Selasa, 03 November 2015

[Review] INSURGENT


Penulis: Veronica Roth
Penerjemah: Nur Aini
Penerbit: Mizan Fantasi
Terbit: Cetakan X, September 2014
Halaman: 551
ISBN: 978-979-433-737-0
Sinopsis:
Satu pilihan bisa mengubahmu, atau justru menghancurkanmu.
 
Konsekuensi pilihan yang diambilnya membuat Tris terjebak dalam  faksi pengkhianat yang membunuh keluarganya. Kini, Tris harus mencoba menyelamatkan orang-orang yang disayanginya, juga dirinya sendiri, sementara benaknya dikacaukan oleh berbagai pertanyaan tentang kesetiaan, identitas, dan pengampunan.

Ketika ancaman perang dan perpecahan faksi semakin mengancam, Tris harus memutuskan, tetap pada identitasnya sebagai Dauntless atau memunculkan dirinya yang sejati. Sebagai Divergent. Sebuah identitas yang dianggap berbahaya dan dihindari semua faksi.

***

"Seperti hewan liar, kebenaran terlalu kuat untuk dikurung."
--dari manifesto faksi Candor

Dalam perjalananku membaca Insurgent, aku menemukan rupanya begitu banyak ketidaksamaan dengan film yang aku tonton--atau aku mungkin lupa beberapa detail di film, who knows? Tapi aku lebih suka versi novel daripada film. Syukurlah aku membaca Insurgent setelah sebelumnya merasa kalau harus membaca Allegiant saja toh Divergent dan Insurgent sudah nonton filmnya. Tak seperti Divergent yang sebagian besar sama dan membuat aku bosan kala membacanya karena sudah tahu ceritanya mau ke mana, beda dengan Insurgent masih saja lanjut dan lanjut membaca lantaran penasaran akan isi ceritanya.

Oke, aku akan menuliskan kesanku saja mengenai novel ini. Kenapa aku lebih suka Insurgent versi novel? Di sini interaksi Tris dengan berbagai orang lebih banyak. Dan menjadi lebih terasa realistis. Kita logika saja, Tris yang seorang Divergent dan dibilang Jeanine mempunyai otak istimewa yakni peniru atau sangat mudah beradaptasi dengan beberapa faksi pastilah juga akan dengan mudah membaur maupun akrab dengan berbagai jenis orang. Nah, di sini terbukti melalui beberapa interaksinya dengan beberapa orang. Melalui interaksinya, aku jadi menganggap orang-orang ini seperti: Marlene, Cara, Uriah, Lynn, Zeke, dll itu bukan sekedar cameo. Mereka termasuk penting dalam cerita meski kemunculannya cuma mendapat porsi sedikit. Sehingga saat aku menemukan bahwa ada tokoh yang harus meninggal (contoh: Marlene dan Fernando), aku merasa ikut menyesalkan juga. Beda dengan versi film yang tidak menonjolkan tokoh-tokoh cameo ini saat Tris berinteraksi dengan mereka, jadi ya saat ada yang mati, ya begitu saja, tidak ada perasaan ikut sedih. Itu karena mereka tidak menonjol sehingga penonton tidak mengenal mereka.

Selanjutnya soal jalan ceritanya ada beberapa tekhnologi yang muncul di film tapi tak ada di novel. Contoh: Alat pendeteksi yang bisa mengetahui berapa persentase Divergent dalam diri seseorang. Di novel tak ada tuh. Jeanine tahu Tris istimewa karena diberitahui Caleb bahwa Tris mendapat tiga faksi saat tes simulasi kecakapan. Lalu di akhir cerita juga agak berbeda tapi kalau dituliskan nanti yang belum membaca mendapat spoiler. Hehehe~

Oh, iya, kekurangan novel ini adalah ada beberapa typo yang kutemukan. Soal bahasa sih yang ditulis penerjemah cukup bagus, tidak monoton dan santai sehingga yang membaca mudah mengikuti tanpa mengerutkan dahi karena ada kata-kata atau kalimat njlimet yang kurang dimengerti. Dan karena ada Allegiant jadi ending-nya gantung tapi cukup bikin penasaran akan lanjutannya. Kepalaku jadi bertanya-tanya siapa Amanda juga Edith Prior? Terus apa yang terjadi pada dunia sebelum pembentukan faksi? Kok gerbang ke dunia luar dibawa faksi Amity segala. Apa yang ada di dunia luar sampai mereka harus mengisolasi diri dan membentuk faksi?

