Senin, 12 Oktober 2015

[Review] VAMPIRE FLOWER #1

VAMPIRE FLOWER #1

Penulis : Shin Ji Eun
Penerjemah : Putu Pramania
Penerbit : Haru
Terbit : Agustus 2015
Halaman : 518
ISBN : 978-6027-742458
Sinopsis :
"Warna kelopak bunga itu lebih merah dibanding darah, wanginya begitu kuat sehingga mampu memikat vampir mana pun. Jika seseorang memiliki bunga itu, maka ia akan menduduki posisi paling tinggi di antara vampir-vampir yang lain.”

Suatu malam Kang Seo Yeong melihat teman sekolahnya dibunuh oleh seorang vampir tepat di depan matanya. Untungnya, ia selamat berkat bantuan vampir lainnya bernama Louvrei yang berwujud remaja laki-laki. Seo Yeong sangat terpesona akan wajah Louvrei yang sangat imut. Apalagi ketika ia mendengar janji Louvrei.

“Aku akan selalu menjagamu. Jadi, jangan percaya pada siapa pun, kecuali aku.”

Tapi, ia harus mematuhi satu syarat. Ia harus membantu Louvrei yang sebenarnya berusia 537 tahun untuk mencari ‘Bunga Vampir’. Sementara itu serangan para vampir semakin gencar terhadap manusia karena mereka mengganggap manusialah si pencuri. Mereka harus menemukannya secepat mungkin sebelum kekacauan yang lebih besar terjadi … 

***

Bercerita tentang Loui atau Louvre yang sedang mencari bunga vampire supaya dia bisa menjadi Lord (kepala para vampire). Bunga vampire yang hilang dan membuat Lord sebelumnya mati disinyalir dicuri oleh kaum Half dan vampire pihak lain yang juga mengincar posisi Lord. Di sini, Loui mengikat perjanjian dengan Seo Yeong untuk membantunya mencari bunga vampire itu. Dalihnya si Loui sih, Seo Yeong disuruh mencari saat hari terang karena seperti yang banyak diketahui vampire lemah pada matahari (tadinya kupikir juga gitu tapi ada scene di mana Loui Lecca baik-baik saja tuh keluar siang-siang). Nah, ini yang kurang srek menurutku, kalau awalnya Seo Yeong disuruh nyari, kenapa justru di sini peran Seo Yeong dalam misi pencarian sangat sedikit? Bahkan dia disuruh bolos sekolah lalu tinggal di rumah Baek Han supaya tidak mengalami bahaya. Nah, loh, dia malah jadi putri yang dilindungi sekaligus di kelilingi cowok-cowok tampan. Padahal dia hanya manusia biasa yang sampai di bagian akhir tidak menyimpan kekuatan tersembunyi—kecuali rahasia bahwa pamannya adalah salah satu orang yang menyembunyikan bunga vampire.

Isi tak seindah covernya. Itu selarik kalimat yang menurutku sesuai dengan apa yang kurasakan sehabis membaca novel ini. Pasalnya diksinya monoton dan cukup membosankan karena penulis atau penerjemah kurang lincah dalam bernarasi. Untuk satu paragraf saja, aku banyak menemukan pengulangan kata, terlalu banyak memakai ‘itu, ‘tersebut’ dan banyak kata lainnya. Juga keterangan yang sudah dijelaskan sebelumnya dijelaskan lagi sehingga terasa dipanjang-panjangin dan berputar-putar.
Contoh:
Pasti orang itu sudah tahu bahwa Eliza akan datang. Gadis tersebut mengerutkan dahi melihat orang itu tidak ada di tempat. Salah seorang dari mereka yang ada di ruang kontrol segera membawa Eliza untuk bertemu dengan orang itu.Eliza akhirnya menemukan orang itu sedang menelepon di ujung koridor yang terletak tidak jauh dari ruang kontrol. (hal. 415)

Padahal deskripsi fisik, karakter ataupun setting tempat di dalam novel kurang dideskripsikan dengan detail. Bukankah akan lebih bagus bila nama atau orang itu, dll diganti dengan ciri fisik orang-orang yang muncul di dalamnya. Elain untuk mempermudah pembaca membayangkan bagaim,ana tokohnya juga mengurangi pengulangan kata yang terkesan membosan saat dibaca.

Ah, untuk beberapa ide aku acungin jempol untuk penulisnya. Banyak novel mengambil cerita vampire dan yang membedakan Vampire Flower dengan novel vampire lainnya adalah… yah, kalau aku beritahu nanti spoiler dong yak. Hehehe~ Intinya begini, di Vampire Flower tidak yang namanya vampire perempuan. Baca buku ini aku malah teringat Ratu Lebah. Juga, aku suka system bentengnya yang tiap-tiap vampire memiliki kamar masing-masing lalu bisa masuk dari mana saja asal dia pemilik kamar tersebut. Selain pemilik kamar tak ada yang bisa membukanya. Sayangnya deskripsi seperti apa bentengnya dan terletak di belahan bumi mana tak dijelaskan. Selain itu ada werewolf yang di sini justru bukan musuh para vampire, malah seperti peliharaan saja. Terus Half yaitu kaum blasteran manusia vampire yang berada di tengah-tengah, tak terlalu kuat dan abadi seperti vampire tapi juga tak seperti manusia biasa selain itu, darah Half justru dapat membunuh vampire, maka dari itu para vampire banyak yang membantai kaum Half sejak awal mereka dilahirkan—kecuali Baek Han yang justru diselamatkan Loui.


Okeh, terakhir aku kasih 3,5 bintang dari 5 bintang untuk novel terjemahan ini yang ekspektasiku terlalu tinggi karena covernya yang cantik.

Minggu, 04 Oktober 2015

[Review] DIVERGENT

Penulis: Veronica Roth
Penerjemah: Anggun Prameswari
Penerbit: Mizan Fantasi
Terbit: Cetakan I, April 2012
Halaman: 544
ISBN: 978-979-433-809-4

Sinopsis:
Di dunia masa depan, manusia dipisah-pisahkan oleh berbagai faksi tergantung pada kecenderungan sifat alamiah mereka. Tris Prior adalah seorang Divergent. Dia tak cocok dengan faksi apa pun yang ada di masyarakat.

Ketika dia menemukan adanya konspirasi untuk memusnahkan semua Divergent, Tris harus mengungkap mengapa menjadi Divergent dianggap berbahaya, sebelum semuanya terlambat.

