Minggu, 11 Maret 2012

[Oneshoot] Selamat Natal Selamat Tinggal



Author : Hana Pratiwi

Genre : Drama

Cast : Yesung & Lee Hyori



Huwe… Aku nggak nyangka bisa nemu ide cerita ini… Ini emang bukan FF pertamaku tapi ini adalah FF oneshoot pertama. Jadi kalau terlalu simple ceritanya harap maklum. Ternyata bikin cerita simple lebih susah ketimbang bikin cerita ribet bin jlimet. Soalnya isi otakku ini udah kayak benang ruwet. Btw… FF ini udah ku revisi jadi yang sudah baca di SJFF, mian disitu banyak kesalahan pengetikan Habis begitu dapet ide langsung ngetiknya ngebut sih. Maksudnya biar idenya nggak keburu lupa eh, malah jadinya banyak salah ketik kata-kata.

Eniwei… Selamat membaca… Aku menerima kok kritik dan saran yang membangun tapi jangan pedes-pedes yah? AKu nggak doyan sambel. (?)



@@@



Ini sudah malam natal, tapi rasanya sukacita menyambut natal tidak kurasakan seperti ditahun-tahun sebelumnya. Rumahku sepi, semua orang pergi dengan kesibukan masing-masing. Yang paling membuatku sedih adalah dia, Si penghuni rumah yang berada tepat disebelahku. Dia sedang sibuk bekerja karena bosnya yang tak tahu aturan itu terus menyuruhnya bekerja tanpa henti meskipun ini malam natal.

Akupun berjalan kebalkon kamarku sambil menatap balkon diseberang sana tempat Yesung-oppa tinggal. Teringat saat-saat kami sering ngobrol disini, saling memandang dan menguntit gerak gerik masing-masing disini pula. Hah… Aku tak sanggup melihat kamar sepi dan gelap itu sekarang. Akupun berbalik dan hendak kembali kedalam kamarku.



“Selamat malam natal Chagi…”

Ucapan lembut yang dikeluarkan oleh seorang namja diseberang sana membuatku terperangah. Otomatis aku berbalik dan melihat kearah balkon yang berada diseberang. Aku sangat terkejut karena tiba-tiba saja dia terlihat ada di balik Jendela diseberang balkon kamarku. Yesung-oppa mulai berjalan keluar ke balkon seraya tersenyum manis padaku.

“Selamat malam natal Yesung-oppa. Kenapa kau tiba-tiba ada disitu? Sejak kapan?” Tanyaku ingin tahu. Aku sungguh-sungguh penasaran. Karena baru tadi kulihat kamarnya gelap gulita dan kini menjadi terang benderang.

“Sejak tadi.” Sahutnya seraya tersenyum simpul. Senyumnya sungguh menggetarkan hatiku.

“Bukankah kau sekarang seharusnya ada Seoul oppa?”

“Aku kembali khusus untukmu Chagi. Aku tidak ingin kau merayakan natal ini sendirian tanpaku. Kesini! Ada hadiah untukmu.”



Ajakannya itu membuatku bahagia sekaligus langsung lari kalang kabut. Aku dengan langkah yang terburu-buru berlari menuju gedung sebelah, tempat Yesung-oppa tinggal. Aku benar-benar ingin cepat bertemu dengannya. Rasa rinduku begitu besar. Kalau sudah sampai disana, aku akan mengutarakan perasaanku padanya. Kami sudah menjalin hubungan dekat selama 8 bulan sejak dia tinggal diseberang rumahku kurang lebih setahun lalu. Tapi sayangnya aku belum pernah mengutarakan isi hatiku yang sebenarnya. Bibirku terasa kelu setiap aku ingin bicara ‘Saranghae’. Kenapa aku sepenakut itu sih?!



Aku sudah sampai didepan rumahnya dan bermaksud untuk menekan bel. Tapi terlebih dulu aku mematut diriku didepan kaca yang ada dipintu rumahnya. Kurapikan rambutku yang terlihat sedikit acak-acakan. Setelah dirasa sudah penampilanku sudah sipa untuk bertemu dengannya akupun mulai menekan bel dengan wajah sumringah.

“Oppa!” Panggilku sambil memencet-mencet bel tak sabar.

Kenapa tak dibuka juga? Ayolah! Kau mau membuatku mati menahan rindu?

“Oppa!” Panggilku sekali lagi sambil terus memencet bel rumahnya. Tak juga ada tanda-tanda pintu ini akan dibukakan.

Aku jadi jengkel sendiri. Tadi siapa yang menyuruhku kemari? Kenapa sekarang tidak dibukakan pintu? Yesung-oppa! Kau mau mempermainkanku ya?!

Akupun kembali kerumah dengan hati dongkol. Rumahnya benar-benar terlihat gelap gulita. Seperti tak ada tanda-tanda kehidupan didalamnya. Akupun sekarang berada dihalaman rumahku. Kulirik kamarnya dari sini. Kamarnya kenapa jadi gelap sekarang? Tadi tidak tuh?! Dimana orang aneh itu?



@@@



“Ya? Dengan siapa ini?” Tanyaku ketika aku menerima telpon dari nomor asing.

“Apa?! Ti-tidak mungkin! Tidak mungkin!!! Yesung-oppa… Tidak mungkin!”

Tanganku mendadak lemas. Ponselku terjatuh dilantai dan aku yang sekarang hendak menaiki tangga untuk kembali kekamar langsung berbalik arah. Kembali ke rumah Yesung-oppa disebelah. Sesampainya disana, kuketuk-ketuk pintunya sekuat tenaga. Ketika tanganku sudah mulai sakit kupencet-pecet bel secara membabi buta. Tapi Yesung-oppa tak kunjung membuka pintu. Jangan-jangan yang dikatakan perawat di telpon tadi benar! Yesung-oppa sudah… Tidak mungkin! Aku tadi melihatnya ada diseberang kamarku. Wajahnya nyata! Aku tidak bermimpi. Dia tadi ada dikamarnya mengucapkan selamat malam natal padaku. Lalu bagaimana bisa dia ada dirumah sakit dan…



@@@



“Oppa!!!”

Aku menangis histeris disamping peti mati. Memandanginya dengan airmata yang mengalir deras. Aku masih tak percaya dengan apa yang kulihat sekarang. Yesung-oppa terbujur kaku didalam peti. Wajahnya diam, begitu pucat dan matanya tertutup rapat. Mana senyumnya yang selama ini selalu kulihat?

“Hyori… Tenanglah!” Sahabatku Mika merangkulku dan menyuruhku untuk duduk dan menenangkan diri namun aku tetap saja tak menghiraukannya. Terus kupegang pinggiran peti itu dengan suara tangisan yang semakin pilu. Aku ingin terus menatap wajahnya. Aku tidak rela kehilangan dia. Aku belum mengatakan padanya bahwa aku juga mencintainya.

“Oppa!!! Bangun!” Teriakku histeris.

Sekarang ibukulah yang menghampiriku dan menyuruhku untuk tenang sambil memelukku. Dia memapahku dan sedikit memaksaku untuk menjauh dari peti itu karena peti itu akan ditutup.