Berikut quotes favoritku selama membaca buku ini:
"Untuk mendatangkan kedamaian, pertama-tama kita harus percaya."
--Johanna Reyes; hal. 39
"Terkadang, perubahan drastis membutuhkan tindakan drastis."
--Evelyn Johnson; hal. 125
"Biarlah rasa bersalah mengajarkanmu bagaimana harus bersikap di lain waktu."
--Andrew Prior; hal. 175
"Kita tak perlu menonjok muka orang untuk menunjukkan kekuatan kita."
--Tris; hal. 190
"Menurutku kita menangis untuk melepaskan bagian hewani dari diri kita tanpa kehilangan kemanusiaan kita."
--Tris; hal. 359
"Teknologi seharusnya membuat hidup jadi lebih baik."
"Apapun yang kau yakini, selalu ada teknologi untukmu."
--Cara; hal. 472
 "Tapi ingatlah, terkadang orang yang kau tindas menjadi lebih kuat daripada yang kau inginkan."
--Johanna Reyes; hal. 540

Sebagai penutup, aku kasih 4,5 dari 5 bintang untuk Insurgent yang berhasil bikin aku enggan berhenti membaca.

Rabu, 28 Oktober 2015

[Review] The Golem's Eye


THE BARTIMAEUS TRILOGY #2: The Golem's Eye

Penulis: Jonathan Stroud
Penerjemah: Poppy D. Chusfani
Penerbit: GPU
Terbit: Cetakan kedua, Agustus 2007
ISBN: 978-979-22-2963-9
Genre: Fantasi
Halaman: 624
Sinopsis:
Karier Nathaniel di pemerintahan terus meroket. Tapi kelompok pemberontak Resistance terus melakukan pengerusakan di London. Pekerjaan dan nyawa Nathaniel jadi terancam, bukan hanya akibat aksi Kitty dan teman-temannya, tapi juga karena suatu kekuatan yang tak dikenal serta membingungkan.
Nathaniel pun terpaksa melakukan misi berbahaya ke kota musuh, Praha, dan harus memanggil lagi jin menjengkelkan, misterius, dan berlidah tajam, Bartimaeus.
***

"Nathaniel. Aku bisa bilang apa? Meskipun kami kadang-kadang berbeda pendapat, aku pernah berharap ia akan menjadi orang yang sedikit berbeda daripada normalnya penyihir. Ia menunjukkan inisiatif besar di masa lalu, misalnya, dan sedikit lebih banyak sifat mementingkan orang lain."
--Bartimaeus; hal. 482-483

Tak hanya Bartimaeus yang mengeluh akan perubahan perangai Nathaniel, aku yang membaca pun juga, rasanya pingin aku ceburin itu bocah ke sungai Thames. Pasalnya, di sini Nathaniel lebih arogan, sombong dan sangat ambisius plus yang paling tak kusukai Nathaniel menjadi seorang pemuda pesolek yang terlalu memerhatikan penampilan dengan berlebihan juga menjadi bukan dirinya dengan cara meniru sikap penampilan penyihir lain agar dia bisa tampak sehebat mereka. Intinya Nathaniel di buku ke dua terlalu ingin cepat naik kariernya di kementrian.