***

Akhirnya selesai dibaca di sela-sela kerja dan kegiatan lainnya. Lumayan lama menyelesaikan novel ini. Sehari rata-rata aku membaca 50-an halaman dan seminggu lebih baru selesai sepenuhnya. Jauh dari komitmen awal yakni sehari 100 halaman. Wkwkwk~

Mungkin karena efek sudah menonton filmnya lebih dulu jadi aku merasa nggak surprize aja saat membacanya karena keseluruhan isi novel sama dengan filmnya--kayaknya. Biasanya aku melihat antara film dan novel ada perbedaan tapi Divergent tidak. Namun ada sisi positifnya dari menonton lebih dulu. Saat membaca, aku mudah membayangkan keadaan dunia dalam novel ini--tidak termasuk wajah para tokoh, karena Tris dalam novel aku bayangkan tak terlalu cantik, tubuh mungil dan terlihat rapuh berbeda dengan Tris dalam film yang pasti semua setuju dia cantik dan tidak mungil.

Aku suka dengan buku ini. Banyak aksi yang dituliskan dengan jelas. Emosi yang dilampirkan juga tersampaikan. Bagaimana Tris merasa bersalah sekaligus kecewa pada Al yang memilih bunuh diri karena merasa bersalah. Bagaimana dia merindukan keluarga dan faksi lamanya. Betapa menyenangkannya punya teman-teman seperti Christina, Will, Uriah dan Marlene--aku suka saat interaksi Tris dan teman-temannya saat makan, keakraban mereka terasa sekali. Serta sisi romantisme pun ada. Bahkan perasaan jengkel di bagian-bagian tertentu pun muncul. Contohnya kenapa Tris nggak nembak mati Eric aja? Kenapa cuma kakinya? Pokoknya buku ini benar-benar kompleks. Paket komplit.

Kekurangan novel ini adalah typo bertebaran. Beberapa pengulangan kata yang berlebih dalam satu paragraf yang bikin boring serta jadi terasa nggak lincah diksinya. Lalu tidak konsistennya penerjemah dalam pemakaian kamu atau kau.

Oh, iya. Bagi yang belum pernah membaca maupun menonton Divergent. Novel ini bergenre fantasi-science fiction. Bercerita tentang dunia yang dikelompokkan, yaitu: Abnegation yang tanpa pamrih, Erudite yang haus pada pengetahuan, Dauntless yang pemberani, Amity yang bijaksana serta Condor yang adil dan jujur. Suatu ketika Tris mengikuti tes kecakapan dan mendapati dirinya tak bisa digolongkan yang berarti dia adalah divergent. Di sinilah konflik bermula. Tris memilih Dauntless sebagai faksi barunya. Disamping berusaha mendapatkan peringkat 10 besar saat inisiasi agar dia tak menjadi factionless, Tris harus berusaha menyembunyikan identitas divergent-nya itu. Bersama Four sang instruktur, Tris mencoba bertahan hidup serta membantu faksi lama dan barunya lepas dari cengkeraman Jeanine, Pemimpin Erudite yang berniat membasmi Abnegation lewat tangan Dauntless.

Berikut kutipan favorit yang kutemukan dalam novel ini:

"Cara terbaik untuk membantu seseorang itu cukup berada di dekatnya."--Tris; hal. 219

"Sopan santun adalah kepalsuan yang dikemas dengan cantik."--Christina; hal. 98

Terakhir, 4,5 bintang dari 5 bintang untuk novel ini.

Selasa, 22 September 2015

[Review] FOUR: A Divergent Collection


FOUR
A Divergent Collection

Penulis : Veronica Roth
Penerjemah : Esti Budihapsari
Penerbit : Mizan Fantasi
Terbit : Cetakan IV; Maret 2015
Halaman : 288
ISBN : 978-979-433-859-9
Sinopsis :
Dua tahun sebelum Beatrice Prior menentukan takdirnya, putra pemimpin Abnegation melakukan hal yang sama. Tobias Eaton berkhianat dari Abnegation berpindah ke Dauntless, dan berubah menjadi Four. Mencari kebebasan dan kehidupan yang bebas dari masa lalu. Ternyata di Dautless pun Four masih meragukan pilihannya. Apabila secara tak segaja dia mengetahui persekongkolan antara pemimpin Dauntless dan Erudite. Sementara, sang Ibu yang teryata masih hidup menginginkan bergabung dengan Factionless.

Haruskah Four kembali berkhianat? Pantaskah faksi ‘tanpa pamrih’ yang teryata menyembunyikan moster sekejam Marcus Eaton diselamatkan? Four dihadapkan pada pilihan sulit. Mungkinkah pengkhianatan memunculkan kebebasan?

Four: A Divergent Collection mengisahkan perjalanan Divergent Trilogy dari sudut pandang Tobias Eaton. Dengan bonus tiga kisah eksklusif bersama Tris. Kisah pelengkap Divergent Trilogy yang romantis dan penuh aksi.

***

Novel yang paling tipis dari antara 4 novel Divergent ini memiliki beberapa bagian sebagai berikut: The Transfer, The Initiate, The Son, The Traitor dan 3 bonus exclusive scene yang maha pendek. Dan semuanya mengisahkan awal mula seorang Abnegation, Tobias Eaton menjadi seorang Dauntless, Four.

Meski aku punya 4 bukunya lengkap tapi yang aku baca pertama justru Four. Kenapa? Karena sudah nonton Divergent dan Insurgent jadi sedikitnya tahu ceritanya seperti apa. Lalu Allegiant habis ini akan aku baca. Hehehe~ Oke, Mari kita bahas perbagian.

THE TRANSFER
"Kau sendiri yang akan menanggung konsekuensi dari pilihanmu."--Tori; hal 19

Seperti Tris, Tobias juga melakukan simulasi sebelum pemilihan faksi dan dia terpilih di Abnegation. Tapi... rupanya itu tidak dia turuti. Dia tidak mau disiksa lagi oleh Marcus, ayahnya. Dan hingga saat pemilihan, Tobias masih belum menentukan faksi mana yang akan dipilihnya. Lalu di detik terakhir, akhirnya dia memilih Dauntless demi untuk mendapatkan kebebasan serta membalas dendam pada sang ayah--karena faksi yang paling dibenci Marcus adalah Dauntless. Di sinilah awal mula kenapa Tobias berubah menjadi Four. Rupanya karena dia hanya memiliki 4 ketakutan saja. Jumlah ketakutan paling sedikit yang pernah ada.

