Kamis, 06 Juni 2013

[Fantasy] Finally



Finally...

Sei Yoshihara, gadis cantik berkulit pucat nampak berjalan riang. Wajahnya menyiratkan kegembiraan tak terbendung. Sebetulnya, Sei bisa saja tak perlu menghabiskan tenaga dengan berjalan. Dalam satu kedipan mata dia bisa berpindah tempat ke mana pun yang dia inginkan karena itu memang kemampuan mendasar dari seorang vampire tapi tak dia lakukan. Sei yang nampak berseri-seri malam ini. Sungguh kontras dengan suasana hutan yang suram, gelap dan menakutkan memang lebih memilih melangkahkan kakinya santai. Menikmati aroma pohon-pohon yang lembab tersapu embun dan suara-suara hewan nocturnal yang—bagi telinganya—terdengar merdu.

“AAAUUU!!!” Suara lolongan panjang menggema. Seketika kepakan-kepakan sayap burung-burung yang terbangun serta derap langkah kaki panik hewan-hewan riuh semarak terdengar. Para hewan itu takut mendengar lolongan menakutkan yang sontak membuat bulu kuduk merinding tapi tidak dengan Sei. Senyuman yang sejak tadi terlampir semakin lebar hingga mengekspos jelas rentetan gigi-gigi putihnya yang berderet rapi.

Sebelum kakinya lanjut melangkah dalam suasana bahagia yang meletup, Sei bergumam, “John... Kau memanggilku, kan? Kau pasti merindukanku.” Dan tak perlu menitan waktu Sei sudah menghilang bagai kilat.


John Freeze, sang Werewolf yang melolong panjang di tepi tebing yang langsung menghadap ke bulan purnama seketika terdiam begitu hidung tajamnya mengendus bau yang familiar.

“Sei...,” batinnya namun ketika dia berteriak memanggil nama itu, yang keluar hanyalah lolongan. Bulan purnama memang telah mengubah wujudnya dan dia sungguh berharap bulan segera tertutup awan.

Langkah ke-empat kaki John berlari sembari mengendus bau Sei. Namun seolah Sei menginginkan petak umpet, tak juga John menemukan Sei di mana pun padahal bau tubuh Sei sungguh semakin pekat di hidung John.

“AAAUUU...!!!” Kali dia melolong bukan karena nestapa akan kerinduan, melainkan memanggil sang kekasih untuk menghentikan permainannya.

Suara daun-daun kering terinjak membuat John menoleh ke sumber suara. Di situlah dia melihat Sei Yoshihara. Sosok gadis ayu, berambut panjang, berpakaian kimono hitam. Jangan heran kenapa dia lebih mirip seorang Kunoichi (gadis pertapa) ketimbang vampire yang notabene selalu disandingkan dengan gaya berpakaian bangsawan Eropa. Sei bukanlah seperti itu. Dia adalah putri dari seorang Ketua Klan Taka (Elang) yang menaungi banyak vampire-vampire yang berbasis di Jepang.

Secepat kedipan mata, Sei yang semula beberapa meter ada di depan John, kini sudah berada tepat di sebelahnya. “John... Aku merindukanmu. Akhirnya kita bisa bersama lagi.” Sei tersenyum, menatap John dengan manik berbinar cerah. Kedua tangannya merengkuh tubuh John meski agak kesulitan karena tubuh berwujud serigalanya terlampau besar. Kilatan mata itu sungguh membuat John serasa dialiri angin sejuk hingga ke relung hati. Bulu-bulu halus John pun dibelainya lembut. Air matanya berlinang bahagia.

Teringatlah dalam kenangan masa lalu masing-masing betapa kebersamaan ini sangat susah terjadi. Karena dia tahu, dia hanyalah budak seorang vampire. Budak ayah Sei, sang Ketua Klan Taka, Sado Yoshihara. Dan sejak John mampu mengingat dunia, dirinya memang mengabdi karena keluarganya sudah turun temurun bersumpah setia pada Sado. Ini adalah ikatan kutukan yang diberikan pada werewolf dimulai beberapa ratus tahun lalu. Namun sekarang segalanya berbeda. Mereka yang memang sejak kecil saling mengenal dan perlahan perasaan keterikatan itu berubah menjadi cinta kini sudah bebas, bisa bersama tanpa ada yang mencegah. Suatu anugrah yang membutuhkan pengorbanan besar—tapi belum John sadari.

Sinar bulan tak nampak lagi sinarnya. Hutan yang semula terang kini benar-benar gulita. Langkah Sei mundur beberapa meter, memberi John ruang untuk berubah menjadi manusia. Sei agak mengernyit heran. Transformasi yang dilakukan John begitu lambat. Kenapa? Padahal dulu perubahan pada tubuh John tak perlu memakan waktu hingga puluhan menit tapi sekarang begitu lama perubahan itu dan yang membuat mata Sei terbelalak adalah rintihan kesakitan yang dialami John.
“John!” pekik Sei. Langkahnya maju mendekat tapi dengan cepat ditampik John dengan tangannya yang sebagian sudah berubah menjadi tangan manusia tapi penuh bulu dan masih berkuku tajam.

Sei tetap menatap tapi tak tega. Rintihan itu sungguh menyayat hatinya. Tubuh John yang mengelupas sehelai demi sehelai disertai dengan tetesan darah seolah kulit John tengah disayat membuatnya merasa miris.

“John! Kenapa perubahanmu seperti itu?!” Sei terus gencar melontarkan pertanyaan.

Dengan suara serak dan tercekat John menjawab, “Mungkin ini konsekuensi yang kuterima karena memutuskan ikatan dengan ayahmu, Sei.”

Telapak tangan Sei membekap mulutnya sendiri. Tangisannya pecah seiring dengan wujud John yang memang sudah membentuk sosok manusia tapi seperti tanpa kulit. Sekujur tubuhnya hanya daging yang berwarna kemerahan dan menguarkan bau daging gosong.

“Jangan takut. Aku pasti bisa kembali ke bentuk semula,” ucapnya mencoba meredakan kekawatiran Sei meski dalam benaknya John merasa tak yakin. Malahan prasangka-prangkamulai bermunculan di otaknya.

Lama Sei menunggu. Lama pula John mengalami penderitaan rasa sakit akan tubuhnya yang tak kunjung pulih. Kedua orang ini semakin panik saja. Sei tak tahan lagi melihat John yang begitu tersiksa hingga seperti mau mati. Tanpa segan lagi dia berlari merengkuh tubuh John yang meronta kesakitan. Dia tak peduli kimono yang menunjukkan kebangsawanannya ternoda oleh darah. Dipeluknya erat tubuh John berusaha mengurangi sedikit saja rasa sakit itu.

“Kenapa seperti ini? Kenapa kau tak pulih juga? Apa yang kau korbankan agar ikatanmu terlepas?” Sei terus bertanya karena panik.

“Aku... Aku tidak tahu. Tuan Sado bilang satu-satunya cara untuk melepaskan ikatanku dengan keluarga kalian dan kita bisa bersama adalah dengan meminum darahnya. Tapi—”

“Tapi kau jadi seperti ini. Tak bisa pulih menjadi manusia! Kau pasti dibodohi!” Sei berteriak. Air matanya terus saja tergenang.

“Khu-khu-khu... Hahaha!!!” Tawa menggelegar terdengar nyaring seolah tengah mengejek penderitaan kedua sejoli itu. “Sei-chan, putriku. Kenapa kau tak percaya dengan Otou-san? Itu memang benar-benar cara pemutusan ikatan tapi segalanya pasti ada konsekuensinya, kan? Hahaha!!! Bukankah aku sudah berbaik hati membiarkanmu bersamanya, Sei-chan meski hanya beberapa jam sambil menunggu dia mati, tetap saja aku menepati janjiku,” akunya sambil menyeringai gelap.

“Tou-san! Apa maksudmu dengan mati? Tolong bantu John. Dia sangat kesakitan! Lebih baik kami tak bersama dari pada aku melihat dia setersiksa ini.” Sei memohon masih dengan tangannya memeluk erat John yang kini terbaring lemah di pangkuannya.

“Sei-chan, kau pasti tahu cerita tentang kutukan hutang darah, kan?”Sado melangkah santai mendekat lalu kakinya berhenti setelah jaraknya dengan Sei dan John hanya terpaut 2-3 meter. “Dulu sekali leluhur kita, pendiri klan Taka yang memilih hidup dalam damai dan tenang di sudut terpencil Jepang akan tetapi werewolf idiot dan arogan yang tak mampu mengukur kekuatannya sendiri datang mencari gara-gara dengan membantai vampire-vampire dari klan Taka. Perang berkecamuk hingga kepala Koloni mereka menyerah dan menawarkan perjanjian pengabdian pada klan kita yakni ikatan darah. Hingga sekarang werewolf kita manfaatkan untuk menjaga kita di kala matahari menyingsing dan dia mau bersamamu? Ras yang derajatnya lebih tinggi darinya? Cih! Takkan mungkin. Jadi nikmatilah kebersamaan kalian selagi masih bisa. Werewolf itu akan mati besok ketika matahari sudah benar-benar ada di atas kepala.” Tubuh Sado hendak berbalik dan meninggalkan mereka setelah sebelumnya berucap, “Sei-chan, sebelum matahari terbit, otou-san harap kau sudah meninggalkan tempat ini dan kembali ke markas. Mengerti?”

Menghilanglah Sado tanpa adanya jawaban dari Sei. Karena Sei terlampau sibuk meratapi keadaan John yang mulai melemah. Rasa sakit yang menggerogoti itu tak lagi membuatnya meraung seperti tadi. John sudah lelah meronta namun Sei belum lelah menangis.

“John... Maafkan aku... Kau seperti ini karena aku. Lebih baik—”

“Sstt... Ini bu-bukan salahmu, Sei.” Tangan John yang berbalur darah mengusap pipi Sei. Meski wajahnya sudah tak berbentuk tapi manik mata itu tetap sama ketika menatap Sei. Sorot mata penuh cinta itu tak bisa meluruh. “Aku yang terlalu ceroboh. Aku terlalu senang mendengar ada peluang untuk kita bisa bersama. Jangan menangis, Sei.”

Waktu berlalu dalam kesenduan. Isak tangis dan air mata menjadi salam perpisahan untuk kedua sejoli itu. Di kejauhan sana samar-samar matahari mulai muncul dari ujung horison dan perlahan naik menyinari bumi.

“Sei, pergilah. Sudah pagi. Sebelum wilayah ini terkena paparan sinarnya pergilah,” perintah john dengan suara yang teramat lirih. Rasa sakit yang membakar seperti sudah bisa dia tahan tak ada lagi daya untuknya bisa berdiri untuk sekedar menyeret Sei ke tempat aman.

Sei menggeleng. Menolak untuk pergi. “Aku akan di sini. Aku tak peduli meski sinar itu membakar tubuhku.”

“Sei! Pergilah!” Dengan sisa tenaga yang John punya, dia mendorong tubuh Sei. Mencoba bangun dari pangkuan gadis bermata teduh itu tapi belum sempurna dia berdiri tubuhnya sudah limbung.

“John!” pekiknya. Sigap dia menangkap kembali tubuh Sei.

“Pergi kataku! Pergilah secepat kilat seperti biasanya!” Lagi-lagi John berontak, menjauhi Sei.

“Tidak akan. Aku tetap di sini. Meski kita tak bisa hidup bersama tapi kita bisa mati bersama.” Begitu mulutnya terkatub, Sei berdiri. Dia sengaja melangkah ke arah di mana matahari menyorotkan sinarnya tanpa tertutupi oleh dahan rimbun pepohonan di hutan. “Aku akan mati lebih dulu.” Sei tersenyum. Wajahnya tak menunjukkan rasa sakit padahal tubuhnya sudah mengepulkan asap dan perlahan asapa itu menjadi api yang membakar tubuhnya pelan-pelan. “Kutunggu kau sebentar lagi John.” Suaranyaterakhir yang terlontar setelah tubuh Sei benar-benar terbakar lalu meninggalkan debu yang dalam sekejab lenyap diterpa angin.

“Sei!” John memekik lalu tak berselang di ambruk.

End

Just A Dream



Steven tidur dengan gelisah. Tubuhnya bergerak ke kiri, ke kanan, memeluk guling lalu tak beberapa lama, apa yang dipeluknya erat ia tendang kuat-kuat. Matanya memang terpejam bahkan terlampau nyenyaknya ia tidur, Steven sampai mendapatkan sebuah mimpi. Penasaran apa yang ia mimpikan sekarang? Mari kita terawang bersama.


“Steve!” teriak sang gadis pujaan.

