berontak.

“Kalau begitu kembalikan cincinku. Hanya cincinku saja!” Aku mencoba menawar lalu berusaha melepaskan diri dari mereka.

“Sialan kau berani melawan?”

“Buagh!" Laki-laki yang ada disebelah kananku memukul perutku. Aku meringis kesakitan. Tapi aku harus mengambil cincin yang akan kuberikan pada Hyori.

“Kembalikan! AKH!”

Rasa sakit yang tak terkira datang di kepalaku. Kepalaku berdenyut-denyut. Mataku seketika buram. Aku berdiri dengan sempoyongan. Kuraba kepala bagian belakang. Terasa basah, kupandangi telapak tanganku setelah itu sayup-sayup terlihat tanganku berwarna merah karena darah. Akhirnya aku limbung dan jatuh tersungkur. Kulihat semuanya gelap. Rasa sakit ini sangat...



Flashback end…



@@@



Sehari setelah pemakaman Yesung… Dirumah Hyori…



“Chagi, saranghae...”

Aku terperanjat ketika suara Yesung-oppa sayup-sayup terdengar.

“Oppa? Kaukah itu?”

“Chagi, neomu neomu saranghae...” Mendengar suaranya, airmataku kembali menetes.

Kuturuni ranjangku dan berjalan kebalkon mengikuti suara Yesung-oppa. Terlihatlah dia sekarang, di seberang sana tersenyum padaku. Kamarnya yang gelap, malah membuatku bisa melihatnya dengan jelas sambil terus menangis.

“Chagi, selamat natal dan selamat tinggal... Hiduplah dengan baik tanpa aku...” Setelah mengatakan hal itu kulihat Yesung-oppa perlahan menghilang.

“Oppa! Jangan pergi!” Teriakku sambil mengulurkan tanganku berharap dia dapat meraihnya. Aku tidak rela melihatnya menghilang.

“Oppa! Akh!” Aku terus mengulurkan tangan sekuat tenaga.

Tubuhku yang berusaha menjangkau balkon kamarnya malah jatuh dan mendarat mulus ditanah. Aku merasa pusing. Badanku sakit semua tapi langit malam diatas sana terlihat terang. Kuulurkan tanganku keatas supaya silaunya langit sedikit terhalang oleh tanganku tapi akhirnya aku pingsan atau mungkin mati...



@@@



Mataku terbuka pelan-pelan. Kurasakan tubuhku tak sakit lagi. Saat aku bisa melihat dengan jelas, kulihat Yesung-oppa duduk disampingku yang sedang terkapar. Wajahnya terlihat marah. Ekspresi yang tak pernah kulihat sebelumnya. Akupun bangun dan duduk disampingnya.

“Oppa? Kenapa kau marah?” Tanyaku sambil bersandar di bahunya.

Dia tak menjawab. Wajahnya begitu serius.

“Oppa! Ah! Aku dimana? Kenapa semua terlihat putih.”

Baru kusadari bahwa semuanya yang ada disekitarku berwarna putih termasuk Yesung-oppa yang berpakaian putih kecuali aku. Aku masih memakai baju yang kupakai saat aku terjun tadi.

“Apa aku sudah mati?” Tanyaku padanya saat kusadari mungkin sekarang aku sudah berada di alam baka.

“Kalau kau benar-benar mati, aku akan sangat marah padamu.” Jawabnya ketus. Lalu menatapku dan kedua tangannya mencengkeram bahuku.

“Chagi, aku ingin melihatmu hidup bahagia. Bukan berakhir seperti ini! Aku sangat mencintaimu karena itu hiduplah dengan baik. Maka aku disini akan melihatmu dengan bahagia pula.” Ucapnya seraya menatapku lekat-lekat.

“Tidak! Aku akan disini bersamamu oppa.” Tolakku dan langsung memeluknya erat-erat. Aku benar-benar tidak mau melepas pelukan itu sedetikpun.

“Apa kau tidak memikirkan orang tuamu dan orang-orang lain yang menyayangimu Chagi?” Oppa mendorongku dan membuatku harus melepaskan pelukanku.

“Tapi aku ingin bersamamu oppa! Apa kau sudah tidak mau bersamaku?” Tanyaku dengan perasaan tak rela. Mataku mulai berkaca-kaca.

“Pergilah kesana…” Yesung-oppa menunjuk sebuah pintu yang besar diujung sana. Lalu lanjutnya, “Kembalilah pada mereka. Dunia kita sudah sekarang berbeda Chagi. Aku memang ingin bersamamu tapi bukan dalam keadaan seperti ini. Kau masih bisa melanjutkan hidupmu. Pergilah.”

“Tapi…” Aku terdiam. Ada hal yang sangat ingin aku ucapkan padanya namun begitu sulit untuk kukeluarkan.

“Pergilah…” Yesung-oppa berdiri dan menarik tanganku. Memintaku untuk mengikutinya berdiri juga.

“Oppa… Cup!” Akupun langsung memeluknya dan menciumnya.

“Saranghae…” Ucapku lirih tepat ditelinganya setelah itu memandangnya yang masih berada dalam pelukanku. Rasanya sangat berat melepaskan pelukan ini. Namun harus kulepaskan. Akupun melepaskan tanganku yang melingkar di lehernya.

“Aku tahu kalau kau mencintaiku. Tanpa kau mengatakanpun aku tahu Chagi. Karena itu sejak dulu aku tidak pernah memintamu untuk mengatakannya. Terima kasih sudah mencintaku dan mengisi hidupku dengan kegembiraan Chagi. Selamat tinggal..” Yesung-oppa pun balik memelukku dan kamipun kembali berciuman.