Ketika pemakaman sudah selesai. Rasanya hatiku masih begitu berat untuk melepasnya pergi. Aku masih terus setia duduk disamping pusaranya, tak mau beranjak pergi. Kupandangi Ibu Yesung-oppa yang juga duduk tepat didepanku. Diapun menangis sedih sepertiku. Dia yang hanya punya satu-satunya putra, kini harus mulai hidup sendiri. Kuhampiri ibu Yesung lalu kamipun saling berpelukan dan menangis bersama dikubur Yesung-oppa yang semakin lama semakin sepi orang.



@@@

Flashback…



Aku sangat bahagia ketika Bu Direktur mengijinkanku pulang lebih awal. Ini malam natal dan aku harus segera pulang merayakannya dengan orang yang paling spesial di hatiku. Lee Hyori, pasti kau mengharapkanku datangkan? Aku akan membuat kejutan untukmu.

“Hyori-ah, pasti kini kau lagi manyun sendirian karena mengira aku tidak pulang. Hahaha... Seperti apa ya wajahnya saat melihatku pulang?” Gumamku sambil mengendarai mobilku dengan laju yang makin kencang.



Ketika aku melihat toko bunga tak jauh didepanku akupun menepi untuk membeli beberapa tangkai Chrissant untuknya. Hyori sangat suka bunga Chrissant, padahal menurutku mawar jauh lebih cantik dan harum daripada bunga itu.

“Trimakasih pemuda tampan.” Kata nenek penjual bunga.

Aku tersenyum padanya seraya menerima sebucket Chrissant, setelah itu keluar dari toko menuju mobilku yang terparkir didepan toko.



“Hei! Apa yang kalian lakukan pada mobilku!” Hardikku ketika melihat 3 orang laki-laki sedang mencongkel-congkel pintu mobilku dan berusaha membukanya dengan paksa.

Mendengar suaraku mereka bukannya kabur tapi malah menghujaniku dengan tatapan tajam. Merekapun berhenti melakukan aktifitas negatifnya itu dan berjalan kearahku. Kini mereka mengepungku.

“Itu mobilmu ya? Bagus sekali. Apa boleh untukku?” Tanya salah seorang pria yang tengah membawa besi mirip linggis itu sambil menyeringai.

Mendadak aku merasakan hal buruk akan terjadi padaku. Aku menengok kanan kiri. Tempat ini sungguh sepi tak ada orang lain selain mereka bertiga dan aku. Aku harus bagaimana?

“Ap-apa mau kalian?” Tanyaku agak-agak takut.

“Kan sudah kubilang mobil.”

“Ak-aku akan memberi kalian uang tapi tolong pergilah.”

“Mana uangmu!”

Kukeluarkan dompetku dari saku celanaku. Belum sempat kuberikan salah seorang dari mereka langsung merampasnya.

“Tunggu! Ada yang mau aku ambil.”

“Ah, tidak perlu!”

“Aku mohon kembalikan cincin yang ada dalam dompet.” Pintaku.

“Cincin ini ya? Kayaknya mahal nih!” Ucap salah seorang pria seraya membawa cicin itu dan memamerkannya didepanku.

“Kembalikan!” Aku menghampirinya dan berusaha merebut cincin itu dari tangannya.

“Tidak akan! Dong So! Ambil kunci mobilnya, geledah dia kalau-kalau masih ada uang disaku pakaiannya.”

“Tidak! Jangan! Kalau kau ambil bagaimana aku pulang?”

“Aish! Itu bukan urusanku!” Ucap pria yang dipanggil Dong So itu dan menggeledahku. 2 orang lainnya memegang lenganku sehingga aku tak bisa berontak.

“Kalau begitu kembalikan cincinku. Hanya cincinku saja!” Aku mencoba menawar lalu berusaha melepaskan diri dari mereka.

“Sialan kau berani melawan?”

“Buagh!" Laki-laki yang ada disebelah kananku memukul perutku. Aku meringis kesakitan. Tapi aku harus mengambil cincin yang akan kuberikan pada Hyori.

“Kembalikan! AKH!”

Rasa sakit yang tak terkira datang di kepalaku. Kepalaku berdenyut-denyut. Mataku seketika buram. Aku berdiri dengan sempoyongan. Kuraba kepala bagian belakang. Terasa basah, kupandangi telapak tanganku setelah itu sayup-sayup terlihat tanganku berwarna merah karena darah. Akhirnya aku limbung dan jatuh tersungkur. Kulihat semuanya gelap. Rasa sakit ini sangat...



Flashback end…



@@@



Sehari setelah pemakaman Yesung… Dirumah Hyori…



“Chagi, saranghae...”

Aku terperanjat ketika suara Yesung-oppa sayup-sayup terdengar.

“Oppa? Kaukah itu?”

“Chagi, neomu neomu saranghae...” Mendengar suaranya, airmataku kembali menetes.

Kuturuni ranjangku dan berjalan kebalkon mengikuti suara Yesung-oppa. Terlihatlah dia sekarang, di seberang sana tersenyum padaku. Kamarnya yang gelap, malah membuatku bisa melihatnya dengan jelas sambil terus menangis.

“Chagi, selamat natal dan selamat tinggal... Hiduplah dengan baik tanpa aku...” Setelah mengatakan hal itu kulihat Yesung-oppa perlahan menghilang.

“Oppa! Jangan pergi!” Teriakku sambil mengulurkan tanganku berharap dia dapat meraihnya. Aku tidak rela melihatnya menghilang.

“Oppa! Akh!” Aku terus mengulurkan tangan sekuat tenaga.

Tubuhku yang berusaha menjangkau balkon kamarnya malah jatuh dan mendarat mulus ditanah. Aku merasa pusing. Badanku sakit semua tapi langit malam diatas sana terlihat terang. Kuulurkan tanganku keatas supaya silaunya langit sedikit terhalang oleh tanganku tapi akhirnya aku pingsan atau mungkin mati...



@@@



Mataku terbuka pelan-pelan. Kurasakan tubuhku tak sakit lagi. Saat aku bisa melihat dengan jelas, kulihat Yesung-oppa duduk disampingku yang sedang terkapar. Wajahnya terlihat marah. Ekspresi yang tak pernah kulihat sebelumnya. Akupun bangun dan duduk disampingnya.

“Oppa? Kenapa kau marah?” Tanyaku sambil bersandar di bahunya.

Dia tak menjawab. Wajahnya begitu serius.

“Oppa! Ah! Aku dimana? Kenapa semua terlihat putih.”

Baru kusadari bahwa semuanya yang ada disekitarku berwarna putih termasuk Yesung-oppa yang berpakaian putih kecuali aku. Aku masih memakai baju yang kupakai saat aku terjun tadi.

“Apa aku sudah mati?” Tanyaku padanya saat kusadari mungkin sekarang aku sudah berada di alam baka.

“Kalau kau benar-benar mati, aku akan sangat marah padamu.” Jawabnya ketus. Lalu menatapku dan kedua tangannya mencengkeram bahuku.

“Chagi, aku ingin melihatmu hidup bahagia. Bukan berakhir seperti ini! Aku sangat mencintaimu karena itu hiduplah dengan baik. Maka aku disini akan melihatmu dengan bahagia pula.” Ucapnya seraya menatapku lekat-lekat.

“Tidak! Aku akan disini bersamamu oppa.” Tolakku dan langsung memeluknya erat-erat. Aku benar-benar tidak mau melepas pelukan itu sedetikpun.