Di sini aku bisa merasakan kebencian Tobias pada Marcus namun segala siksaan sang ayah tak bisa dia tangkis. Dari sudut pandang Tobias, buku ini dituliskan dan dia selalu menyebut nama Marcus bukan ayah. Ini mengindikasikan bahwa dia tak menganggap sosok Marcus adalah ayah melainkan hanya manusia sadis yang berpura-pura pada khalayak ramai menjadi seorang dewan Abnegation yang patut dijadikan panutan. Di sini kita tahu, bahwa Abnegation tak sebaik itu. Dan sama seperti Tobias, aku juga suka dengan pilihannya meninggalkan faksinya dan memilih Dauntless. Betapa pilihannya itu akan memukul telak sang ayah dan akan mempermalukannya.

THE INITIATE
"Sering kali kematian datang tanpa memedulikan kau sempat mengucapkan selamat tinggal atau tidak."--Amar; hal. 79

Sikap Four yang menutup diri dan tak mau bersosialisasi perlahan ditarik keluar oleh Amar yang menjadikan sosok Amar penting bagi Four. Di bab ini kita akan mendapati Four berjuang di inisiasi sekaligus bersama Amar berusaha menutupi sebuah fakta bahwa mereka adalah Divergent. Di sini juga Four menemukan teman-teman akrab berkat dirinya yang bersedia membantu Shauna melatihnya bertarung. Tapi segalanya ada pasang maupun surut. Four dan Amar dicurigai dan diadakan evaluasi simulasi ketakutan pada mereka berdua. Four berhasil mengelabui tapi Amar? Bisa kalian temui nasibnya bila membaca buku ini lebih jauh. Hehehe~

“Aku bukan Tobias Eaton. Tidak lagi. Tak akan pernah lagi. Aku seorang Dauntless.”—Four; hal 127

Setelah melewati masa-masa berat dalam inisiasi dengan segala tantangannya pada akhirnya Four resmi menjadi anggota faksi Dauntless dan mendapatkan ranking 1 mengalahkan sang rival, Eric dari Erudite. Namun masalahnya dengan Eric tak sampai di sini. Tapi setidaknya dengan hasil yang didapat, Four tak lagi bisa diremehkan hanya karena dia berasal dari Abnegation.

THE SON
Kondisi sulit membuat orang lebih kuat. Kau tak tahu seberapa kuat seseorang hingga mereka mendapatkan ujian.”—hal. 145

Melewati masa inisiasi kini tibalah masa di mana Four harus memilih pekerjaannya. Namun ada tawaran menarik yang Max, sang pemimpin Dauntless berikan pada Four. Four pun dengan perasaan gamang menyanggupi bahwa akan mengikuti serangkaian tes yang diberikan. Tentu saja disitu dia bertemu lagi dengan sang rival, Eric. Makin benci aku pada tokoh Eris saat membaca bagian ini.

Suatu ketika Four menemukan surat yang menyelip di dalam apartemennya. Lewat surat itu akhirnya dia bertemu dengan seseorang yang telah lama dia kira mati. Dan lewat pembicaraan mereka, pandangan Four soal tawaran Max sedikit terbuyarkan.

“Mungkin ada kecenderungan masokhis dalam diriku, bahwa aku menggunakan sakit untuk mengatasi rasa sakit yang kualami.”—Four; hal. 172

Sehabis bertemu dengan seseorang yang rupanya selama ini tak mati melainkan pergi dan menjadi factionless, Four merasa begitu sedih dan terluka. Pandangannya mengenai sosok itu dan seperti apa faksinya berubah total menjadi tak sebaik dulu. Sebagai pelampiasan Four membuat sebuah tattoo di sekujur punggung. Ngomong-ngomong sewaktu nonton Insurgent aku suka sama pola tattoo-nya Four tapi kok aku merasa gambar tattoo yang di film beda dengan apa yang dituliskan di sini ya? Atau akunya yang tak begitu paham deskripsinya? Entahlah…

THE TRAITOR
“Rasa bersalah mengingatkan kita agar kita berusaha melakukan yang lebih baik di masa mendatang.”—hal. 248

Di bab ini akhirnya mencapai masa Four menjadi instruktur inisiasi dan bertemu dengan Tris. Aku jadi tahu apa yang dipikirkan Four saat bertemu Tris. Karena di sini semuanya sudut pandang dia. Dan dari apa yang dilihatnya rupanya alas an dia jatuh cinta pada Tri situ tak hanya karena gadis ini unik, berani dan kuat melainkan ada factor lain. Dia merasa telah mengulang masa lalu. Hanya saja posisinya berbalik dari yang dulu dia peserta inisiasi yang dilatih Amar, kini dirinya yang berada di posisi Amar. Di sini juga aku mengerti akan pertenangan batin Four apakah dia harus memperingatkan faksi Abnegation soal penyerangan atau mendiamkan saja apa yang akan terjadi. Memikirkan akan tawaran sang ibu dan berusaha untuk merubah pikiran sang pemimpin Dauntless bahwa aturan yang diterapkan Eric itu tidak beres. Terakhir, di bab ini berkat Tris, Four mampu mengatasi rasa takutnya pada sang ayah dan berani mengatasinya.

Untuk bonus exclusive scene-nya silakan dibaca sendiri saja. Aku jadi merasa ini malah kayak ringkasan cerita ketimbang review. Hahaha!

Kesanku sehabis membaca novel ini, ya asik aja dibacanya. Bahasa yang ringan dan tak terlalu kaku membuatku mengalir saja. Tapi ada kejanggalan. Seperti menyempil kata ‘nggak’ beberapa kali padahal kebanyakan bahkan 90% mengginakan kata ‘tidak’. Lalu ada kalimat yang kesannya tidak efisien karena ada pengulangan keterangan. Sehingga kok berasa bertele-tele. Tapi selain itu, keseluruhan cerita bisa dinikmati. Oh ya, tokoh yang aku sukai malah justru sang tokoh pembantu yakni dua teman Four, Zeke dan Shauna. Sepasang Dauntless yang menyenangkan sekaligus keren. Kenapa keren? Silakan baca waktu bagian Shauna dan Zeke disuruh Four mengancam Peter. Cocok sekali mereka jadi preman pembela kebenaran.

Oke. Aku beri 4 bintang dari 5 bintang untuk Four yang sudah berhasil membuatku ingin membaca trilogy Divergent.