Di dalam mimpinya, dia melihat Serka tersenyum lebar. Wajahnya menampakkan rasa bahagia yang meletup-letup. Kakinya berlari-lari kecil menghampiri Steven yang kini tengah duduk menyandarkan punggung pada batang pohon Elm yang berdiri tegak di pinggiran danau Qautsar.

Melihat Serka yang nampak cantik dan ceria—tak seperti Serka berwajah dingin yang biasa dilihatnya—dengan balutan dress merah marun yang bergoyang seirama dengan langkah kakinya, membuat Steven sontak menegakkan punggung lalu berdiri.

Tak dipungkiri, selama waktu yang dia lewatkan bersama teman se-asramanya tersebut, Steven mempunyai perasaan menyimpang pada Serka akan tetapi selalu dia simpan rapat tak pernah terkuak. Kini melihat betapa manis Serka di depan sana membuat jantung Steven berdetak dan berdesir layaknya sedang menaiki Jet Coaster.

Mereka sekarang berdiri berhadapan. Efek suara angin sepoi, kecipak air danau dan gemerisik daun bergesekan telah menjadi backsound yang teramat merdu bagi Steven yang sedang dimabuk pesona. Inilah yang membuat munculnya jeda hening di antara keduanya.

Dengan pipi merona dan wajah berseri-seri Serka tiba-tiba tanpa berucap atau pun meminta ijin, langsung saja melingkarkan kedua tangannya di sekitar leher Steven. Membuat tubuh pemuda blonde ini diserang badai salju lokal yang sukses membekukan.

“Steve, aku hari ini bahagia banget.” Serka semakin mengeratkan pelukannya dan menyandarkan kepalanya di bahu Steven.

“Ba-bahagia karena apa?” tanya Steven yang susah payah mengeluarkan suara karena kebekuan masih berkuasa.

“Coba tebak, kenapa aku sebahagia ini?” Bukannya menjawab, Serka malah main tebak-tebakan.

Sejenak melintas jawaban di kepala Steven. Jawaban yang didapatnya adalah Serka bahagia karena menyadari bahwa ia menyukai Steven. Bukannya kege-eran atau mengalami sindrom overpede tapi pelukan inilah bukti konkrit yang membuat Steven yakin bahwa Serka seperasaan dengannya.

“Karena...” Steven pura-pura berpikir keras seolah pertanyaan Serka adalah soal tersulit melebihi teka-teki yang diberikan mr. Gray, Kepala Asrama Salvatore mereka di St. John Academy. “Ah! Kau mendapatkan nilai A+ di kelas
Science ya?” tebaknya asal. Tak mungkin kan dia bilang, ‘kau menyukaiku dan mau berpacaran denganku ya?’ Hei! Itu bukan Steven banget...

Serka melepas pelukannya lalu mundur selangkah. Raut muka Steven pun nampak tak rela tapi buru-buru dia tampik.
Masalah perasaan cinta ini lebih urgent. Toh, nanti setelah Steven menjalin hubungan resmi, dia bisa memeluk Serka kapan pun.

“Bukan. Coba berpikirlah out of the box,” ucap Serka. Mata berbinarnya menatap penuh harap kepada Steven, masih dengan ekpresi ceria.

“Kau masih mempertahankan rekor nilai tertinggi di St. John Academy?”
Serka menggeleng.

“Mempunyai peliharaan baru? Ah! Atau menyukai seseorang dan perasaanmu terbalas?” Pertanyaan terakhir yang terlontar dari mulut Steven asli tanpa sadar dan kini dia sedang merutuki kecerobohannya yang terlalu dikuasai rasa senang
berlebihan.

“Gotcha! Kau benar,” sahut Serka. Wajahnya semakin merona.

Steven melotot tapi buru-buru mengembalikan ekspresi tenang nan dingin agar image ‘cowok cool’ yang disandangnya tak menghilang.

“Eh? Ta-tapi jawaban mana yang benar?” Steven pura-pura bodoh.

Serka nampak malu-malu. Kepalanya menunduk, memandangi rerumputan yang diinjaknya semena-mena. “Yang itu tadi.
Soal... Perasaanku yang terbalas,” sahut gadis berponi rata ini. Steven hampir berucap untuk menyatakan perasaannya secara gamblang tapi Serka dengan cepat menyela. “Romy mengirimiku e-mail, Steve. Isinya mengatakan dia menyetujui perjodohan yang dibuat kedua orang tua kami. Dia menyuruhku cepat-cepat pulang karena acara pertunangan kami sudah disiapkan. Ya ampun! Aku tak menyangka perasaannya padaku berubah dan hubungan kami akan kukuh secepat ini,” ucapnya riang. Serka melompat-lompat senang sambil sesekali tertawa renyah.

Steven menatap Serka nanar dan Serka sepertinya tak menyadari kekecewaan yang terpatri di wajah Steven. Tak berapa lama tanah yang dipijaknya seolah bergoyang. Kaki Steven melemah. Pandangannya mengabur, tubuhnya mendadak ringan dan... BRUKKK! Tubuh Steven sukses menubruk lantai kamarnya.

“Aduh!” teriaknya refleks ketika dirasa kepala, punggung dan bagian lainnya sakit sehabis membentur benda keras.

Matanya nyalang terbuka. Melirik sekitarnya masih dengan posisi terlentang di lantai. Seketika dia sadar, bahwa pertemuan dan pelukan berujung pahit dengan Serka hanyalah mimpi belaka. Menyadari hal itu serta merta Steven bangun cepat-cepat lalu berteriak. “Yey! Ternyata cuma mimpi! Berarti kesempatanku memiliki hati Serka masih terbuka lebar.”


Pagi menjelang siang ini—Steven bangun kesiangan, pemuda berkemeja putih tulang dengan penampilan yang jauh lebih rapi dari biasanya itu bertekad menyatakan cinta pada Serka. Dia tak lagi peduli dengan image siswa yang terkenal dingin dan jual mahal. Steven tak ingin keduluan orang lain. Percuma perasaannya terus disimpan tanpa diutarakan.
Hanya perhatian saja takkan mampu membuat Serka mengerti apa yang tersimpan di hatinya.

“Serka!” panggilnya begitu matanya tertumbuk pada sesosok gadis yang duduk di kursi yang berjajar rapi di sudut-sudut lorong gedung Asrama.

Serka menoleh, tersenyum tipis sambil mengangguk singkat pada Steven dan beberapa detik kemudian kembali menekuni novel yang dipegangnya.

“Serka, kau ada waktu?” tanya Steven ketika dirinya sudah sampai di depan Serka.

“Tergantung,” jawabnya singkat seraya mendongak menatap Steven dingin.

“Kok tergantung?” Steven nampak tak terima dengan jawaban Serka yang ambigu.

“Tergantung urusanmu denganku penting atau tidak.” Serka diam sejenak mengamati penampilan Steven yang tak biasa. Bau
harum parfum yang tajam menguar dan cukup mengganggu indera penciuman Serka. “Cepat katakan apa maumu? Kalau urusanmu denganku cukup lama, kau ganti dulu bajumu.”

Steven melongo. “Memangnya kenapa?”

“Parfummu menusuk hidung.” Serka berucap tajam nan ketus.

“Oh...” Steven tak nampak tersinggung. Dia memang sudah biasa dengan keterusterangan Serka. Malah inilah point penting yang membuatnya menyukai Serka. Dan asal tahu saja, kedua sahabat yang sama-sama populer ini dijuluki ‘Ice
Couple’ karena sikap mereka yang acuh tapi berkarisma dan tentu saja mereka dikenal sebagai siswa berotak cemerlang
di St. John Academy.

Steven duduk di sebelah Serka. Menatap gadis ini lekat seraya menarik dan menghembuskan nafas membangun keberanian diri. Sedangkan Serka kembali membaca novel.

“Serka, eum... Bagaimana kelanjutan perjodohanmu dengan si...” Steven merasa sangat berat menyebut nama rival yang tak pernah ditemui namun dia kenal baik lewat gerutuan Serka setiap menerima kabar yang berisi desakan agar setuju dengan pemuda pilihan ayahnya.

“Kalau kau di sini hanya untuk membahas tentang Romy, si trouble maker yang sejak kecil suka menjahiliku itu, lebih
baik kau tutup mulutmu saja. Aku malas membahasnya.” Kata-kata ketus Serka malah membuat bibir Steven mengulum senyum. Dalam hati dia bersorak.

“Kau masih menolak perjodohan itu, kan?”

“Hm.”

Yes! Hati Steven memekik. “Bagaimana kalau kau bilang bahwa kau sudah memiliki pacar. Aku yakin ayahmu takkan memaksa.”

Serka sontak menoleh. Meski ekspresinya masih dingin tapi nampak sekali matanya berbinar. Tapi setelah saling berpandangan beberapa detik, binaran itu meredup lalu kepalanya menunduk. “Aku tak suka bohong. Saat Dad tahu bahwa ceritaku fiktif belaka, bisa mati aku,” keluhnya resah.

“Kau tak perlu bohong, Serka.”

“Maksudnya?” Serka yang cerdas mendadak tumpul, tak mampu menangkap maksud terselubung Steven.

“Eum... Aku mau jadi pacarmu.” Steven berucap lirih. Kepalanya memutar ke arah lain karena terlampau gugup.

Serka melotot syok dan tanpa Steven ketahui rona merah bermunculan di pipi gadis itu. “Ap-apa mak-maksudmu?” Terlalu
gugup dirinya sampai-sampai membuatnya mendadak gagu.

“Aku... Menyukaimu!” ucap Steven—yang lebih cocok disebut membentak.

Tanpa menunggu reaksi Serka selanjutnya, Steven pergi dengan langkah memburu karena gejolak di hatinya terlampau menyiksa. Dia tak mau mati kehabisan pasokan oksigen saking sesak dadanya karena terlampau gugup. Untuk sementara Steven harus menyelamatkan jantungnya dulu sebelum meledak.

End

Hujan di Bulan Desember





‘Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi dibalik awan hitam...’

Sisi lembut menyerangku di saat aku sedang memikirkanmu. Cukup kusyukuri bahwa perasaan tak tegaku muncul terlambat. Jika sedari tadi, pasti aku takkan ada di sini.
Aku menyandarkan kepala ke jendela. Mengamati rintik hujan di luar sana menabrakkan diri pada kaca hingga terlihatlah anak sungai kecil terasa layaknya lukisan abstrak yang indah namun mampu mengiris hati.
Aku seperti melihat lelehan air matamu yang beberapa saat lalu kutinggalkan tanpa perasaan. Akankah kau masih di sana? Menangis tersedu-sedu seraya menatap punggungku yang perlahan menjauh lalu menghilang. Tak mungkinkan kau masih di sana di saat hujan lebat seperti ini?
Perlahan, semakin aku menatap langit gelap serta rintik hujan yang kian deras, aku semakin mengkawatirkanmu. Karena aku tahu kau gadis yang begitu nekat sekaligus rapuh.
Maafkan aku... Meskipun mungkin kau masih di sana, aku tetap tak mampu menghampirimu. Perpisahan ini adalah jalan satu-satunya bagi kita. Layaknya awan kelabu yang menjatuhkan hujan hingga ke dasar tanah lalu sosoknya perlahan menghilang agar pelangi dapat menampilkan keindahannya. Seperti itulah kita. Demi kau aku rela menghilang agar kau terus ada di sana terlihat indah nan memukau seperti pelangi.

***
‘Semoga ada yang menerangi sisi gelap ini.
Menanti...
Seperti pelangi, setia menunggu hujan reda...’


“Lihatlah, awan mendung di langit itu! Sebentar lagi hujan akan tiba tapi tunggulah selalu ada pelangi sehabis hujan. Meski kau tak selalu tahu dan melihat kemunculannya. Namun percayalah seperti pelangi yang akan tetap membiaskan warna-warna indahnya di langit cerah setelah kegelapan yang disebabkan oleh awan mendung menyelimuti bumi. Seperti itulah kesedihan yang kau derita, suatu saat pasti akan berganti dengan kebahagiaan yang terasa indah,” ujar seorang lelaki berperawakan kecil namun terlihat manis.
Dia memang bukanlah lelaki gagah perkasa yang bisa melindungi gadisnya dengan kekuatan fisik yang hebat. Dia juga bukan tipe lelaki yang dapat dijadikan bahan pamer dengan berjuta kelebihan luar yang mampu memukau mata. namun sikapnya yang selalu sukses menghasilkan rasa nyaman nan hangat bagi yang berada di dekatnya, senyumnya yang terlihat tulus, mata polosnya yang memancarkan kesungguhan merupakan anugerah tersendiri yang dia miliki. Dialah Nathan. Pria lembut yang berperasaan halus.
Gadis yang berdiri di hadapannya, yang tadi ikut serempak mendongak ke langit bersama Nathan beralih menatap lekat lelaki yang berhasil mencuri hatinya. Ada sesuatu yang mengusik benaknya setelah dengan tiba-tiba lelakinya berucap dengan nada rendah nan berat. Belum sempat dia berucap Nathan sudah bersuara.
“Kau akan bahagia. Itu pasti! Percayalah luka yang aku torehkan sekarang takkan berlangsung lama. Selanjutnya hidupmu akan menjadi cemerlang tanpa aku.
Kau adalah Dessy yang hebat dan akan lebih hebat lagi tanpa aku di sisimu karena aku hanyalah menjadi batu sandungan bagi kesuksesanmu. Aku ini awan mendung kelabu yang gemar menghalangi keindahan langit Dessy. Bukan kah awan kelabu ini harus menyingkir agar pelangi bisa muncul?”
Gadis ini mengernyit tak mengerti. Kata-kata Nathan adalah sesuatu yang terasa sulit dia cerna. Apalagi ketika matanya mengamati ekspresi lelakinya yang sendu. Rasa was-was yang muncul di benaknya sedari tadi semakin membesar menjadi rasa takut. Takut akan kehilangan.
“Ap-apa maksudmu, Nath?” Dessy sudah mampu mencerna akan tetapi kini rasa tak percayalah yang menghadangnya untuk bisa mengerti tiap-tiap kata yang terlontar dari bibir Nathan.
Nathan menghela nafas berat, tatapan matanya beralih menyorot hamparan dedaunan pohon Maple yang berayun-ayun terhempas oleh angin lembap nan dingin. Pertanda hujan akan segera datang.
“Pergilah! Ikutlah dengan Mamamu ke Jepang. Di sana kau akan bisa meraih apa yang kau ingini. Segalanya ada untukmu. Jangan bertahan di sini. Di sampingku dan tinggal bersama Papamu yang pemabuk itu. Kami hanyalah pria tak bertanggung jawab yang akan menjadi penghalang bagimu. Kami hanyalah awan gelap yang akan menghalangi keindahan warna-warna pelangimu.”


Suara tenor seorang Pria yang sudah lewat beberapa jam lalu kudengar masih saja terngiang-ngiang dengan jelas. Seolah seperti hantu yang tanpa wujud namun tak juga berhenti bicara. Terus saja mengkumandangkan kata-kata ‘manis’ nan menusuk, membuatku yang menangis dibawah rintik hujan ini semakin merasakan sesak yang amat sangat beserta perih di hati.

Tahu apa kau tentang kebahagiaanku??? Bersama Mama memanglah membuat segala yang kuingini terwujud. Aku tak lagi tersiksa oleh hujaman-hujaman pukulan dari Papaku ketika dia mabuk namun dengan aku pergi, aku juga takkan lagi melihatmu, Nath!

“AKU TAK MAMPU JAUH DARIMU NATHAN BODOH!!!” teriakku mengumbar segala yang yang menyesaki dada. Aku kembali mendongak sambil menitikkan airmata yang tak nampak karena dengan cepat terhapus oleh rintik hujan. “Nath... Aku tak mau pergi,” gumamku. Percuma memang aku berucap demikian. Toh, dia takkan mendengarnya.

“Tapi kau tetap harus pergi. Kalau kau tak pergi, aku akan membencimu!”

Kata-katanya kembali terngiang. Begitu nyata dan menusuk. Seolah Dia masih ada disini. Lama dia bergulat dengan pikirannya sendiri seraya terus saja me-review setiap kata yang meluncur tulus namun dingin dari Nathan. Akhirnya hingga pada satu titik dia mulai mengerti.

“Kau bukan awan gelap Nath. Kau adalah matahari. Meski hujan turun namun jika tak ada matahari yang bersinar terik diatas sana, pelangi takkan muncul. Ketahuilah itu.” Seulas senyum meski getir terukir dibibirku. Aku memejamkan mata. Merasai tiap tetep hujan yang mengenaiku. Tak sakit... Sekarang setelah aku memahami apa yang dia inginkan. Aku tak lagi merasakan sakit.

@@@

‘Sampai nanti ketika hujan tak lagi meneteskan duka, menetas luka.
Sampai hujan memulihkan luka...
Aku...
Selalu suka sehabis hujan dibulan Desember.’


“Selamat tinggal,” gumam Nathan yang mengintip dari jendela ruang tamu. Menatap gadisnya yang diluar sana tepat didepan rumah mungilnya terlihat menyeret koper besar. Gadis itu berhenti melangkah ketika dia sampai di ambang pintu Taxi yang akan mengantarnya ke Bandara. Nathan yang merasakan bahwa gadisnya akan menatap ke rumahnya menutup tabir cepat. Dia takut bertemu pandang. Dia takut jika melihat mata Dessy, maka dia akan berlari ke sana dan menghalangi kepergiannya.

“Nath...,” gumam Dessy ketika matanya menatap ke arah rumah tetangga sejak kecil, orang yang selalu melindunginya layaknya seorang Kakak dan perlahan berubah menjadi kekasihnya. Kakinya melangkah perlahan. Menyeberang bermaksud menyambangi rumah yang tertutup itu. Sepucuk surat dia ambil dari dalam tas kecil yang menggantung di bahunya.

Tepat di depan pintu yang pastinya terkunci rapat itu, dia tak ingin mengetuk. Meski sangat ingin dirinya bertemu dan memeluk lelakinya untuk yang terakhir sebelum dia pergi tapi dia tahu dia tak boleh bertemu. Dia takut kakinya terpaku tak mampu meninggalkan tempat ini.

Setelah hembusan nafas berat dan airmata itu dia usap kasar. Dia membungkuk. Berjongkok. Menyelipkan amplop berisi isi hatinya untuk Nathan dari sela-sela daun pintu. Medorong amplop itu kuat-kuat hingga berhasil masuk ke dalam sana. Seraya berdoa dalam hati agar lelakinya mau membaca isi surat itu. “Kuharap kau mau menungguku, Nath.” Dessy berbisik. Selanjutnya dia melangkah pergi dengan langkah terseret tak rela.



Teruntuk Nathan bodoh...

Meski kau ucapkan selamat tinggal padaku, namun bagiku tak ada kata selamat tinggal bagi kisah kita. Yakinlah, tak hanya sampai disini pertemuan kita. Kelak kita akan bertemu lagi dibawah rintik hujan bulan Desember. Tidak dengan isak tangis sedih, namun pertemuan dengan isak tangis bahagia.

Nath, kau bukanlah seperti yang ada dipikiranmu. Kau bukan awan mendung yang menutupi keindahanku tapi kau adalah matahari yang bersinar cerah. Komponen penting selain hujan yang membuat munculnya pelangi yang indah. Ingatlah selalu! Kau Matahariku.

Sampai jumpa... Tunggu kedatanganku...

Dessy~


Sehabis membaca secarik kertas hasil goresan pena Dessy. Sisi rapuhnya muncul tanpa bisa ditahan. Di balik Pintu kokoh ini dia menangis tersedu-sedu. Kakinya melemas hingga duduk tersungkur di lantai rumahnya.
“Entah kapan kau akan datang, aku akan menunggumu, Dessy. Sampai jumpa,” ucapnya disertai dengan isakan pilu. Kertas yang digenggamnya sudah tak berbentuk lagi. Kusut dan basah seolah kertas itu adalah visualisasi hatinya yang remuk dan sedih oleh kepergian kekasihnya.

~TAMAT~

Rain & Rock


Bagus! Hujan datang! Tepat di saat hatiku juga serasa teriris sembilu dan sedang menangis meratapi nasib. Untuk saat ini dengan tegas aku menyatakan, aku benci hujan! Kenapa harus hujan yang datang? Kenapa tak hari yang cerah saja seperti hari-hari kemarin? Ini kan musim semi?! Langit mau menambahi kesedihanku ya?!

Kudongakkan kepala menatap boneka putih sebesar kepalan tangan yang menggantung di atap teras. Padahal kepalanya tak terbalik tapi kenapa hujan muncul. Aish! Kenapa pula aku percaya pada mitos Teru-teru bozu ?

Aku menyandarkan sisi tubuh dan kepalaku pada tiang kayu. Mataku menerawang menatap taman belakang rumahku dengan posisi duduk di teras. Hal yang selalu aku lakukan jika perasaanku sedang tak enak. Biasanya perlahan akan membaik dan kembali ke kondisi semula. Tapi sekarang, karena hujan turun rasanya malah membuatku semakin sedih dan terpuruk.
Air mataku jadi tak bisa berhenti mengalir.

Iya. Aku akui, aku ini gadis cengeng dan terkadang judes tapi ayolah langit... berbaik hatilah sedikit. Hentikan tetesan air yang kau turunkan itu. Atau kau jangan-jangan juga sedang bersedih hati sepertiku?


Hahhh... Teringat lagi peristiwa menyakitkan hati beberapa jam yang lalu. Karena sekarang adalah white day , jadi selama di sekolah tadi, aku menunggu-nunggu balasan perasaan dari seseorang yang sudah 7 bulan ini kusukai diam-diam.
Dia adalah senpai ku di Tokyo gakuen. Murid terpopuler di sekolah. Dia tampan dan berkharisma walau agak sombong tapi aku menyukainya. Namanya Hikaru Oda. Nama yang sangat cocok dengan dirinya yang berarti bintang. Karena dia memang bintang di hatiku dan mungkin di hati banyak siswi perempuan lainnya—dan kenyataan itu sungguh membuatku sangat tidak suka.

Aduh! Kenapa aku malah memuji-muji orang yang membuatku terpuruk begini sih? Namika! Lupakan dia!

Kesedihanku saat ini dimulai tadi karena patah hati. Sebulan lalu Valentine tiba. Dengan menghimpun segenap keberanianku karena ini adalah tahun terakhirnya di sekolah dan moment ini adalah kesempatan berhargaku untuk berhenti menjadi pemuja rahasianya. Aku pun memutuskan untuk menyatakan perasaanku lewat sekotak coklat dan berharap hari ini aku menuai sekotak atau sebungkus permen dari Hikaru-senpai.

Bukan permennya sebenarnya yang kuharapkan tapi balasan perasaan darinya lah yang begitu kuinginkan. Namun semua tak sesuai dengan yang kubayangkan. Dia memang muncul di muka pintu kelasku sepulang sekolah. Dia memang membawa sebungkus permen berpita merah jambu kala itu, tapi sayang itu bukan untukku. Seolah ingin memamerkan pilihan hatinya padaku—juga pada penggemarnya yang lain, dia menyerahkan balasan coklat Valentine itu untuk teman sekelasku dan untukku—yang tadi dengan beraninya bertanya ‘kenapa?’—dia hanya membalas dengan kata, ‘gomenasai ’. Seketika hatiku remuk dan pulang dengan berderaian airmata.

“Senpai kejam! Kalau mau memberikan permen itu untuk Minami kenapa harus menyerahkannya di depan mataku?!” ucapku kesal.

Kuumbar semua kekesalan hati dengan berteriak. Biarlah! Toh! Derasnya hujan membuat suaraku tak terdengar sampai ke dalam rumah. Kalau pun terdengar pastinya hanya ¬Okaa-san¬ saja yang tahu. Tak masalah.

Pintu geser terdengar riuh karena dibuka. Aku tahu itu siapa sehingga tak perlu aku menoleh untuk memastikan siapa yang datang dan pasti akan duduk di dekatku. Kenapa Okaa-san selalu membiarkannya masuk seenaknya ke rumah ini seperti rumah sendiri? Kenapa juga dia tak menggubris perintahku untuk jangan mengangguku dulu? Saat ini aku hanya ingin sendiri.

“Sudah kubilang di telepon, ‘kan? Kau tak perlu datang!” Aku mendengus sebal karena waktuku menyendiri diganggu.

Dia tersenyum—lebih tepatnya menyeringai—setelah sebelumnya mendorongku bergeser lalu duduk di sebelahku. “Karena hanya berdiam diri dan menangis takkan mengurangi rasa sedihmu, jadi aku datang,” sahutnya seraya mengacak-acak rambutku.

Huchoru, pemuda yang tinggal di seberang rumahku ini mendongak, menatap hujan tanpa berkata apa-apa namun dia menggenggam tanganku begitu erat. Serta merta kulitku yang tadinya dingin karena udara di luar sini menjadi terasa hangat. Perlahan kehangatan yang ditimbulkannya tak hanya menghangatkan kulitku namun juga hatiku. Tenanglah hatiku kini. Segala rasa kesal hilang sudah.

Menit-menit berlalu dalam diam. Mungkin dia sedang mencari ilham atau apalah itu.

“Coba kau ulurkan tanganmu,” ucap Huchoru-kun padaku seraya menjulurkan tanganku yang digenggamnya tadi ke depan
untuk menadahkan tetesan hujan yang berjatuhan dari genting teras.

Aku menyedot ingusku yang hampir meler karena kegiatan menangis yang sudah satu jam lewat itu, setelahnya dengan suara sengau berkata, “Untuk apa? Cuci muka?” tanyaku agak ketus sambil menatap tiap tetes hujan yang turun dengan derasnya seolah langit tahu kesedihanku sehingga menurunkan hujan untuk menemaniku menangis—tapi malah membuatku makin sedih dan terpuruk.

Huchoru-kun tersenyum tipis, “Apa tetesan-tetesan ini menyakitimu atau melubangi tanganmu?” Dia malah balik bertanya. Seperti biasa, pasti selanjutnya dia akan mengucapkan kata-kata bijak padaku.

Ucapan yang akan langsung menentramkan di kala duka menyerang namun terkadang membuatku sukses tertohok dengan teguran-teguran yang tepat sasaran dan tanpa basa-basi.

Kali ini dia mau menasehati apa? Membuat hatiku sejuk dengan kata-kata penghiburan setelah aku patah hati ditolak cinta oleh senpai yang kutaksir atau Huchoru-kun akan memberiku nasehat seputar harga diri seorang gadis yang harus dipertahankan dengan tidak menyatakan perasaan secara terang-terangan pada laki-laki? Mengingat dia ini adalah tipe pemuda konvensional, peka, tapi tegas.

Aku pun menjawab, “tentu tidaklah!” sambil tetap memasang ekspresi jual mahal, dengan arah mata yang tak lepas menatap rintikan hujan yang masih konstan menurunkan airnya tanpa mengurangi debitnya. Dalam hati, sebenarnya aku menunggu ucapan Huchoru-kun selanjutnya. Semoga tidak akan membuatku tambah sedih.

“Lihatlah batu itu.” Huchoru-kun menunjuk sebuah batu yang cukup besar di pojokan tepat di bawah ujung genting teras, di antara tobiishi yang sengaja diletakkan oleh Otou-san di depan teras sebagai jalan setapak menuju taman kecil bergaya Shoin di hadapanku sana.

Aku mengamati lekat-lekat sambil terus berpikir tapi belum mengerti maksud yang akan diutarakannya.

“Kau lihatkan permukaan cekung di batu itu? Tetesan hujan lah pelakunya.” Dia menoleh ke arahku. Manik matanya
memberiku kehangatan dan aku kini yakin yang akan meluncur dari bibirnya nanti adalah kata-kata penyemangat yang pasti akan membuatku berhenti bersedih. “Sekali dua kali rintik hujan takkan meninggalkan bekas pada batu yang keras itu, tapi jika batu mendapatkan hantaman kecil dari tetesan hujan selama ribuan bahkan jutaan kali maka kau pasti tahu, ‘kan akibatnya? Membekas cekung bahkan bisa sampai berlubang. Seperti itulah yang harus kau lakukan Namika-chan . Jangan putus asa hanya karena satu kali patah hati. Kali ini perasaanmu tak terbalas mungkin karena perjuanganmu mendapatkan orang yang kau sukai kurang gigih. Kelak jika kau menyukai seseorang yang lain, hantam lah dia dengan segala perhatian dan rasa cinta yang tulus semaksimal mungkin. Aku yakin, layaknya batu yang tergerus karena tetesan hujan yang terus tekun menimpanya, kau juga bisa membuka pintu hati orang yang kau sukai dan memasukinya. Ganbatte , Yuki-chan! Kembalilah menjadi gadis ceria yang kukenal,” ujarnya seraya mengusap-usap lembut kepalaku. Senyuman yang lembut menghiasi bibir tipisnya. Membuatku seketika merona salah tingkah.

Seketika api semangat meletup-letup dalam diriku. Karena dia, sahabat terbaik yang sudah seperti saudaraku sendiri, yang selalu tahu harus mengatakan apa padaku. Dia tak mengucapkan kata-kata yang ingin telingaku dengar tapi dia memberikan nasehat apa yang harus kudengar.

“Arigatou, Huchoru-kun,” ucapku tulus lalu bersandar di bahunya dengan mata yang terus menatap rintik-rintik hujan yang tak kunjung berhenti.

Perasaanku menjadi tenang dan senyuman ceria kembali lagi terukir di bibirku. Ternyata jika hujan dipandangi dengan hati tenang dan bahagia, penuh semangat yang meletup-letup maka hujan tak nampak sesuram tadi.

Hari ini aku menyimpulkan, hujan tak selalu membawa kesedihan. Ada kalanya setiap tetes-tetesan hujan telah membawa makna berharga untuk kehidupan. Khususnya aku. Berkat Huchoru-kun, orang yang selalu menjadi malaikat penolong dan sekaligus pendengar yang baik, aku bisa mendapatkan kenyamanan sekarang. Rasa sedihku langsung sirna hanya dengan kata-katanya yang menyejukkan. Aku sangat bersyukur Tuhan mengirimkan sosok sahabat sepertinya.

Dia seperti malaikat sekarang—walau kadang-kadang dia juga bisa berubah jadi iblis sih. Kata-katanya yang mengalir tanpa konsep namun tepat sasaran sungguh membuatku tak habis pikir secerdas apakah dia. Dapat ide tentang batu itu dari mana? Kenapa dia selalu bisa menjadi seseorang yang bijak dan kenapa aku merasa dia sangat memahamiku? Yang paling penting, kenapa Huchoru-kun selalu bersikap sangat baik? Kenapa dia sangat memerhatikanku? Bahkan ketika sepulang sekolah tadi kami berpapasan di jalan depan rumah lalu melihat wajahku begitu murung dan tak menghiraukan sapaannya, dia pun langsung menelponku beberapa menit kemudian. Setelah mendengar tangisanku—padahal tadi aku sempat membentaknya dengan kasar, dia langsung datang menemuiku. Di sini. Di tempat yang bahkan orang tuaku tak mendekatiku ketika tahu aku sedang bersedih atau marah.

Mendadak banyak pertanyaan ‘kenapa’ bersarang. Menuntutku untuk bertanya secara langsung pada orang yang kini sedang kusandarkan kepalaku padanya. Huchoru-kun.

Aku mengangkat kepala, mengamati wajah lembutnya yang masih saja menatap hamparan taman yang didominasi dengan bebatuan dan sedikit tanaman. Huchoru-kun menyadari ada mata yang mengamatinya lekat-lekat—padahal tadi dia nampak sedang menerawang menatap hujan, kenapa bisa merasakan bahwa ada orang yang sedang memandangnya tanpa berkedip?—dan akhirnya menoleh, “doushite? ” tanyanya penasaran seraya memiringkan kepala sambil menatapku lekat-lekat.

“Emmm... Boleh aku bertanya sesuatu?” Aku langsung menunduk. Kegugupan mulai merambati hati.
Sungguh! Aku bingung harus memulai dengan pertanyaan apa. Tapi betapa bodoh dan tak pekanya aku karena baru merasa penasaran sekarang. Kenapa tidak sejak dulu perasaanku terusik oleh sikapnya yang teramat—mungkin ini berlebihan—mengistimewakanku.

Huchoru-kun mengerjap menatapku, dibarengi dengan kerutan dahi lalu beberapa detik kemudian berucap, “Apa?”

“Kenapa kau begitu memperhatikanku?” Akhirnya satu pertanyaan yang mewakili isi hatiku tersampaikan.

Matanya terbelalak sejenak—sepertinya. Selanjutnya tak lagi menghadapku namun malah berbaring dengan tangan kanannya dijadikan bantal. Setelahnya mendongak ke atap memandangi boneka teru-teru bozu yang menggantung tak tenang karena diombang-ambingkan angin. Keheningan tercipta karena dia terlampau lama mencari jawaban. Bukankah ini pertanyaan yang tak cukup sulit? Tak lebih sulit dari soal logaritma yang selalu sukses membuatku mati kutu. Ayolah Huchoru-kun... jawab pertanyaanku.

“Karena...” Dia menggantung ucapannya. Wajahnya menunjukkan tanda-tanda keraguan ketika dia menoleh ke arahku. “Aku menyukaimu.”

Lirih benar kata-kata yang baru saja terlontar tapi sungguh sangat sukses membuat jantungku langsung terhenyak dan menghasilkan detakan cepat tak terkendali. Kata-kata Huchoru-kun barusan membuatku terbelalak kaget. Seolah seperti guntur yang memekakkan telinga. Aku agak tak percaya dengan ucapannya.

“Eh? Nani? ” Tubuhku menegang dan sontak menegakkan punggung. Pekikan dan refleks tubuh yang pastinya terlambat merespon.

Huchoru-kun bangun dari posisinya yang merebah—singkat. Ekspresinya berkesan tak terdefinisi. Antara gugup, serius, atau takut—mungkin. Senyuman lembut beberapa menit lalu saat mengucapkan kata-kata bijak entah menghilang ke mana. Seperti bukan pemuda yang tadi saja.

“Mungkin ini adalah kata-kata klise yang sering kau dengar di dorama-dorama yang suka kau tonton setiap hari tapi ini jujur dari hatiku. Aku menyukaimu sejak pertama kita bertemu,” lanjutnya panjang lebar dan terdengar tegas. Dia mengatakan dengan lancar seraya mencengkeram bahuku sambil menyorotkan mata yang tersirat, ‘percayalah padaku’.

Aku masih mematung. Begong. Bingung harus berkomentar seperti apa. Bagiku dia sangat berarti. Sungguh! Tapi untuk menyebut perasaanku ini sebagai rasa cinta seperti yang dia rasakan sepertinya tidak. Kedekatan kami sudah membuatku menganggapnya sebagai saudara sendiri jadi tidak mungkin kan dengan cepat berubah?

“Anggap saja aku ini adalah rintik hujan itu Namika-chan dan kau batunya. Kalau saja tadi kau tak bertanya lalu tak
kuberitahu perihal perasaanku padamu, aku tetap yakin suatu saat kau pasti akan menyadari perasaanku.” Dia berkata sambil tersenyum. Senyuman yang terasa lain dari pada yang lain. Tersirat ketenangan dan kepercayaan diri tapi di samping itu, di manik matanya yang coklat terpancar binar-binar bahagia.

“Tapi aku—”

“Sst... Tak perlu menjawab. Aku tak meminta jawabanmu karena sekarang kau pasti belum siap memberikan jawaban.

Biarkan seperti ini saja.” Dia beranjak berdiri sepertinya hendak pergi. Mataku otomatis terus mengikuti gerak-geriknya hingga dia berjalan menuju pintu geser. “Tolong, jangan terlalu memikirkan dalam-dalam kata-kataku tadi. Aku ingin kau tak berubah sikap. Aku ingin tetap menjadi sahabatmu Namika-chan. Setelah aku pulang dan esok kita bertemu lagi, aku ingin kau akan tetap bersikap sama. Menjadi sahabatku yang selalu tersenyum riang. Mau, ‘kan?” Di ambang pintu, dia berucap penuh harap.

Dengan agak enggan karena perasaan syok masih bersemayam, aku mengangguk kepadanya.

Dia tersenyum sambil menghembuskan nafas lega. Setelah mengucapkan, “arigatou” tubuhnya menghilang. Meninggalkanku sendiri di teras rumah sambil merenung seharian.

Pikiranku yang seharusnya menyuguhkan topik utama yang bertema patah hati, gara-gara pertanyaan rasa suka dari
Huchoru sontak memuat benakku tersita oleh ucapannya. Kata-katanya terus terngiang-ngiang. Membuatku mau tak mau harus melihat flashback tentang kisah persahabatan kami yang dimulai dari saling berkenalan ketika aku pindah di
Taito¬-ku sampai hubungan kami menjadi sedekat ini. Perenungan ini mungkin takkan berakhir. Dan aku pasti juga takkan beranjak dari tempatku duduk sedari siang kalau saja Okaa-san tak berteriak memanggilku untuk makan malam.
Setelah menepuk tangan 3 kali dan mengucapkan “itadakimasu ”, Okaa-san dan Otou-san langsung mengambil sumpit yang di letakkan di sisi kanan mangkuk dan memakan nasi yang sudah disiapkan dalam mangkuk keramik. Sedangkan aku masih termenung. Melamun. Tak menyentuh sumpit yang tergeletak manis di atas kotatsu . Padahal lauk yang terhidang seharusnya bisa membuat liurku menetes tapi untuk saat ini Misoshiru , Ebi furai dan makanan lain yang melambai-lambai minta diambil tak berhasil membujuk nafsu makanku.

Suara petir terdengar menyambar. Sempat membuatku dan juga kedua orang tuaku kaget. Seharusnya musim semi adalah masa di mana langit akan sering memperlihatkan pemandangan yang cerah dengan angin sepoi yang terasa sejuk tapi mengapa seharian ini yang ada malah hujan terus yang turun. Membuatku selalu teringat ucapan-ucapan Huchoru-kun.

“Ayo, dimakan Namika-chan. Biasanya kau akan langsung lahap makan kalau Okaa-san masakkan ebi furai,” ujar Okaa-san. Matanya menatapku khawatir.

Okaa-san pasti tahu bahwa tadi aku menangis cukup lama di teras belakang sepulang sekolah. Jadi sekarang dia sengaja memasakkan makanan kesukaanku. Karena ini adalah cara yang biasa Okaa-san lakukan untuk menghiburku. Okaa-san memang tak mendekat lalu menasehati atau sekedar menghibur ketika aku menangis atau mengamuk. Okaa-san lebih sering menunjukkan perhatiannya lewat perbuatan. Sedangkan Otou-san kesibukannya bekerja takkan bisa membuatnya tahu aku sedang mengalami hal yang menyedihkan hari ini. Sekarang, kami makan malam dengannya saja sudah suatu hal yang patut disyukuri. Tapi maafkan putrimu satu-satunya ini Okaa-san. Maafkan juga diriku yang tak begitu menunjukkan rasa senang ketika makan malam bersamamu, Otou-san. Aku tak berselera sekarang. Pikiranku sedang rewel. Sibuk memikirkan hal yang ganjil—kalau pernyataan cinta Huchoru bisa disebut ganjil sih.

Sebaiknya aku ke kamar saja dari pada membuat suasana di sini menjadi suram.

“Aku selesai,” ucapku lalu bangun dan melangkah menuju kamarku.

Okaa-san sempat menahanku dengan menunjukkan wajah kecewa. Begitu juga dengan Otou-san yang menatapku galak karena meninggalkan meja sebelum selesai makan. Namun aku tetap pergi. Mungkin dengan berbaring di kamar lalu tidur, benakku yang cerewet bisa diam.

Dalam perjalananku, mataku tertumbuk pada telepon yang tergeletak di meja kecil di samping anak tangga menuju lantai 2 tempat kamarku bersemayam. Melintas lagi kenangan beberapa jam lalu setelah aku pulang sekolah. Aku berbicara ketus dengan Huchoru-kun lewat benda itu, bahkan sempat membentaknya karena dia bersikeras untuk datang kerumahku. Mendadak ingin rasanya tanganku terulur dan menelpon dia, tapi aku harus bicara apa?

Aku duduk bersimpuh menghadap telepon. Lama aku menatap lekat-lekat benda mati yang tak begitu indah tersebut. Tanganku terulur lalu kutarik kembali dan begitu seterusnya. Hingga akhirnya aku menetapkan hati untuk memegang gagang telepon dan yang satunya lagi bersiap memencet tapi untuk melakukan itu seolah begitu sulit. Sesulit memilih jawaban soal pilihan sewaktu ujian.

Kukeraskan tekadku. Supaya hatiku tak terus-terusan bergejolak, benakku tak tak terus mengoceh panjang lebar dan nanti malah berakibat aku tak bisa tidur jadi sekarang aku menelponnya. Harus! Ayo beranikan dirimu Namika Yanagita!
“Moshi-moshi Huchoru-kun,”sapaku dengan suara yang lirih.

Di ujung sana suaranya tak nampak segugup diriku. Ternyata rasa tertekan ini cuma sepihak saja. Aish! Tidak adil. Memang aku tahu Huchoru-kun itu orang yang tenang—malah banyak orang yang bilang dia dingin—tapi soal perasaan ternyata dia juga cukup pintar mengendalikan bahkan menyembunyikannya ya? Salut! Dan... Iri!

“Soal tadi...” Aku menggaruk-garuk kepala bingung.

“Kau merasa terbebani ya? Gomenasai jika membuatmu tak tenang.”

“Eh? Tidak! Kau tidak membebani kok. Hanya saja aku selalu kepikiran.”

“Benarkah?”

“Te-tentu saja. Sungguh! Bukan salahmu. Tak perlu minta maaf.”

Hening kembali tercipta. Di sana diam, di sini pun juga sedang sibuk merangkai kata.

“Mari kita pacaran!” ucapku cepat dan lancar. Selancar bola salju yang turun dari gunung Fuji.

Hening lagi...

“Hu-Huchoru-kun. Kau ada di sana?”

Pertanyaan bodoh. Tentu saja dia masih menempelkan gagang telpon di telinga hanya saja kata-katamu sungguh mendadak,
Namika! Kalau Huchoru-kun sakit jantung bagaimana coba?!

Kupukul-pukul kepalaku. Merutuki kebodohan mulutku yang refleks berkata tanpa basa-basi.

“Te-tentu saja.” Di seberang sana terdengar suara Huchoru-kun yang berubah gagap. Mungkin saking kagetnya,
Huchoru-kun tak bisa mengembalikan ketenangan suaranya.

“Mungkin ini terlalu mendadak. Aku juga tahu bahwa kau bukan tipe orang yang suka dengan gadis yang menembak duluan
tapi... Aku merasa kau adalah orang yang tak bisa kuhiraukan begitu saja. Beberapa jam aku menimbang-nimbang perasaan. Aku terus kepikiran dengan kata-katamu tadi lalu tanpa diminta, benak ini menggulirkan peristiwa di masa lampau. Peristiwa di mana awal kita bertemu dan kau yang selalu tak pernah absen mengisi hari-hariku. Dan pada satu titik, hatiku mengatakan bahwa aku harus menerima perasaanmu. Mungkin Tuhan mengirimmu memang untukku. Selalu dan selalu saja kau yang ada di sampingku. Lalu setiap kata-kata dan tindakanmu tak pernah gagal membuatku tenang dan bahagia. Jadi, aku ingin menyukaimu. Mari kita pacaran, Huchoru-kun.” Setelah mengeluarkan semua kata hati aku menghela nafas lega. Tinggal menunggu reaksi darinya.

Memang aku tak tahu pasti tentang perasaanku padanya. Tapi aku yakin dia adalah orang yang tepat untukku. Tak ada yang lain. Hanya dia orang yang mengerti bagaimana aku dan aku menyayangi dia. Sangat menyayangi Huchoru-kun.

“Aku menolak!”

“EH???” Aku memekik refleks. Jawabannya sungguh di luar dugaan. “Ap-apa maksudmu?!” Suaraku menegang.

Enak saja dia bilang ‘menolak’ setelah aku dengan susah payah menata hatiku, menyingkirkan rasa takutku dan memberanikan diri menyatakan bahwa aku ingin menjalin hubungan dengannya. Aish! Sebenarnya kata-katanya tadi sewaktu di teras itu serius tidak sih?

“aku tak mau kau terpaksa.”

Aku diam sejenak mencoba mencerna kata-katanya. “Terpaksa? Ak-aku tidak terpaksa.”

“Kau terpaksa. Nampak jelas sekali di kalimat yang kau lontarkan tadi. Aku sudah berkata kan tadi? Aku tak meminta

jawabanmu. Aku mengatakan perasaanku karena kau bertanya. Cuma itu.” Kudengar helaan nafasnya. “Aku tahu hatimu belum benar-benar terbuka untukku. Ya, ‘kan?”

Dan pertanyaannya membuatku pikiranku makin bingung.

“Soal itu...” Suaraku menghilang. Aku sedang berpikir menyusun alasan. “Kupikir ada baiknya kita berpacaran
Huchoru-kun. Karena... Kau sangat baik dan selalu ada di saat kubutuh. Aku menyayangimu. Aku sadar aku... menyukaimu.
Aku selalu menjadi tenang di saat kau ada di sisiku.”

“Aku tetap menolak.” Suara ketusnya muncul. Sepertinya aku membuatnya memnuculkan sisi iblisnya. Gawat!

“Kenapa? Apa penjelasanku kurang?”

Eh? Di sini siapa sih yang tadi menyatakan suka lebih dulu? Kenapa seolah-olah aku yang begitu menginginkan hubungan
ini lebih maju? Padahal kan ini semua bermula dari pernyataan suka Huchoru-kun. Kenapa dia malah berubah jual mahal sih? Mengesalkan!

“Aku tidak suka diminta pacaran. Biar aku yang meminta padamu. Jadi tunggu saja!”

Pip-pip-pip!

Sambungan telepon terputus. Aish! Harga diri Huchoru memang benar-benar tak terkalahkan.

***

Hari minggu yang cerah. Aku dengan celana pendek dan kaos hitam gombrong sedang menikmati bunga sakura bermekaran di halaman rumah.

“Sejuknya...” ucapku seraya memejamkan mata. Menghirup bau harum bunga Sakura yang sesekali menerbangkan kelopaknya yang rontok ke atas wajahku.

Hari-hari sudah berlalu sejak kejadian patah hati, pernyataan cinta dan pernyataan dariku yang ingin—lebih tepatnya bersedia—menjadi pacar Huchoru-kun tapi tak sesuai dugaan, dia menolak. Harusnya bisa kuduga sih. Sifatnya memang begitu dan aku tahu betul itu tapi kenapa juga aku bilang ‘mari kita pacaran’.

“Hei! Kau belum bersiap juga?” Suara familiar menganggu acaraku menikmati harum bunga Sakura. Seketika aku membalik badan dan mataku sontak terbelalak, mulutku melongo.

“Kenapa kau pakai Yukata ? Penampilanmu jadi terlihat terlalu formal,” ucapku. Dan tentu saja nampak gagah dan... tampan, batinku.

Dari mana saja kau Namika??? Kenapa baru sekarang kau menyadari bahwa Huchoru-kun mempesona?

“Sekali-kali aku ingin memakai Yukata di Hanabi Matsuri .” Dia bersedekap lalu menatapku dari kepala sampai kaki.

“Kau lupa ya? Bukankah kau sudah kuminta untuk memakai Yukata juga?”

Mataku melotot lagi. “Eh? Benarkah?” Langkahku mendekati Huchoru yang masih berdiri tegap di teras. “Tapi... Aku malas memakai Yukata.”

“Harus! Sekali-kali di perayaan musim semi aku ingin melihatmu memakai Yukata. Masuk sana. Okaa-san-mu sudah menyiapkan Yukata.”

Dia memukul kepalaku. Meski pelan tapi ini adalah hal yang tak kusukai. Aku tahu sih dia lebih tua tapi tetap saja memukul kepala itu tindakan yang tidak sopan. Aku pun memanyunkan bibir. Dan tanpa menyanggah lebih lanjut—karena pastinya bakal kalah berkonfrontasi dengannya—aku melangkah memasuki rumah.


Suasana sangat ramai dan tumben sekali Huchoru-kun nampak tersenyum menikmatinya. Bukan seperti Huchoru-kun yang biasanya. Dia kan sebenarnya tak begitu suka keramaian?

Di taman Ueno kami berada saat ini. Duduk di rerumputan di pinggiran tanah lapang tepat di bawah naungan pepohonan Sakura yang memang sengaja di soroti lampu agar ketika malam tiba pun keindahannya masih nampak jelas.

“Tuh! Hanya sedikit orang yang memakai Yukata. Tahun lalu pun kita tak seresmi ini bukan?” keluhku karena kurasa
Yukata tak bisa membuatku bergerak bebas.

“Karena tahun lalu tak seistimewa ini, Namika-chan.”

Kontan saja, kata-katanya membuatku serta merta menatap lekat wajahnya dengan menyorotkan pandangan ketidakmengertian.

Aku memiringkan kepala seraya mengerutkan dahi.

Dia malah tersenyum lalu mengacak-ngacak rambutku. “Kau nampak manis jika berekspresi begitu.”

“Apanya yang manis?” Sontak pipiku bersemu merah. Kupalingkan wajah ke arah lain. Aku malu dan...berdebar-debar. Eh?
Kenapa seperti ini perasaanku?

Jeda sesaat diisi keheningan. Hanya suara riuh para Penonton yang sama seperti kami duduk di bawah pohon Sakura
sambil menunggu kembang api bertaburan di langit gelap, yang terdengar.

Tak seistimewa... Tak seistimewa? Kata-kata itu terngiang-ngiang di kepala. Medesak untuk dipertanyakan pada pemuda di sebelahku. Tapi aku takut.

Duarrr!!!

Kembang api sudah meledak di angkasa begitu indah dengan sinarnya yang bertebaran warna-warni. Aku mendongak dan tanpa sadar kaki ini sudah berdiri saking terkagum-kagumnya diriku akan keindahan kembang api di atas sana.
Sorak sorai tepuk tangan dan pekikan kagum orang-orang tak mengurangi rasa senangku ketika selama bermenit-menit kembang api itu menghiasi langit hitam nan gelap tanpa awan yang berarak.

Deg!

Dadaku langsung merasa seperti melompat keluar ketika tiba-tiba kurasakan tangan Huchoru-kun menyampir di bahuku. Aku langsung menoleh ke arahnya. Karena ini untuk yang pertama kalinya dia merangkulku. Biasanya kami hanya saling berpegangan tangan atau paling-paling aku merebahkan kepalaku di bahunya sambil bercurhat-ria. Tapi sekarang...

“Mari kita pacaran,” ucapnya tepat di telingaku. Angin hangat yang berhembus dari mulutnya menyeruak merasuk hingga
membekukan tubuhku. “Aku memintamu menjadi pacarku dan kau harus mau.”

Di riuhnya taman Ueno, kami saling memandang lekat satu sama lain. Seolah segala hiruk pikuk ini tak ada sama sekali di sekeliling kami. Lengannya yang masih merangkul semakin dia eratkan membuat tubuh kami tak ada jarak.

Kata-katanya yang berkesan memaksa tak memperoleh jawaban karena bibirku terlalu beku hingga susah untuk bicara.
Inikah yang dia maksud istimewa tadi? Ternyata dia benar-benar memintaku menjadi kekasihnya dan tak kuduga dia akan melakukannya di saat ini. Ternyata Huchoru-kun romantis juga....

“Baiklah. Mari kita pacaran. Dan semoga hubungan ini berlangsung selamanya.”

“Salah! Bukan semoga tapi memang harus berlangsung selamanya.”

Sekali lagi pipiku merona. Ya ampun... Huchoru-kun... Sikapmu ini benar-benar membuatku berdebar-debar. Sekarang aku
yakin, aku memang menyukaimu. Aku mencintaimu Huchoru-kun.

Tamat

Karya Pertama yang terbit : Fireflies of Winter




Judul ~ Fireflies of Winter : Kunang-kunang Musim Dingin
No. ISBN : 9786027724518
Penulis : Rafandha dkk
Penerbit : Ping!!! (lini DIVA Press)
Tanggal terbit : Maret 2013
Jumlah Halaman : 192
Harga : Rp. 30.000,-

“Apa yang sedang kau lakukan?”
“Mencari kunang-kunang.”
“Di musim dingin seperti ini?”
“Kenapa?”
“Ah, Eun Woo, mengapa kau pikir di musim dingin ada kunang-kunang?”

Eun Woo yakin jika ia suatu saat akan menemukan kunang-kunang di musim dingin seperti yang pernah dibawakan ayahnya. Hewan-hewan yang bercahaya kuning yang beterbangan dalam sebuah toples. Ia tak mau mendengarkan kata-kata Min Ho dan memutuskan pergi ke sebuah hutan di Damyang di pertengahan bulan Desember. Lalu mungkinkah Eun Woo bisa menangkap seekor kunang-kunang? Sebuah ending tak terduga dihadirkan oleh Rafandha si pemenang Lomba Cerpen #kpop 2013 ini. Dan masih banyak kisah romantis lainnya yang nggak boleh kamu lewatkan.

Digital Love [Bukan Hanya Lewat Kata]



Siapa bilang bahasa membatasi kita dalam sebuah jalinan pertemanan? Asal kau bisa cerdik dalam menyikapi keterbatasan maka kau bisa menemukan banyak cara untuk menjebol dinding keterbatasan.

Hal itu terjadi padaku dan padanya, seorang pria yang tinggal di belahan dunia lain bernama Shan. Dia berasal dari Srilangka namun tinggal di London untuk suatu pekerjaan. Kami berkenalan sejak tahun 2009, entah dari mana dia bisa menambahkan pertemanan di akun Facebook-ku dan dulu karena jumlah teman Facebook-ku masih sangat sedikit maka aku mengkonfirmasi permintaan pertemanan darinya tanpa melihat profil dia dari mana.

Waktu berlalu... dan dulu—sampai sekarang juga sih—aku sering online di malam hari—sampai sekarang aku masih sering insomnia. Larut malam dia suka menuliskan pesan di chatroom akan tetapi aku yang tak terlalu fasih berbahasa Inggris hanya menjawab sebisaku. Aku juga tak bisa mengandalkan Google Translate karena dulu aku belum tahu bahwa aplikasi itu ada.

Dia suka bercerita banyak hal. Tentang pekerjaannya, keluarganya dan terkadang mengajariku bahasa Maralayam, bahasa yang sering dipakai oleh orang-orang di daerah asalnya. Begitu pula denganku. Aku kadang menuliskan bahasa Indonesia dan mengimbuhkan juga artinya dalam bahasa Inggris. Meskipun begitu aku masih merasa tak bisa leluasa dan ekspresif dalam mengungkapkan apa yang ingin kukatakan kepadanya karena keterbatasan kemampuanku. Memang aku lumayan mengerti akan apa yang dia ceritakan namun untuk menjawab, aish! Aku tak fasih.

Suatu ketika aku mempunyai hobi baru setelah membeli sebuah Handphone berkamera—terus terang saja dulu aku tak memiliki Handphone. Hobiku adalah selalu memotret tempat-tempat atau apa pun objek yang menarik perhatianku lalu ku-posting ke akun Facebook-ku. Di situlah dimulai interaksi kami dengan cara lain. Lewat foto-foto itu aku bisa mengungkap segala yang ingin orang lain tahu tanpa kuharus berbicara. Gambar adalah media universal yang bisa dimengerti manusia entah di mana pun dia tinggal. Begitu pula dengan Shan. Dia sering mengkomentari apa yang ku-posting dan memberikan tag foto juga padaku. Foto-foto tentang lokasi di mana dia bekerja, tempatnya tinggalnya atau foto aktifitasnya di sana. Foto yang lucu dan ekspresif itu sungguh menghibur dan menarik untuk dilihat. Terlebih lagi batasan bahasa yang kupunya yang karenanya tak bisa membuatku bertanya banyak hal tentangnya kini terkikis lewat foto. Foto-foto yang dia buat membuatku mengenal banyak hal tentangnya. Aku menyukainya. Dan kini... aku merindukannya.

Sejak beberapa bulan lalu tepatnya sekitar November 2012, aku tak lagi menangkap penampakan dirinya di aku Facebook. Seperti angin dia menghilang. Sampai sekarang pun setiap kutengok akunnya dia tak pernah mem-posting ¬apapun lagi. Padahal selama 3 tahunan aku berhubungan dengannya tak pernah sekalipun dia absen muncul di jejaring sosial terpopuler itu. Meski hanya sekali posting atau menyapa ‘hai’ pokoknya dia pasti muncul. Tapi sekarang sudah sekian bulan berlalu tak kulihat lagi sosoknya dan foto-foto menarik darinya.

Kenapa dia tiba-tiba menghilang? Ada sesuatu yang terjadi kah? Jawaban itu sepertinya hanya Tuhan dan dirinya sendiri yang tahu.

Kamis, 16 Mei 2013

SEASONS: Spring Flower


Ini lagu yang mendasari munculnya ide novelku yang berjudul 'Haru no Hana' terbitan DIVA Press lini De TEENS yang sebentar lagi bakal terbit sekitar bulan Juni nanti.



Jin Akanishi ~ Seasons

Kirei ni saita haru no hana
Boku no me ni wa so utsuranai
Kimi ga koko ni inainara
Kono sekai ni miru mono wanai nothing matters
So now I' m sitting in the dark
Missing your light that you brought to my life and it just ain' t fair
Kimi ni todoku you ni I swear

I'd rather have a rainy day with you than seein' sunshine alone
Or have a hundred days of winter with you in my arms
I' ll be your shelter from the storm just to have you by my side
Ima aerunara
Ima aerunara

Ima mo utsukushii kagayaki miru tabi ni
Kimi no hohoemi omoidasazu ni Irarenai
Kimi no kake-ra o atsume teshimau
Kasumu kioku no nakade wa aerunoni

I' d rather have a rainy day with you than seein' sunshine alone
Or have a hundred days of winter with you in my arms
I' ll be your shelter from the storm just to have you by my side
Ima aerunara
Ima aerunara

I need you back with me baby
So baby come back to me
So would you come back to me
You know ima my life without you kaketa ai no uta

Ima natta no imi o anata ni utau to shitara
Anata e to utau watashi no kotonoha wa
Dakishimeta kazu dake kizutsuite kudeshou

I' d rather have a rainy day with you than seein' sunshine alone
Or have a hundred days of winter with you in my arms
I' ll be your shelter from the storm just to have you by my side
Ima aerunara
Ima aerunara

English Translation

The spring flowers are born beautifully
But this image does not appear that way in my eyes
If you're not here
I see nothing in this world nothing matters
So now i'm sitting in the darkness
Missing the light that you brought to my life and it just ain't there
I'll catch you up.. I swear

I'd rather have a rainy day with you than see the sunshine alone
Or have a hundred days of winter with you here in my arms
I'll be your shelter from the storm just to have you by my side
If i could find you
If i could find you

Now every time i see a beautiful shine
I just remember her smile
I just picking up your pieces
I'll meet you in the midst of vague memories

I'd rather have a rainy day with you than see the sunshine alone
Or have a hundred days of winter with you here in my arms
I'll be your shelter from the storm just to have you by my side
If i could find you
If i could find you

I need you back to me baby (baby)
So baby come back to me
So would you come back to me
You know.... Now... My life without you a broken love song

If i sing a song with your meaning
My words sung to you
The amount of hugs will only hurt me more

I'd rather have a rainy day with you than see the sunshine alone
Or have a hundred days of winter with you here in my arms
I'll be your shelter from the storm just to have you by my side
If i could find you
If i could find you

EXO - What Is Love


ROMANIZATION

Girl, I can’t explain what I feel
Oh baby my baby, baby, baby, baby yeah

haruga machi ilbunchorom neukkyojige mandeulji
nomanisseumyon yonghwasoge juin-gong
nol borodallyoganeun eksyonsinirado jjigeulgot chorom nan machi yongungi dwen gotchorom

non nege wanbyok sangsanghebwasso
hamkkeramyon ottolkka yeah
nan noman gwenchantago malhejumyon modu wanbyokhe oh baby

I lost my mind noreul choeummannasseultte
no hanappego modeun-goseun get in slow motion
nege mar-hejwo ige sarangiramyon

meil geudewa sumaneun gamjongdeureul-lanwojugo bewogamyo
ssaugo ulgo anajugo
nege mar-hejwo ige sarangiramyon

sesangnamjadeul modu nalburowohe
noreul gajin nega jiltuna jukgennabwa
hega gado dari gado jolde anbyonhe
nan bogiboda ujikhage mideullamjaraneun-gol
non algedweltenikka

I don’t know why joldejogin igamjong
nega senggakjocha hesseulkka
ne gyote isseultte nan jomjom dedanhan namjaga dwedo bitnaneun gol

I lost my mind noreul choeummannasseultte
no hanappego modeun-goseun get in slow motion
nege mar-hejwo ige sarangiramyon

meil geudewa sumaneun gamjongdeureul-lanwojugo bewogamyo
ssaugo ulgo anajugo
nege mar-hejwo ige sarangiramyon

ganjor-hi barago barandamyon
i-rwojilkka donghwayegichorom
yongwonhan dulmane happy ending happily ever after
namaneun nol midojugo jikyojugo dallejulkke
nipyoni dwelkke
nigyoteso jolde anttona

I lost my mind noreul choeummannasseultte
no hanappego modeun-goseun get in slow motion
nege mar-hejwo ige sarangiramyon

meil geudewa sumaneun gamjongdeureul-lanwojugo bewogamyo
ssaugo ulgo anajugo
nege mar-hejwo ige sarangiramyon

sesangnamjadeul modu nalburowohe
noreul gajin nega jiltuna jukgennabwa
My babe, baby babe, baby baby
nolaraboneun-gol ige sarangin-gol
aichorom nol jaju utgemandeulgo
chingguchorom nol gajang pyonhage mandeulkkoya
My babe, baby babe, baby baby
mar-hejwo nege what is love

ENGLISH

Girl, I can’t explain what I feel.
Oh baby my baby, baby, baby, baby.. yeah.

Making a day feel like a minute
With you, I’m the main character of a movie
As if I’m about to film an action scene to come see you, as if I’ve become a hero

You’re perfect to me, I imagined
How would it be if we were together?
If only you say okay, everything is perfect, oh baby

* I lost my mind, the moment I saw you
Except you, everything get in slow montion
Tell me, if this is love
Sharing and learning countless emotions everyday with you Fighting, crying and hugging
Tell me, if this is love

All the guys in the world are jealous of me
They must be jealous to death of me, for having you
Even after the sun goes down and moon goes down, it will never change
You will find out that I’m a guy whom you can trust

I don’t know why, this unconditional emotion
Did I ever imagine?
Next to me, your shine more brightly as I become a better guy

* I lost my mind, the moment I saw you
Except you, everything get in slow montion
Tell me, if this is love
Sharing and learning countless emotions everyday with you Fighting, crying and hugging
Tell me, if this is love

If you wish and wish earnestly
Will it come true, like the fairytales?
A never-ending happy ending, happily ever after
I will trust you, protect you and comfort you
I will be on your side
I will never leave your side

* I lost my mind, the moment I saw you
Except you, everything get in slow montion
Tell me, if this is love
Sharing and learning countless emotions everyday with you Fighting, crying and hugging
Tell me, if this is love

All the guys in the world are jealous of me
They must be jealous to death of me, for having you
My babe, baby babe, baby baby
I can tell, this is love I will make you smile often like a child
I will make you feel the most comfortable, like a friend
My babe, baby babe, baby baby
Tell me, what is love

INDONESIAN

Sayang.. Aku tak mampu untuk menjelaskan apa yang sedang aku rasakan
Oh baby my baby, baby, baby, baby.. yeah.

Karenamu, satu hari terasa seperti hanya satu menit
Ketika bersamamu, aku merasa menjadi seorang karakter utama dalam sebuah film
Rasanya aku adalah seorang pahlawan dalam adegan film action yang akan datang menyelamatkanmu

Kau sempurna bagiku, aku membayangkan…
Bagaimana jadinya jika kita bersama?
Hanya dengan kata oke darimu, semuanya menjadi sempurna, oh baby

*Aku akan kehilangan akal, ketika aku melihatmu
Kecuali dirimu, apapun yang ada didunia ini akan bergerak lambat
Katakanlah padaku, jika yang aku rasakan ini adalah cinta
Berbagi dan belajar berbagai hal yang aku rasakan bersama denganmu
Perjuangan, tangisan dan pelukan
Katakanlah padaku, jika yang aku rasakan ini adalah cinta

Semua pria di dunia cemburu padaku
Mereka pasti cemburu setengah mati padaku
Bahkan hingga matahari dan bulan sudah tenggelam, perasaanku takkan pernah berubah
Kau akan menyadari bahwa akulah seorang pria yang bisa kau percaya

Aku tak tahu mengapa, ini adalah perasaan tak bersyarat
Apakah aku pernah membayangkan hal ini?
Disampingku, kau bersinar lebih terang membuatku menjadi seorang pria yang lebih baik

* Aku akan kehilangan akal, ketika aku melihatmu
Kecuali dirimu, apapun yang ada didunia ini akan bergerak lambat
Katakanlah padaku, jika yang aku rasakan ini adalah cinta
Berbagi dan belajar berbagai hal yang aku rasakan bersama denganmu
Perjuangan, tangisan dan pelukan
Katakanlah padaku, jika yang aku rasakan ini adalah cinta

Jika kau ingin dan mengharapkannya dengan sungguh-sungguh
Akankah semuanya terwujud, seperti cerita dongeng?
Berakhir bahagia, bahagia selamanya
Aku akan mempercayaimu, melindungimu dan menghiburmu
Aku akan berada disampingmu
Aku takkan pernah meninggalkanmu

* Aku akan kehilangan akal, ketika aku melihatmu
Kecuali dirimu, apapun yang ada didunia ini akan bergerak lambat
Katakanlah padaku, jika yang aku rasakan ini adalah cinta
Berbagi dan belajar berbagai hal yang aku rasakan bersama denganmu
Perjuangan, tangisan dan pelukan
Katakanlah padaku, jika yang aku rasakan ini adalah cinta

Semua pria di dunia cemburu padaku
Mereka pasti cemburu setengah mati padaku
Aku bisa mengatakannya, yang ku rasakan ini memang cinta
Aku akan membuatmu tertawa sesering mungkin, seperti seorang anak kecil
Aku akan membuatmu merasa lebih nyaman, seperti seorang teman
Jelaskanlah padaku apa itu cinta..

English taken from pop!gasa

Translated & Edited to INDO by ciwbaik.wordpress.com


Hanafubuki



Rasa senang perlahan merayap. Membuatku menghela nafas lega. Malam telah lama datang. Bukannya aku beristirahat tapi malah memilih untuk mengendap-endap keluar dari kamar pesakitan.

Terus berjalan dengan susah payah dan berusaha seminim mungkin mengeluarkan suara yang ditimbulkan hentakan kakiku. Tak mau perawat memergokiku dan menyeretku kembali ke kamar pengap itu, aku terus melangkah menuju taman yang berada tepat di tengah-tengah rumah sakit.

Sungguh! Ini harus kulakukan. Aku sudah merasa muak dengan bau obat yang menyeruak di kamar. Aku sudah lelah tersenyum ceria, sok kuat pada orang-orang yang memandangku kasihan. Aku hanya ingin menjadi diriku. Diriku sebenarnya yang sebetulnya lemah dan butuh penghiburan bukannya terus terkungkung dalam bangsal sesak penuh bau menyengat.

Tertatih-tatih sambil menghimpun sisa kekuatan yang kumiliki, aku terus melangkah dengan kaki gemetar. Ini bukan misi melarikan diri. Aku hanya ingin keluar sebentar. Hanya semalam saja sebelum besok siksaan berat kembali menghantam. Mungkin saja kan, besok aku tak lagi bisa melihat dunia? Mengingat besok aku akan menjalani operasi yang menentukan hidup dan matiku. Yah, kalau perkiraanku menjadi kenyataan aku malah berlega hati, rasa sakit yang menggerogoti dan sudah lama menyiksaku ini tak lagi bisa menyerang. Aku pasti akan menuju ke alam yang lebih damai. Ini sikap putus asa memang, tapi aku sungguh-sungguh sudah lelah. Dan untuk yang terakhir kalinya aku ingin melihat sakura mekar meski kesempatan itu datang di malam hari—karena di siang hari aku tak diperbolehkan keluar kamar dan pastinya taman akan penuh dengan orang-orang.

“Sampai...,” gumamku lirih seraya menatap hamparan rerumputan yang tertata apik, bebatuan yang mengelilingi kolam kecil dimana nampak bambu berayun naik turun sesuai dengan debit air yang terisi dan yang terpenting pohon sakura yang menjulang tinggi dengan bunga-bunganya yang berwarna pink berada di tengah-tengah seolah dia menjadi pusat pemandangan menarik dari semua tanaman yang tumbuh di sekelilingnya.

Aku yang sempat terpaku kembali melanjutkan langkah. Menuju ke sebuah kursi taman yang terletak tepat di bawah pohon sakura yang nampak jelas karena lampu-lampu yang menyoroti semua penjuru taman.

Duduk disini sendirian rasanya nyaman walau terselip hawa kesepian. Andai aku tak mendekam terlalu lama di bangunan yang didominasi warna putih itu. Pasti hari-hari dimana sakura mekar seperti sekarang, aku sudah duduk bersama-sama kaa-san , tou-san dan nee-chan di bawah pohon sakura di taman Ueno untuk merayakan Hanami . Hahhh... Kapan ya aku merayakan hanami seperti itu? Sepertinya sudah sangat lama aku tak lagi menghabiskan waktu untuk sekedar berlibur dengan keluarga.

“Hei, kenapa duduk sendirian malam-malam begini? Apa kau tak takut diculik hantu?” Suara seseorang membuat bayanganku mengabur lenyap.

Kutatap dia dengan wajah tak suka. Kesendirianku terganggu oleh sosok asing berambut awut-awutan yang di tangannya sedang membawa setoples entah apa itu isinya.

“Hantu? Orang sepertiku sudah tak merasa takut dengan ‘calon teman’nya,” sahutku dengan muka datar.

Ternyata ide kabur diam-diam ke taman tak hanya aku yang memikirkannya, dia pun juga. Dan sekarang kami bertemu, saling menatap dengan sorot menelisik lalu duduk bersebelahan. Sungguh tak terduga.

“Sepertinya kau ini pasien berpenyakit kronis ya? Kelihatan sekali dari keputusasaan yang secara tak langsung kau utarakan.” Dia tersenyum sambil meletakkan toples kaca itu di sampingnya.

Aku hendak menanggapi celotehnya yang lumayan menohok tapi begitu melihat isi dalam toples kaca, aku malah terkekeh.

“Tsuru ? Masih percaya dengan takhayul rupanya?” ejekku dan suaraku semakin terbahak tapi ekspresi yang dia tunjukkan
tak sesuai dugaan. Tak nampak amarah atau rasa jengkel muncul di raut wajahnya.

“Ini bukan takhayul atau dongeng anak-anak. Tsuru kertas ini adalah doa dan api penyemangat, nona,” sanggahnya seraya menatap toples itu lekat-lekat.

Ucapannya membungkamku. Ah, bukan! Bukan kata-katanya yang membuatku tak bisa menyahut tapi ekspresi di wajahnya. Lampu neon yang menyorot pohon sakura dan kami, membuatku jelas dapat melihat betapa seburat merah di pipinya itu muncul tiba-tiba. Wajahnya melembut begitu tatapan mata itu tertumbuk pada benda kecil-kecil di dalam toples. Apakah tsuru kertas itu buatan seseorang yang begitu dia sayang? Sampai-sampai ekspresinya berubah seperti orang yang dilanda kasmaran.

“Jangan-jangan kau tak mengerti esensi dari mitos tsuru? Ini tak sekedar sebuah ritual untuk meminta sesuatu. Apa kau tahu? Setiap hari Hirano melipat kertas-kertas kecil ini setelah sebelumnya menorehkan kata-kata penyemangat di dalamnya. Dia menuliskan permohonan. Doa, agar aku cepat sembuh. Kesungguhan hatinya sangat tersampaikan dan membuatku terharu.” Dia menghela nafas sesaat, melirik bunga-bunga yang menempel di dahan yang berada tepat di atas kami lalu beralih menatapku dan kembali berucap, “Bukan 1000 tsuru kertasnya yang membuat permohonan si pembuat terkabul tapi kesungguhan hatinya lah yang membuat keinginannya yang tulus menjadi kenyataan.” Tangannya memutar-mutar tutup toples dan mengeluarkan satu bangau kertas selanjutkan dia berikan padaku. “Bukalah.”
Aku mengernyit bingung seraya menerima tsuru itu. Kubuka lipatan-lipatan pada kertas dan seketika terpaku menatap kalimat yang tertoreh di dalamnya. “Taro-kun , kau pasti akan sembuh! Kau kan sekuat Tora . Jadi, terus berjuang ya?!” Aku berbisik lirih membaca tulisan dari gadis bernama Hirano.

Pasti sangat melelahkan menulisi satu-satu lembaran-lembaran kertas lipat sebanyak itu dan setelahnya melipat dengan teknik lipatan yang serumit ini. Aku saja terharu melihatnya apalagi pemuda itu. Pantas dia bersemu bahagia tadi.
“Kau beruntung ya? Pacarmu sangat menyayangimu,” ucapku lirih sambil kembali melipat kertas ini ke bentuk semula. Aku menuduk. Mataku terfokus pada apa yang kupegang tapi rasanya hatiku mendadak sakit. Aku... Aku merasa... Iri!

Kudengar kursi berdecit lirih dan kurasakan pergerakan darinya. Dia berdiri tepat di depanku.

“Kau ini tak bisa membuat origami tsuru ya? Sini, biar aku saja.” Dia merampas apa yang selama semenit lebih ini
kutekuni tapi tak kunjung berhasil melipat sama persis seperti tadi.

Mau tak mau aku mendongak menatapnya. Ternyata, jika diperhatikan dengan seksama dia nampak gagah dan... tampan. Kenapa tadi tak kusadari?

“Kenapa? Baru sadar aku tampan?” ucapnya narsis begitu menyadari sedang kupandangi.

“Eh? Ti-tidak kok. Siapa juga yang melihatmu. Aku hanya mengamati cara membuat tsuru,” sahutku gugup.

Dia mengangkat alisnya. “Ternyata kau benar-benar tak bisa melipat tsuru ya? Baru tahu aku, kalau ada orang Jepang yang tak bisa membuatnya. Nona, kau tak pernah diajari di sekolah?”

Eh? Awal-awal pertemuan tadi kupikir dia itu orang yang ramah dan lembut ternyata aslinya seketus ini? Narsis pula!
Cih! Waktu menikmati sakura yang sangat susah kudapatkan menjadi sia-sia karena dia. Menyebalkan!

“Memangnya kenapa kalau aku tak bisa melipat kertas hah? Aku memang tak pernah sekolah!” Aku menyahut tak kalah ketus.

“Mana ada orang yang tak pernah sekolah?” Dia bertanya dengan wajah terheran-heran. Aktifitasnya melipat tertunda.

Dia duduk lagi menjejeriku tapi kali ini lebih dekat bahkan siku kami saling bersinggungan.

Aku menyadari bahwa reaksiku barusan berlebihan, “Tidak sepenuhnya tak pernah sekolah sih. Tapi karena aku memang lemah sejak lahir jadi lebih sering membolos berhari-hari untuk memeriksakan diri di rumah sakit atau beristirahat di rumah. Hingga akhirnya aku merasa percuma sekolah. Jadi aku tak mau sekolah lagi.” Aku mengaku. Luka lama kembali muncul, membuat hatiku sedih dan dadaku sakit ketika menceritakannya. Tapi kenapa aku menceritakan hal ini pada orang asing sih? Tak biasanya aku berkata-kata sebanyak ini kepada orang—termasuk keluargaku sendiri.

“Kau tahu? Hirano sering bilang, tak ada yang percuma di dunia. Semua yang kita lakukan pasti berdampak. Setidaknya dengan bersekolah kau bisa merasa lebih hidup ‘kan? Bertemu dengan banyak orang, mendapatkan teman dan tentunya tak kesepian.”

“Aku tak punya dan tak mungkin mendapat teman,” sanggahku cepat. “Tak ada yang mengingatku karena aku jarang muncul. Aku ada atau tidak pun tak berarti apa-apa bagi mereka. Jadi kehadiranku itu tak berpengaruh apa-apa?! Tak berdampak! Percuma! Sejak kecil aku terlahir dengan fungsi jantung yang tak normal. Setiap waktu harus menikmati pemandangan rumah sakit yang menjemukan, melihat ekspresi murung orang-orang di sekitar dan terlebih lagi... aku... selalu merasa was-was dengan kematian yang setiap saat mengintip. Tahu apa kau tentang penderitaanku? Dan... dan lagi si Hirano itu. Dia tak pernah merasakan hal sama denganku jadi segampang itu dia bisa berbicara!” sangkalku dalam sekali tarikan nafas. Aku terengah-engah dan dadaku seketika terasa seperti ditusuk-tusuk. Emosiku sepertinya sudah tak terbendung. Segala perasaan yang terpendam dalam hati tumpah begitu saja di hadapan orang asing yang bahkan belum memperkenalkan diri.

Raut mukanya menujukkan keterkejutan tapi cuma sesaat. Beberapa detik kemudian dia kembali tersenyum. Terlihat lembut. Sontak aku menjadi merasa bersalah.

“Hirano pasti tahu apa yang kau rasakan. Karena dia mengerti betul bagaimana rasanya sakit itulah, dia memberiku ini.” Di sorongkannya toples itu ke arahku. Senyumnya menghilang.

“Maksudnya?”

“Ini benda terakhir yang Hirano berikan padaku sebelum dia meninggal beberapa hari yang lalu. Padahal kami sudah berjanji untuk melihat bunga sakura sama-sama disini sambil menunggu hanafubuki. Tapi Tuhan berkehendak lain.” Dia diam sesaat. Raut kesedihan terpatri jelas. Begitu melihat kelopak bunga gugur. Tangannya terulur menadah, berusaha menangkap kelopak yang terjatuh perlahan itu. “Hirano mengidap leukimia. Untuk sembuh, dia membutuhkan cangkongan sumsum tulang belakang dan sangat susah menemukan orang yang cocok sebagai pendonor. Sedangkan aku hanyalah orang yang kebetulan seruangan dengannya yang sama-sama menderita sebuah penyakit. Dulu aku sepertimu. Pesimis. Putus asa dalam menjalani hidup. Tapi begitu mengenal Hirano semangat hidupku kembali meletup-letup. Aku beruntung bertemu dengannya. Kalau tidak, pasti sekarang aku sudah mati dalam keputusasaan. Hidupnya memang singkat tapi sangat membekas terutama dalam ingatanku. Aku berhutang nyawa padanya. Jantungku ini pemberiannya dan semangat yang kurasakan sekarang juga berkat dirinya. Jadi jangan manja, nona. Semangat hiduplah yang membuat seseorang merasa hidup. Nikmatilah hidupmu semaksimal mungkin.” Dia mengusap-usap rambutku lembut. Membuatku merona. Kikuk.

“Ak-Akanishi. Yukio Akanishi namaku, bukan nona.”

“Akanishi ya? Salam kenal. Namaku Shotaro Akichi.” Tangannya terulur menunggu tanganku menjabatnya.

Ini adalah permulaan persahabatan kami. Hingga langit berubah warna menjadi kebiruan, kami tetap berada disini. Berbicara, bercanda dan menikmati bunga-bunga yang mendominasi ranting-ranting yang menaungi kami.

Sebelum kami kembali ke tempat kami masing-masing, janjinya yang tak terpenuhi pada Hirano, dia layangkan padaku. Dia ingin kami kembali bertemu saat hanafubuki tiba. Menikmati kelopak-kelopak indah itu berguguran seraya melanjutkan obrolan-obrolan panjang yang mengasyikkan.

“Aku akan datang ke pohon itu Akichi. Pasti.” Kembali kuucapkan sumpahku dalam hati lalu memejamkan mata karena rasa kantuk yang mendera. Entah mengapa, kamar yang paling kubenci dan selalu saja tak dapat membuatku tidur nyenyak ini, kini terasa nyaman. Mendamaikan.

***

Mataku terbelalak tapi langsung memicing begitu menatap lampu di atap yang terasa sangat menyilaukan. Kuedarkan pandanganku dan kutemukan dokter yang sepertinya sudah selesai memeriksaku, kaa-san, tou-san dan nee-chan juga ada di sekelilingku. Lontaran kata-kata sukacita dan pelukan-pelukan hangat aku terima begitu dokter menyimpulkan bahwa aku sudah melewati masa kritis.

Hatiku pun ikut bahagia. Terlebih ketika kurasakan tubuhku seolah lebih ringan. Tak ada nafas yang terputus-putus karena dada sesak dan pastinya rasa sakit yang menusuk tak lagi menyerang. Aku hidup kembali. Operasi transplatansinya berhasil. Dan itu artinya aku menjadi gadis normal. Bisa melakukan banyak aktifitas yang kusukai, bersekolah dan..., Eh? Tora! Untung saja aku teringat dengannya juga janji kami.

Serta merta aku bertanya, “Kaa-san, musim sakura mekar masih ada ‘kan?”

“Eh? Kenapa Yuki-chan tiba-tiba bertanya soal sakura?” Nee-chan menimpali dan tou-san serta kaa-san hanya menatapku bingung.

“Jawab saja!” pintaku tak sabar seraya bangun dari ranjang dan bersiap-siap turun.

“Eh-eh! Yuki-chan, kau baru siuman jangan langsung bangun. Kau ini kenapa sih? Panik begitu.”

Tanpa menunggu jawaban yang tak kunjung datang aku langsung berjalan menuju pintu keluar tapi cengeraman tangan
mereka sungguh menunda maksudku, “Lepaskan aku. Ku mohon. Aku ada janji melihat hanafubuki.” Aku berontak, berusaha melepaskan cengeraman mereka.

“Janji? Dengan siapa?”

“Akichi. Aku ingin bertemu.” Aku kembali membujuk mereka.

Masih dengan saling menatap bingung akhirnya cengekeraman ini lepas sudah. Kontan aku langsung berlari menuju taman. Kuharap aku tak terlambat. Pohon sakura, kumohon jangan gugurkan bungamu sebelum aku datang.

Bunga-bunga sakura yang dulu mendominasi semua dahan-dahan kini tak nampak lagi. Seluruh permukaan pohon dipenuhi daun-daun hijau. Terlebih lagi tak kulihat Shotaro Akichi di kursi itu.

Tentu saja dia tak ada. Hanafubuki sudah lewat. Janji kami sudah kedaluarsa karena aku tak datang. Namun... tetap saja aku merasa kecewa. Pohon tak mungkin bisa menunggu tapi Tora, kenapa tak menungguku? Aku ingin bertemu! Aku ingin menceritakan bahwa semangat hidupku sudah kembali. Aku mendapatkan jantung baru dan tentu saja yang terpenting dari semuanya aku ingin lebih dekat dengannya. Walau hanya sekali itu bertemu tapi aku merasa suka. “Aku menyukai
Tora. Ingin bertemu Tora.” Tanpa sadar mulutku mengeluarkan suara. Airmataku tak terbendung lagi, mengalir deras tanpa bisa berhenti.

“Kenapa kau tak menungguku? Dan bodohnya aku, kenapa waktu itu tak bertanya tentang rumah dan asal usulmu? Kenapa? Kenapa? Kalau begini aku tak bisa mencarimu Tora!” Kakiku melemas dan membuatku duduk berjongkok seraya menyembunyikan wajah di antara lutut.

***

Minggu demi minggu berlalu... Sesuai dengan nasehat seseorang, aku berusaha untuk menikmati hidupku. Melakukan apa yang kusuka dan tentu saja kembali bersekolah.

Aku tertegun lama. Melamun dengan sorot mata yang tak beralih dari pintu gerbang utama Tokyo gakuen . Bukannya aku gugup untuk melangkah lebih jauh dan merasakan lingkungan yang baru tapi entah mengapa melihat bangunan sekolah itu aku jadi teringat Akichi.

“Bahkan usiamu saja aku tak tahu,” gumamku lirih. Perasaanku sendu.

“Hahhh... Tarik nafas... Hembuskan... Ya, sudah cukup persiapannya. Jangan gugup saat memperkenalkan diri Yukio! Ganbatte! ” ucapku pada diri sendiri di depan pintu kelas. Tinggal menunggu Matsuda-sensei menyuruhku masuk maka

perjuangan di sekolah baru resmi dimulai.

“Ayo masuk,” perintah sensei begitu membukakan pintu. Aku hanya mengangguk seraya melangkahkan kaki.

“Anak-anak inilah teman baru kalian,” ujar Matsuda-sensei berusaha menguasai keadaan yang tadi sempat sedikit riuh begitu aku masuk. “Akanishi, silakan memperkenalkan diri.”

“Ba-baik.” Aku membungkuk singkat pada Matsuda-sensei lalu memutar arah menghadap murid-murid 1A yang tak lagi mengeluarkan suara sedikitpun. “Wa-watashiwa wa —“ Begitu aku melayangkan pandang ke arah puluhan murid, seketika mataku tertumbuk pada wajah yang sangat kukenal. “Sho-Shotaro Akichi?!” pekikku kaget. Buru-buru aku membungkam mulutku saat kusadari keterkejutanku membuat mereka menatapku aneh.

Akichi menegakkan badan lalu tersenyum kepadaku. Membuatku seketika merasa diguyuri ribuan kelopak bunga. Hatiku bersorak gembira. Rasanya aku ingin berlari ke arahnya dan memeluknya erat.

Dia ada disini. Satu sekolah denganku. Tak ada lagi rasa kecewa di hati karena takdir sudah berbaik hati mempertemukan kami. Akichi, kuharap ini adalah sebuah pertanda bahwa kita terhubung. Pertemuan pertama bisa disebut kebetulan tapi untuk yang kedua, boleh ‘kan aku mengatakan bahwa kita berjodoh?

Sepertinya musim semi tahun depan aku bisa menikmati hanafubuki yang tertunda nih, batinku girang. Tak apa jika aku menjadi terlalu percaya diri. Kan, takdir sudah mengatakan dengan jelas bahwa kami berjodoh. [ ]

Senin, 25 Februari 2013

Curug 7 Bidadari: Setiap Tempat Punya Cerita [Hana Pratiwi]





Curug 7 Bidadari berada di daerah Sumowono dan 3 jam perjalanan dari Semarang, naik motor. Pegel banget dah. Untungnya pas ke sana aku diboncengin Adek, jadi nggak capek-capek amat. Aku ke sana bareng ke 5 teman-temanku. Kalau capek di perjalanan kami berhenti sejenak lalu kembali lanjut jalan kalau capeknya udah ilang. Tapi asyik lho... coz bisa lebih leluasa mengamati pemandangan sekitar yang masih asri banyak pepohonan.

Tiket masuk cuma 4000 rupiah aja. Murah, 'kan? Apalagi kalau ngeliat pemadangan air terjun yang lumayan lebar dengan airnya yang masih jernih itu. Pokoknya capek-capek dalam perjalanan dijamin langsung ilang deh. Sejuk, airnya dingin, pemandangan indah. Nggak rugi ke sana.

Di sana ada saung sama penjual makanan tentunya, jadi bagi yang nggak bawa bekal bisa beli. Tarifnya bersahabat kok, nggak nyekek leher. Hehehe~

Kenapa disebut air terjun 7 bidadari? Karena kalau dihitung air terjunnya ada 7. Kalau nggak percaya itung sendiri sana.

Penasaran? Penasaran pengen ke sana? Buruan deh ke sana. Tapi cuma menghimbau, jangan ke sana kalau musin hujan. Percuma, airnya jadi keruh coklat soalnya.

Sudah ya... Ceritanya... Sampai jumpa di ceritaku selanjutnya.