Nah, hidupnya sehabis insiden Simon Lovelace itu amat mulus. Mendapat master baru yang lumayan berpengaruh dan bisa membuat dia semakin menjadi penyihir hebat, lalu direkrut masuk ke kementrian. Tapi semua itu menjadi porak-poranda sejak ada insiden beberapa tempat favorit dan terkenal di Inggris diserang Golem (katanya Bartimaeus yang disangsikan para menteri). Nathaniel yang disuruh bertanggung jawab menyelidiki dan menangkap dalang dari kejadian itu. Mulai di sini, dia semakin nggak respect dengan masternya juga merasa selalu terancam posisinya digulingkan. Belakangan, dia memilih mengejar resistance dan menangkap Kitty serta mengambil tongkat Gladstone yang dicuri sendirian supaya ambisinya mendapat kedudukan tinggi dan dihormati bisa tercapai. Tapi apa? Dia malah tertangkap Polisi Malam dan dituduh menjadi sekutu resistance. Poor, Nathaniel!

Untungnya, di sini ada tokoh utama lainnya yang porsinya tak kalah banyak daripada Nathaniel dan sang Jin Bartimaeus, eh? Malah porsinya lebih banyak daripada Nathaniel menurutku. Yak, seperti yang sudah kusebutkan, Kitty! Anggota Resistance yang di buku 1 hanya muncul sekilas saja.

"Itulah sebabnya aku tertarik waktu mengetahui kau datang untuk menyelamatkan Hyrnek. Akui saja, itu keputusan bodoh, dan kau sebetulnya tidak perlu mengambil resiko ini. Tidak ada seorang pun yang memaksamu. Kau salah langkah, tapi dengan alasan yang patut dikagumi..."
--Bartimaeus; hal. 542

Aku sepaham dengan kata-kata Bartimaeus di atas tentang Kitty. Aku suka sifat Kitty yang pemberani, peduli padahal bisa saja dia memilih untuk kabur daripada menolong dan peka. Kekurangannya hanya nekat. Kadang--dan memang begitulah bocah pada umumnya--dia terlalu ceroboh dan labil tapi kecerobohan berakibat fatal di masa tiga tahun lalu membuatnya menjadi sosok yang berhati-hati. Oh iya, aku jelaskan singkat siapa Kitty. Di masa lalu, Kitty lolos dari serangan mantra Jin yang dikendalikan Julius Tallow seorang Menteri Urusan Dalam Negeri. Bukan dia yang terluka melainkan sang teman bermain, Jacob. Sejak itu Kitty menaruh dendam pada para penyihir karena sudah bertindak tak adil padanya dan Jacob. Itulah juga yang membuat Kitty direkrut dalam kelompok pemberontak sekaligus pencuri benda-benda magis, Resistance yang dikepalai oleh Mr. Pennyfeather.

Misi pemcurian benda-benda magis di makam Gladstone membuat Kitty harus kehilangan seluruh rekan dari resistance--kecuali Nick yang kabur entah ke mana dan Mr. Hopkins yang tak bisa Kitty percayai. Dari semua benda jarahan yang tertinggal, Kitty berhasil membawa tongkat Gladstone yang pada akhirnya diinginkan banyak orang termasuk Nathaniel supaya kariernya naik tapi malah jadi tersangka. Di bagian ini setelah dituliskan dengan terpisah, Kitty - Nathaniel akhirnya bertemu. Ini yang aku tunggu-tunggu setelah sebelum baca buku ini aku mendapat spoiler kalau Nathaniel nanti mendapatkan pasangan(?). Hehehe...

Nah, setelah selesai membaca banyak muncul pertanyaan di kepala:

  • Siapa Mr. Hopkins? Sepertinya ada tujuan tertentu dia berada di resistance juga menjadi otak atas tindakan Duvall.
  • Siapa si pembunuh bayaran? Sampai di buku 2 belum nampak titik cerah identitasnya.
  • Sholto juga Makepiece sepertinya juga patut dicurigai deh.
Terakhir, aku kasih bintang 4,5 dari 5 bintang untuk novel ini.