Rabu, 09 September 2015

[Review] TERTINGGAL WAKTU


SINOPSIS
Rin berkejaran dengan waktu. Semua orang tahu itu. Tapi, Rin tidak mau dianggap berbeda. Meski waktunya tak lagi lama. Rin bergegas mimpi. Meski waktu yang dia punya bisa jadi membatasi. Menjadi seseorang yang berprestasi dan bisa membanggakan manusia di sekitarnya lewat hal yang dia suka: bola voli. Lewat pertandingan voli, Rin mempertaruhkan waktu juga rasa cemas orang-orang yang dia sayang.

SPESIFIKASI BUKU
Penulis: Khairani
ISBN: 9786020265513
Cover: Soft Cover
Editor: Pradita Seti Rahayu
Ukuran: 12.5 X 19.5
Harga: Rp. 34,800 (Menang GA dari Penulis)
Terbit: 10-Jun-2015
Tebal: 172 hlm
Design Cover: Hadi
Penerbit: Elexmedia Komputindo
Genre: Romance Inspiratif
Rate: Teen/Remaja

REVIEW
Baru selesai baca setelah 2-3 minggu nggak diselesaikan setelah diterima. Alasan nunda baca sebenarnya sepele dan memang kebiasaan, kurasa ceritanya terlalu mainstream. Dan kebetulan Percy Jackson #5 ku dipulang teman (dia pinjam nggak bilang & masih plastikan. Kampret bener.) alhasil tergoda baca Percy dulu lalu beberapa buku lain yang baru beli. Hehehe~ (Semoga penulisnya nggak baca. Amin!!!)

Kenapa mainstream aku bilang?
1. Isinya tentang cewek berpenyakit yang terancam mati.
2. Ada murid cowok berandal trouble maker di sekolah.
3. Ada teman cowok yang sejak kecil perhatian dan memendam perasaan.
Tiga point di atas banyak kujumpai di beberapa novel dan cerita di film drama atau serial.

Settingnya Indonesia tapi nama-nama tokohnya mayoritas nama asing. Usulku sih kalau bikin novel nama tokoh-tokohnya disesuaikan latar belakang asal tokohnya biar lebih berasa gitu suasananya. Apalagi ini Makasar, kan? Aku malah tertarik orang daerah sana nama-nama yang khas itu apa saja.

Nah, ini kelebihan novelnya. Ada amanat yang terkandung di dalamnya. Memgajarkan bahwa meski kita memiliki kelemahan yang bisa saja fatal tapi tetaplah punya tekad. Terpuruk dan meratapi nasib nggak akan menyelesaikan masalah. Malah semakin membuat diri sendiri makin stres dan jiwanya mati mendahului tubuh (apaan itu kalimat?). Rin, memiliki kebocoran di jantungnya sejak lahir. Tubuhnya lemah dan tidak bisa melakukan hal-hal yang berat secara fisik, tapi dia tetap ngotot ingin menjadi altlet voli--yah, walau setelah tanding dia langsung pingsan. Bertemulah dia dengan Arga, sang biar onar yang rupanya Rin menyadari ada kebaikan di sana. Dengan cara menyita dan menyimpan cincin peninggalan Mama Arga, Rin mengajukan 3 permintaan. Jadilah mereka makin dekat dan Arga perlahan berubah.

Dengan memakai sudut pandang orang ketiga, Khairani sudah cukup bagus menuliskan diksinya yang memang ringan khas remaja. Dan aku mendapati bahwa gaya ngomong Arga dan Rin beda. Arga pakai kau dan Rin yang lebih lembut pakai kamu. Aku suka. Karena karakter mereka jadi makin kuat.

Oke. Finally... Aku kasih bintang 3 dari 5 bintang buat novel ini.

Minggu, 23 Agustus 2015

[Review] The Mirror Twins



The Mirror Twins

Penulis : Ida R. Yulia
Penerbit : Grasindo
Halaman : 177
ISBN : 978-6023-750573
Harga : 49,000
Orang-orang mengenalku dan saudara kembarku, Vincent, sebagai The Mirror Twins, Kembar Cermin. Meski wajah kami sangat mirip, ia berusaha menjadi sosok yang berbeda denganku, sengaja atau tidak. Aku kidal, ia tangan kanan. Aku cerdas dan aktif di sekolah, ia tak peduli dengan sekolah. Aku gadis remaja baik-baik, ia cowok nakal dan suka berbuat semaunya sendiri. Dan, ini yang membuatku kesal sekaligus sedih; aku sangat menyayangi Mom, ia justru cenderung tak betah berada di dekat Mom.

Sampai kemudian sebuah tragedi menimpa keluarga kami. Whitney, kakak tertua kami, membawa lari uang bosnya sebesar 250 ribu dolar. Jumlah yang fantastis, mampu membuat orang sekaliber Reynold Hendale - sang bandar narkotika - melakukan tindakan brutal; menjebol rumah kami, membuat Mom menderita, hingga menculik aku dan Vincent, sampai melintasi perbatasan Indianapolis.

Kami adalah Kembar Cermin. Kisah penculikan kami hampir menyerupai Hansel dan Gretel. Hanya saja, jika Hansel meninggalkan remah roti sebagai jejak agar ia dan adiknya bisa menemukan jalan kembali ke rumah, Vincent justru meninggalkan bercak darah.

Aku bahkan tak yakin kami bisa kembali pulang.

***

Mengisahkan tentang saudara kembar yang saling bertolak-belakang, Vincent dan Emma. Keluarga yang dibilang kacau setelah sang ayah meninggal ditambah kasus Whitney--si sulung penyebab si kembar diculik oleh sebab Whitney membawa lari uang Reynold sang bos bandar narkoba membuat konflik dalam novel ini semakin menarik untuk dibaca.

Penulis menuliskannya menggunakan sudut pandang orang ketiga. Tapi sepertinya yang paling banyak kena sorot Vincent. Tidak apa-apa sih, walau di sini, dilihat dari sinopsisnya tokoh utamanya tak hanya Vincent namun juga Emma tapi menurutku Vincent lah yang memang karakternya paling menonjol setelah itu barulah Emma.

Vincent si bocah biang onar, pembangkang tapi sebenarnya juga cerdas dan memiliki bakat menggambar berhasil menyita perhatianku. Dia seperti remaja kebanyakan yang ingin dianggap dewasa tapi juga memang sifat kekanakannya masih tampak. Membuat karakter Vincent manusiawi soalnya banyak kutemukan karakter tokoh utama di novel-novel terlalu sempurna sampai kamu akan berpikir nggak bakal kamu temui di dunia nyata. Adegan yang paling bikin greget adalah saat Vincent coba-coba ke Misha Bar. Dia ditolong Alan, tapi bukannya terima kasih malah marah-marah. Rasanya ingin ketendang Vincent atau kumaki-maki. Hahaha! Lalu Emma yang juga adalah gadis cerdas dan keras. Dan aku menemukan sesungguhnya karakter keduanya memiliki kemiripan. Vincent dan Emma sama-sama keras satu sama lain. Jadi keduanya tidak semuanya bertolak-belakang.

Sewaktu baca, ada beberapa adegan yang membuatku trenyuh dan ikut hanyut ke dalam kisah si kembar. Pertama saat sang ibu meminta Vincent menggambarkan foto masa kecilnya dengan Emma, kedua saat aksi kabur si kembar dan saat bagian terakhir di mana pesta ultah kecil-kecilan diadakan. Jujur, mataku sempat berkaca-kaca. Wkwkwk!!!

Banyak hal yang bisa dipetik dari kisah ini. Soal... pasti segala sesuatu masalah ada alasannya. Seperti Vincent yang berubah menjadi berandal tak terkendali dan bahkan seperti membenci ibunya. Kadang kita cuma melabeli seorang itu nakal, seorang itu buruk dari sikap dan tampilannya saja tanpa mau tahu apa yang ada di balik hal yang membuatnya seperti itu. Tanpa pernah ibunya tahu, Vincent membencinya karena ibunya yang sempat terpuruk saat ayahnya meninggal dan selama setahun abai pada keluarganya. Dan juga keluarganya seperti Whitney, Emma bahkan sang Ibu melihat Vincent memiliki pergaulan yang buruk, memang sih buruk tapi tanpa mereka mengerti justru disitulah Vincent merasa diterima dan mendapatkan teman. Makanya dia lebih betah di bengkel ketimbang di rumah dan bertemu dengan orang-orang yang menatap dengan sorot menghakimi. Aku juga jadi mengerti kenapa adekku lebih betah main daripada duduk di rumah. #MalahCurhat :v

Oh iya... Untuk setting nggak usah diragukan lagi. Baca novel ini seperti baca novel terjemahan. Soalnya pendeskripsian tempat, suasana berikut kebiasaan para tokohnya sudah serasa benar-benar kayak di Amerika. Sudah melebur ke dalam cerita.

Kekurangan dari novel ini adalah kurang panjang dan kurang detail. Alurnya kecepetan. Hehehe~ #peace (Miss, habis ini boleh minta versi lengkap pemotongan jari?) Begini, dalam novel ini separuh lebih menuliskan tentang kehidupan keluarga Atherton dan banyak konfliknya barulah penculikan terjadi. Jadi kalau dibilang cerita ini mengambil dari kisah Hansel dan Gretel sangat jauh beda. Paling persamaannya cuma jejak. Menurutku, kasus penculikan seperti bukan kisah utama dalam novel ini tapi kisah perpecahan keluarga dan penyelesaiannya yang lebih banyak diungkapkan. Akan lebih bagus kalau kisah Whitney juga dituliskan. Misal: adegan dia disiksa mungkin. Hehehe~

Oke! Aku kasih 4 bintang dari 5 bintang untuk novel ini.

Sabtu, 01 Agustus 2015

[Review] Dongeng Ketiga Belas


Penulis : Diane Setterfield
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : November - 2008
Halaman : 608
Dimensi(L x P) : 135x200mm
Kategori : Suspense
Segmen : Dewasa
Text : Bahasa Indonesia

SINOPSIS BUKU

'Ceritakan padaku yang sesungguhnya'.

Permintaan sederhana itu mengusik hati Vida Winter, novelis ternama yang penuh rahasia. Bukankah selama enam puluh tahun ini dia telah mengarang banyak dongeng, tapi tak pernah mengungkapkan kisahnya sendiri? Namun, menjelang ajal, masa lalu tak dapat dihindarinya lagi, berapa pun banyaknya dongeng yang telah ditenunnya.

Maka Vida Winter mengundang Margaret Lea, penulis biografi muda, yang memiliki rahasia sendiri tentang kelahirannya, yang telah dikubur dalam-dalam oleh orang-orang yang paling dia kasihi, dan menciptakan bayang-bayang kelam yang membuntuti tiap langkahnya.

Inilah kisah Vida dan keluarga Angelfield: Isabelle yang cantik dan keras kepala, si kembar Adeline dan Emmeline yang liar, rumah besar Angelfield yang tua dan nyaris ambruk, serta semua penghuninya, hidup atau mati.

Sementara Margaret tenggelam dalam dongeng Vida, rahasia kelam itu lambat laun tersingkap, dan saat kebenaran mengemuka, kedua wanita itu pun harus menghadapi hantu-hantu yang selama ini membayangi hidup mereka.


***

Manusia menghilang ketika mereka mati... Namun ada pengecualian pada beberapa orang tentang hal ini. Karena dalam buku-buku yang mereka tulis, mereka tetap hidup... Dengan mukjizat tinta di atas kertas, mereka tetap terjaga. Ini semacam keajaiban.--Hal. 35

Kutipan di atas adalah isi pikiran Margaret Lea yang begitu menyukai buku--bahkan seluruh hidupnya dihabiskan bersama buku-buku di toko buku milik sang ayah dan menjadikan dirinya seorang penulis biografi tokoh-tokoh berpengaruh yang menarik minatnya--yang tentu saja sudah mati karena Lea tak begitu suka menuliskan kisah hidup orang masih ada.

Cerita bermula kala Margareth Lea mendapatkan surat dari seorang pendongeng terkenal, Vida Winter. Ada tawaran untuk Lea, bahwa dia diminta menuliskan biografi Vida Winter. Awalnya enggan. Bahkan sebetulnya tidak mau namun karena kata-kata, "ceritakan padaku yang sesungguhnya" cukup membuatnya tergelitik. Ditambah dia yang tak pernah membaca karya Vida, lalu hendak mencoba malah menjadi begitu suka dengan karya Vida, membuat Lea akhirnya setuju datang ke rumah Vida.

"Kita kadang-kadang menjadi sangat terbiasa pada kengerian yang ada pada diri kita, dan lupa betapa ngerinya hal tersebut pada orang lain.--Hal. 90

Siapa Vida Winter yang sesungguhnya?

Di novel ini kita akan dibuat penasaran oleh kisah-kisah yang diceritakan sang wanita tua ini juga perjalanan Lea dalam misi menguak misteri yang tersembunyi rapat di rumah keluarga Angelfield, keluarga Vida Winter sebelum dirinya mengganti nama dan menutup diri pada dunia.

Meski alurnya lambat dan saya dibuat harus membaca cerita yang bahkan sebelum Vida lahir, tapi cukup membuat penasaran akan kisah-kisah keluarga Angelfield. Vida memulai dengan kisah George yang terpuruk karena kehilangan istrinya. Oleh sebab diabaikan, putra George menjadi sosok anak nakal yang membuat sebagian besar pembantu rumah keluar. Lalu ada Isabelle, sang putri yang menyebabkan ibunya meninggal saat melahirkan dia, memiliki sifat-sifat yang tak lazim tapi memikat karena kecantikan dan kecerdasannya bahkan mampu membuat George sang ayah begitu menyayanginya--sampai-sampai bunuh diri karena Isabelle kabur dan menikah--juga Charlie, kakaknya yang membuat lelaki ini menutup diri dari dunia luar--tak pernah mau keluar dari kamar dan menghilang tiba-tiba setelah tahu Isabelle telah meninggal--terakhir ditemukan mayatnya yang sudah busuk dengan pistol di tangan.

Kisah bergulir pada si kembar, Adeline dan Emmeline, putri dari Isabelle. Kedua gadis cilik ini sudah aneh sejak kecil. Begitu liar dan bahkan berani menculik seorang bayi di desa hanya karena ingin main dengan kereta bayinya--dan bayinya ditinggal begitu saja. Lalu ketidakmauan mereka memakai bahasa Inggris pada umumnya. Mereka seolah punya dunianya sendiri dan memakai bahasa yabg hanya dipahami oleh keduanya.

Semasa itu, banyak keganjilan yang terjadi. Perubahan drastis Adeline yang semula begitu kasar, kini bisa cooperative bahkan suka membaca dan ikut berkebun dengan John Digence si tukang kebun yang sama setianya dengan Missus. Lalu bertemunya Lea dengan Aurelius yang dipercaya Lea bayi yang berasal dari peristiwa kebakaran rumah Angelfield. Juga misteri siapa yang mencelakai John hingga membuatnya mati.

Misteri terkuak satu per satu bukan hanya lewat pengakuan Vida Winter namun juga karena Lea yang berusaha menyelidiki sendiri dengan meminta bantuan dari orang-orang yang terkait dengan keluarga Angelfield juga pengamatannya saat beberapa kali berada di rumah Angelfield yang sudah hampir rubuh.

Endingnya sungguh tak terduga. Banyak kata, "ternyata" yang muncul di kepala saya. Ternyata Vida Winter yang di awal mengaku sebagai Adeline rupaya tidak. Ternyata Emmeline yang tinggal di rumah Vida dengan wujud buruk karena luka bakarnya yang parah juga diragukan kalau dia Emmeline. Dan tulang belulang siapa yang ditemukan di ruang perpustakaan saat perobohan rumah dilakukan. Dan jawaban-jawaban tak dinyana lainnya.

Meski dituliskan dengan sudut pandang Lea, namun ssesungguhnya Lea lebih seperti si pencerita kisah orang lain, dalam hal ini kisah keluarga Angelfield. Yah, meski Lea memiliki kisahnya sendiri yakni dia ternyata adalah kembar--tapi saudaranya meninggal--yang menjadikan dia alasan kenapa dipilih Vida untuk menjadi penulis biografinya, tapi kisah Lea seolah hanya menjadi selipan saja.

Saya menyukai buku ini, oleh karena saya menyukai kisah misteri. Walaupun cover bukunya tak sesuai dengan isi. Bukan karena tidak bagus lho. Lihat saja, cover hitamnya dan gambar-gambarnya indah menurut saya dan justru covernya yang menarik saya untuk membeli tapi tampak sekali cover itu seperti buku anak-anak dan terasa fantasi padahal isinya jauh dari fantasi. Misteri yang terasa dark, suram bahkan tidak cocok untuk remaja. Tapi setiap diksi dan setting yang detail dan penggambaran karakternya yang kuatlah yang membuat saya suka. Maka saya beri bintang 4 dari 5 bintang untuk novel ini.

Selasa, 30 Juni 2015

[Review] T[W]ITIT



T(W)ITIT!
Kumpulan Cerpen
Penulis: Djenar Maesa Ayu
Penerbit: GPU
Terbit: 2012, cetakan ke 2
Halaman: 106
Sinopsis:
Jika biasanya banyak buku yang terbit dari twitter berisi kumpulan tweet semata, maka T(w)ITIT! karya Djenar Maesa Ayu ini lebih dari sekadar itu.

Memiliki 61.000 lebih follower, akun twitter milik Djenar adalah salah satu akun terbesar dan terpopuler penulis perempuan Indonesia. Dari akun ini terpilih sebelas tweet Djenar yang kemudian dikembangkan menjadi cerita pendek.

‘Kehilangan adalah proses awal menemukan’, ‘Hidup bukan untuk mencari perhentian tapi untuk melakukan perjalanan’, ‘Jika ada anak panah yang menusukmu, berharaplah itu bukan berasal dari busur jenuhku’, adalah contoh beberapa tweet yang dikembangkan menjadi cerita di dalam buku ini. Banyak pembaca Djenar yang kemudian meneruskan kalimat-kalimat itu dengan me-retweet-nya, tapi kadang ada juga yang salah arti dan salah tangkap hingga kege-eran. Untuk hal yang satu ini, Djenar pun menuliskan: “Status twitter oleh beberapa orang sering ditengarai sebagai isyarat. Sorry, kamu salah alamat!’.

***

Ada 11 cerpen dalam buku ini dan semuanya bertokoh utamakan Nayla. Hanya 1 cerpen saja posisi Nayla hanya sebagai tokoh pembantu, tapi tetap saja Nayla selalu menyempil di semua cerita. Akan tetapi jangan lantas menganggap cerita dalam cerpen-cerpen ini saling menyambung. Tidak. Ada banyak Nayla dengan berbagai latar belakang di sini. Begitu beragamnya sosok Nayla ini. Ada Nayla si gadis pemilik alterego yang gemar mengumpat anjing, Nayla gadis belia yang harus menghadapi kejamnya hidup dengan memiliki seorang ibu pelacur, Nayla yang memiliki suami yang berselingkuh dengan sesama jenis, Nayla yang rela jadi selingkuhan dengan kakek-kakek, dan Nayla-Nayla lainnya.

Ini buku kedua karya Djenar yang kubaca. Seperti kebiasaan Djenar, diksinya selalu berima tapi tak terkesan kaku. Dalam setiap cerita yang disuguhkan, Djenar tidak terang-terangan menjelaskan isi cerita. Pembaca dibuat berpikir ini cerita sebenarnya mengangkat tentang apa sih? Dan selalu memiliki plot twist yang tidak tertebak. Seperti contoh kisah Astina dan selingkuhannya yang tengah memgantri kamar di motel. Percakapan panjang terjadi dengan dituliskan secara mendetail kondisi sekitar di mana begitu ramainya pengunjung. Lalu plot twist-nya waktu kepergok Nayla sang istri, rupa-rupanya sang selingkuhan bernama Bagus. Nah, di sini aku langsung berasumsi, selingkuhannya laki-laki.

Itulah Djenar Maesa Ayu. Di akhir cerita, dia tak memberikan jawaban, namun biar pembaca sendiri yang menjawab atau berasumsi sendiri. Makanya sewaktu membaca ini, aku selalu membaca ulang awalnya setelah selesai memginjak end. Tapi tidak semua cerita sih. Ada beberapa cerpen yang aku malas untuk memikirkan jawabannya atau menelaah isinya.

3 bintang buat karya ini.

[Review] Happiness Theory




Penulis : Arbie Sheena
Penerbit : Elf Books
Rencana Terbit : Maret 2013
Jenis Cover : Soft Cover
Halaman : 292
Ukuran : 135 x 200 mm
Berat : 250 gram
Harga : Rp49,500
Sinopsis:

Jung Jaehye tidak pernah menyangka akan bertemu dengan seorang gadis tanpa emosi bernama Song Hyemi. Hidupnya mulai diliputi ketakutan ketika mengetahui dirinya duduk di bangku siswa yang kabarnya dibunuh oleh Hyemi. Celakanya, siswa tersebut juga bernama Jaehye! Karena hal itu, banyak yang berspekulasi Jaehye akan menjadi korban selanjutnya.

Ketakutannya makin menjadi-jadi ketika Jaehye memergoki Hyemi sedang membelah katak dengan sadis di laboratorium. Bagaimana tidak, ia sendiri nyaris menjadi korban berikut setelah si katak malang itu!

Namun… seiring berjalannya waktu, mengapa ia malah terus memperhatikan Hyemi? Terlebih, setelah Jaehye menemukan novelet berjudul “Happiness Theory” di kamarnya.


***

Sudah tertarik dan penasaran setelah membaca sinopsisnya?

Aku tertarik. Makanya aku beli. Hehehe~ Setelah membaca--bahkan sudah 2 kali dan itu sangat jarang kulakukan--aku jadi ngefans pada setiap karya Arbie--yang awal kukenal kukira dia cowok.

Dikisahkan Jung Jaehye adalah anak baru di Dongguk. Dia mengidap erythrophobia yaitu phobia warna merah. Nah... sialnya dia bertemu Hyemi, gadis pelit ekspresi yang selalu memakai pita merah. Lebih takut lagi tatkala merebak gosip bahwa kursi yang dipakai Jaehye adalah kursi milik Lee Jaehye, siswa yang sudah meninggal dan konon Hyemi yang membunuhnya--didorong di atap.

Di rumah barunya, Jaehye juga menemukan sebuah mini novel yang tokoh-tokohnya menggunakan nama-nama buah. Sayangnya, cerita ini tidak sampai tamat. Usut punya usut kisah dalam novella itu ternyata kisah penghuni kamar sebelumnya dan tokoh di dalamnya adalah mendiang Jaehye dan Hyemi--versi gadis manis.

Oh, dalam novel ini tak hanya menyoroti Jaehye-Hyemi saja. Teman-teman Jaehye yang adalah anggota Klub Pecinta Hewan juga tak bisa diabaikan. Bihoon--yang tak pernah lepas dari PSPnya mengingatkanku pada Kyuhyun, Shinra--yang namanya mengingatkanku pada komik CMB, dan Dongjun, masing-masing memiliki karakter yang kuat. Friendship mereka begitu kental dan kocak. Aku jadi teringat film 3 Idiots saat baca bagian keempat orang ini berkumpul. Terus saat belajar bersama di rumah masing-masing secara bergiliran dan saat ketiga makhluk koplak ini berusaha menyembuhkan phobia yang diidap Jaehye atau melaksanakan misi menguak rahasia Hyemi-mendiang Jaehye.

Jangan takut kau akan bosan membacanya. Meski kisahnya ada bagian yang mengharu biru tapi nggak menye-menye malahan ini termasuk novel komedi yang nampol. Penulisan yang memakai sudut pandang Jaehye yang nyengit--sarkastis--kadang bikin ingin nampol sandal. Cuma sayangnya endingnya aku merasa ada yang kurang. Belum tuntas. Sebegitu kerasnya Jaehye selama ini berjuang untuk Hyemi masa hanya berakhir dengan melihat Hyemi si muka jutek nan angker tersenyum. Itu doang? Jadian dong... #ditoyorArbie

"Warna merahnya mencolok-colok mataku."

Kalimat yang selalu kuingat. Karena sering geli membayangkan orang yang jijik bin takut pada warna merah terpaksa selalu melihat warna merah--karena Hyemi.

Rating 3,5 bintang dari 5 bintang

Sabtu, 27 Juni 2015

[Review] GANTENG-GANTENG GENTAYANGAN




Penulis : Ayra
Penerbit : Ragam Media
Halaman : 220
Segmen : Remaja
Terbit : 2014
ISBN. : 978-979-911-508-9
Sinopsis :

"Tutup pintunya!"
Hampir gue kena serangan jantung mendengar perintah Micky yang tegas itu. Jelas perintah itu ditujukan buat gue karena nggak ada makhluk lain di sini. Gue menelan ludah, apa dia tahu kalau gue bisa melihat dia?

“Kenapa bengong? Gue tahu elo bisa dengar, bahkan melihat gue! Lebih baik elo tutup pintunya karena gue mau bicara panjang lebar sama elo. Gue rasa, elo pasti nggak mau teman elo di kamar sebelah ngira elo sinting karena bicara sendiri. Kamar ini kedap suara, asal elo menutup rapat pintu dan jendela.”

Namanya Micky. Matinya (katanya) karena bunuh diri, tapi dia sendiri nggak inget gimana persisnya. Pernah punya pengalaman dikhianati sahabat dan ditolak penerbit berkali-kali. Meski statusnya adalah hantu, semangatnya masih
manusia banget. Dia bersikukuh nggak akan pernah berhenti menulis sembari berusaha menuntut haknya.

Namanya Ayra. Karena sahabatnya, Risna, tergiur harga murah, dia jadi harus tinggal di sebuah rumah kontrakan yang di dalamnya berseliweran makhluk halus. Sejauh ini dia masih jomblo dan harus menguatkan iman karena tinggal sekamar dengan hantu terganteng yang seumur-umur baru ditemuinya.

Di satu sisi, keduanya hobi adu mulut. Di sisi lain, keduanya sama-sama mencari tahu penyebab kematian Micky yang masih jadi misteri….

***

Pertama, entah mengapa sewaktu saya membaca cerita di dalamnya. Rasanya tidak asing dengan cerita hantu gentayangan dan seorang 'mediator' (sebutan untuk orang yang bisa melihat hantu dan bersedia membantu hantu itu--yah, julukan ini saya dapat dari novel The Mediator series sih, hehehe). Beberapa novel termasuk The Mediator yang saya sebut di atas, juga mengangkat ide yang hampir sama. Seseorang punya indera ke 6--bisa lihat hantu--lalu membantu hantu itu, ada bumbu-bumbu romansa juga yang menyempil di dalamnya. Bisa dikatakan ide ini tidak begitu fresh dan baru. Namun tidak bisa dikatakan menjiplak atau plagiat seperti yang pernah saya dengar dan tuduhkan. Sekali lagi saya bilang, ide dasar ini cukup banyak dan tentu saja pastinya alur cerita lengkapnya berbeda.

Baiklah. Mari saya ceritakan sekilas isi di dalam novel ini...

Diceritakan Ayra dan temannya Risna menempati rumah baru yang mereka sewa secara patungan. Disitu, Ayra yang memiliki kemampuan melihat makhluk gaib mengerti kenapa biaya sewanya murah, soalnya tempat ini berhantu. Ayra mengalah demi keselamatan Risna, dia memilih tinggal di kamar berhantu sedang Risna aman tentram di kamar tanpa penunggu. Berdiamlah Micky, si hantu gentayangan ganteng di kamar Ayra. Dia tak seperti hantu-hantu kebanyakan dan Ayra cukup diherankan oleh karena hal itu.

Ayra punya cita-cita jadi penulis. Ternyata Micky juga semasa hidup memiliki mimpi yang sama tapi tak bisa berhasil menerbitkan novel hingga akhir hayat. Di sinilah kedekatan mereka dimulai. Micky menjadi guru privat Ayra. Mengajari bagaimana menulis yang benar, bla-bla-bla sekaligus dia meminjam laptop Arya untuk dirinya sendiri terus menulis. Saya cukup terhibur dengan interaksi mereka yang gemes-gemes lucu. Juga semangat Micky yang walau sudah berwujud hantu tapi punya niat besar untuk terus menulis. Micky itu tipikal tokoh utama yang ketus, pedes, egois tapi diam-diam memperhatikan. Mereka adalah couple yang cocok pokoknya. Interaksi mereka tak membosankan. Berbeda dengan bila Ayra bersama Ardi. Oh, ya. Ardi adalah senior Ayra dan memendam rasa padanya.

Konflik dimulai ketika suatu kebenaran terkuak. Rupanya Ardi dulu adalah teman baik Micky, Ardi jugalah penyebab Micky bunuh diri dan menjadi hantu penasaran seperti sekarang. Ada pertikaian di masa lalu yang belum terselesaikan. Lalu apakah permasalahan itu? Silakan dibaca sendiri.

Ayra menulis novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama dan dengan diksi ringan khas remaja. Komedi-komedi yang disajikan juga bisa menghibur. Hanya saja dibagian les privat Micky yang ketika dia menjelaskan pelajaran menulisnya itu cukup membosankan. Saya merasa baca buku pelajaran tapi bagi yang memang tidak tahu atau kurang tahu bagaimana menulis yang baik dan benar, novel ini rekomended banget. Selain kamu mendapatkan hiburan--bikin senyum-senyum trenyuh--kamu juga bisa belajar dengan Micky sebagai gurumu. Pokoknya novel ini bermanfaat bagi yang suka menulis juga dan bermimpi menjadi novelis.

Sebagai penutup review saya, ada beberapa kalimat-kalimat yang saya sukai dan jadi penggugah semangat. Berikut saya sertakan:

"Secara fisik gue memang mati, tapi otak gue nggak ikut mati untuk berkarya. Memang semasa hidup gue berharap novel gue bisa diterbitkan, tapi setelah gue jadi hantu seperti sekarang yang terpenting bukan itu, tapi bagaimana cara gue nggak menyia-nyiakan bakat yang gue miliki."--Micky; hal 67

"Dasar manusia, mudah kok dibikin rumit."--Micky; hal 72

"Manusia cenderung mendahulukan pandangan subjektif dibanding mengedepankan sisi objektifnya."--Ayra; hal 114

Jumat, 26 Juni 2015

Menyaru, Menyatu


Tak apa kumenjadi lilin,
Ia remuk dilahap cahaya,
Yang ia pancarkan sendiri,
Yang ia bagikan sendiri...

Namun jangan kau kira ia hilang bentuk...
Ia tak hilang,
apalagi musnah...

Ia hanya menguar,
menjadi bentuk yang lebih lembut,
menjelmalah ia jadi senyawa
yang kau hisap tanpa kau tahu,
bahwa aku telah memasukimu
merasuk dalam detak jantungmu,
mengalir dalam nadimu...

Meski tak kau sadari
Meski prosesnya tak kau pahami

Aku ingin percintaan kita,
Bak udara dengan manusia
yang mungkin dirasa,
ketika tiada menggusur ada...

Tahukah kau,
Jikapun kau anggap aku penebar cahaya
Tak pernah sudi kujadi lampu,
yang tak mau berkorban diri,
untuk menjadi ujud yang lebih lembut...

Aku ingin jadi lilin,
tak mengapa menjadi lilin
karena remuknya diriku,
membuatku menyatu denganmu
Tanpa kau tahu...

Tanpa kau tahu,
Tak mengapa kau tak tahu...

~~~

By: Deaz