Akupun berjalan perlahan dengan perasaan tak rela sambil terus menoleh kebelakang memandang Yesung-oppa yang terus melambaikan tangannya dan tersenyum. Perlahan namun pasti akupun sampai pada pintu besar itu dan memasukinya. Langit didepanku kembali silau. Sampai aku harus memejamkan mata.



@@@



“Oppa…” Ucapku lirih. Tubuhku rasanya sakit semua dan mataku terasa begitu berat untuk terbuka.

“Hyori-ah… Kau sudah sadar?! Pak! Anak kita sudah sadar.” Kudengar sayup-sayup suara ibuku. Kubuka mataku pelan-pelan. Ternyata memang ibu. Wajahnya terlihat gembira melihatku sadar kembali.

“Dimana aku?” Tanyaku. Karena sekelilingku masih berwarna putih dan tercium bau obat yang lumayan menyengat.

“Kau dirumah sakit Hyori-ah.” Jawab ibuku.

“Syukurlah kau sadar… Ibu sangat kawatir padamu Hyori!” Ibuku langsung memelukku dengan berurai airmata.

“Auw! Ibu sakit.” Aku meringis kesakitan karena pelukannya.



Melihat mereka, orang tuaku yang begitu mengkawatirkanku. Seketika aku sadar. Apa yang Yesung-oppa bilang padaku benar. Banyak orang yang akan sedih jika kehilangan aku sehingga aku tidak boleh berbuat egois dengan mengikuti egoku sendiri untuk meninggalkan mereka. Mereka pasti akan sangat bersedih seperti aku yang sangat bersedih dengan kepergian Yesung-oppa.

“Yesung-oppa, aku takkan melupakanmu dan kenangan kita. Sampai jumpa… Suatu hari nanti kita pasti akan bertemu lagi…” Batinku.

-END-

Seasons By Jin Akanshi




Kirei ni saita haru no hana
Boku no me ni wa so utsuranai
Kimi ga koko ni inainara
Kono sekai ni miru mono wanai nothing matters
So now I' m sitting in the dark
Missing your light that you brought to my life and it just ain' t fair
Kimi ni todoku you ni I swear

I'd rather have a rainy day with you than seein' sunshine alone
Or have a hundred days of winter with you in my arms
I' ll be your shelter from the storm just to have you by my side
Ima aerunara
Ima aerunara

Ima mo utsukushii kagayaki miru tabi ni
Kimi no hohoemi omoidasazu ni Irarenai
Kimi no kake-ra o atsume teshimau
Kasumu kioku no nakade wa aerunoni

I' d rather have a rainy day with you than seein' sunshine alone
Or have a hundred days of winter with you in my arms
I' ll be your shelter from the storm just to have you by my side
Ima aerunara
Ima aerunara

I need you back with me baby
So baby come back to me
So would you come back to me
You know ima my life without you kaketa ai no uta

Ima natta no imi o anata ni utau to shitara
Anata e to utau watashi no kotonoha wa
Dakishimeta kazu dake kizutsuite kudeshou

I' d rather have a rainy day with you than seein' sunshine alone
Or have a hundred days of winter with you in my arms
I' ll be your shelter from the storm just to have you by my side
Ima aerunara
Ima aerunara

English Translation

The spring flowers are born beautifully
But this image does not appear that way in my eyes
If you're not here
I see nothing in this world nothing matters
So now i'm sitting in the darkness
Missing the light that you brought to my life and it just ain't there
I'll catch you up.. I swear

I'd rather have a rainy day with you than see the sunshine alone
Or have a hundred days of winter with you here in my arms
I'll be your shelter from the storm just to have you by my side
If i could find you
If i could find you

Now every time i see a beautiful shine
I just remember her smile
I just picking up your pieces
I'll meet you in the midst of vague memories

I'd rather have a rainy day with you than see the sunshine alone
Or have a hundred days of winter with you here in my arms
I'll be your shelter from the storm just to have you by my side
If i could find you
If i could find you

I need you back to me baby (baby)
So baby come back to me
So would you come back to me
You know.... Now... My life without you a broken love song

If i sing a song with your meaning
My words sung to you
The amount of hugs will only hurt me more

I'd rather have a rainy day with you than see the sunshine alone
Or have a hundred days of winter with you here in my arms
I'll be your shelter from the storm just to have you by my side
If i could find you
If i could find you

Rabu, 09 November 2011

Pelayanan Tamborine (060411)

Pelayanan sebagai pengiring pengantin di Pernikahan Mbak Ririn dan Mas Adi



Perayaan Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia Tahun 2011















Lomba ini diadakan untuk merayakan HUT INDONESIA yang diselenggarakan sejak awal bulan Agustus dan mencapai puncaknya pada tanggal 16 Agustus 2011. Anak-anak PPA dari yang terkecil hingga yang pemuda mengikuti setiap lomba dengan antusias.

Pada tanggal 16 Agustus 2011 yang adalah acara puncak dari perayaan ini dihadiri oleh seluruh anak-anak PPA dan segenap pengurus dan pembimbing PPA. Acara diadakan dengan meriah. Setiap anak-anak PPA mempunyai kesempatan untuk mendapatkan DOORPRIZE.









Kebetulan, di hari perayaan Agustusan tahun ini. Salah satu orang tua asuh anak PPA kami datang ke Indonesia untuk mengunjungi anak. Mereka datang sekeluarga yaitu bapak Branco dan ibu Susan Merric serta ketiga anak-anaknya.

alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5673021997564399554" />