“Apa kau tidak memikirkan orang tuamu dan orang-orang lain yang menyayangimu Chagi?” Oppa mendorongku dan membuatku harus melepaskan pelukanku.

“Tapi aku ingin bersamamu oppa! Apa kau sudah tidak mau bersamaku?” Tanyaku dengan perasaan tak rela. Mataku mulai berkaca-kaca.

“Pergilah kesana…” Yesung-oppa menunjuk sebuah pintu yang besar diujung sana. Lalu lanjutnya, “Kembalilah pada mereka. Dunia kita sudah sekarang berbeda Chagi. Aku memang ingin bersamamu tapi bukan dalam keadaan seperti ini. Kau masih bisa melanjutkan hidupmu. Pergilah.”

“Tapi…” Aku terdiam. Ada hal yang sangat ingin aku ucapkan padanya namun begitu sulit untuk kukeluarkan.

“Pergilah…” Yesung-oppa berdiri dan menarik tanganku. Memintaku untuk mengikutinya berdiri juga.

“Oppa… Cup!” Akupun langsung memeluknya dan menciumnya.

“Saranghae…” Ucapku lirih tepat ditelinganya setelah itu memandangnya yang masih berada dalam pelukanku. Rasanya sangat berat melepaskan pelukan ini. Namun harus kulepaskan. Akupun melepaskan tanganku yang melingkar di lehernya.

“Aku tahu kalau kau mencintaiku. Tanpa kau mengatakanpun aku tahu Chagi. Karena itu sejak dulu aku tidak pernah memintamu untuk mengatakannya. Terima kasih sudah mencintaku dan mengisi hidupku dengan kegembiraan Chagi. Selamat tinggal..” Yesung-oppa pun balik memelukku dan kamipun kembali berciuman.



Akupun berjalan perlahan dengan perasaan tak rela sambil terus menoleh kebelakang memandang Yesung-oppa yang terus melambaikan tangannya dan tersenyum. Perlahan namun pasti akupun sampai pada pintu besar itu dan memasukinya. Langit didepanku kembali silau. Sampai aku harus memejamkan mata.



@@@



“Oppa…” Ucapku lirih. Tubuhku rasanya sakit semua dan mataku terasa begitu berat untuk terbuka.

“Hyori-ah… Kau sudah sadar?! Pak! Anak kita sudah sadar.” Kudengar sayup-sayup suara ibuku. Kubuka mataku pelan-pelan. Ternyata memang ibu. Wajahnya terlihat gembira melihatku sadar kembali.

“Dimana aku?” Tanyaku. Karena sekelilingku masih berwarna putih dan tercium bau obat yang lumayan menyengat.

“Kau dirumah sakit Hyori-ah.” Jawab ibuku.

“Syukurlah kau sadar… Ibu sangat kawatir padamu Hyori!” Ibuku langsung memelukku dengan berurai airmata.

“Auw! Ibu sakit.” Aku meringis kesakitan karena pelukannya.



Melihat mereka, orang tuaku yang begitu mengkawatirkanku. Seketika aku sadar. Apa yang Yesung-oppa bilang padaku benar. Banyak orang yang akan sedih jika kehilangan aku sehingga aku tidak boleh berbuat egois dengan mengikuti egoku sendiri untuk meninggalkan mereka. Mereka pasti akan sangat bersedih seperti aku yang sangat bersedih dengan kepergian Yesung-oppa.

“Yesung-oppa, aku takkan melupakanmu dan kenangan kita. Sampai jumpa… Suatu hari nanti kita pasti akan bertemu lagi…” Batinku.

-END-

Seasons By Jin Akanshi




Kirei ni saita haru no hana
Boku no me ni wa so utsuranai
Kimi ga koko ni inainara
Kono sekai ni miru mono wanai nothing matters
So now I' m sitting in the dark
Missing your light that you brought to my life and it just ain' t fair
Kimi ni todoku you ni I swear

I'd rather have a rainy day with you than seein' sunshine alone
Or have a hundred days of winter with you in my arms
I' ll be your shelter from the storm just to have you by my side
Ima aerunara
Ima aerunara

Ima mo utsukushii kagayaki miru tabi ni
Kimi no hohoemi omoidasazu ni Irarenai
Kimi no kake-ra o atsume teshimau
Kasumu kioku no nakade wa aerunoni

I' d rather have a rainy day with you than seein' sunshine alone
Or have a hundred days of winter with you in my arms
I' ll be your shelter from the storm just to have you by my side
Ima aerunara
Ima aerunara

I need you back with me baby
So baby come back to me
So would you come back to me
You know ima my life without you kaketa ai no uta

Ima natta no imi o anata ni utau to shitara
Anata e to utau watashi no kotonoha wa
Dakishimeta kazu dake kizutsuite kudeshou

I' d rather have a rainy day with you than seein' sunshine alone
Or have a hundred days of winter with you in my arms
I' ll be your shelter from the storm just to have you by my side
Ima aerunara
Ima aerunara

English Translation

The spring flowers are born beautifully
But this image does not appear that way in my eyes
If you're not here
I see nothing in this world nothing matters
So now i'm sitting in the darkness
Missing the light that you brought to my life and it just ain't there
I'll catch you up.. I swear

I'd rather have a rainy day with you than see the sunshine alone
Or have a hundred days of winter with you here in my arms
I'll be your shelter from the storm just to have you by my side
If i could find you
If i could find you

Now every time i see a beautiful shine
I just remember her smile
I just picking up your pieces
I'll meet you in the midst of vague memories

I'd rather have a rainy day with you than see the sunshine alone
Or have a hundred days of winter with you here in my arms
I'll be your shelter from the storm just to have you by my side
If i could find you
If i could find you

I need you back to me baby (baby)
So baby come back to me
So would you come back to me
You know.... Now... My life without you a broken love song

If i sing a song with your meaning
My words sung to you
The amount of hugs will only hurt me more

I'd rather have a rainy day with you than see the sunshine alone
Or have a hundred days of winter with you here in my arms
I'll be your shelter from the storm just to have you by my side
If i could find you
If i could find you

Rabu, 09 November 2011

Pelayanan Tamborine (060411)

Pelayanan sebagai pengiring pengantin di Pernikahan Mbak Ririn dan Mas Adi



Perayaan Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia Tahun 2011















Lomba ini diadakan untuk merayakan HUT INDONESIA yang diselenggarakan sejak awal bulan Agustus dan mencapai puncaknya pada tanggal 16 Agustus 2011. Anak-anak PPA dari yang terkecil hingga yang pemuda mengikuti setiap lomba dengan antusias.

Pada tanggal 16 Agustus 2011 yang adalah acara puncak dari perayaan ini dihadiri oleh seluruh anak-anak PPA dan segenap pengurus dan pembimbing PPA. Acara diadakan dengan meriah. Setiap anak-anak PPA mempunyai kesempatan untuk mendapatkan DOORPRIZE.