Selasa, 27 Oktober 2015

Blogtour So, I Married the Anti-fan


Kepingin ikutan Giveaway berhadiah novel ini? Silakan membaca syarat dan ketentuannya di link giveaway 
Oh iya, bagi yang tertarik kepingin tahu semenarik apa sih novel 'So, I Married the Anti-fan' ini, silakan baca reviewnya di link review

SELAMAT MENGIKUTI!*0*)9

Kamis, 15 Oktober 2015

[Review] The Amulet of Samarkand



THE BARTIMAEUS TRILOGY #1: The Amulet of Samarkand

Penulis: Jonathan Stroud
Penerjemah: Poppy D. Chusfani
Penerbit: GPU
Terbit: Cetakan ketiga, Oktober 2007
ISBN: 978-602-030-389-5
Genre: Fantasi
Halaman: 512
Sinopsis:
Nathaniel, si penyihir muda, diam - diam memanggil jin berusia 5.000 tahun bernama Bartimaeus. Tugas untuk Bartimaeus tidak gampang — ia harus mencuri Amulet Samarkand yang berkekuatan dahsyat dari Simon Lovelace, master penyihir yang kejam dan ambisius.

Bartimaeus dan Nathaniel pun terlibat dalam intrik sihir yang penuh darah, pemberontakan, dan pembunuhan.

***

Pertama, jempol empat deh buat Jonathan Stroud karena berhasil membuat karya sekeren ini. Aku suka karakter Bartimaeus-nya yang sombong, humoris tapi pedas juga punya otak briliant. Uniknya, footnote yang biasanya cuma dipakai sebagai penjelasan kata asing atau apa, ini malah sering dipakai Bartimaeus untuk curhat atau mengkomentari hal-hal yang tak begitu penting--tapi malah justru itulah yang lucu. Jadi di dalam novel ini, isinya nggak melulu fantasi yang terasa suram tapi juga terselip celotehan dan kelakuan sang jin yang bikin senyum-senyum sekaligus pengen lempar sepatu kalau aku jadi tuannya.

Nilai plus lain dalam novel ini, dengan gaya tulisan Jonathan yang khas, pembaca tidak pernah merasa bosan saat membaca sejak lembar pertama. Deskripsi tempat yang detail, deskripsi karakter dan penampilan serta kelakuan tiap-tiap tokoh di dalamnya menonjol sehingga mempermudah pembaca membayangkan seperti apa kondisi dalam cerita ini. Eh? Tapi ada keanehan ding. Aku tahu setting di novel ini adalah masa sekarang, tapi kalau kubaca malah aku membayangkan situasi masa London jaman dulu sejaman dengan Jack The Ripper gitu deh. Soalnya suasana yang dibangun di sini terasa gelap, suram dan terkesan kuno. Yah, hampir kayak Harry Potter gitu deh, masa modern tapi terasa kuno. Bedanya novel ini dengan Harry Potter selain cerita, ya itu, kalau di Harry Potter para penyihir dan dunianya terkesan rahasia. Tapi di sini justru pemerintahan Inggris dikuasai oleh kaum Penyihir, bukan Commoner--sebutan untuk manusia biasa. Selain itu, tak seperti Harry Potter yang ada sekolah khusus Penyihir, di sini malah calon-calon Penyihir diajari privat oleh Penyihir senior. Seperti anak adopsi, mereka dibeli--atau diambil--dari para orang tua, lalu diberikan kepada Penyihir senior dan dilatih hingga mereka layak menjadi penyihir matang. Di sini bila usia sang Murid menginjak dua belas tahun, maka mereka akan mendapat nama resmi dan nama asli mereka sejak lahir harus dilupakan soalnya berbahaya bila penyihir pesaing atau jin tahu nama aslinya, itu akan mereka jadikan senjata untuk menyerang balik. Intinya, cerita di novel ini keren dan bikin betah terus membaca sampai selesai.

Selain itu, aku bersyukur Jonathan Stroud menuliskan di novel ini menggunakan dua sudut pandang yakni pov. 1 dengan si akunya adalah Bartimaeus lalu pov. 3 digunakan bila Bartimaeus bukan fokus utama dalam adegan yang dituliskan. Kenapa bersyukur? Coba kalau dia menggunakan murni pov. 3 saja, maka kekonyolan, kecerdikan bahkan apa yang dipikirkan Bartimaeus takkan terbaca jelas karena tokoh yang paling kuat karakternya dan sangat khas itu sang Jin 5000 tahun, Bartimaeus.

Diceritakan, Nathaniel seorang murid dari Arthur Underwood mengalami hal tak mengenakkan dan melukai harga dirinya--yang terlalu tinggi. Aku tak begitu menyukai karakter Nathaniel yang merasa dirinya pintar, yah memang pintar sih, tapi menurutku dia terlalu overpede dan hasilnya malah gegabah dan labil. Dia berencana membalas dendam pada Penyihir yang membuatnya malu dan sakit hari, Simon Lovelace sekalian juga sang Master yang saat dia disakiti secara fisik maupun psikis, sang master tak membelanya. Nah cara balas dendamnya dengan cara memanggil Jin bernama Bartimaeus lalu menyuruhnya mencuri Amulet Samarkand dan diperintahkan meletakkan Amulet itu ke ruang kerja sang master.

Tanpa dia sadari, yang awalnya hanya misi balas dendam kecil-kecilan rupanya malah berbuntut panjang dan penuh bencana. Amulet itu bukanlah benda sihir biasa dan rupanya itu juga dicuri Lovelace dari pemerintah. Gara-gara dia, Master dan Istrinya meninggal oleh karena Simon Lovelace sedang dia menjadi kambing hitam dituduh sebagai otak kebakaran rumah masternya terjadi. Misi awal yang dirasa tak terlalu berbahaya kini malah harus mempertaruhkan nyawa dan menjadi rumit. Pasalnya Nathaniel hanya seorang penyihir yang baru mendapatkan nama resminya beberapa hari lalu, sedang Simon adalah penyihir berbahaya sekaligus orang pemerintahan yang memiliki banyak budak jin yang hebat dan yang paling hebat adalah Jabor dan Faquarl. Bagaimana dia yang adalah bocah yang baru resmi mendapat nama penyihirnya dan Bartimaeus yang hanyalah jin tingkat empat belas level menengah mampu mengalahkan Simon dan seluruh budaknya?

Oh iya berikut kutipan-kutipan favoritku:
  • "Kau harus berhenti mengkhawatirkan apa yang belum kaumiliki dan menikmati apa yang telah kaudapatkan sekarang."--hal. 113
  • "Kebebasan hanyalah ilusi. Selalu ada harga yang harus dibayar."--hal. 168
  • "Meskipun dalam keadaan sulit, masih ada beberapa hal yang dapat kunikmati."--hal. 239
  • "Tak mengapa--semua yang diawali dengan baik, berakhir dengan baik."--hal. 348

Terakhir, 4,5 dari 5 bintang untuk novel kece ini.

Senin, 12 Oktober 2015

[Review] VAMPIRE FLOWER #1

VAMPIRE FLOWER #1

Penulis : Shin Ji Eun
Penerjemah : Putu Pramania
Penerbit : Haru
Terbit : Agustus 2015
Halaman : 518
ISBN : 978-6027-742458
Sinopsis :
"Warna kelopak bunga itu lebih merah dibanding darah, wanginya begitu kuat sehingga mampu memikat vampir mana pun. Jika seseorang memiliki bunga itu, maka ia akan menduduki posisi paling tinggi di antara vampir-vampir yang lain.”

Suatu malam Kang Seo Yeong melihat teman sekolahnya dibunuh oleh seorang vampir tepat di depan matanya. Untungnya, ia selamat berkat bantuan vampir lainnya bernama Louvrei yang berwujud remaja laki-laki. Seo Yeong sangat terpesona akan wajah Louvrei yang sangat imut. Apalagi ketika ia mendengar janji Louvrei.

“Aku akan selalu menjagamu. Jadi, jangan percaya pada siapa pun, kecuali aku.”

Tapi, ia harus mematuhi satu syarat. Ia harus membantu Louvrei yang sebenarnya berusia 537 tahun untuk mencari ‘Bunga Vampir’. Sementara itu serangan para vampir semakin gencar terhadap manusia karena mereka mengganggap manusialah si pencuri. Mereka harus menemukannya secepat mungkin sebelum kekacauan yang lebih besar terjadi … 

***

Bercerita tentang Loui atau Louvre yang sedang mencari bunga vampire supaya dia bisa menjadi Lord (kepala para vampire). Bunga vampire yang hilang dan membuat Lord sebelumnya mati disinyalir dicuri oleh kaum Half dan vampire pihak lain yang juga mengincar posisi Lord. Di sini, Loui mengikat perjanjian dengan Seo Yeong untuk membantunya mencari bunga vampire itu. Dalihnya si Loui sih, Seo Yeong disuruh mencari saat hari terang karena seperti yang banyak diketahui vampire lemah pada matahari (tadinya kupikir juga gitu tapi ada scene di mana Loui Lecca baik-baik saja tuh keluar siang-siang). Nah, ini yang kurang srek menurutku, kalau awalnya Seo Yeong disuruh nyari, kenapa justru di sini peran Seo Yeong dalam misi pencarian sangat sedikit? Bahkan dia disuruh bolos sekolah lalu tinggal di rumah Baek Han supaya tidak mengalami bahaya. Nah, loh, dia malah jadi putri yang dilindungi sekaligus di kelilingi cowok-cowok tampan. Padahal dia hanya manusia biasa yang sampai di bagian akhir tidak menyimpan kekuatan tersembunyi—kecuali rahasia bahwa pamannya adalah salah satu orang yang menyembunyikan bunga vampire.

Isi tak seindah covernya. Itu selarik kalimat yang menurutku sesuai dengan apa yang kurasakan sehabis membaca novel ini. Pasalnya diksinya monoton dan cukup membosankan karena penulis atau penerjemah kurang lincah dalam bernarasi. Untuk satu paragraf saja, aku banyak menemukan pengulangan kata, terlalu banyak memakai ‘itu, ‘tersebut’ dan banyak kata lainnya. Juga keterangan yang sudah dijelaskan sebelumnya dijelaskan lagi sehingga terasa dipanjang-panjangin dan berputar-putar.
Contoh:
Pasti orang itu sudah tahu bahwa Eliza akan datang. Gadis tersebut mengerutkan dahi melihat orang itu tidak ada di tempat. Salah seorang dari mereka yang ada di ruang kontrol segera membawa Eliza untuk bertemu dengan orang itu.Eliza akhirnya menemukan orang itu sedang menelepon di ujung koridor yang terletak tidak jauh dari ruang kontrol. (hal. 415)

Padahal deskripsi fisik, karakter ataupun setting tempat di dalam novel kurang dideskripsikan dengan detail. Bukankah akan lebih bagus bila nama atau orang itu, dll diganti dengan ciri fisik orang-orang yang muncul di dalamnya. Elain untuk mempermudah pembaca membayangkan bagaim,ana tokohnya juga mengurangi pengulangan kata yang terkesan membosan saat dibaca.

Ah, untuk beberapa ide aku acungin jempol untuk penulisnya. Banyak novel mengambil cerita vampire dan yang membedakan Vampire Flower dengan novel vampire lainnya adalah… yah, kalau aku beritahu nanti spoiler dong yak. Hehehe~ Intinya begini, di Vampire Flower tidak yang namanya vampire perempuan. Baca buku ini aku malah teringat Ratu Lebah. Juga, aku suka system bentengnya yang tiap-tiap vampire memiliki kamar masing-masing lalu bisa masuk dari mana saja asal dia pemilik kamar tersebut. Selain pemilik kamar tak ada yang bisa membukanya. Sayangnya deskripsi seperti apa bentengnya dan terletak di belahan bumi mana tak dijelaskan. Selain itu ada werewolf yang di sini justru bukan musuh para vampire, malah seperti peliharaan saja. Terus Half yaitu kaum blasteran manusia vampire yang berada di tengah-tengah, tak terlalu kuat dan abadi seperti vampire tapi juga tak seperti manusia biasa selain itu, darah Half justru dapat membunuh vampire, maka dari itu para vampire banyak yang membantai kaum Half sejak awal mereka dilahirkan—kecuali Baek Han yang justru diselamatkan Loui.


Okeh, terakhir aku kasih 3,5 bintang dari 5 bintang untuk novel terjemahan ini yang ekspektasiku terlalu tinggi karena covernya yang cantik.

Minggu, 04 Oktober 2015

[Review] DIVERGENT

Penulis: Veronica Roth
Penerjemah: Anggun Prameswari
Penerbit: Mizan Fantasi
Terbit: Cetakan I, April 2012
Halaman: 544
ISBN: 978-979-433-809-4

Sinopsis:
Di dunia masa depan, manusia dipisah-pisahkan oleh berbagai faksi tergantung pada kecenderungan sifat alamiah mereka. Tris Prior adalah seorang Divergent. Dia tak cocok dengan faksi apa pun yang ada di masyarakat.

Ketika dia menemukan adanya konspirasi untuk memusnahkan semua Divergent, Tris harus mengungkap mengapa menjadi Divergent dianggap berbahaya, sebelum semuanya terlambat.

***

Akhirnya selesai dibaca di sela-sela kerja dan kegiatan lainnya. Lumayan lama menyelesaikan novel ini. Sehari rata-rata aku membaca 50-an halaman dan seminggu lebih baru selesai sepenuhnya. Jauh dari komitmen awal yakni sehari 100 halaman. Wkwkwk~

Mungkin karena efek sudah menonton filmnya lebih dulu jadi aku merasa nggak surprize aja saat membacanya karena keseluruhan isi novel sama dengan filmnya--kayaknya. Biasanya aku melihat antara film dan novel ada perbedaan tapi Divergent tidak. Namun ada sisi positifnya dari menonton lebih dulu. Saat membaca, aku mudah membayangkan keadaan dunia dalam novel ini--tidak termasuk wajah para tokoh, karena Tris dalam novel aku bayangkan tak terlalu cantik, tubuh mungil dan terlihat rapuh berbeda dengan Tris dalam film yang pasti semua setuju dia cantik dan tidak mungil.

Aku suka dengan buku ini. Banyak aksi yang dituliskan dengan jelas. Emosi yang dilampirkan juga tersampaikan. Bagaimana Tris merasa bersalah sekaligus kecewa pada Al yang memilih bunuh diri karena merasa bersalah. Bagaimana dia merindukan keluarga dan faksi lamanya. Betapa menyenangkannya punya teman-teman seperti Christina, Will, Uriah dan Marlene--aku suka saat interaksi Tris dan teman-temannya saat makan, keakraban mereka terasa sekali. Serta sisi romantisme pun ada. Bahkan perasaan jengkel di bagian-bagian tertentu pun muncul. Contohnya kenapa Tris nggak nembak mati Eric aja? Kenapa cuma kakinya? Pokoknya buku ini benar-benar kompleks. Paket komplit.

Kekurangan novel ini adalah typo bertebaran. Beberapa pengulangan kata yang berlebih dalam satu paragraf yang bikin boring serta jadi terasa nggak lincah diksinya. Lalu tidak konsistennya penerjemah dalam pemakaian kamu atau kau.

Oh, iya. Bagi yang belum pernah membaca maupun menonton Divergent. Novel ini bergenre fantasi-science fiction. Bercerita tentang dunia yang dikelompokkan, yaitu: Abnegation yang tanpa pamrih, Erudite yang haus pada pengetahuan, Dauntless yang pemberani, Amity yang bijaksana serta Condor yang adil dan jujur. Suatu ketika Tris mengikuti tes kecakapan dan mendapati dirinya tak bisa digolongkan yang berarti dia adalah divergent. