Kamis, 06 Juni 2013

Hujan di Bulan Desember





‘Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi dibalik awan hitam...’

Sisi lembut menyerangku di saat aku sedang memikirkanmu. Cukup kusyukuri bahwa perasaan tak tegaku muncul terlambat. Jika sedari tadi, pasti aku takkan ada di sini.
Aku menyandarkan kepala ke jendela. Mengamati rintik hujan di luar sana menabrakkan diri pada kaca hingga terlihatlah anak sungai kecil terasa layaknya lukisan abstrak yang indah namun mampu mengiris hati.
Aku seperti melihat lelehan air matamu yang beberapa saat lalu kutinggalkan tanpa perasaan. Akankah kau masih di sana? Menangis tersedu-sedu seraya menatap punggungku yang perlahan menjauh lalu menghilang. Tak mungkinkan kau masih di sana di saat hujan lebat seperti ini?
Perlahan, semakin aku menatap langit gelap serta rintik hujan yang kian deras, aku semakin mengkawatirkanmu. Karena aku tahu kau gadis yang begitu nekat sekaligus rapuh.
Maafkan aku... Meskipun mungkin kau masih di sana, aku tetap tak mampu menghampirimu. Perpisahan ini adalah jalan satu-satunya bagi kita. Layaknya awan kelabu yang menjatuhkan hujan hingga ke dasar tanah lalu sosoknya perlahan menghilang agar pelangi dapat menampilkan keindahannya. Seperti itulah kita. Demi kau aku rela menghilang agar kau terus ada di sana terlihat indah nan memukau seperti pelangi.

***
‘Semoga ada yang menerangi sisi gelap ini.
Menanti...
Seperti pelangi, setia menunggu hujan reda...’


“Lihatlah, awan mendung di langit itu! Sebentar lagi hujan akan tiba tapi tunggulah selalu ada pelangi sehabis hujan. Meski kau tak selalu tahu dan melihat kemunculannya. Namun percayalah seperti pelangi yang akan tetap membiaskan warna-warna indahnya di langit cerah setelah kegelapan yang disebabkan oleh awan mendung menyelimuti bumi. Seperti itulah kesedihan yang kau derita, suatu saat pasti akan berganti dengan kebahagiaan yang terasa indah,” ujar seorang lelaki berperawakan kecil namun terlihat manis.
Dia memang bukanlah lelaki gagah perkasa yang bisa melindungi gadisnya dengan kekuatan fisik yang hebat. Dia juga bukan tipe lelaki yang dapat dijadikan bahan pamer dengan berjuta kelebihan luar yang mampu memukau mata. namun sikapnya yang selalu sukses menghasilkan rasa nyaman nan hangat bagi yang berada di dekatnya, senyumnya yang terlihat tulus, mata polosnya yang memancarkan kesungguhan merupakan anugerah tersendiri yang dia miliki. Dialah Nathan. Pria lembut yang berperasaan halus.
Gadis yang berdiri di hadapannya, yang tadi ikut serempak mendongak ke langit bersama Nathan beralih menatap lekat lelaki yang berhasil mencuri hatinya. Ada sesuatu yang mengusik benaknya setelah dengan tiba-tiba lelakinya berucap dengan nada rendah nan berat. Belum sempat dia berucap Nathan sudah bersuara.
“Kau akan bahagia. Itu pasti! Percayalah luka yang aku torehkan sekarang takkan berlangsung lama. Selanjutnya hidupmu akan menjadi cemerlang tanpa aku.
Kau adalah Dessy yang hebat dan akan lebih hebat lagi tanpa aku di sisimu karena aku hanyalah menjadi batu sandungan bagi kesuksesanmu. Aku ini awan mendung kelabu yang gemar menghalangi keindahan langit Dessy. Bukan kah awan kelabu ini harus menyingkir agar pelangi bisa muncul?”
Gadis ini mengernyit tak mengerti. Kata-kata Nathan adalah sesuatu yang terasa sulit dia cerna. Apalagi ketika matanya mengamati ekspresi lelakinya yang sendu. Rasa was-was yang muncul di benaknya sedari tadi semakin membesar menjadi rasa takut. Takut akan kehilangan.
“Ap-apa maksudmu, Nath?” Dessy sudah mampu mencerna akan tetapi kini rasa tak percayalah yang menghadangnya untuk bisa mengerti tiap-tiap kata yang terlontar dari bibir Nathan.
Nathan menghela nafas berat, tatapan matanya beralih menyorot hamparan dedaunan pohon Maple yang berayun-ayun terhempas oleh angin lembap nan dingin. Pertanda hujan akan segera datang.
“Pergilah! Ikutlah dengan Mamamu ke Jepang. Di sana kau akan bisa meraih apa yang kau ingini. Segalanya ada untukmu. Jangan bertahan di sini. Di sampingku dan tinggal bersama Papamu yang pemabuk itu. Kami hanyalah pria tak bertanggung jawab yang akan menjadi penghalang bagimu. Kami hanyalah awan gelap yang akan menghalangi keindahan warna-warna pelangimu.”


Suara tenor seorang Pria yang sudah lewat beberapa jam lalu kudengar masih saja terngiang-ngiang dengan jelas. Seolah seperti hantu yang tanpa wujud namun tak juga berhenti bicara. Terus saja mengkumandangkan kata-kata ‘manis’ nan menusuk, membuatku yang menangis dibawah rintik hujan ini semakin merasakan sesak yang amat sangat beserta perih di hati.

Tahu apa kau tentang kebahagiaanku??? Bersama Mama memanglah membuat segala yang kuingini terwujud. Aku tak lagi tersiksa oleh hujaman-hujaman pukulan dari Papaku ketika dia mabuk namun dengan aku pergi, aku juga takkan lagi melihatmu, Nath!

“AKU TAK MAMPU JAUH DARIMU NATHAN BODOH!!!” teriakku mengumbar segala yang yang menyesaki dada. Aku kembali mendongak sambil menitikkan airmata yang tak nampak karena dengan cepat terhapus oleh rintik hujan. “Nath... Aku tak mau pergi,” gumamku. Percuma memang aku berucap demikian. Toh, dia takkan mendengarnya.

“Tapi kau tetap harus pergi. Kalau kau tak pergi, aku akan membencimu!”

Kata-katanya kembali terngiang. Begitu nyata dan menusuk. Seolah Dia masih ada disini. Lama dia bergulat dengan pikirannya sendiri seraya terus saja me-review setiap kata yang meluncur tulus namun dingin dari Nathan. Akhirnya hingga pada satu titik dia mulai mengerti.

“Kau bukan awan gelap Nath. Kau adalah matahari. Meski hujan turun namun jika tak ada matahari yang bersinar terik diatas sana, pelangi takkan muncul. Ketahuilah itu.” Seulas senyum meski getir terukir dibibirku. Aku memejamkan mata. Merasai tiap tetep hujan yang mengenaiku. Tak sakit... Sekarang setelah aku memahami apa yang dia inginkan. Aku tak lagi merasakan sakit.

@@@

‘Sampai nanti ketika hujan tak lagi meneteskan duka, menetas luka.
Sampai hujan memulihkan luka...
Aku...
Selalu suka sehabis hujan dibulan Desember.’


“Selamat tinggal,” gumam Nathan yang mengintip dari jendela ruang tamu. Menatap gadisnya yang diluar sana tepat didepan rumah mungilnya terlihat menyeret koper besar. Gadis itu berhenti melangkah ketika dia sampai di ambang pintu Taxi yang akan mengantarnya ke Bandara. Nathan yang merasakan bahwa gadisnya akan menatap ke rumahnya menutup tabir cepat. Dia takut bertemu pandang. Dia takut jika melihat mata Dessy, maka dia akan berlari ke sana dan menghalangi kepergiannya.

“Nath...,” gumam Dessy ketika matanya menatap ke arah rumah tetangga sejak kecil, orang yang selalu melindunginya layaknya seorang Kakak dan perlahan berubah menjadi kekasihnya. Kakinya melangkah perlahan. Menyeberang bermaksud menyambangi rumah yang tertutup itu. Sepucuk surat dia ambil dari dalam tas kecil yang menggantung di bahunya.

Tepat di depan pintu yang pastinya terkunci rapat itu, dia tak ingin mengetuk. Meski sangat ingin dirinya bertemu dan memeluk lelakinya untuk yang terakhir sebelum dia pergi tapi dia tahu dia tak boleh bertemu. Dia takut kakinya terpaku tak mampu meninggalkan tempat ini.

Setelah hembusan nafas berat dan airmata itu dia usap kasar. Dia membungkuk. Berjongkok. Menyelipkan amplop berisi isi hatinya untuk Nathan dari sela-sela daun pintu. Medorong amplop itu kuat-kuat hingga berhasil masuk ke dalam sana. Seraya berdoa dalam hati agar lelakinya mau membaca isi surat itu. “Kuharap kau mau menungguku, Nath.” Dessy berbisik. Selanjutnya dia melangkah pergi dengan langkah terseret tak rela.



Teruntuk Nathan bodoh...

Meski kau ucapkan selamat tinggal padaku, namun bagiku tak ada kata selamat tinggal bagi kisah kita. Yakinlah, tak hanya sampai disini pertemuan kita. Kelak kita akan bertemu lagi dibawah rintik hujan bulan Desember. Tidak dengan isak tangis sedih, namun pertemuan dengan isak tangis bahagia.

Nath, kau bukanlah seperti yang ada dipikiranmu. Kau bukan awan mendung yang menutupi keindahanku tapi kau adalah matahari yang bersinar cerah. Komponen penting selain hujan yang membuat munculnya pelangi yang indah. Ingatlah selalu! Kau Matahariku.

Sampai jumpa... Tunggu kedatanganku...

Dessy~


Sehabis membaca secarik kertas hasil goresan pena Dessy. Sisi rapuhnya muncul tanpa bisa ditahan. Di balik Pintu kokoh ini dia menangis tersedu-sedu. Kakinya melemas hingga duduk tersungkur di lantai rumahnya.
“Entah kapan kau akan datang, aku akan menunggumu, Dessy. Sampai jumpa,” ucapnya disertai dengan isakan pilu. Kertas yang digenggamnya sudah tak berbentuk lagi. Kusut dan basah seolah kertas itu adalah visualisasi hatinya yang remuk dan sedih oleh kepergian kekasihnya.

~TAMAT~

Rain & Rock


Bagus! Hujan datang! Tepat di saat hatiku juga serasa teriris sembilu dan sedang menangis meratapi nasib. Untuk saat ini dengan tegas aku menyatakan, aku benci hujan! Kenapa harus hujan yang datang? Kenapa tak hari yang cerah saja seperti hari-hari kemarin? Ini kan musim semi?! Langit mau menambahi kesedihanku ya?!

Kudongakkan kepala menatap boneka putih sebesar kepalan tangan yang menggantung di atap teras. Padahal kepalanya tak terbalik tapi kenapa hujan muncul. Aish! Kenapa pula aku percaya pada mitos Teru-teru bozu ?

Aku menyandarkan sisi tubuh dan kepalaku pada tiang kayu. Mataku menerawang menatap taman belakang rumahku dengan posisi duduk di teras. Hal yang selalu aku lakukan jika perasaanku sedang tak enak. Biasanya perlahan akan membaik dan kembali ke kondisi semula. Tapi sekarang, karena hujan turun rasanya malah membuatku semakin sedih dan terpuruk.
Air mataku jadi tak bisa berhenti mengalir.

Iya. Aku akui, aku ini gadis cengeng dan terkadang judes tapi ayolah langit... berbaik hatilah sedikit. Hentikan tetesan air yang kau turunkan itu. Atau kau jangan-jangan juga sedang bersedih hati sepertiku?


Hahhh... Teringat lagi peristiwa menyakitkan hati beberapa jam yang lalu. Karena sekarang adalah white day , jadi selama di sekolah tadi, aku menunggu-nunggu balasan perasaan dari seseorang yang sudah 7 bulan ini kusukai diam-diam.
Dia adalah senpai ku di Tokyo gakuen. Murid terpopuler di sekolah. Dia tampan dan berkharisma walau agak sombong tapi aku menyukainya. Namanya Hikaru Oda. Nama yang sangat cocok dengan dirinya yang berarti bintang. Karena dia memang bintang di hatiku dan mungkin di hati banyak siswi perempuan lainnya—dan kenyataan itu sungguh membuatku sangat tidak suka.

Aduh! Kenapa aku malah memuji-muji orang yang membuatku terpuruk begini sih? Namika! Lupakan dia!

Kesedihanku saat ini dimulai tadi karena patah hati. Sebulan lalu Valentine tiba. Dengan menghimpun segenap keberanianku karena ini adalah tahun terakhirnya di sekolah dan moment ini adalah kesempatan berhargaku untuk berhenti menjadi pemuja rahasianya. Aku pun memutuskan untuk menyatakan perasaanku lewat sekotak coklat dan berharap hari ini aku menuai sekotak atau sebungkus permen dari Hikaru-senpai.

Bukan permennya sebenarnya yang kuharapkan tapi balasan perasaan darinya lah yang begitu kuinginkan. Namun semua tak sesuai dengan yang kubayangkan. Dia memang muncul di muka pintu kelasku sepulang sekolah. Dia memang membawa sebungkus permen berpita merah jambu kala itu, tapi sayang itu bukan untukku. Seolah ingin memamerkan pilihan hatinya padaku—juga pada penggemarnya yang lain, dia menyerahkan balasan coklat Valentine itu untuk teman sekelasku dan untukku—yang tadi dengan beraninya bertanya ‘kenapa?’—dia hanya membalas dengan kata, ‘gomenasai ’. Seketika hatiku remuk dan pulang dengan berderaian airmata.

“Senpai kejam! Kalau mau memberikan permen itu untuk Minami kenapa harus menyerahkannya di depan mataku?!” ucapku kesal.

Kuumbar semua kekesalan hati dengan berteriak. Biarlah! Toh! Derasnya hujan membuat suaraku tak terdengar sampai ke dalam rumah. Kalau pun terdengar pastinya hanya ¬Okaa-san¬ saja yang tahu. Tak masalah.

Pintu geser terdengar riuh karena dibuka. Aku tahu itu siapa sehingga tak perlu aku menoleh untuk memastikan siapa yang datang dan pasti akan duduk di dekatku. Kenapa Okaa-san selalu membiarkannya masuk seenaknya ke rumah ini seperti rumah sendiri? Kenapa juga dia tak menggubris perintahku untuk jangan mengangguku dulu? Saat ini aku hanya ingin sendiri.

“Sudah kubilang di telepon, ‘kan? Kau tak perlu datang!” Aku mendengus sebal karena waktuku menyendiri diganggu.

Dia tersenyum—lebih tepatnya menyeringai—setelah sebelumnya mendorongku bergeser lalu duduk di sebelahku. “Karena hanya berdiam diri dan menangis takkan mengurangi rasa sedihmu, jadi aku datang,” sahutnya seraya mengacak-acak rambutku.

Huchoru, pemuda yang tinggal di seberang rumahku ini mendongak, menatap hujan tanpa berkata apa-apa namun dia menggenggam tanganku begitu erat. Serta merta kulitku yang tadinya dingin karena udara di luar sini menjadi terasa hangat. Perlahan kehangatan yang ditimbulkannya tak hanya menghangatkan kulitku namun juga hatiku. Tenanglah hatiku kini. Segala rasa kesal hilang sudah.

Menit-menit berlalu dalam diam. Mungkin dia sedang mencari ilham atau apalah itu.

“Coba kau ulurkan tanganmu,” ucap Huchoru-kun padaku seraya menjulurkan tanganku yang digenggamnya tadi ke depan
untuk menadahkan tetesan hujan yang berjatuhan dari genting teras.

Aku menyedot ingusku yang hampir meler karena kegiatan menangis yang sudah satu jam lewat itu, setelahnya dengan suara sengau berkata, “Untuk apa? Cuci muka?” tanyaku agak ketus sambil menatap tiap tetes hujan yang turun dengan derasnya seolah langit tahu kesedihanku sehingga menurunkan hujan untuk menemaniku menangis—tapi malah membuatku makin sedih dan terpuruk.

Huchoru-kun tersenyum tipis, “Apa tetesan-tetesan ini menyakitimu atau melubangi tanganmu?” Dia malah balik bertanya. Seperti biasa, pasti selanjutnya dia akan mengucapkan kata-kata bijak padaku.

Ucapan yang akan langsung menentramkan di kala duka menyerang namun terkadang membuatku sukses tertohok dengan teguran-teguran yang tepat sasaran dan tanpa basa-basi.

Kali ini dia mau menasehati apa? Membuat hatiku sejuk dengan kata-kata penghiburan setelah aku patah hati ditolak cinta oleh senpai yang kutaksir atau Huchoru-kun akan memberiku nasehat seputar harga diri seorang gadis yang harus dipertahankan dengan tidak menyatakan perasaan secara terang-terangan pada laki-laki? Mengingat dia ini adalah tipe pemuda konvensional, peka, tapi tegas.

Aku pun menjawab, “tentu tidaklah!” sambil tetap memasang ekspresi jual mahal, dengan arah mata yang tak lepas menatap rintikan hujan yang masih konstan menurunkan airnya tanpa mengurangi debitnya. Dalam hati, sebenarnya aku menunggu ucapan Huchoru-kun selanjutnya. Semoga tidak akan membuatku tambah sedih.

“Lihatlah batu itu.” Huchoru-kun menunjuk sebuah batu yang cukup besar di pojokan tepat di bawah ujung genting teras, di antara tobiishi yang sengaja diletakkan oleh Otou-san di depan teras sebagai jalan setapak menuju taman kecil bergaya Shoin di hadapanku sana.

Aku mengamati lekat-lekat sambil terus berpikir tapi belum mengerti maksud yang akan diutarakannya.

“Kau lihatkan permukaan cekung di batu itu? Tetesan hujan lah pelakunya.” Dia menoleh ke arahku. Manik matanya
memberiku kehangatan dan aku kini yakin yang akan meluncur dari bibirnya nanti adalah kata-kata penyemangat yang pasti akan membuatku berhenti bersedih. “Sekali dua kali rintik hujan takkan meninggalkan bekas pada batu yang keras itu, tapi jika batu mendapatkan hantaman kecil dari tetesan hujan selama ribuan bahkan jutaan kali maka kau pasti tahu, ‘kan akibatnya? Membekas cekung bahkan bisa sampai berlubang. Seperti itulah yang harus kau lakukan Namika-chan . Jangan putus asa hanya karena satu kali patah hati. Kali ini perasaanmu tak terbalas mungkin karena perjuanganmu mendapatkan orang yang kau sukai kurang gigih. Kelak jika kau menyukai seseorang yang lain, hantam lah dia dengan segala perhatian dan rasa cinta yang tulus semaksimal mungkin. Aku yakin, layaknya batu yang tergerus karena tetesan hujan yang terus tekun menimpanya, kau juga bisa membuka pintu hati orang yang kau sukai dan memasukinya. Ganbatte , Yuki-chan! Kembalilah menjadi gadis ceria yang kukenal,” ujarnya seraya mengusap-usap lembut kepalaku. Senyuman yang lembut menghiasi bibir tipisnya. Membuatku seketika merona salah tingkah.

Seketika api semangat meletup-letup dalam diriku. Karena dia, sahabat terbaik yang sudah seperti saudaraku sendiri, yang selalu tahu harus mengatakan apa padaku. Dia tak mengucapkan kata-kata yang ingin telingaku dengar tapi dia memberikan nasehat apa yang harus kudengar.

“Arigatou, Huchoru-kun,” ucapku tulus lalu bersandar di bahunya dengan mata yang terus menatap rintik-rintik hujan yang tak kunjung berhenti.

Perasaanku menjadi tenang dan senyuman ceria kembali lagi terukir di bibirku. Ternyata jika hujan dipandangi dengan hati tenang dan bahagia, penuh semangat yang meletup-letup maka hujan tak nampak sesuram tadi.

Hari ini aku menyimpulkan, hujan tak selalu membawa kesedihan. Ada kalanya setiap tetes-tetesan hujan telah membawa makna berharga untuk kehidupan. Khususnya aku. Berkat Huchoru-kun, orang yang selalu menjadi malaikat penolong dan sekaligus pendengar yang baik, aku bisa mendapatkan kenyamanan sekarang. Rasa sedihku langsung sirna hanya dengan kata-katanya yang menyejukkan. Aku sangat bersyukur Tuhan mengirimkan sosok sahabat sepertinya.

Dia seperti malaikat sekarang—walau kadang-kadang dia juga bisa berubah jadi iblis sih. Kata-katanya yang mengalir tanpa konsep namun tepat sasaran sungguh membuatku tak habis pikir secerdas apakah dia. Dapat ide tentang batu itu dari mana? Kenapa dia selalu bisa menjadi seseorang yang bijak dan kenapa aku merasa dia sangat memahamiku? Yang paling penting, kenapa Huchoru-kun selalu bersikap sangat baik? Kenapa dia sangat memerhatikanku? Bahkan ketika sepulang sekolah tadi kami berpapasan di jalan depan rumah lalu melihat wajahku begitu murung dan tak menghiraukan sapaannya, dia pun langsung menelponku beberapa menit kemudian. Setelah mendengar tangisanku—padahal tadi aku sempat membentaknya dengan kasar, dia langsung datang menemuiku. Di sini. Di tempat yang bahkan orang tuaku tak mendekatiku ketika tahu aku sedang bersedih atau marah.

Mendadak banyak pertanyaan ‘kenapa’ bersarang. Menuntutku untuk bertanya secara langsung pada orang yang kini sedang kusandarkan kepalaku padanya. Huchoru-kun.

Aku mengangkat kepala, mengamati wajah lembutnya yang masih saja menatap hamparan taman yang didominasi dengan bebatuan dan sedikit tanaman. Huchoru-kun menyadari ada mata yang mengamatinya lekat-lekat—padahal tadi dia nampak sedang menerawang menatap hujan, kenapa bisa merasakan bahwa ada orang yang sedang memandangnya tanpa berkedip?—dan akhirnya menoleh, “doushite? ” tanyanya penasaran seraya memiringkan kepala sambil menatapku lekat-lekat.

“Emmm... Boleh aku bertanya sesuatu?” Aku langsung menunduk. Kegugupan mulai merambati hati.
Sungguh! Aku bingung harus memulai dengan pertanyaan apa. Tapi betapa bodoh dan tak pekanya aku karena baru merasa penasaran sekarang. Kenapa tidak sejak dulu perasaanku terusik oleh sikapnya yang teramat—mungkin ini berlebihan—mengistimewakanku.

Huchoru-kun mengerjap menatapku, dibarengi dengan kerutan dahi lalu beberapa detik kemudian berucap, “Apa?”

“Kenapa kau begitu memperhatikanku?” Akhirnya satu pertanyaan yang mewakili isi hatiku tersampaikan.

Matanya terbelalak sejenak—sepertinya. Selanjutnya tak lagi menghadapku namun malah berbaring dengan tangan kanannya dijadikan bantal. Setelahnya mendongak ke atap memandangi boneka teru-teru bozu yang menggantung tak tenang karena diombang-ambingkan angin. Keheningan tercipta karena dia terlampau lama mencari jawaban. Bukankah ini pertanyaan yang tak cukup sulit? Tak lebih sulit dari soal logaritma yang selalu sukses membuatku mati kutu. Ayolah Huchoru-kun... jawab pertanyaanku.

“Karena...” Dia menggantung ucapannya. Wajahnya menunjukkan tanda-tanda keraguan ketika dia menoleh ke arahku. “Aku menyukaimu.”

Lirih benar kata-kata yang baru saja terlontar tapi sungguh sangat sukses membuat jantungku langsung terhenyak dan menghasilkan detakan cepat tak terkendali. Kata-kata Huchoru-kun barusan membuatku terbelalak kaget. Seolah seperti guntur yang memekakkan telinga. Aku agak tak percaya dengan ucapannya.

“Eh? Nani? ” Tubuhku menegang dan sontak menegakkan punggung. Pekikan dan refleks tubuh yang pastinya terlambat merespon.

Huchoru-kun bangun dari posisinya yang merebah—singkat. Ekspresinya berkesan tak terdefinisi. Antara gugup, serius, atau takut—mungkin. Senyuman lembut beberapa menit lalu saat mengucapkan kata-kata bijak entah menghilang ke mana. Seperti bukan pemuda yang tadi saja.

“Mungkin ini adalah kata-kata klise yang sering kau dengar di dorama-dorama yang suka kau tonton setiap hari tapi ini jujur dari hatiku. Aku menyukaimu sejak pertama kita bertemu,” lanjutnya panjang lebar dan terdengar tegas. Dia mengatakan dengan lancar seraya mencengkeram bahuku sambil menyorotkan mata yang tersirat, ‘percayalah padaku’.

Aku masih mematung. Begong. Bingung harus berkomentar seperti apa. Bagiku dia sangat berarti. Sungguh! Tapi untuk menyebut perasaanku ini sebagai rasa cinta seperti yang dia rasakan sepertinya tidak. Kedekatan kami sudah membuatku menganggapnya sebagai saudara sendiri jadi tidak mungkin kan dengan cepat berubah?

“Anggap saja aku ini adalah rintik hujan itu Namika-chan dan kau batunya. Kalau saja tadi kau tak bertanya lalu tak
kuberitahu perihal perasaanku padamu, aku tetap yakin suatu saat kau pasti akan menyadari perasaanku.” Dia berkata sambil tersenyum. Senyuman yang terasa lain dari pada yang lain. Tersirat ketenangan dan kepercayaan diri tapi di samping itu, di manik matanya yang coklat terpancar binar-binar bahagia.

“Tapi aku—”

“Sst... Tak perlu menjawab. Aku tak meminta jawabanmu karena sekarang kau pasti belum siap memberikan jawaban.

Biarkan seperti ini saja.” Dia beranjak berdiri sepertinya hendak pergi. Mataku otomatis terus mengikuti gerak-geriknya hingga dia berjalan menuju pintu geser. “Tolong, jangan terlalu memikirkan dalam-dalam kata-kataku tadi. Aku ingin kau tak berubah sikap. Aku ingin tetap menjadi sahabatmu Namika-chan. Setelah aku pulang dan esok kita bertemu lagi, aku ingin kau akan tetap bersikap sama. Menjadi sahabatku yang selalu tersenyum riang. Mau, ‘kan?” Di ambang pintu, dia berucap penuh harap.

Dengan agak enggan karena perasaan syok masih bersemayam, aku mengangguk kepadanya.

Dia tersenyum sambil menghembuskan nafas lega. Setelah mengucapkan, “arigatou” tubuhnya menghilang. Meninggalkanku sendiri di teras rumah sambil merenung seharian.

Pikiranku yang seharusnya menyuguhkan topik utama yang bertema patah hati, gara-gara pertanyaan rasa suka dari
Huchoru sontak memuat benakku tersita oleh ucapannya. Kata-katanya terus terngiang-ngiang. Membuatku mau tak mau harus melihat flashback tentang kisah persahabatan kami yang dimulai dari saling berkenalan ketika aku pindah di
Taito¬-ku sampai hubungan kami menjadi sedekat ini. Perenungan ini mungkin takkan berakhir. Dan aku pasti juga takkan beranjak dari tempatku duduk sedari siang kalau saja Okaa-san tak berteriak memanggilku untuk makan malam.
Setelah menepuk tangan 3 kali dan mengucapkan “itadakimasu ”, Okaa-san dan Otou-san langsung mengambil sumpit yang di letakkan di sisi kanan mangkuk dan memakan nasi yang sudah disiapkan dalam mangkuk keramik. Sedangkan aku masih termenung. Melamun. Tak menyentuh sumpit yang tergeletak manis di atas kotatsu . Padahal lauk yang terhidang seharusnya bisa membuat liurku menetes tapi untuk saat ini Misoshiru , Ebi furai dan makanan lain yang melambai-lambai minta diambil tak berhasil membujuk nafsu makanku.

Suara petir terdengar menyambar. Sempat membuatku dan juga kedua orang tuaku kaget. Seharusnya musim semi adalah masa di mana langit akan sering memperlihatkan pemandangan yang cerah dengan angin sepoi yang terasa sejuk tapi mengapa seharian ini yang ada malah hujan terus yang turun. Membuatku selalu teringat ucapan-ucapan Huchoru-kun.

“Ayo, dimakan Namika-chan. Biasanya kau akan langsung lahap makan kalau Okaa-san masakkan ebi furai,” ujar Okaa-san. Matanya menatapku khawatir.

Okaa-san pasti tahu bahwa tadi aku menangis cukup lama di teras belakang sepulang sekolah. Jadi sekarang dia sengaja memasakkan makanan kesukaanku. Karena ini adalah cara yang biasa Okaa-san lakukan untuk menghiburku. Okaa-san memang tak mendekat lalu menasehati atau sekedar menghibur ketika aku menangis atau mengamuk. Okaa-san lebih sering menunjukkan perhatiannya lewat perbuatan. Sedangkan Otou-san kesibukannya bekerja takkan bisa membuatnya tahu aku sedang mengalami hal yang menyedihkan hari ini. Sekarang, kami makan malam dengannya saja sudah suatu hal yang patut disyukuri. Tapi maafkan putrimu satu-satunya ini Okaa-san. Maafkan juga diriku yang tak begitu menunjukkan rasa senang ketika makan malam bersamamu, Otou-san. Aku tak berselera sekarang. Pikiranku sedang rewel. Sibuk memikirkan hal yang ganjil—kalau pernyataan cinta Huchoru bisa disebut ganjil sih.

Sebaiknya aku ke kamar saja dari pada membuat suasana di sini menjadi suram.

“Aku selesai,” ucapku lalu bangun dan melangkah menuju kamarku.

Okaa-san sempat menahanku dengan menunjukkan wajah kecewa. Begitu juga dengan Otou-san yang menatapku galak karena meninggalkan meja sebelum selesai makan. Namun aku tetap pergi. Mungkin dengan berbaring di kamar lalu tidur, benakku yang cerewet bisa diam.

Dalam perjalananku, mataku tertumbuk pada telepon yang tergeletak di meja kecil di samping anak tangga menuju lantai 2 tempat kamarku bersemayam. Melintas lagi kenangan beberapa jam lalu setelah aku pulang sekolah. Aku berbicara ketus dengan Huchoru-kun lewat benda itu, bahkan sempat membentaknya karena dia bersikeras untuk datang kerumahku. Mendadak ingin rasanya tanganku terulur dan menelpon dia, tapi aku harus bicara apa?

Aku duduk bersimpuh menghadap telepon. Lama aku menatap lekat-lekat benda mati yang tak begitu indah tersebut. Tanganku terulur lalu kutarik kembali dan begitu seterusnya. Hingga akhirnya aku menetapkan hati untuk memegang gagang telepon dan yang satunya lagi bersiap memencet tapi untuk melakukan itu seolah begitu sulit. Sesulit memilih jawaban soal pilihan sewaktu ujian.

Kukeraskan tekadku. Supaya hatiku tak terus-terusan bergejolak, benakku tak tak terus mengoceh panjang lebar dan nanti malah berakibat aku tak bisa tidur jadi sekarang aku menelponnya. Harus! Ayo beranikan dirimu Namika Yanagita!
“Moshi-moshi Huchoru-kun,”sapaku dengan suara yang lirih.

Di ujung sana suaranya tak nampak segugup diriku. Ternyata rasa tertekan ini cuma sepihak saja. Aish! Tidak adil. Memang aku tahu Huchoru-kun itu orang yang tenang—malah banyak orang yang bilang dia dingin—tapi soal perasaan ternyata dia juga cukup pintar mengendalikan bahkan menyembunyikannya ya? Salut! Dan... Iri!

“Soal tadi...” Aku menggaruk-garuk kepala bingung.

“Kau merasa terbebani ya? Gomenasai jika membuatmu tak tenang.”

“Eh? Tidak! Kau tidak membebani kok. Hanya saja aku selalu kepikiran.”

“Benarkah?”

“Te-tentu saja. Sungguh! Bukan salahmu. Tak perlu minta maaf.”

Hening kembali tercipta. Di sana diam, di sini pun juga sedang sibuk merangkai kata.

“Mari kita pacaran!” ucapku cepat dan lancar. Selancar bola salju yang turun dari gunung Fuji.

Hening lagi...

“Hu-Huchoru-kun. Kau ada di sana?”

Pertanyaan bodoh. Tentu saja dia masih menempelkan gagang telpon di telinga hanya saja kata-katamu sungguh mendadak,
Namika! Kalau Huchoru-kun sakit jantung bagaimana coba?!

Kupukul-pukul kepalaku. Merutuki kebodohan mulutku yang refleks berkata tanpa basa-basi.

“Te-tentu saja.” Di seberang sana terdengar suara Huchoru-kun yang berubah gagap. Mungkin saking kagetnya,
Huchoru-kun tak bisa mengembalikan ketenangan suaranya.

“Mungkin ini terlalu mendadak. Aku juga tahu bahwa kau bukan tipe orang yang suka dengan gadis yang menembak duluan
tapi... Aku merasa kau adalah orang yang tak bisa kuhiraukan begitu saja. Beberapa jam aku menimbang-nimbang perasaan. Aku terus kepikiran dengan kata-katamu tadi lalu tanpa diminta, benak ini menggulirkan peristiwa di masa lampau. Peristiwa di mana awal kita bertemu dan kau yang selalu tak pernah absen mengisi hari-hariku. Dan pada satu titik, hatiku mengatakan bahwa aku harus menerima perasaanmu. Mungkin Tuhan mengirimmu memang untukku. Selalu dan selalu saja kau yang ada di sampingku. Lalu setiap kata-kata dan tindakanmu tak pernah gagal membuatku tenang dan bahagia. Jadi, aku ingin menyukaimu. Mari kita pacaran, Huchoru-kun.” Setelah mengeluarkan semua kata hati aku menghela nafas lega. Tinggal menunggu reaksi darinya.

Memang aku tak tahu pasti tentang perasaanku padanya. Tapi aku yakin dia adalah orang yang tepat untukku. Tak ada yang lain. Hanya dia orang yang mengerti bagaimana aku dan aku menyayangi dia. Sangat menyayangi Huchoru-kun.

“Aku menolak!”

“EH???” Aku memekik refleks. Jawabannya sungguh di luar dugaan. “Ap-apa maksudmu?!” Suaraku menegang.

Enak saja dia bilang ‘menolak’ setelah aku dengan susah payah menata hatiku, menyingkirkan rasa takutku dan memberanikan diri menyatakan bahwa aku ingin menjalin hubungan dengannya. Aish! Sebenarnya kata-katanya tadi sewaktu di teras itu serius tidak sih?

“aku tak mau kau terpaksa.”

Aku diam sejenak mencoba mencerna kata-katanya. “Terpaksa? Ak-aku tidak terpaksa.”

“Kau terpaksa. Nampak jelas sekali di kalimat yang kau lontarkan tadi. Aku sudah berkata kan tadi? Aku tak meminta

jawabanmu. Aku mengatakan perasaanku karena kau bertanya. Cuma itu.” Kudengar helaan nafasnya. “Aku tahu hatimu belum benar-benar terbuka untukku. Ya, ‘kan?”

Dan pertanyaannya membuatku pikiranku makin bingung.

“Soal itu...” Suaraku menghilang. Aku sedang berpikir menyusun alasan. “Kupikir ada baiknya kita berpacaran
Huchoru-kun. Karena... Kau sangat baik dan selalu ada di saat kubutuh. Aku menyayangimu. Aku sadar aku... menyukaimu.
Aku selalu menjadi tenang di saat kau ada di sisiku.”

“Aku tetap menolak.” Suara ketusnya muncul. Sepertinya aku membuatnya memnuculkan sisi iblisnya. Gawat!

“Kenapa? Apa penjelasanku kurang?”

Eh? Di sini siapa sih yang tadi menyatakan suka lebih dulu? Kenapa seolah-olah aku yang begitu menginginkan hubungan
ini lebih maju? Padahal kan ini semua bermula dari pernyataan suka Huchoru-kun. Kenapa dia malah berubah jual mahal sih? Mengesalkan!

“Aku tidak suka diminta pacaran. Biar aku yang meminta padamu. Jadi tunggu saja!”

Pip-pip-pip!

Sambungan telepon terputus. Aish! Harga diri Huchoru memang benar-benar tak terkalahkan.

***

Hari minggu yang cerah. Aku dengan celana pendek dan kaos hitam gombrong sedang menikmati bunga sakura bermekaran di halaman rumah.

“Sejuknya...” ucapku seraya memejamkan mata. Menghirup bau harum bunga Sakura yang sesekali menerbangkan kelopaknya yang rontok ke atas wajahku.

Hari-hari sudah berlalu sejak kejadian patah hati, pernyataan cinta dan pernyataan dariku yang ingin—lebih tepatnya bersedia—menjadi pacar Huchoru-kun tapi tak sesuai dugaan, dia menolak. Harusnya bisa kuduga sih. Sifatnya memang begitu dan aku tahu betul itu tapi kenapa juga aku bilang ‘mari kita pacaran’.

“Hei! Kau belum bersiap juga?” Suara familiar menganggu acaraku menikmati harum bunga Sakura. Seketika aku membalik badan dan mataku sontak terbelalak, mulutku melongo.

“Kenapa kau pakai Yukata ? Penampilanmu jadi terlihat terlalu formal,” ucapku. Dan tentu saja nampak gagah dan... tampan, batinku.

Dari mana saja kau Namika??? Kenapa baru sekarang kau menyadari bahwa Huchoru-kun mempesona?

“Sekali-kali aku ingin memakai Yukata di Hanabi Matsuri .” Dia bersedekap lalu menatapku dari kepala sampai kaki.

“Kau lupa ya? Bukankah kau sudah kuminta untuk memakai Yukata juga?”

Mataku melotot lagi. “Eh? Benarkah?” Langkahku mendekati Huchoru yang masih berdiri tegap di teras. “Tapi... Aku malas memakai Yukata.”

“Harus! Sekali-kali di perayaan musim semi aku ingin melihatmu memakai Yukata. Masuk sana. Okaa-san-mu sudah menyiapkan Yukata.”

Dia memukul kepalaku. Meski pelan tapi ini adalah hal yang tak kusukai. Aku tahu sih dia lebih tua tapi tetap saja memukul kepala itu tindakan yang tidak sopan. Aku pun memanyunkan bibir. Dan tanpa menyanggah lebih lanjut—karena pastinya bakal kalah berkonfrontasi dengannya—aku melangkah memasuki rumah.


Suasana sangat ramai dan tumben sekali Huchoru-kun nampak tersenyum menikmatinya. Bukan seperti Huchoru-kun yang biasanya. Dia kan sebenarnya tak begitu suka keramaian?

Di taman Ueno kami berada saat ini. Duduk di rerumputan di pinggiran tanah lapang tepat di bawah naungan pepohonan Sakura yang memang sengaja di soroti lampu agar ketika malam tiba pun keindahannya masih nampak jelas.

“Tuh! Hanya sedikit orang yang memakai Yukata. Tahun lalu pun kita tak seresmi ini bukan?” keluhku karena kurasa
Yukata tak bisa membuatku bergerak bebas.

“Karena tahun lalu tak seistimewa ini, Namika-chan.”

Kontan saja, kata-katanya membuatku serta merta menatap lekat wajahnya dengan menyorotkan pandangan ketidakmengertian.

Aku memiringkan kepala seraya mengerutkan dahi.

Dia malah tersenyum lalu mengacak-ngacak rambutku. “Kau nampak manis jika berekspresi begitu.”

“Apanya yang manis?” Sontak pipiku bersemu merah. Kupalingkan wajah ke arah lain. Aku malu dan...berdebar-debar. Eh?
Kenapa seperti ini perasaanku?

Jeda sesaat diisi keheningan. Hanya suara riuh para Penonton yang sama seperti kami duduk di bawah pohon Sakura
sambil menunggu kembang api bertaburan di langit gelap, yang terdengar.

Tak seistimewa... Tak seistimewa? Kata-kata itu terngiang-ngiang di kepala. Medesak untuk dipertanyakan pada pemuda di sebelahku. Tapi aku takut.

Duarrr!!!

Kembang api sudah meledak di angkasa begitu indah dengan sinarnya yang bertebaran warna-warni. Aku mendongak dan tanpa sadar kaki ini sudah berdiri saking terkagum-kagumnya diriku akan keindahan kembang api di atas sana.
Sorak sorai tepuk tangan dan pekikan kagum orang-orang tak mengurangi rasa senangku ketika selama bermenit-menit kembang api itu menghiasi langit hitam nan gelap tanpa awan yang berarak.

Deg!

Dadaku langsung merasa seperti melompat keluar ketika tiba-tiba kurasakan tangan Huchoru-kun menyampir di bahuku. Aku langsung menoleh ke arahnya. Karena ini untuk yang pertama kalinya dia merangkulku. Biasanya kami hanya saling berpegangan tangan atau paling-paling aku merebahkan kepalaku di bahunya sambil bercurhat-ria. Tapi sekarang...

“Mari kita pacaran,” ucapnya tepat di telingaku. Angin hangat yang berhembus dari mulutnya menyeruak merasuk hingga
membekukan tubuhku. “Aku memintamu menjadi pacarku dan kau harus mau.”

Di riuhnya taman Ueno, kami saling memandang lekat satu sama lain. Seolah segala hiruk pikuk ini tak ada sama sekali di sekeliling kami. Lengannya yang masih merangkul semakin dia eratkan membuat tubuh kami tak ada jarak.

Kata-katanya yang berkesan memaksa tak memperoleh jawaban karena bibirku terlalu beku hingga susah untuk bicara.
Inikah yang dia maksud istimewa tadi? Ternyata dia benar-benar memintaku menjadi kekasihnya dan tak kuduga dia akan melakukannya di saat ini. Ternyata Huchoru-kun romantis juga....

“Baiklah. Mari kita pacaran. Dan semoga hubungan ini berlangsung selamanya.”

“Salah! Bukan semoga tapi memang harus berlangsung selamanya.”

Sekali lagi pipiku merona. Ya ampun... Huchoru-kun... Sikapmu ini benar-benar membuatku berdebar-debar. Sekarang aku
yakin, aku memang menyukaimu. Aku mencintaimu Huchoru-kun.

Tamat

Karya Pertama yang terbit : Fireflies of Winter




Judul ~ Fireflies of Winter : Kunang-kunang Musim Dingin
No. ISBN : 9786027724518
Penulis : Rafandha dkk
Penerbit : Ping!!! (lini DIVA Press)
Tanggal terbit : Maret 2013
Jumlah Halaman : 192
Harga : Rp. 30.000,-

“Apa yang sedang kau lakukan?”
“Mencari kunang-kunang.”
“Di musim dingin seperti ini?”
“Kenapa?”
“Ah, Eun Woo, mengapa kau pikir di musim dingin ada kunang-kunang?”

Eun Woo yakin jika ia suatu saat akan menemukan kunang-kunang di musim dingin seperti yang pernah dibawakan ayahnya. Hewan-hewan yang bercahaya kuning yang beterbangan dalam sebuah toples. Ia tak mau mendengarkan kata-kata Min Ho dan memutuskan pergi ke sebuah hutan di Damyang di pertengahan bulan Desember. Lalu mungkinkah Eun Woo bisa menangkap seekor kunang-kunang? Sebuah ending tak terduga dihadirkan oleh Rafandha si pemenang Lomba Cerpen #kpop 2013 ini. Dan masih banyak kisah romantis lainnya yang nggak boleh kamu lewatkan.

Digital Love [Bukan Hanya Lewat Kata]



Siapa bilang bahasa membatasi kita dalam sebuah jalinan pertemanan? Asal kau bisa cerdik dalam menyikapi keterbatasan maka kau bisa menemukan banyak cara untuk menjebol dinding keterbatasan.

Hal itu terjadi padaku dan padanya, seorang pria yang tinggal di belahan dunia lain bernama Shan. Dia berasal dari Srilangka namun tinggal di London untuk suatu pekerjaan. Kami berkenalan sejak tahun 2009, entah dari mana dia bisa menambahkan pertemanan di akun Facebook-ku dan dulu karena jumlah teman Facebook-ku masih sangat sedikit maka aku mengkonfirmasi permintaan pertemanan darinya tanpa melihat profil dia dari mana.

Waktu berlalu... dan dulu—sampai sekarang juga sih—aku sering online di malam hari—sampai sekarang aku masih sering insomnia. Larut malam dia suka menuliskan pesan di chatroom akan tetapi aku yang tak terlalu fasih berbahasa Inggris hanya menjawab sebisaku. Aku juga tak bisa mengandalkan Google Translate karena dulu aku belum tahu bahwa aplikasi itu ada.

Dia suka bercerita banyak hal. Tentang pekerjaannya, keluarganya dan terkadang mengajariku bahasa Maralayam, bahasa yang sering dipakai oleh orang-orang di daerah asalnya. Begitu pula denganku. Aku kadang menuliskan bahasa Indonesia dan mengimbuhkan juga artinya dalam bahasa Inggris. Meskipun begitu aku masih merasa tak bisa leluasa dan ekspresif dalam mengungkapkan apa yang ingin kukatakan kepadanya karena keterbatasan kemampuanku. Memang aku lumayan mengerti akan apa yang dia ceritakan namun untuk menjawab, aish! Aku tak fasih.

Suatu ketika aku mempunyai hobi baru setelah membeli sebuah Handphone berkamera—terus terang saja dulu aku tak memiliki Handphone. Hobiku adalah selalu memotret tempat-tempat atau apa pun objek yang menarik perhatianku lalu ku-posting ke akun Facebook-ku. Di situlah dimulai interaksi kami dengan cara lain. Lewat foto-foto itu aku bisa mengungkap segala yang ingin orang lain tahu tanpa kuharus berbicara. Gambar adalah media universal yang bisa dimengerti manusia entah di mana pun dia tinggal. Begitu pula dengan Shan. Dia sering mengkomentari apa yang ku-posting dan memberikan tag foto juga padaku. Foto-foto tentang lokasi di mana dia bekerja, tempatnya tinggalnya atau foto aktifitasnya di sana. Foto yang lucu dan ekspresif itu sungguh menghibur dan menarik untuk dilihat. Terlebih lagi batasan bahasa yang kupunya yang karenanya tak bisa membuatku bertanya banyak hal tentangnya kini terkikis lewat foto. Foto-foto yang dia buat membuatku mengenal banyak hal tentangnya. Aku menyukainya. Dan kini... aku merindukannya.

Sejak beberapa bulan lalu tepatnya sekitar November 2012, aku tak lagi menangkap penampakan dirinya di aku Facebook. Seperti angin dia menghilang. Sampai sekarang pun setiap kutengok akunnya dia tak pernah mem-posting ¬apapun lagi. Padahal selama 3 tahunan aku berhubungan dengannya tak pernah sekalipun dia absen muncul di jejaring sosial terpopuler itu. Meski hanya sekali posting atau menyapa ‘hai’ pokoknya dia pasti muncul. Tapi sekarang sudah sekian bulan berlalu tak kulihat lagi sosoknya dan foto-foto menarik darinya.

Kenapa dia tiba-tiba menghilang? Ada sesuatu yang terjadi kah? Jawaban itu sepertinya hanya Tuhan dan dirinya sendiri yang tahu.

Kamis, 16 Mei 2013

SEASONS: Spring Flower


Ini lagu yang mendasari munculnya ide novelku yang berjudul 'Haru no Hana' terbitan DIVA Press lini De TEENS yang sebentar lagi bakal terbit sekitar bulan Juni nanti.



Jin Akanishi ~ Seasons

Kirei ni saita haru no hana
Boku no me ni wa so utsuranai
Kimi ga koko ni inainara
Kono sekai ni miru mono wanai nothing matters
So now I' m sitting in the dark
Missing your light that you brought to my life and it just ain' t fair
Kimi ni todoku you ni I swear

I'd rather have a rainy day with you than seein' sunshine alone
Or have a hundred days of winter with you in my arms
I' ll be your shelter from the storm just to have you by my side
Ima aerunara
Ima aerunara

Ima mo utsukushii kagayaki miru tabi ni
Kimi no hohoemi omoidasazu ni Irarenai
Kimi no kake-ra o atsume teshimau
Kasumu kioku no nakade wa aerunoni

I' d rather have a rainy day with you than seein' sunshine alone
Or have a hundred days of winter with you in my arms
I' ll be your shelter from the storm just to have you by my side
Ima aerunara
Ima aerunara

I need you back with me baby
So baby come back to me
So would you come back to me
You know ima my life without you kaketa ai no uta

Ima natta no imi o anata ni utau to shitara
Anata e to utau watashi no kotonoha wa
Dakishimeta kazu dake kizutsuite kudeshou

I' d rather have a rainy day with you than seein' sunshine alone
Or have a hundred days of winter with you in my arms
I' ll be your shelter from the storm just to have you by my side
Ima aerunara
Ima aerunara

English Translation

The spring flowers are born beautifully
But this image does not appear that way in my eyes
If you're not here
I see nothing in this world nothing matters
So now i'm sitting in the darkness
Missing the light that you brought to my life and it just ain't there
I'll catch you up.. I swear

I'd rather have a rainy day with you than see the sunshine alone
Or have a hundred days of winter with you here in my arms
I'll be your shelter from the storm just to have you by my side
If i could find you
If i could find you

Now every time i see a beautiful shine
I just remember her smile
I just picking up your pieces
I'll meet you in the midst of vague memories

I'd rather have a rainy day with you than see the sunshine alone
Or have a hundred days of winter with you here in my arms
I'll be your shelter from the storm just to have you by my side
If i could find you
If i could find you

I need you back to me baby (baby)
So baby come back to me
So would you come back to me
You know.... Now... My life without you a broken love song

If i sing a song with your meaning
My words sung to you
The amount of hugs will only hurt me more

I'd rather have a rainy day with you than see the sunshine alone
Or have a hundred days of winter with you here in my arms
I'll be your shelter from the storm just to have you by my side
If i could find you
If i could find you

EXO - What Is Love


ROMANIZATION

Girl, I can’t explain what I feel
Oh baby my baby, baby, baby, baby yeah

haruga machi ilbunchorom neukkyojige mandeulji
nomanisseumyon yonghwasoge juin-gong
nol borodallyoganeun eksyonsinirado jjigeulgot chorom nan machi yongungi dwen gotchorom

non nege wanbyok sangsanghebwasso
hamkkeramyon ottolkka yeah
nan noman gwenchantago malhejumyon modu wanbyokhe oh baby

I lost my mind noreul choeummannasseultte
no hanappego modeun-goseun get in slow motion
nege mar-hejwo ige sarangiramyon

meil geudewa sumaneun gamjongdeureul-lanwojugo bewogamyo
ssaugo ulgo anajugo
nege mar-hejwo ige sarangiramyon

sesangnamjadeul modu nalburowohe
noreul gajin nega jiltuna jukgennabwa
hega gado dari gado jolde anbyonhe
nan bogiboda ujikhage mideullamjaraneun-gol
non algedweltenikka

I don’t know why joldejogin igamjong
nega senggakjocha hesseulkka
ne gyote isseultte nan jomjom dedanhan namjaga dwedo bitnaneun gol

I lost my mind noreul choeummannasseultte
no hanappego modeun-goseun get in slow motion
nege mar-hejwo ige sarangiramyon

meil geudewa sumaneun gamjongdeureul-lanwojugo bewogamyo
ssaugo ulgo anajugo
nege mar-hejwo ige sarangiramyon

ganjor-hi barago barandamyon
i-rwojilkka donghwayegichorom
yongwonhan dulmane happy ending happily ever after
namaneun nol midojugo jikyojugo dallejulkke
nipyoni dwelkke
nigyoteso jolde anttona

I lost my mind noreul choeummannasseultte
no hanappego modeun-goseun get in slow motion
nege mar-hejwo ige sarangiramyon

meil geudewa sumaneun gamjongdeureul-lanwojugo bewogamyo
ssaugo ulgo anajugo
nege mar-hejwo ige sarangiramyon

sesangnamjadeul modu nalburowohe
noreul gajin nega jiltuna jukgennabwa
My babe, baby babe, baby baby
nolaraboneun-gol ige sarangin-gol
aichorom nol jaju utgemandeulgo
chingguchorom nol gajang pyonhage mandeulkkoya
My babe, baby babe, baby baby
mar-hejwo nege what is love

ENGLISH

Girl, I can’t explain what I feel.
Oh baby my baby, baby, baby, baby.. yeah.

Making a day feel like a minute
With you, I’m the main character of a movie
As if I’m about to film an action scene to come see you, as if I’ve become a hero

You’re perfect to me, I imagined
How would it be if we were together?
If only you say okay, everything is perfect, oh baby

* I lost my mind, the moment I saw you
Except you, everything get in slow montion
Tell me, if this is love
Sharing and learning countless emotions everyday with you Fighting, crying and hugging
Tell me, if this is love

All the guys in the world are jealous of me
They must be jealous to death of me, for having you
Even after the sun goes down and moon goes down, it will never change
You will find out that I’m a guy whom you can trust

I don’t know why, this unconditional emotion
Did I ever imagine?
Next to me, your shine more brightly as I become a better guy

* I lost my mind, the moment I saw you
Except you, everything get in slow montion
Tell me, if this is love
Sharing and learning countless emotions everyday with you Fighting, crying and hugging
Tell me, if this is love

If you wish and wish earnestly
Will it come true, like the fairytales?
A never-ending happy ending, happily ever after
I will trust you, protect you and comfort you
I will be on your side
I will never leave your side

* I lost my mind, the moment I saw you
Except you, everything get in slow montion
Tell me, if this is love
Sharing and learning countless emotions everyday with you Fighting, crying and hugging
Tell me, if this is love

All the guys in the world are jealous of me
They must be jealous to death of me, for having you
My babe, baby babe, baby baby
I can tell, this is love I will make you smile often like a child
I will make you feel the most comfortable, like a friend
My babe, baby babe, baby baby
Tell me, what is love

INDONESIAN

Sayang.. Aku tak mampu untuk menjelaskan apa yang sedang aku rasakan
Oh baby my baby, baby, baby, baby.. yeah.

Karenamu, satu hari terasa seperti hanya satu menit
Ketika bersamamu, aku merasa menjadi seorang karakter utama dalam sebuah film
Rasanya aku adalah seorang pahlawan dalam adegan film action yang akan datang menyelamatkanmu

Kau sempurna bagiku, aku membayangkan…
Bagaimana jadinya jika kita bersama?
Hanya dengan kata oke darimu, semuanya menjadi sempurna, oh baby

*Aku akan kehilangan akal, ketika aku melihatmu
Kecuali dirimu, apapun yang ada didunia ini akan bergerak lambat
Katakanlah padaku, jika yang aku rasakan ini adalah cinta
Berbagi dan belajar berbagai hal yang aku rasakan bersama denganmu
Perjuangan, tangisan dan pelukan
Katakanlah padaku, jika yang aku rasakan ini adalah cinta

Semua pria di dunia cemburu padaku
Mereka pasti cemburu setengah mati padaku
Bahkan hingga matahari dan bulan sudah tenggelam, perasaanku takkan pernah berubah
Kau akan menyadari bahwa akulah seorang pria yang bisa kau percaya

Aku tak tahu mengapa, ini adalah perasaan tak bersyarat
Apakah aku pernah membayangkan hal ini?
Disampingku, kau bersinar lebih terang membuatku menjadi seorang pria yang lebih baik

* Aku akan kehilangan akal, ketika aku melihatmu
Kecuali dirimu, apapun yang ada didunia ini akan bergerak lambat
Katakanlah padaku, jika yang aku rasakan ini adalah cinta
Berbagi dan belajar berbagai hal yang aku rasakan bersama denganmu
Perjuangan, tangisan dan pelukan
Katakanlah padaku, jika yang aku rasakan ini adalah cinta

Jika kau ingin dan mengharapkannya dengan sungguh-sungguh
Akankah semuanya terwujud, seperti cerita dongeng?
Berakhir bahagia, bahagia selamanya
Aku akan mempercayaimu, melindungimu dan menghiburmu
Aku akan berada disampingmu
Aku takkan pernah meninggalkanmu

* Aku akan kehilangan akal, ketika aku melihatmu
Kecuali dirimu, apapun yang ada didunia ini akan bergerak lambat
Katakanlah padaku, jika yang aku rasakan ini adalah cinta
Berbagi dan belajar berbagai hal yang aku rasakan bersama denganmu
Perjuangan, tangisan dan pelukan
Katakanlah padaku, jika yang aku rasakan ini adalah cinta

Semua pria di dunia cemburu padaku
Mereka pasti cemburu setengah mati padaku
Aku bisa mengatakannya, yang ku rasakan ini memang cinta
Aku akan membuatmu tertawa sesering mungkin, seperti seorang anak kecil
Aku akan membuatmu merasa lebih nyaman, seperti seorang teman
Jelaskanlah padaku apa itu cinta..

English taken from pop!gasa

Translated & Edited to INDO by ciwbaik.wordpress.com


Hanafubuki



Rasa senang perlahan merayap. Membuatku menghela nafas lega. Malam telah lama datang. Bukannya aku beristirahat tapi malah memilih untuk mengendap-endap keluar dari kamar pesakitan.

Terus berjalan dengan susah payah dan berusaha seminim mungkin mengeluarkan suara yang ditimbulkan hentakan kakiku. Tak mau perawat memergokiku dan menyeretku kembali ke kamar pengap itu, aku terus melangkah menuju taman yang berada tepat di tengah-tengah rumah sakit.

Sungguh! Ini harus kulakukan. Aku sudah merasa muak dengan bau obat yang menyeruak di kamar. Aku sudah lelah tersenyum ceria, sok kuat pada orang-orang yang memandangku kasihan. Aku hanya ingin menjadi diriku. Diriku sebenarnya yang sebetulnya lemah dan butuh penghiburan bukannya terus terkungkung dalam bangsal sesak penuh bau menyengat.

Tertatih-tatih sambil menghimpun sisa kekuatan yang kumiliki, aku terus melangkah dengan kaki gemetar. Ini bukan misi melarikan diri. Aku hanya ingin keluar sebentar. Hanya semalam saja sebelum besok siksaan berat kembali menghantam. Mungkin saja kan, besok aku tak lagi bisa melihat dunia? Mengingat besok aku akan menjalani operasi yang menentukan hidup dan matiku. Yah, kalau perkiraanku menjadi kenyataan aku malah berlega hati, rasa sakit yang menggerogoti dan sudah lama menyiksaku ini tak lagi bisa menyerang. Aku pasti akan menuju ke alam yang lebih damai. Ini sikap putus asa memang, tapi aku sungguh-sungguh sudah lelah. Dan untuk yang terakhir kalinya aku ingin melihat sakura mekar meski kesempatan itu datang di malam hari—karena di siang hari aku tak diperbolehkan keluar kamar dan pastinya taman akan penuh dengan orang-orang.

“Sampai...,” gumamku lirih seraya menatap hamparan rerumputan yang tertata apik, bebatuan yang mengelilingi kolam kecil dimana nampak bambu berayun naik turun sesuai dengan debit air yang terisi dan yang terpenting pohon sakura yang menjulang tinggi dengan bunga-bunganya yang berwarna pink berada di tengah-tengah seolah dia menjadi pusat pemandangan menarik dari semua tanaman yang tumbuh di sekelilingnya.

Aku yang sempat terpaku kembali melanjutkan langkah. Menuju ke sebuah kursi taman yang terletak tepat di bawah pohon sakura yang nampak jelas karena lampu-lampu yang menyoroti semua penjuru taman.

Duduk disini sendirian rasanya nyaman walau terselip hawa kesepian. Andai aku tak mendekam terlalu lama di bangunan yang didominasi warna putih itu. Pasti hari-hari dimana sakura mekar seperti sekarang, aku sudah duduk bersama-sama kaa-san , tou-san dan nee-chan di bawah pohon sakura di taman Ueno untuk merayakan Hanami . Hahhh... Kapan ya aku merayakan hanami seperti itu? Sepertinya sudah sangat lama aku tak lagi menghabiskan waktu untuk sekedar berlibur dengan keluarga.

“Hei, kenapa duduk sendirian malam-malam begini? Apa kau tak takut diculik hantu?” Suara seseorang membuat bayanganku mengabur lenyap.

Kutatap dia dengan wajah tak suka. Kesendirianku terganggu oleh sosok asing berambut awut-awutan yang di tangannya sedang membawa setoples entah apa itu isinya.

“Hantu? Orang sepertiku sudah tak merasa takut dengan ‘calon teman’nya,” sahutku dengan muka datar.

Ternyata ide kabur diam-diam ke taman tak hanya aku yang memikirkannya, dia pun juga. Dan sekarang kami bertemu, saling menatap dengan sorot menelisik lalu duduk bersebelahan. Sungguh tak terduga.

“Sepertinya kau ini pasien berpenyakit kronis ya? Kelihatan sekali dari keputusasaan yang secara tak langsung kau utarakan.” Dia tersenyum sambil meletakkan toples kaca itu di sampingnya.

Aku hendak menanggapi celotehnya yang lumayan menohok tapi begitu melihat isi dalam toples kaca, aku malah terkekeh.

“Tsuru ? Masih percaya dengan takhayul rupanya?” ejekku dan suaraku semakin terbahak tapi ekspresi yang dia tunjukkan
tak sesuai dugaan. Tak nampak amarah atau rasa jengkel muncul di raut wajahnya.

“Ini bukan takhayul atau dongeng anak-anak. Tsuru kertas ini adalah doa dan api penyemangat, nona,” sanggahnya seraya menatap toples itu lekat-lekat.

Ucapannya membungkamku. Ah, bukan! Bukan kata-katanya yang membuatku tak bisa menyahut tapi ekspresi di wajahnya. Lampu neon yang menyorot pohon sakura dan kami, membuatku jelas dapat melihat betapa seburat merah di pipinya itu muncul tiba-tiba. Wajahnya melembut begitu tatapan mata itu tertumbuk pada benda kecil-kecil di dalam toples. Apakah tsuru kertas itu buatan seseorang yang begitu dia sayang? Sampai-sampai ekspresinya berubah seperti orang yang dilanda kasmaran.

“Jangan-jangan kau tak mengerti esensi dari mitos tsuru? Ini tak sekedar sebuah ritual untuk meminta sesuatu. Apa kau tahu? Setiap hari Hirano melipat kertas-kertas kecil ini setelah sebelumnya menorehkan kata-kata penyemangat di dalamnya. Dia menuliskan permohonan. Doa, agar aku cepat sembuh. Kesungguhan hatinya sangat tersampaikan dan membuatku terharu.” Dia menghela nafas sesaat, melirik bunga-bunga yang menempel di dahan yang berada tepat di atas kami lalu beralih menatapku dan kembali berucap, “Bukan 1000 tsuru kertasnya yang membuat permohonan si pembuat terkabul tapi kesungguhan hatinya lah yang membuat keinginannya yang tulus menjadi kenyataan.” Tangannya memutar-mutar tutup toples dan mengeluarkan satu bangau kertas selanjutkan dia berikan padaku. “Bukalah.”
Aku mengernyit bingung seraya menerima tsuru itu. Kubuka lipatan-lipatan pada kertas dan seketika terpaku menatap kalimat yang tertoreh di dalamnya. “Taro-kun , kau pasti akan sembuh! Kau kan sekuat Tora . Jadi, terus berjuang ya?!” Aku berbisik lirih membaca tulisan dari gadis bernama Hirano.

Pasti sangat melelahkan menulisi satu-satu lembaran-lembaran kertas lipat sebanyak itu dan setelahnya melipat dengan teknik lipatan yang serumit ini. Aku saja terharu melihatnya apalagi pemuda itu. Pantas dia bersemu bahagia tadi.
“Kau beruntung ya? Pacarmu sangat menyayangimu,” ucapku lirih sambil kembali melipat kertas ini ke bentuk semula. Aku menuduk. Mataku terfokus pada apa yang kupegang tapi rasanya hatiku mendadak sakit. Aku... Aku merasa... Iri!

Kudengar kursi berdecit lirih dan kurasakan pergerakan darinya. Dia berdiri tepat di depanku.

“Kau ini tak bisa membuat origami tsuru ya? Sini, biar aku saja.” Dia merampas apa yang selama semenit lebih ini
kutekuni tapi tak kunjung berhasil melipat sama persis seperti tadi.

Mau tak mau aku mendongak menatapnya. Ternyata, jika diperhatikan dengan seksama dia nampak gagah dan... tampan. Kenapa tadi tak kusadari?

“Kenapa? Baru sadar aku tampan?” ucapnya narsis begitu menyadari sedang kupandangi.

“Eh? Ti-tidak kok. Siapa juga yang melihatmu. Aku hanya mengamati cara membuat tsuru,” sahutku gugup.

Dia mengangkat alisnya. “Ternyata kau benar-benar tak bisa melipat tsuru ya? Baru tahu aku, kalau ada orang Jepang yang tak bisa membuatnya. Nona, kau tak pernah diajari di sekolah?”

Eh? Awal-awal pertemuan tadi kupikir dia itu orang yang ramah dan lembut ternyata aslinya seketus ini? Narsis pula!
Cih! Waktu menikmati sakura yang sangat susah kudapatkan menjadi sia-sia karena dia. Menyebalkan!

“Memangnya kenapa kalau aku tak bisa melipat kertas hah? Aku memang tak pernah sekolah!” Aku menyahut tak kalah ketus.

“Mana ada orang yang tak pernah sekolah?” Dia bertanya dengan wajah terheran-heran. Aktifitasnya melipat tertunda.

Dia duduk lagi menjejeriku tapi kali ini lebih dekat bahkan siku kami saling bersinggungan.

Aku menyadari bahwa reaksiku barusan berlebihan, “Tidak sepenuhnya tak pernah sekolah sih. Tapi karena aku memang lemah sejak lahir jadi lebih sering membolos berhari-hari untuk memeriksakan diri di rumah sakit atau beristirahat di rumah. Hingga akhirnya aku merasa percuma sekolah. Jadi aku tak mau sekolah lagi.” Aku mengaku. Luka lama kembali muncul, membuat hatiku sedih dan dadaku sakit ketika menceritakannya. Tapi kenapa aku menceritakan hal ini pada orang asing sih? Tak biasanya aku berkata-kata sebanyak ini kepada orang—termasuk keluargaku sendiri.

“Kau tahu? Hirano sering bilang, tak ada yang percuma di dunia. Semua yang kita lakukan pasti berdampak. Setidaknya dengan bersekolah kau bisa merasa lebih hidup ‘kan? Bertemu dengan banyak orang, mendapatkan teman dan tentunya tak kesepian.”

“Aku tak punya dan tak mungkin mendapat teman,” sanggahku cepat. “Tak ada yang mengingatku karena aku jarang muncul. Aku ada atau tidak pun tak berarti apa-apa bagi mereka. Jadi kehadiranku itu tak berpengaruh apa-apa?! Tak berdampak! Percuma! Sejak kecil aku terlahir dengan fungsi jantung yang tak normal. Setiap waktu harus menikmati pemandangan rumah sakit yang menjemukan, melihat ekspresi murung orang-orang di sekitar dan terlebih lagi... aku... selalu merasa was-was dengan kematian yang setiap saat mengintip. Tahu apa kau tentang penderitaanku? Dan... dan lagi si Hirano itu. Dia tak pernah merasakan hal sama denganku jadi segampang itu dia bisa berbicara!” sangkalku dalam sekali tarikan nafas. Aku terengah-engah dan dadaku seketika terasa seperti ditusuk-tusuk. Emosiku sepertinya sudah tak terbendung. Segala perasaan yang terpendam dalam hati tumpah begitu saja di hadapan orang asing yang bahkan belum memperkenalkan diri.

Raut mukanya menujukkan keterkejutan tapi cuma sesaat. Beberapa detik kemudian dia kembali tersenyum. Terlihat lembut. Sontak aku menjadi merasa bersalah.

“Hirano pasti tahu apa yang kau rasakan. Karena dia mengerti betul bagaimana rasanya sakit itulah, dia memberiku ini.” Di sorongkannya toples itu ke arahku. Senyumnya menghilang.

“Maksudnya?”

“Ini benda terakhir yang Hirano berikan padaku sebelum dia meninggal beberapa hari yang lalu. Padahal kami sudah berjanji untuk melihat bunga sakura sama-sama disini sambil menunggu hanafubuki. Tapi Tuhan berkehendak lain.” Dia diam sesaat. Raut kesedihan terpatri jelas. Begitu melihat kelopak bunga gugur. Tangannya terulur menadah, berusaha menangkap kelopak yang terjatuh perlahan itu. “Hirano mengidap leukimia. Untuk sembuh, dia membutuhkan cangkongan sumsum tulang belakang dan sangat susah menemukan orang yang cocok sebagai pendonor. Sedangkan aku hanyalah orang yang kebetulan seruangan dengannya yang sama-sama menderita sebuah penyakit. Dulu aku sepertimu. Pesimis. Putus asa dalam menjalani hidup. Tapi begitu mengenal Hirano semangat hidupku kembali meletup-letup. Aku beruntung bertemu dengannya. Kalau tidak, pasti sekarang aku sudah mati dalam keputusasaan. Hidupnya memang singkat tapi sangat membekas terutama dalam ingatanku. Aku berhutang nyawa padanya. Jantungku ini pemberiannya dan semangat yang kurasakan sekarang juga berkat dirinya. Jadi jangan manja, nona. Semangat hiduplah yang membuat seseorang merasa hidup. Nikmatilah hidupmu semaksimal mungkin.” Dia mengusap-usap rambutku lembut. Membuatku merona. Kikuk.

“Ak-Akanishi. Yukio Akanishi namaku, bukan nona.”

“Akanishi ya? Salam kenal. Namaku Shotaro Akichi.” Tangannya terulur menunggu tanganku menjabatnya.

Ini adalah permulaan persahabatan kami. Hingga langit berubah warna menjadi kebiruan, kami tetap berada disini. Berbicara, bercanda dan menikmati bunga-bunga yang mendominasi ranting-ranting yang menaungi kami.

Sebelum kami kembali ke tempat kami masing-masing, janjinya yang tak terpenuhi pada Hirano, dia layangkan padaku. Dia ingin kami kembali bertemu saat hanafubuki tiba. Menikmati kelopak-kelopak indah itu berguguran seraya melanjutkan obrolan-obrolan panjang yang mengasyikkan.

“Aku akan datang ke pohon itu Akichi. Pasti.” Kembali kuucapkan sumpahku dalam hati lalu memejamkan mata karena rasa kantuk yang mendera. Entah mengapa, kamar yang paling kubenci dan selalu saja tak dapat membuatku tidur nyenyak ini, kini terasa nyaman. Mendamaikan.

***

Mataku terbelalak tapi langsung memicing begitu menatap lampu di atap yang terasa sangat menyilaukan. Kuedarkan pandanganku dan kutemukan dokter yang sepertinya sudah selesai memeriksaku, kaa-san, tou-san dan nee-chan juga ada di sekelilingku. Lontaran kata-kata sukacita dan pelukan-pelukan hangat aku terima begitu dokter menyimpulkan bahwa aku sudah melewati masa kritis.

Hatiku pun ikut bahagia. Terlebih ketika kurasakan tubuhku seolah lebih ringan. Tak ada nafas yang terputus-putus karena dada sesak dan pastinya rasa sakit yang menusuk tak lagi menyerang. Aku hidup kembali. Operasi transplatansinya berhasil. Dan itu artinya aku menjadi gadis normal. Bisa melakukan banyak aktifitas yang kusukai, bersekolah dan..., Eh? Tora! Untung saja aku teringat dengannya juga janji kami.

Serta merta aku bertanya, “Kaa-san, musim sakura mekar masih ada ‘kan?”

“Eh? Kenapa Yuki-chan tiba-tiba bertanya soal sakura?” Nee-chan menimpali dan tou-san serta kaa-san hanya menatapku bingung.

“Jawab saja!” pintaku tak sabar seraya bangun dari ranjang dan bersiap-siap turun.

“Eh-eh! Yuki-chan, kau baru siuman jangan langsung bangun. Kau ini kenapa sih? Panik begitu.”

Tanpa menunggu jawaban yang tak kunjung datang aku langsung berjalan menuju pintu keluar tapi cengeraman tangan
mereka sungguh menunda maksudku, “Lepaskan aku. Ku mohon. Aku ada janji melihat hanafubuki.” Aku berontak, berusaha melepaskan cengeraman mereka.

“Janji? Dengan siapa?”

“Akichi. Aku ingin bertemu.” Aku kembali membujuk mereka.

Masih dengan saling menatap bingung akhirnya cengekeraman ini lepas sudah. Kontan aku langsung berlari menuju taman. Kuharap aku tak terlambat. Pohon sakura, kumohon jangan gugurkan bungamu sebelum aku datang.

Bunga-bunga sakura yang dulu mendominasi semua dahan-dahan kini tak nampak lagi. Seluruh permukaan pohon dipenuhi daun-daun hijau. Terlebih lagi tak kulihat Shotaro Akichi di kursi itu.

Tentu saja dia tak ada. Hanafubuki sudah lewat. Janji kami sudah kedaluarsa karena aku tak datang. Namun... tetap saja aku merasa kecewa. Pohon tak mungkin bisa menunggu tapi Tora, kenapa tak menungguku? Aku ingin bertemu! Aku ingin menceritakan bahwa semangat hidupku sudah kembali. Aku mendapatkan jantung baru dan tentu saja yang terpenting dari semuanya aku ingin lebih dekat dengannya. Walau hanya sekali itu bertemu tapi aku merasa suka. “Aku menyukai
Tora. Ingin bertemu Tora.” Tanpa sadar mulutku mengeluarkan suara. Airmataku tak terbendung lagi, mengalir deras tanpa bisa berhenti.

“Kenapa kau tak menungguku? Dan bodohnya aku, kenapa waktu itu tak bertanya tentang rumah dan asal usulmu? Kenapa? Kenapa? Kalau begini aku tak bisa mencarimu Tora!” Kakiku melemas dan membuatku duduk berjongkok seraya menyembunyikan wajah di antara lutut.

***

Minggu demi minggu berlalu... Sesuai dengan nasehat seseorang, aku berusaha untuk menikmati hidupku. Melakukan apa yang kusuka dan tentu saja kembali bersekolah.

Aku tertegun lama. Melamun dengan sorot mata yang tak beralih dari pintu gerbang utama Tokyo gakuen . Bukannya aku gugup untuk melangkah lebih jauh dan merasakan lingkungan yang baru tapi entah mengapa melihat bangunan sekolah itu aku jadi teringat Akichi.

“Bahkan usiamu saja aku tak tahu,” gumamku lirih. Perasaanku sendu.

“Hahhh... Tarik nafas... Hembuskan... Ya, sudah cukup persiapannya. Jangan gugup saat memperkenalkan diri Yukio! Ganbatte! ” ucapku pada diri sendiri di depan pintu kelas. Tinggal menunggu Matsuda-sensei menyuruhku masuk maka

perjuangan di sekolah baru resmi dimulai.

“Ayo masuk,” perintah sensei begitu membukakan pintu. Aku hanya mengangguk seraya melangkahkan kaki.

“Anak-anak inilah teman baru kalian,” ujar Matsuda-sensei berusaha menguasai keadaan yang tadi sempat sedikit riuh begitu aku masuk. “Akanishi, silakan memperkenalkan diri.”

“Ba-baik.” Aku membungkuk singkat pada Matsuda-sensei lalu memutar arah menghadap murid-murid 1A yang tak lagi mengeluarkan suara sedikitpun. “Wa-watashiwa wa —“ Begitu aku melayangkan pandang ke arah puluhan murid, seketika mataku tertumbuk pada wajah yang sangat kukenal. “Sho-Shotaro Akichi?!” pekikku kaget. Buru-buru aku membungkam mulutku saat kusadari keterkejutanku membuat mereka menatapku aneh.

Akichi menegakkan badan lalu tersenyum kepadaku. Membuatku seketika merasa diguyuri ribuan kelopak bunga. Hatiku bersorak gembira. Rasanya aku ingin berlari ke arahnya dan memeluknya erat.

Dia ada disini. Satu sekolah denganku. Tak ada lagi rasa kecewa di hati karena takdir sudah berbaik hati mempertemukan kami. Akichi, kuharap ini adalah sebuah pertanda bahwa kita terhubung. Pertemuan pertama bisa disebut kebetulan tapi untuk yang kedua, boleh ‘kan aku mengatakan bahwa kita berjodoh?

Sepertinya musim semi tahun depan aku bisa menikmati hanafubuki yang tertunda nih, batinku girang. Tak apa jika aku menjadi terlalu percaya diri. Kan, takdir sudah mengatakan dengan jelas bahwa kami berjodoh. [ ]

Senin, 25 Februari 2013

Curug 7 Bidadari: Setiap Tempat Punya Cerita [Hana Pratiwi]





Curug 7 Bidadari berada di daerah Sumowono dan 3 jam perjalanan dari Semarang, naik motor. Pegel banget dah. Untungnya pas ke sana aku diboncengin Adek, jadi nggak capek-capek amat. Aku ke sana bareng ke 5 teman-temanku. Kalau capek di perjalanan kami berhenti sejenak lalu kembali lanjut jalan kalau capeknya udah ilang. Tapi asyik lho... coz bisa lebih leluasa mengamati pemandangan sekitar yang masih asri banyak pepohonan.

Tiket masuk cuma 4000 rupiah aja. Murah, 'kan? Apalagi kalau ngeliat pemadangan air terjun yang lumayan lebar dengan airnya yang masih jernih itu. Pokoknya capek-capek dalam perjalanan dijamin langsung ilang deh. Sejuk, airnya dingin, pemandangan indah. Nggak rugi ke sana.

Di sana ada saung sama penjual makanan tentunya, jadi bagi yang nggak bawa bekal bisa beli. Tarifnya bersahabat kok, nggak nyekek leher. Hehehe~

Kenapa disebut air terjun 7 bidadari? Karena kalau dihitung air terjunnya ada 7. Kalau nggak percaya itung sendiri sana.

Penasaran? Penasaran pengen ke sana? Buruan deh ke sana. Tapi cuma menghimbau, jangan ke sana kalau musin hujan. Percuma, airnya jadi keruh coklat soalnya.

Sudah ya... Ceritanya... Sampai jumpa di ceritaku selanjutnya.

Minggu, 20 Januari 2013

MOON


~MOON~

==============================

“Luka goresan ini bukanlah hal utama yang membuatku menangis. Namun sakit dari dalamlah, yang entah dibagian mana membuatku merasakan sesak yang amat sangat. Rasanya aneh dan menyiksa… Membuatku ingin lebih memilih mati daripada harus menjalaninya.”

“Sejak saat itu aku mengerti, ternyata di dunia ada juga rasa yang seperti ini. Inilah rasanya ‘cinta’ yang sering diagungkan oleh MANUSIA. Jika berpisah dengan orang yang dicintai akan terasa sangat sepi dan kehilangan. Padahal sudah sekian lama aku sendirian namun baru kali ini kurasakan kesepian serta kerinduan. Rasanya benar-benar menyakitkan. HANA!!! Aku hanya ingin bersamamu! Mustahilkah itu?”

“Itu adalah saat pertama aku mengenal apa itu impian, cita-cita dan tujuan hidup. Kau sederhana namun kehadiranmu membuat perasaanku menjadi kompleks.”

(Andrew Quote)


===============================

Andrew’s PoV.

Aku bergidik gelisah di ujung tembok. Duduk meringkuk dengan manik mata terpaku tak lepas menatap sekelumit pemandangan mengerikan—yang pasti hanya terlihat biasa jika berada disituasi yang berbeda—di ruangan yang hanya diterangi sinar bulan yang menyorot teduh dari luar jendela.

Aku tak meratapi dan menyesali perbuatanku namun aku hanya merasakan ketakutan yang tak dapat kujabarkan. “Hana pasti marah padaku… Dia pasti akan sangat membenciku.” Racauku lirih. Hanya dialah sumber ketakutanku. Bukan hal yang lain. Hanya Hana…

Cairan merah berbau anyir menggenang tepat didepanku. Tubuh sepasangan suami istri tergeletak tak bernyawa. Organ dalam mereka terburai akibat ulahku yang lepas kendali. Cakaranku sekali lagi membawa maut.

“Orang tuaku telah mati tapi Paman dan Bibiku yang begitu baik sangat menyayangiku. Membuatku tak lagi bersedih karena ditinggalkan ayah dan ibu.”

Terdengar kembali ucapan riang Hana ketika dirinya menceritakan kehidupannya tanpa kuminta. Matanya berbinar bening, senyumnya merekah polos tanpa ada raut keangkuhan ataupun ketakutan.

Hana maafkan aku! Sudah membunuh kerabatmu yang tersisa. Padahal aku sudah bersumpah pada diri sendiri untuk selamanya melindungimu dan menjaga agar senyumanmu selalu melekat. Tapi aku malah…
Tunggu dulu, bukankah aku bersumpah untuk melindunginya?
Melindungi Hana…
Melindungi Hana?
Bukankah ini termasuk perlindungan? Bukankah 2 manusia tamak ini sedang berencana buruk pada Keponakannya sendiri demi menguasai harta Hana yang diwariskan dari kedua orang tuanya? Sahkan jika kelicikan mereka aku bungkam? Mulut berbisa dan topeng domba mereka aku sibak dengan merenggut nyawa? Hana, aku harap kau memaklumi perbuatanku ini.

@@@

Pintu kayu Oak terbuka kasar. Decitannya menghentakkan jantungku. Namun yang membuatku rongga dadaku lebih terpacu takut adalah tatapan matanya yang terbelalak melotot, terkejut dan terpaku. Tubuh rapuh mungilnya berdiri mematung. Untuk sesaat nyawa gadis manis ini seolah melesat lepas seiring dengan ketidakpercayaannya pada penglihatannya sendiri.

“Paman… Bibi…” Bibirnya yang bergetar, terucap lemah. Sesaat setelahnya kulihat dia ambruk, bersimpuh lalu lelehan airmata mengalir membanjiri wajahnya.

Aku tak suka melihat tatapan sedih yang baru pertama kali ini dia pancarkan. Aku harus menjelaskan semuanya. Orang yang dia jadikan pengganti orang tuanya, ternyata begitu jahat. Serigala berbulu domba yang pantas kubunuh karena mereka sudah pernah mencoba merenggut nyawa Hana namun gagal dan sesaat sebelum ku pergoki, mereka sedang merencanakan hal buruk lain untuk Hana. Ayolah Hana, jangan menangisi sampah. Airmatamu terlalu berharga.

“Hana mereka—” Ucapanku terhenti. Tenggorokanku mandul berkata-kata karena tatapan matanya yang sarat akan rasa takut memandangku seolah aku ini makhluk mengerikan. Diapun terseok-seok, beringsut menjauh ketika kudekati. Uluran tanganku dia hindari.

“Ja-jangan men-mendekat! Jangan bu-bunuh ak-ku!” Nafasnya menderu namun terhembus kelelahan emosi disana. Ketakutannya ketika menatapku membuat hatiku ngilu. Rasanya sungguh perih dan tak tertahankan.

Aku masih berusaha melangkah mendekatinya. Kujulurkan tanganku, memaksakan senyuman terpoles di wajah pucatku. Berusaha menentramkan hatinya yang terpenjara oleh keterpurukan.

“—mereka ingin,”

“Pergi! KAU MONSTER!” Teriaknya histeris.

Monster? Rasanya begitu sakit ketika umpatan itu terucap dari bibir plum mungilnya. Aku sudah terbiasa dikatai monster, iblis dan segala sebutan makhluk-makhluk biadab didunia oleh korbanku sebelum mereka kucabik oleh kuku tajamku dan meregang nyawa menjadi sebuah kudapan. Sejak sebelum dia memeluk hatiku dengan kehangatan lalu mematrinya dengan perasaan yang manusia sebut ‘cinta’. Namun entah mengapa lontaran dari mulutnyalah yang membuat perasaanku terluka. Rasanya seperti godam yang membentur jantungku. Membuatku kalah telak dan membisu.

Hana, apalah arti sumpahku untuk melindungimu jika diriku sendiri merupakan ancaman bagimu.

Andrew’s PoV. end

@@@

Author PoV.

Sosok berjubah hitam bertudung layaknya malaikat pencabut nyawa yang berpatroli terlihat melangkah dan meloncat-loncat ringan dari satu genting ke genting gedung yang lain. Terus saja menapaki tiap atap dan meniti beberapa utas kabel listrik tanpa oleng. Seolah gaya gravitasi tak berlaku baginya.

Langkahnya terhenti ketika dirinya sampai pada sebuah puncak menara yang dipucuknya telah berdiri penangkal petir yang menatang langit. Dia berdiri menghadap rembulan. Matanya tak terlihat, tertutupi oleh tudung yang kebesaran. Namun wajahnya tersirat kesedihan dan rasa penyesalan yang amat sangat dalam. Tanpa dia sadari, lelehan air asin mendarat hingga dipipinya terus turun menapak ditelapak tangannya.

“Hanya kau yang bisa membuatku menangis.” Kepalanya tertunduk, menyorot genangan kecil airmata ditelapak tangannya. Airmata bening itu bercampur dengan darah kering, dari luka goresan ditangan yang tercampur darah manusia dari sisa korban bunuhannya.

“Luka goresan ini bukanlah hal utama yang membuatku menangis. Namun sakit dari dalam ini, yang entah dibagian mana membuatku merasakan sesak yang amat sangat. Rasanya aneh dan menyiksa… Hana! Seiring berjalannya waktu, jika kita bertemu lagi. Apakah sorot mata ketakutanmu akan menghilang? Apakah senyum ceria lucumu bisa kembali? Akan kutunggu dirimu pulih dari trauma kenangan buruk. Dan jika saat itu tiba, aku akan mendekat lagi padamu. Akan kujelaskan semua peristiwa ini. Mereka yang jahat, bukan aku.” Batin yang membuncah kembali mengucapkan sumpah dengan disaksikan oleh bulan purnama seperti ketika dirinya mendeklarasikan sumpah untuk selalu bersama Hana dan melindunginya dari hal apapun beberapa bulan lalu.

@@@

Flashback…

Andrew PoV.

“TOLONGGG… BERHENTI!!!” Teriakan histeris membahana memecah kesunyian malam.

Terlihat dikejauhan sana kuda berlari sangat kencang sambil menggeret kereta yang sudah terpontang-panting tak karuan yang diakibatkan roda kayunya menerjang jalanan terjal berbatu-batu. Untung saja manusia yang meronta ketakutan didalam sana tak terpental keluar. Hanya terombang-ambing layaknya naik perahu saat badai.

“Santapan lezat…” Gumamku lirih seraya mengusap-usap perutku yang lapar.

Kubasahi bibirku dengan jilatan lidahku, nafsuku merayap naik. Aku tak sabar untuk menelan daging lembut gadis muda karena jarang sekali ada orang yang melintasi hutan ini sehingga aku tak dapat memilih manusia macam apa yang bisa dimakan. Menemukan manusia lewat saja aku sudah kegirangan…

“Saatnya berburu.” Kugumamkan kata-kata penyemangat. Akupun mulai melesat, melompat ke tiap-tiap dahan pohon. Mencoba menyamai gerak laju kuda hitam dibawah sana.

Hemm… Menarik. Kuda pacu yang berlari garang itu membuat adrenalinku meningkat. Kunikmati sensasi rasa sulit mendapatkan buruan lezat. Yah, kesulitannya pasti sepadan dengan hasilnya kelak. Dagingnya yang kenyal dan teksturnya yang lembut, tulang yang masih muda dengan kerenyahan yang gurih ketika kukunyah dan darah pekat segar dari seorang gadis kecil yang belum tercemar racun dunia. Sangat nikmat… Itu pasti!

Andrew PoV. End

@@@

Author PoV.

“KYAAA!!!” Lengkingan yang tinggi melucur dari seorang gadis belasan tahun yang melongokkan kepalanya keluar jendela kereta sambil tangannya terulur mengais-ngais angin.

Kuda hitam yang berlari kesetanan sudah mencapai ujung daratan. Namun tetap saja meneruskan langkah cepatnya hingga kereta yang ditariknya terjun bebas bersama kejurang yang dalam. Tebing tandus dengan ujung terendahnya hanya terdapat sungai dengan aliran deras yang siap menelan apapun yang terjatuh kepadanya.

“DAPAT!” Teriakan kegirangan meluncur dari sosok yang sejak tadi mengejar kereta. Tangannya mampu mencapai buruannya sebelum buruan itu ikut jatuh terpelanting bersama kereta beserta kudanya dilahap derasnya sungai yang berada beberapa puluh meter dibawah sana.

Gadis ini mendongak, memandangi sosok yang menyeringai dengan sorot mata lapar. Anehnya dia tak merasakan takut seperti perasaan yang baru saja menyerangnya tadi. Akan tetapi kelegaan menelisik hatinya. Seringai gelap dia pandang seolah itu adalah senyuman lembut seorang manusia.

Perlahan kelegaannya menghasilkan rasa yang teramat kantuk. Matanya semakin tertutup perlahan dan akhirnya benar-benar kehilangan kesadaran sebelum sosok Pria bertudung ini berhasil menarik tubuhnya hingga sampai ditepi jurang.

Author PoV. End

Flashback end…


@@@

Andrew PoV.

“Terima kasih… Kau sangat baik.”

Suara Hana terngiang kembali. Suara merdu gadis kecil yang selama sekian tahun membuatku bersabar menunggu ini selalu terdengar di otakku ketika bulan dilangit membentuk bulatan sempurna.

“Aku Hana Einsenheim dan aku berhutang nyawa padamu. Mau aku bayar dengan sebuah pertemanan?”

Kupejamkan mataku dan sontak wajahnya yang tersenyum bahagia muncul. Kenangan awal pertemuan dengan Hana yang kucinta dan akan segera kutemukan masih melekat kuat di memoriku. Pelukan yang hangat dan spontan ketika dia tersadar dari pingsannya setelah kutarik dari pinggiran tebing masih terasa hingga kini. Genggaman tangannya yang erat ketika dia memperkenalkan diri dengan bahasa tubuh yang begitu bersemangat berhasil membuatku melongo waktu itu. Tak ada pancaran kecurigaan dari matanya yang berbinar cerah. Bahkan rasa takut padaku tak pernah terlintas di ekspresi lugunya. Dia menganggapku sebagai penyelamat padahal nyatanya aku ingin memakannya. Tanpa segan dia bercerita tentang dirinya sambil berjalan kesana kemari dengan riang sepanjang malam. Berceloteh dari A sampai Z tanpa memberiku kesempatan untuk melanjutkan niatku memangsanya. Bersama dirinya membuat hidup sunyiku berubah ramai dalam hitungan jam. Meski dia baru mengenalku namun tanpa ragu serta segan dia mengajakku pulang bersamanya—lebih tepatnya memintaku mengantarnya pulang. Memberiku tempat tinggal yang harusnya tak lazim untuk kusinggahi karena aku ini Andrew, Si Setan gunung pemangsa manusia.

“Sejak saat itu aku mengerti, ternyata di dunia ada juga rasa yang seperti ini. Inilah rasanya ‘cinta’ yang sering diagungkan oleh MANUSIA. Jika berpisah dengan orang yang dicintai akan terasa sangat sepi dan kehilangan. Padahal sudah sekian lama aku sendirian namun baru kali ini kurasakan kesepian serta kerinduan setelah aku mengenalnya. Rasanya benar-benar menyakitkan. HANA!!! Aku hanya ingin bersamamu! Mustahilkah itu?”

Andrew PoV. End

@@@

Author PoV.

“Andrew atau yang dulu sering dipanggil Setan Gunung sepertinya berada disekitar London, Lady. Apa yang harus kami lakukan?” Tanya sosok Pria berjas hitam dan berkemeja putih berdasi kepada sosok Wanita yang tengah menatap langit malam diluar jendela ruangannya.

“Apa kau yakin itu Andrew? Bukan pembunuh gila yang menyebut dirinya Jack The Ripper?” tanyanya singkat namun sarat akan ketegasan dari suaranya. Matanya tak beralih dari pancaran bulan yang menggantung sempurna dilangit malam.

“Saya yakin. Terlihat dari ciri korban yang mempunyai robekan menganga yang disebabkan oleh cabikan bukan sayatan layaknya cabikan hewan buas namun lebih brutal karena tubuh korban ada yang hilang. Mungkin disantap oleh Andrew. Selain itu ada saksi yang mengatakan melihat sosok berjubah hitam dengan tudung yang menutupi kepala berlarian di atap-atap rumah.” Terangnya mantap dan meyakinkan.

“Hmmm… Great job Jordan. Kerahkan seluruh Timmu untuk menangkap Andrew.” Wanita ini berbalik arah. Menatap Pria didepannya intens, mengalirkan kewibawaan dalam memerintah sehingga membuat aura seorang pemimpin ambisius terpancar lekat di wujudnya yang bersahaja.

Pria inipun melangkah pergi setelah sebelumnya menunduk memberi hormat.

“Aku tak akan tidur dengan nyenyak sebelum berhasil membunuhmu Andrew. Karena kau, setiap aku memejamkan mata yang kulihat hanyalah darah dan mayat terkapar. Jika seperti ini jadinya lebih baik aku tak usah kau selamatkan.” Bisiknya penuh dendam. Tangannya mengepal kuat, menyalurkan segenap emosi amarah yang sudah lama tertahan.

Kembali terngiang kejadian pembantaian beberapa tahun lalu ketika dirinya masih seorang gadis kecil yang lugu. Kedua orang yang sangat dia sayangi dan dia anggap orang tuanya sendiri mati mengenaskan didepannya. Dan hal yang membuatnya lebih shock, sang Pembunuh adalah penyelamatnya. Orang—setidaknya dulu dia berpikir begitu—baik hati yang dia sayangi karena sudah mengisi hari-hari yang semula dipenuhi kesendirian tanpa adanya sosok teman menjadi hari-hari penuh gelak tawa. Andrew, monster yang belakangan—setelah kejadian itu—baru dia ketahui bukan manusia namun sosok kejam yang bermukim di gunung yang letaknya tak jauh darinya bermukim dulu. Adalah makhluk yang banyak menjadi buah bibir dan momok menakutkan yang membuat Penduduk disekitar gunung tak mau melintas kesana disaat hari sudah gelap.

“Tapi, kenapa kau bisa sampai ke London? Kenapa kau meninggalkan Hampshire tempat asalmu, desa kelahiranku?” Terlontar pertanyaan yang tiba-tiba melintas di benaknya. “Ck~ Itu bukan urusanku!” Kepalanya menggeleng penuh penolakan.

Author PoV. End

@@@

Andrew PoV.

Hana, dimana kau? Aku berlarian mengelilingi kota dan gedung-gedung tinggi tapi tak juga kutemukan kau. Apa wujudmu sangat berubah sejak terakhir kita bertemu. Kerinduanku terus menggerogoti dan membuat perasaanku tersiksa.

Hana, ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu. Ini buatanku sendiri. Karya pertama dalam hidupku yang panjang. Bukankah kau yang menyuruhku untuk membuat ini? Kau bilang aku terampil saat membuatnya. Mata berbinarmu yang penuh kekaguman ketika memandangi hasil karyaku membuatku untuk pertama kalinya mempunyai tujuan hidup. Tak hanya sekedar mencari mangsa didalam hutan dan melompat-lompat tak tentu arah. Namun kutemukan keinginan yang menggebu untuk dapat meuwujudkan apa yang kita sebut cita-cita. Kitapun memimpikan membangun toko kecil di Hampshire. Menjual benda-benda hasil karya kita. Itu adalah saat pertama aku mengenal apa itu impian, cita-cita dan tujuan hidup. Kau sederhana namun kehadiranmu membuat perasaanku menjadi kompleks.

Aku menoleh kilat. Kupingku yang tajam menangkap sebuah, bukan! Beberapa pergerakan. Mereka, sekitar 5-7 orang. Mengendap-ngendap mendekatiku. Sepertinya mereka mau menangkapku. Siapa mereka?

Sebuah tembakan berhasil kuhindari dengan gesit. Membuat si penembak mengumpat. Serangan bertubi-tubi dari arah lain juga menyerangku. Jangan harap akan mengenaiku. Kalian terlalu cepat jutaan tahun untuk mengalahkanku.

“Shit! Monster itu ternyata lebih hebat dari yang dijelaskan Lady Eisenheim.” Puluhan meter dariku, dipuncak gedung sana kudengar suara umpatan kesal.

Tapi… Eisenheim dia bilang? Hana Eisenheim kah? Sontak aku menapaki atap gedung ini cepat. Melesat, melompat menuju gedung sebelah yang menjulang lebih tinggi dibandingkan dimana aku berpijak ditempat si Pengumpat itu berada. Serangan tembakan bahkan anak panah yang langsung meledak ketika menancam pada sasaran masih dengan mudah mampu kuhindari.

Sedikit lagi aku sampai. Kulayangkan kakiku yang cukup panjang, mencoba mencapai jendela terbuka dengan si Pengumpat didalamnya. Dia terkejut hingga Senapan yang dia pegang jatuh. Langsung kulancarkan tendangan ke arahnya yang telak mengenai mukanya hingga membuatnya tersungkur.

“Hana kah yang kau maksud?!” tanyaku sambil mencengkeram lehernya dan dengan ringan kuangkat tubuhnya yang terpojok di tembok hingga kakinya tak menapak lantai. Dia tercekik dan tubuhnya meronta minta dilepaskan.

“Ekh-lep-pass!” Dia berucap kesusahan. Tapi belum sempat dia menjawab, sebuah anak panah berbahan peledak melesat masuk menuju keruangan dimana kami berada. Sontak aku langsung menghempaskan Pria berjas hitam itu lalu memukul tembok hingga jebol dan bersembunyi di sisi tembok lain. Meledaklah ruangan dimana sumber informasiku ikut terpanggang. Sial! Mereka menyusahkan. Kalau begini mau tak mau aku harus mengalahkan dan menangkap salah satu dari mereka.

Andrew PoV. End

@@@

Author PoV.

“Meledak? Dan satu anak buahmu mati? Tapi apa Andrew juga ikut meledak didalamnya?”

“Belum saya pastikan Lady kare—” Sambungan telponnya terputus. Wanita ini membelalak kaget sesaat selanjutnya seluruh benda-benda yang tergeletak dimejanya berserakan dilantai. Dia menggebrak meja penuh amarah karena merasa misinya gagal.

Menit demi menit berlalu dalam ketidakpastian. Pikirannya gelisah. Kakinya berjalan hilik mudik menunggu informasi selanjutnya. Akan tetapi tak juga ada suara dering telepon lagi dari bawahannya. ‘Matikah mereka semua?’ Batinnya bertanya-tanya, kecemasan melanda membuat kepalanya pening.

Suara pintu terbuka dengan kasar membuatnya terlonjak kaget. Matanya spontan menatap kearah pintu yang sukses rusak, lepas dari engselnya.

“KAU?!” Dengan suara tertahan Wanita ini memekik kaget. Menatap dengan sinar mata penuh dendam sekaligus ketakutan. Kejadian berdarah itu kembali muncul menghantuinya ketika dilihatnya makhluk didepannya tersenyum kepadanya. Kini berbalik efek. Senyum cerah penuh kegembiraan, dimatanya hanyalah sebuah seringai menakutkan.

“Hana! Kau benar-benar Hana kan?” Sosok yang baru memasuki ruang kerja Hana langsung menghambur kearahnya. Tangannya merentang. Siap untuk memeluk Wanita yang sudah lama amat dia rindukan.

‘DORRR!’ Letusan senapan membuat senyuman di wajah Andrew memudar tergatukan dengan keterkejutannya.

Tak jauh berbeda dengan raut muka Hana. Ditangannya sudah mengacung sebuah pistol yang tadi sempat dia raih diam-diam dari dalam laci mejanya. Wajahnya sangat tegang ketika pelatuk pistol itu dia tekan.

“Mati kau Andrew! Itu balasan karena kau sudah membunuh Paman dan Bibiku dengan kejam!” Pekiknya penuh emosi masih dengan tangan mengacung ke arah Andrew yang belum roboh meski dadanya sudah tertembus peluru.

“Ternyata kau masih membenciku Hana.” Ucapnya lirih disela-sela kernyitan kesakitan. Kakinya melangkah lagi perlahan, tangannya terulur ingin disambut oleh Hana.

‘DORRR! DORRR! DORRR!’
“Kenapa kau tak mati-mati juga hah?!” Hana berteriak frustasi. Langkahnya semakin mundur seiring dengan Andrew yang berusaha mendekat.

“Hana, mereka ingin mencelakaimu. Aku mendengar langsung tanpa sengaja ketika malam itu aku melintas di kamar mereka. Mereka jugalah yang membuatmu hampir mati tercebur ke jurang. Aku hanya—” Ucapannya terputus disaat kakinya yang tertembus peluru tak mampu lagi menopang tubuhnya. Darahnya deras mengalir. Nafasnya tersengal-sengal. Jantungnya berdetak melemah.

Hana berjalan mendekat dengan perasaan gamang. Sambil berusaha memutar ulang kenangan masa lalunya dan mencari realita disana, tangannya masih sigap berjaga-jaga jika sewaktu-waktu andrew menyerangnya dia dapat dengan mudah menembakkan pelurunya yang masih tersisa 2.

Beribu pertanyaan kembali bersarang di kepalanya. Dan pertanyaan-pertanyaan itu berujung pada satu jawaban yakni, ucapan Andrew patut dipercaya. Nyatanya Andrew tak melawannya. Seharusnya dia menghindari utusan Pembasmiku dengan tetap berada di hutan dekat Hampshire namun dia malah mendekat kedalam bahaya demi untuk menemuiku yang sudah bersiap diri melakukan aksi balas dendam dengan membentuk organisasi rahasia yang dikhususkan untuk membasmi makhluk-makhluk berbahaya sepertinya.

“Hana dimanakah kau yang dulu… Tersenyumlah, aku mohon. Aku merindukan gadis polos yang ceria itu.” Andrew berhenti sejenak, mengatur nafasnya yang terputus-putus. Tubuh lemahnya terkapar tak dapat bergerak. “Maaf, memang tak seharusnya aku membunuh Paman dan Bibimu tapi, akh! tapi aku hanya ingin melindungimu.” Andrew memasukkan tangan kanannya kedalam balik jubahnya.

Hana masih berdiri kaku menatap nanar Andrew yang tergeletak tak berdaya. Lamat-lamat setetes airmata meluncur perlahan dari ujung kelopak matanya. Pistol yang terus dia pegang terbating dilantai.

“Kau ingat ini?” Dengan tangan yang berlumuran darah, Andrew membuka telapak tangannya. Diulurkannya benda yang dia pegang itu kepada Hana.

“Bo-boneka itu—”

“Kayu yang kuukir dari kuku-kuku tajamku. Miniaturmu…”
“Miniaturku.” Ucap Hana bersamaan. Airmatanya yang tadinya hanya setetes semakin banyak berjatuhan. Tangisannya pecah seketika. Digapainya tubuh Andrew yang nyawanya tinggal menghitung menit. Dipangkunya kepala Andrew dan dipeluknya penuh penyesalan tubuh Andrew yang bersimbah darah hitam.

“Ak-ku mencintai—” Pernyataan yang sekian lama ingin dia ucapkan tak berlanjut. Nyawanya sudah lepas dari raganya. Tubuhnya lunglai, menjadi mayat. Meninggalkan Hana yang makin menangis histeris melihat Andrew sudah tak bernyawa lagi. Tubuh yang mendingin ini terus-terusan dia peluk. Dia ciumi dan dia tangisi hingga sinar Matahari terbit dan cahayanya memasuki ruangan dimana dia berada. Hingga banyak orang berkerumun memasuki ruangannya dan memaksa dirinya melepaskan pelukannya dari makhluk yang dia sayangi. Meski sosok Andrew sudah menghilang dari pandangan, Andrew tetap meraung dan meraung, meratapi nasib hidupnya yang terlampau menyakitkan.

==============================

Secuplik masa lalu Andrew & Hana…

“Hei, kenapa kau menyeret-nyeret batang pohon itu? Tubuhmu terlalu kecil untuk membawa benda sebesar itu.” Sosok yang tak pernah mau melepaskan jubah hitam bertudungnya berucap sinis pada gadis bercelana monyet yang sedang kesusahan menyeret kayu.

“Ini untukmu. Daripada nanti kau diusir Paman dan Bibi karena selalu merusak barang-barang lebih baik isi waktumu untuk membuat sesuatu.” Ujar Gadis ini. Senyuman manis tersungging dibibirnya. Senyuman yang akhir-akhir ini membuat Sosok bertudung itu kecanduan, tak dapat lepas dari pesonanya.

‘Seandainya kau tahu, bahwa aku bukanlah manusia sama sepertimu. Kau pasti—’

“Ayo cepat. Buatlah sesuatu. Kukumu kan nyaris setajam pisau.” Suara sang gadis menghentikan benaknya yang sudah sibuk berandai-andai.

Di tatapnya gadis manis yang baru saja duduk di rerumputan taman belakang rumah yang hampir menyamai kastil. Selanjutnya senyuman terukir diwajahnya disaat ide brilliant melesat masuk ke otaknya. “Oke! Akan kubuatkan sesuatu untukmu.”
~
~
~
~
Beberapa saat setelahnya…

“Ini apa?”

“Ini miniaturmu.”

“Aku?”

“Ya! Kenapa?”

“Tidak mirip! Buat lagi yang bagus!” Diserahkannya lagi benda yang sudah dibuat dengan susah payah itu dengan wajah ketidakpuasan. “berkali-kali membuat pasti karyamu semakin bagus. Lalu kalau miniaturku sudah jadi harus kau berikan padaku ya?” Ujarnya memberi semangat.

“Baik.”

“Selama kau memahat, akulah pengkritikmu. Jadi kau tak boleh jauh dariku. Kau maukan terus bersamaku?” Gadis berkepang dua ini mengacungkan kelingkingnya ke arah Sosok bertudung, seraya mengulas senyum ceria.

Sosk bertudung terdiam sejenak. Memandangi kelingking Hana bingung. “Hm. Aku mau.” Ucapnya kemudian lalu kelingkingnya dia kaitkan dan mereka tertawa bersama sambil merebahkan diri direrumputan menunggu senja berganti malam dan bulan muncul menyorot bumi.
~
~
~
~
Hutan kecil di pegunungan dekat Hampshire, setelah kejadian pembunuhan Paman dan Bibi Hana…

“Aku akan terus memahat boneka kayu yang sama sepertimu. Jika aku berhasil membuat miniaturmu dengan bagus, barulah aku akan menemuimu. Meluruskan semua kesalahpahaman ini dan kita pasti akan bersama lagi. Karena aku sangat mencintaimu Hana…” Guman Sosok yang kini tengah duduk didahan pohon Oak sambil punggungnya bersandar pada batang pohon itu. Kepalanya mendongak menatap bulan lekat.

Puas dirinya menatap rembulan dan menggumamkan janji, tangannya kembali berkutat pada kayu yang kini akan menjadi bahan untuk membuat suatu karya. Dibawah sana sudah tergeletak banyak sekali kayu-kayu berserakan dengan beragam bentuk. Karya-karya buatannya yang dianggap gagal.

¬-END¬¬