Kebetulan, di hari perayaan Agustusan tahun ini. Salah satu orang tua asuh anak PPA kami datang ke Indonesia untuk mengunjungi anak. Mereka datang sekeluarga yaitu bapak Branco dan ibu Susan Merric serta ketiga anak-anaknya.

alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5673021997564399554" />

Jawa Timur Park










Minggu, 30 Oktober 2011

over the rainbow 4

BAB IV
Unacceptable


“Dirga, bangun! Makan dulu.” Aku mendengar suara ibuku namun aku tak berniat membuka mata karena mataku masih merasa lelah untuk terbuka lagi.
“Hm.. Aku nggak makan. Mau tidur aja.” Jawabku lirih.
“nggak boleh, kamu harus temenin ibu makan. Ibu udah capek-capek masak, masak nggak ada yang ngabisin. Besok kalau kayak gini lagi ibu nggak mau masakin lagi.”
Terpaksa aku bangun daripada harus mendengar ibuku mengomel terus, tetap saja tidurku nanti tidak akan tenang.
“Iya…Iya… Aku makan. Tapi aku nggak usah mandi ya?” Aku bangun dengan nyawa-nyawa yang masih belum terkumpul lengkap & wajah yang kusut. Berjalan menuju ruang makan disusul dengan ibu yang berjalan dibelakangku.
“Gimana? Masakan ibu enakkan? Kamu masih suka oseng-oseng kangkungkan? Tapi jangan dihabiskan ya. Supaya pas pulang kerja nanti ayahmu juga bisa makan.” Kupandangi ibuku lalu mengangguk-angguk tanda setuju walaupun sebenarnya tidak begitu. Skarang aku lebih suka fastfood karena lebih praktis ditengah kesibukanku yang kadang kala menjajah hari-hariku. Sedangkan oseng-oseng sudah sangat jarang terjamah sekarang. Ibu pasti tidak tahu itu. Benarkan? Kalau tentang Arya dia pasti tahu semuanya. Ah! Lagi-lagi rasa iriku muncul. Apa rasa iri ini sudah mendarah daging ya? Sampai-sampai apapun selalu kubandingkan dengan Arya. Ingat! dia sudah tiada, setidaknya pikirkanlah kebaikannya sedikit.
“Apa ibu kenal orang yang namanya Odi atau Audrey?” Ternyata saat memikirkan Arya tadi, mendadak aku jadi teringat pada pemain biola itu. Raut mukanya yang begitu sendu masih terngiang-ngiang dimataku.
“Audrey? Dia putri direktur dimana ayahmu bekerja sekaligus teman satu kampus dengan Arya.”
“Teman? Bukan pacarnya?”
“Arya bilang bukan. Tapi dari ekspresinya itu kelihatan banget kalau Arya suka dengan Audrey. Wajahnya terlihat malu-malu saat ibu bertanya tentang Audrey. Karena wajahnya jadi kelihatan lucu, ibu jadi sering menggodanya sampai dia marah.” Ibuku terlihat tersenyum namun sekaligus kembali terlihat bersedih. Kupandangi wajahnya & matanya terlihat berkaca-kaca. Bodohnya aku! Kenapa aku kembali mengingatkannya tentang Arya.
“Eh! Maaf, malah jadi ngelantur. Kenapa kamu bertanya tentang Odi? Kamu kenal dia ya?” Ibuku mengusap-usap matanya yang sedikit basah.
“Aku ketemu dengannya dimakam Arya lalu tadi aku ketemu lagi di Gereja Blenduk. Sikapnya aneh banget.”
“Hm… Aneh? Dia terkejut saat melihatmu lalu pingsan ya? Sepertinya sampai sekarang dia masih merasa bersalah pada Arya..”
“Kok ibu tahu dia pingsan? Merasa bersalah?”
“Ayahmu yang bilang pada ibu. Ayah diberitahu Pak Denis ayahnya Audrey. Pak Denis waktu itu juga terkejut saat melihatmu karena kamu sangat mirip dengan Arya. Makanya Pak Denis tidak bicara apa-apa padamu. Hm… Audrey merasa bersalah karena dia menganggap Arya meninggal karena salahnya. Malam itu Arya ijin sama ibu mau pergi kerumah Audrey karena udah janjian dengannya. Ibu masih ingat ekspresinya, begitu gembira & terlihat ganteng memakai kemeja lengan pendek garis-garis item merah dengan celana jeans item.”
Kupandangi wajah ibu lekat-lekat & mendengarkan ceritanya hingga tak kusadari memakan waktu yang lama. Ternyata Audrey begitu terlihat sedih karena dia merasa bersalah sudah meninggalkan Arya saat motornya mogok. Dia menganggap kalau saja dia tidak membatalkan kencan mereka & mau menunggu sampai motor itu hidup lagi. Pasti Arya tidak akan dirampok diperjalanannya pulang kerumah. Walaupun para perampok itu sudah ditangkap sehari setelah jenasah Arya ditemukan tapi aku masih juga tidak habis pikir kenapa dia rela melawan perampok itu & memilih untuk ngotot mempertahankan motor bobrok itu. Padahal kalau saja dia menyerahkan motor itu tanpa melawan mungkin perampok itu tidak akan membunuhnya. Mungkin dia hanya terluka saja karena menurut pengakuan perampok itu, mereka tidak berniat membunuh korban hanya ingin mengambil motornya saja. Arya! Arya! Kenapa kau begitu bodoh. Padahal kata ibu, ayah mau memberikan motor baru yang jauh lebih bagus dari motor itu. Tapi kenapa kau menolak & masih setia memakai motor itu?

-------^_^------

Kukendarai mobilku dengan rasa kalut. Seolah-olah tak kudengar apapun yang Risma katakan. Saat kulihat laki-laki itu memejamkan mata aku begitu takut. Dimataku aku melihat Alya. Oleh karena itu aku mengguncang bahunya dengan keras tadi. Sekarang pasti dia sedang marah & bingung dengan perlakuanku padanya. Aku jadi merasa bersalah sekarang.
“Hey Odi!” Risma berteriak dengan nada jengkel. Aku menoleh kepadanya dengan tatapan mata kosong. Untuk saat ini aku sedang tidak ingin berkata-kata terutama bicara dengannya. Aku hanya ingin pulang bertemu dengan belahan jiwaku yang lain, biola kesayanganku.
Sesampainya aku dirumah, kumainkan Over The Rainbow. Pipiku untuk kesekian kalinya basah dengan airmata. Kurasakan Alya hadir disini ikut mendengar lagu yang kumainkan.
Kembali teringat saat aku pertama bertemu dengannya di SMU. Tunggu dulu! Lebih tepatnya kenangan yang membuatku terkesan pertama kali. Karena sebelumnya aku juga sudah bertemu beberapa kali hanya saja tidak meninggalkan jejak dimemoriku. Saat itu Alya sedang memainkan keyboardnya diruang musik. Dia bersiap-siap mengiringi teman sekelas berlatih Koor dan aku kembali untuk mengambil barangku yang tertinggal. Kelasku baru saja memakai ruang musik. Waktu itu belum ada teman yang memasuki ruangan, karena jam istirahat. Hanya ada kami berdua.
Aku ingat sekali, aku masuk keruangan itu tanpa berkata apa-apa padanya. Karena kupikir tidak ada gunanya berbasa-basi & mengucapkan salam. Toh, dia masuk ke daftar orang yang tidak kusukai. Aku hanya memasuki ruangan yang pintunya terbuka, mengambil barang milikku lalu berjalan hendak keluar.
“Hei, apa isinya Biola? Aku penasaran sejak tadi dan ingin melihatnya.” Alya menghentikan permainannya lalu memandangku sekilas & beralih ke tas hitam tempat biolaku kuletakkan.
“Hm? Ya!” Lalu aku mlanjutkan langkahku.
“Apa kau bisa memainkannya bersamaku. Bisakah kau memainkan lagu Over The Rainbow?” Alya memandangiku & memberiku senyum yang begitu manis di wajahnya.
“Tidak bisa. Aku sedang ditunggu teman-temanku. Lagipula aku tidak mengenalmu.” Aku berbohong. Sebenarnya aku mengenalnya, sangat baik malah. Anak cerdas diperingkat pertama yang selalu dijadikan contoh oleh para guru & orangtuaku.
“Sebenarnya aku belum pernah mendengar suara biola secara langsung.” Ucapnya polos.
“Apa?! Hahahaha… Kau bercanda ya?” Seketika langkahku terhenti & tawaku meledakku.
“Sungguh belum pernah. Bermainlah bersamaku.” Ucapnya polos. Aku berbalik. Kupandangi wajahnya. Kelihatannya dia tidak bohong. Akhirnya aku setuju untuk bermain 1 lagu dengannya dengan 1 syarat jangan bilang pada siapapun.
Alya! Sebenarnya mulai saat itu aku suka padamu. Makin mengenalmu rasa sukaku semakin besar & berubah menjadi cinta. Bodohnya aku, yang terus mengulur waktu & terlalu gengsi untuk mengakuinya. Padahal kita sudah saling mengenal akrab selama 3 tahun.

-------^_^------

Aku tidak habis pikir, kenapa mendadak dia tersenyum & meminta maaf atas ketidak sopanannya karena telah menggangguku ditaman waktu itu. Apa sekarang kesadarannya sudah kembali? Entahlah! Faktanya sekarang dia ada dihadapanku, diruang tamu rumahku & mengulurkan tangan tanda meminta maaf. Kubalas uluran tangannya dengan tak bersemangat.
“Emm… namamu Dilgakan?” Wanita itu bertanya, akupun mengangguk tanda setuju. Mungkin sekedar ingin memecah keheningan namun niatnya itu tidak berhasil karena suasana masih terasa dingin. Setidaknya bagiku.
“Silakan duduk!” Kamipun duduk berhadapan. Hening suasana diruang tamu untuk beberapa saat.
“Emm… Aku Odi.” Ucap gadis itu sambil menatap mataku & tersenyum kaku. Dia terlihat kikuk saat ini. Akupun mengamati wajahnya, sorot matanya masih sayu. Penuh kesedihan.
“Aku seperti hantu ya?” tanyaku tiba-tiba kepadanya.
“Apa? Ti…tidak!” wajahnya kikuk, terkejut mungkin mendengar pertanyaanku yang konyol ini.
“Lalu kenapa kau lari-lari nggak jelas gitu sewaktu melihatku?”
“Itu…itu karena… emm…” Kupandangi dia. Mungkin dia juga tidak tahu apa yang dilakukannya saat itu.
“Sudahlah tidak usah dijawab. Aku tahu jawabannya.” Selaku.
“Kau tidak mirip dengannya!” Mendadak dia berkomentar dengan suara yang menurutku sedikit keras.
“Apanya yang tidak mirip? Kalau tidak mirip kenapa kau begitu ketakutan saat pertama melihatku. Seperti melihat hantu saja.”
“Kau keras! Sedangkan Alya orang yang lembut. Po..pokoknya kau tidak mirip dengannya!” Wajahnya mulai serius & matanya mulai berkaca-kaca.
“Emm… Aku pulang dulu.” Odi berdiri & beranjak pergi. Dia terlihat begitu emosional. Aku hanya melihatnya pergi dari rumahku tanpa ada keinginan untuk mencegahnya pergi ataupun berkomentar. Aku hanya diam.
“Dasar wanita aneh. Aku keras katanya?! Darimana dia tahu?” Bisikku lirih ketika dia sudah keluar meninggalkan rumah.

-------^_^------

Aku berdiri didepan rumah yang aku sendiri tidak tahu itu rumah siapa. Aku berdiri tegap dengan arah mataku yang terus memandangi rumah itu. Akhirnya aku melihat pintu rumah itu bergerak dan perlahan mulai terbuka. Kupandangi terus pintu itu sambil menunggu siapa yang akan keluar dari pintu itu. Setelah pintu benar-benar terbuka lebar, kulihat seseorang keluar dari sana. Aku terus mngamati siapa yang keluar itu & ternyata orang yang begitu kukenal.
“Alya!” Teriakku. Kuhampiri dia, tangan kurentangkan karena kuingin memeluk dirinya. Hingga akhirnya aku sudah berdiri dihadapannya, kupeluk dia erat-erat & menangis sejadi-jadinya.
“Aku akan membencimu kalau kau terus seperti ini.” Ucapan Alya membuatku kaget. Akupun melepaskan pelukanku darinya & memandangnya lekat-lekat.
“Apa maksudmu?”
“Aku tidak suka melihatmu seperti ini.”
“…” Aku hanya terdiam.
“Tolong relakan aku pergi.”
“Tidak! Kau tidak boleh pergi!”
“Aku tahu kau mencintaiku. Jadi tidak perlu merasa bersalah karena tidak pernah mengatakannya padaku. Lanjutkanlah hidupmu, maka aku akan bahagia disana.” Alya tersenyum padaku, lalu berbalik kearah rumah itu. Berjalan meninggalkanku.
Aku tidak bisa bergerak dari tempatku berpijak. Hanya bisa memandangnya yang semakin menjauh dengan meneteskan air mata. Ingin rasanya aku berlari menahannya kembali masuk kerumah itu tapi tidak bisa. Ingin juga rasanya berteriak tapi mulutku tercekat.
“ALYAAAAA…” Teriakku sekencang-kencangnya & aku tersadar. Ternyata semua itu hanya mimpi. Aku menangis lagi, hatiku menjadi begitu sakit saat aku terbangun.
“Kau tega! Kau tega sekali meninggalkanku! Aku yang harusnya membencimu.” Kulampiaskan amarahku kepada benda-benda disekitarku. Kulempar mereka semua hingga rasa kesalku hilang. Tapi sepertinya walaupun kuobrak-abrik seluruh ruanganpun rasa sakit ini tidak akan sembuh juga. Apa yang harus kulakukan tanpamu Alya?!

-------^_^------

Selasa, 13 September 2011

over the rainbow 3

BAB III
RESPONSIBLE


“Tok! Tok! Tok!” Terdengar suara pintu diketuk dengan lumayan keras.
“Ga… Bangun! Ayo sarapan.” Disusul suara ibu yang memintaku untuk melanjutkan aktifitas yang sebenarnya enggan kulakukan.
Kembali lagi aku terganggu & kali ini aku benar-benar harus beranjak dari tempat tidurku. Saat aku berdiri rasanya kepalaku pusing & badanku lemas ini mungkin efek dari begadangku semalaman.
Kubuka pintu kamarku sedikit, kutengok ibuku yang memandangiku dengan samar-samar. Benar-benar efek begadang yang parah. Mataku rasanya berkunang-kunang.
“Ya, Tuhan Dirga! Kenapa matamu merah begitu. Cepat mandi, sarapan.”
“Kalau aku sarapannya nanti saja boleh? Aku masih ngantuk bu.”
“Eits! Tidak boleh. Ayahmu sudah menunggu dimeja makan tuh.”
“Ya..Ya.. Aku mandi dulu!” Kututup lagi pintu kamarku. Ayah menunggu? Batinku. Kulihat jam yang menempel didinding. Jam menunjukkan pukul 9 kurang sedikit. Aneh! Bukannya kemarin Jam 8 ayah sudah menghilang dari rumah? Ah! Bukan urusanku dia mau berangkat jam berapa. Aku membongkar lemariku & mencari baju untuk kupakai selanjutnya. Setelah itu aku memasuki kamar mandi masih juga dengan tubuh yang lemas.

-------^_^------

Bau harum semerbak terasa diseluruh badanku. Rasanya segar sekali sehabis mandi namun karena semalaman tidak tidur maka kantukpun mulai menyerangku. Kutepis rasa kantuk itu & aku mulai keluar dari kamarku menuju ruang tamu yang ternyata sudah penuh dengan makanan yang beraneka ragam.
“Ibu, kenapa masakannya banyak sekali?”
“O… ini untuk merayakan kepulangan kamu. Maaf ya ngrayainnya telat!” Ibu tersenyum padaku dengan lembut, namun aku tahu masih ada tanda kesedihan diwajahnya.
“Dirga ayo dimakan! Ayah mau yang mana biar ibu ambilkan?”
“Hm!” tangannya menunjuk makanan yang dia inginkan tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Kamipun mulai makan tanpa ada perbincangan didalamnya. Suasana yang masih sama seperti kemarin. Sungguh menyebalkan!
“Aku sudah selesai. Terima kasih untuk makanannya.” Aku hendak keluar dari bangkuku & ingin kembali tidur karena aku sangat mengantuk ditambah suasana yang dingin ini membuatku tambah tidak betah berada disini. Namun saat aku berdiri ayah menahanku.
“ Dirga! Ayah mau bicara.” Ayah berbicara tanpa memandangku & tetap fokus pada makanan yang ada didepannya. Sebenarnya mau bicara apa dia?
“Hm!” Aku membalas sikapnya tadi kepada ibu.
“Ayah dengar kamu baru lulus SMU tahun lalu ya?”
“Ya!” Jawabku datar.
“Karena terlalu sibuk manggung bersama band rockmu itu ya?”
“Ya!”
“ Lalu sekarang apa kamu sudah melanjutkan kuliah?”
“Ah pertanyaan apa ini? Sepertinya dia sedang menginterogasi aku.” Batinku.
“Aku tidak perlu kuliah! Aku sibuk.”
“Kau ini sejak dulu benar-benar tidak peduli dengan pendidikanmu. Bagaimana kamu bisa sukses kalau sekolah saja malas. Hah!”
“Memangnya aku belum sukses? Memangnya selama ini ayah yang membiayai hidupku selama beberapa tahun ini. Dulu sewaktu kau mengusirku nenek yang merawatku & sekarang penghasilanku lebih dari cukup untuk diriku sendiri. Apa itu masih belum dibilang sukses?”
“Apa kamu bakal manggung terus keliling-keliling sampai tua? Lagipula lingkungan seperti itu bisa merusak kamu. Paling-paling uang yang kamu hasilkan nanti habis buat foya-foya & hal-hal yang nggak bener.. Sukses itu kamu hidup makmur, berpenghasilan besar & mempunyai pekerjaan yang tetap untuk jaminan hari tua. Kapan kamu bisa berpikir dewasa seperti Arya. Hah!”
“Aku bukan Arya! Aku menyukai apa yang kulakukan sekarang & asal ayah tahu aku nggak pernah melakukan hal-hal yang nggak bener. Untuk masalah hari tua akan kupikirkan nanti. Ayah tidak perlu repot-repot memikirkannya untukku.” Aku berdiri & hendak meninggalkan ruang makan hingga ada kata-kata yang masih mengganjal yang ingin kuungkapkan.
“Oh ya, satu hal lagi. Jangan kau pikir karena Arya meninggal aku dijadikan pengganti Arya. Aku tidak akan pernah bisa menjadi seperti dia.” Nada suaraku menegang saking emosinya.
“Apa! Dirga! Ayah belum selesai bicara! Dirga!” Tak kuhiraukan suara ayahku. Yang kuinginkan sekarang aku ingin pergi dari suasana penuh amarah ini. Aku sudah tidak berniat untuk kembali tidur. Kembali kumasuki kamarku, kuambil dompetku & bergegas pergi dari rumah ini, setidaknya mencari udara segar diluar sana.

-------^_^------

“ Mau kemana ya?” Ku garuk kepalaku yang tidak gatal ini. Aku bingung mau pergi kemana. Kusadari ternyata aku sudah tidak kenal siapapun disini. Sudah lama aku meninggalkan kota kelahiranku ini & tidak sedikitpun aku memberi kabar ataupun bertegur sapa dengan teman-temanku disini. Kalau sekarang aku tiba-tiba muncul dihadapan mereka pasti mereka terkaget-kaget atau malah memarahiku habis-habisan.
“Eh! Sudah berapa tahun, pasti ada diantara mereka sudah pindah rumah atau berkeluarga?! Huft! Kalau begitu ke Srigunting saja deh! Sudah lama aku nggak nongkrong kesana.” Aku mencoba mengingat-ingat angkot apa yang bisa mengantarku kesana.
Akhirnya sampailah sudah ditempat tujuan, taman Srigunting yang berada tepat disebelah gereja Blenduk. Waktu kecil setiap minggu & hari-hari tertentu aku serta Arya setelah beribadah & mengikuti latihan musik digereja, aku suka bermain sepak bola disitu seharian. Setelah Srigunting menjadi taman & lapangan itu tidak ada lagi, aku masih sering nongkrong dengan teman-teman se-gangku kali ini tanpa Arya. Setelah kami beranjak remaja terlalu banyak perbedaan yang memisahkan kami. Otomatis timbul kesenjangan karena tidak ada kecocokan sedikitpun diantara kami.
Kuamati taman yang tidak begitu luas ini. Gereja Blenduk masih terlihat indah dipandang namun bangunan tua lainnya sudah terlihat lapuk & tidak terawat. Taman kecil itu ternyata ramai juga. Banyak yang berfoto disini. Mungkin kota lama sekarang sudah menjadi tempat wisata atau karena suasana yang begitu adem yang membuat mereka kesini?
Aku berjalan-jalan sebentar hingga aku menemukan tempat yang cocok untukku. Aku duduk ditempat yang kurasa sepi. Dibelakang sebuah pohon besar yang rindang, aku menyandarkan tubuhku lalu kupejamkan mata. Seketika kurasakan pohon meniupku dengan lembut. Terusirlah rasa amarah yang sejak tadi berkumpul penuh sesak didadaku. Leegaa… terasa!
“Ah!” Teriakku kaget. Ada yang mengguncang-guncang pundakku dengan keras. Aku memicingkan mata karena pandanganku kabur sesaat oleh silau matahari. Ku kedipkan mata beberapa kali untuk memastikan yang kulihat itu tidak salah.
Dia yang ada dihadapanku itu bukankah wanita pemain biola yang berada dimakam Arya? Dalam sekejab aku berdiri. Untuk sesaat kami saling memandang tanpa berkata-kata hingga…
“Odi! Disini kau ru…” Ku pandang asal suara yang berteriak itu. Sekali lagi ku lihat pandangan mata yang sama. Pandangan terkejut seperti melihat hantu.
“O…Odi! Dia ini? A…aku nggak salah lihatkan?” Kata-katanya terlihat gugup. Wanita yang berteriak tadi menghampiri pemain biola itu tanpa melepaskan pandangannya padaku. Kami bertiga diam sesaat hingga…
“Bukan!” Jawab pemain biola itu lalu membalikkan badan, meninggalkanku sekali lagi tanpa penjelasan & kali ini dengan sikap acuh seakan-akan tidak menganggapku ada.
Ah! Dia benar-benar merusak suasana santaiku. Jantungku jadi berdegup kencang! Ketika aku sadar & dia sudah berjalan semakin jauh ke arah tempat parkir yang terletak ditengah-tengah antara taman Srigunting dengan Gerja Blenduk. Akupun merasa harus mengejarnya. Aku tidak terima perlakuannya yang mengganggu istirahatku lalu meninggalkanku tanpa memberi penjelasan.
“Hei tunggu! Kau siapa?” Aku berteriak & berlari mengejarnya hingga sampai di tempat parkir. Akhirnya dengan nafas terengah-engah aku berhasil menghadang didepannya. Dia beserta temannya berhenti.
“Kau kenal Aryakan? Siapa kau?” Tanyaku ingin tahu.
“Odi! Dia siapa? Kenapa mirip sekali dengan Arya?” Wanita yang dipanggil Odi itu tidak menghiraukan temannya. dia berjalan dengan cepatnya menuju mobil berwarna biru tua & masuk kedalamnya.
“Hei!!!” Teriakku sekali lagi namun tidak dihiraukannya.
“Maaf atas sikapnya! Dia mungkin terkejut sepertiku. Perkenalkan aku Risma sahabat Odi.” Wanita yang satunya tadi menjelaskan. Akupun menyambut uluran tangannya untuk bersalaman.
“Oh! Aku Dirga.”
“Kau itu…” Belum sempat Risma menyelesaikan kalimatnya.
“Tin! Tin! Tin!” Mobil itu telah memanggilnya tanda sang sopir pemilik tidak sabar ingin segera pergi.
“Maaf! Permisi.”
“Eh! Tunggu.” Kali ini aku tidak bisa mengejar mereka untuk meminta penjelasan. Istirahatkupun tak bisa dilanjutkan karena pikiranku & perasaanku menjadi kacau.

-------^_^------

Aku pulang dengan rasa perih ditangan karena terus-terusan memukul pohon besar ditaman tadi untuk melampiaskan amarah & rasa jengkelku. Saat kulihat, ternyata punggung telapak tanganku sudah mengelupas & berdarah. Walaupun sakit tapi setidaknya bisa membantu meluapkan emosiku.
Kumasuki rumahku dengan hati-hati seperti maling yang mengendap-endap agar penghuni lain tidak menyadari kedatanganku. Rumahku terasa sepi, spertinya para penghuni sedang pergi. Saat hendak kembali kedalam kamarku, kakiku berhenti melangkah didepan pintu kamar Arya. Kubuka pintu itu, ternyata tidak perlu tenaga lebih karena pintu itu tidak terkunci. Kamar yang rapi. Malah sangat rapi & sistematis. Bukunya terlihat begitu banyak berjejeran dirak. Ditata sesuai abjad dari A-Z. Dasar kutu buku! Apa tidak capek membacanya?
Saat kumelihat-lihat kamar Arya, mataku tertahan oleh sebuah kotak brwarna biru tua yang tergeletak diatas monitor computer. Ku raih kotak itu & kubuka. Didalamnya ada beberapa lembar foto. Kulihat foto-foto itu satu per satu. Terdapat foto kami sekeluarga saat aku masih kecil, foto Arya dengan orang-orang yang tidak kukenal mungkin itu teman-temannya & foto seorang wanita yang kukenal wajahnya. Itu adalah foto pemain biola yang tadi ku temui. Mungkin dia adalah pacar Arya. Kukeluarkan isi kotak itu satu-satu hingga sampai akhirnya kulihat ada sebuah amplop putih yang ternyata adalah surat dariku untuknya. Ku kirim kepadanya sudah cukup lama berbarengan dengan motor yang ku berikan kepadanya. Aku masih ingat apa yang tertulis didalamnya. Tentang keberhasilan yang kusombongkan & darimana asal uang yang kudapat untuk kubelikan padanya sebuah motor pengganti. Arya, sifat sentimentilmu itu ternyata belum hilang juga. Sekali lagi aku terkaget oleh suara teriakan seseorang yang memintaku untuk mengangkat telepon. Ternyata suara teriakan itu berasal dari HPku sendiri.
“Ya bro, ada apa?”
“Kapan loe pulang? Ada tawaran manggung ni tapi di Semarang. Kan mumpung loe sekarang, juga lagi di Semarangkan?”
“Hey! Akukan baru 2 hari disini & disini masih dalam suasana berkabung. Lagian kamukan,”
“Hmm… Gue nggak maho bro!” Protes oncom langsung menyela, drummer band sekaligus orang yang mengatur jadwal manggung Trikadeika Phobia. band indie yang kami bentuk bersama. Dia emang nggak suka kalau ngomong pakai “Aku & Kamu” kecuali dengan pacarnya.
“Ya, iya Anak Jakarta! Gue kan udah pernah bilang kalau gue nggak mau manggung di Semarang. Manggung dikampung halaman sendiri? Wah aku bener-bener nggak siap nih!” Emang aku selalu menolak kalau ada tawaran show disini karena sebenarnya aku males pulang.
“Wah bro! Padahal honornya gede loh & itu event besar. Kita bisa live bareng band-band terkenal lain. Itukan bisa naikkin popularitas band kita bro. Anak-anak udah pada setuju. Seminggu lagi kita semua bakal ke Semarang jadi loe nggak perlu buru-buru pulang.”
“Kalian udah nerima kontrak itu? Nggak fear ni. Kalian kan belum nanya gue setuju atau nggak?”
“Kita-kita sih emang udah setuju bro, tapi belum tanda tangan kontrak. kita tau kalau loe bakal nolak manggung di Semarang. Makanya setelah ngasih tau loe baru kita-kita nerima kontrak itu. Loe kudu mau, soalnya suara terbanyaklah yang menang.”
“Okey! Terserah kalian. Pasti yang nggak setuju Cuma gue doank kan?!” Jawabku pasrah. Selang beberapa menit kemudian dia menutup teleponnya.
Rasa kantukku kembali lagi. Karena sudah tersedia kasur empuk didalam kamar Arya, aku memutuskan untuk terlelap saja disitu. Menunggu pagi datang lagi atau menunggu ibuku memanggilku untuk makan malam.
“Arya! Aku numpang tidur disini bolehkan?” Aku tahu dia sudah tidak dapat menjawabku lagi. Yah! Setidaknya kalau memang benar manusia punya roh pasti dia masih berada disini, karena tempat ini masih daerah kekuasaan Arya.
Apa-apaan aku ini. Membahas tentang roh segala! Membuatku merinding saja.
“Sudah-sudah jangan berpikir yang tidak-tidak. Tidur saja sana!” Lagi-lagi aku ngomong sendiri. Kupukul-pukul kepalaku karena kebodohanku ini.

-------^_^------

over the rainbow 2

BAB II
MISERABLE


Aku berjalan mondar-mandir dengan perasaan kesal. Aku terus memencet-mencet HPku dengan gemasnya serasa ingin melemparnya jauh-jauh. Sejak tadi tak kulihat sosok Arya dikampus. Aku menghubunginya, mengSMSnya berkali-kali namun tidak juga direspon.
“Nyebelin! Tu orang sejak kemarin bikin kesel ajah. Kalau nanti aku nolak dia jadi pacar baru tahu rasa lo. Eh, apa dia menganggap dengan aku lebih memilih pergi dengan Jo itu sebagai penolakan? Ah! Salah dia donk, kenapa motornya hobi banget mogok ditengah jalan.” Seperti orang gila aku komat-kamit sendiri ditaman kampus.
“Apa aku kerumahnya aja ya? Mungkin ajah dia sakit karena kecapekan nuntun motor ampe rumah.” Aku kembali komat-kamit sendiri. Benar-benar tidak peduli orang-orang yang sejak tadi berlalu-lalang memandangiku dengan aneh. Tak beberapa lama, aku dikagetkan oleh dering HPku yang minta segera diangkat. Kupandangi layar HPku. Nomor itu terlihat asing.
“Halo, Audrey? Ini papa.” Ternyata yang menelponku adalah papa. Tapi dia pakai nomor siapa? Masa papa ganti nomor.
“Ya pa. Papa nomornya baru ya?”
“Ini nomor papanya Arya. Karena terburu-buru HP papa tertinggal dikantor.” Terdengar suara gaduh & berisik dibalik telepon selain suara papa. Memangnya papa sedang ada dimana sih?
“Papa mengantar pak Agung. Kami sekarang sedang dirumah sakit. Arya semalaman tidak pulang, orangtuanya mengira dia sedang menginap dirumah temannya. Ternyata baru saja kurang lebih 2 jam lalu polisi mengabari bahwa Arya diduga telah dirampok tadi malam dan… Emm…”
“Kenapa pa? Al nggak apa-apakan? Ada dirumah sakit mana pa? Aku akan segera kesana!” Tanyaku nerocos saking cemasnya.
Emm… Arya ditemukan sudah meninggal dunia disemak-semak dipinggir jalan & motor yang dia bawa telah hilang.” Keterangan papaku itu seketika membuat hatiku terkejut. Kakiku serasa lemas & mendadak aku ambruk. Teriakan papa ditelepon tak kuhiraukan. Duniaku serasa runtuh. Apa ini kenyataan? Aku benar-benar tidak bisa berhenti menangis. Hingga Risma sahabatku datang dengan panik karena tidak tahu apa yang terjadi, aku masih saja menangis & tak mampu berkata apa-apa.

-------^_^------

Jaman sudah berubah & semua orang sudah melangkah menuju masa depan. Mereka semua pasti berubah. Namun aku? Aku tidak yakin dapat maju dengan berani. Masa kelam sudah membuatku putus asa. Yang terus berada dipikranku hanya masa lalu. Aku terus berandai-andai & tenggelam dalam kesedihanku. Sekarang apa yang harus aku lakukan?
“Aku… Menyesal! Sangat menyesal. Maaf!” Aku menunduk dengan pundak yang terasa memikul beban yang berat.
“Ini bukan salahmu. Perampokan itu terjadi karena memang sudah takdir!” Terdengar suara disana berbicara dengan halus namun aku tahu perasaan kami sama. Sama- sama sedih, sama-sama kehilangan. Satu yang membedakan kami. Dia pasti membenciku, ya! Itu pasti. Secara tidak langsung aku sudah membuatnya kehilangan anak yang dia sayangi.
Sore hari sudah datang… Kakiku melangkah beriringan dengan langkah Papa & Risma meninggalkan rumah sakit itu. Aku masih tidak percaya Al sudah pergi. Sejak dirumah sakit aku benar-benar tidak mau melihat Al dengan keadaan seperti itu. Aku benar-benar ingin menyepi saja. Berada dibalik kamar sendirian, menangis sepuasnya & meratapi kesalahan yang kulakukan.
“Aku menyesal Al! Aku sangat menyesal… Aku tidak mengira akan terjadi hal seperti ini. Maaf! Andai waktu bisa diputar lagi.” Aku terus menangis & tidak keluar dari kamar selama berhari-hari bahkan saat pemakamannyapun aku juga tidak datang. Aku tidak bisa menerima kenyataan ini. Allyya…!!! Aku belum mengatakan kepadamu bahwa aku mau menerimamu menjadi pacarku. Aku menyukaimu, aku menyukai perhatianmu, kesabaranmu dengan segala ulahku yang menjengkelkan, senyummu yang lembut, semua kebaikanmu padaku & suaramu saat mengejekku cadel. Sejak dulu aku menyukaimu hanya saja aku terlalu sombong untuk mengakuinya. Pikiranku selalu memprovokasiku untuk menepis perasaanku kepadamu. Kepopuleranku membuatku begitu gengsi untuk menerima kekuranganmu.

-------^_^------

Aku terperanjat! Dengan bingung & seolah-olah tak percaya aku melihat sekelilingku. Ini kamarku, aku sudah berada dikamarku sekarang. Padahal baru saja aku berada dipemakaman Al. Kenapa tiba-tiba aku berada disini? Apa kejadian dipemakaman tadi hanya mimpi? Apa aku bertemu dengan Al itu hanya mimpi? Kuingat kembali kenangan yang baru saja terjadi tadi & itu membuatku menangis lagi.
“Oh! Kau sudah sadar rupanya? Ini kubuatkan teh hangat untukmu.” Kulihat Risma membuka pintu & memasuki kamarku dengan membawa secangkir teh untukku. Entah kenapa hanya Risma yang selalu ada disaat aku sedih. Dengan kehadirannya membuatku sedikit melepaskan kesedihanku.
“Kenapa kau menangis lagi Odi?” Risma duduk disamping ranjangku & menyodorkan secangkir teh hangat untukku. Dengan tangan yang gemetar aku mencoba meraih cangkir itu. Mungkin dengan meminum teh itu perasaanku menjadi lebih baik. Dengan wajah yang kusut & basah oleh air mata kusesap teh itu.
“Thanks Ris.” Ucapku lirih namun tulus. Teh itu memang sedikit membantu & kehadirannyapun juga membantuku.
“Sama-sama… Kau sudah baikan sekarang?”
Aku mengangguk tanda setuju & mencoba memberi Risma senyuman agar kekawatirnya padaku sedikit berkurang. Diapun juga membalasku dengan senyuman.
Kupandangi lagi sekelilingku juga Risma yang ada disebelahku. Ini semua kenyataan namun kejadian tadi bukanlah kenyataan. Aku tidak mungkin bertemu dengan Al lagi. Dia sudah pergi, tak akan bisa kulihat lagi. Kejadian tadi Cuma mimpi! Aku yakin Cuma mimpi. Aku harus melanjutkan hidupku. Ayo Odi kau harus kuat! Aku kembali menyemangati diri sendiri. Tapi… Aku sangat merindukannya. Kenapa dia harus pergi disaat aku akan memberikan jawaban untuknya. Kenapa dia harus pergi setelah seminggu dia menyatakan perasaannya padaku. Kenapa Tuhan tidak memberikan banyak waktu untuk kami berdua. Kenapa???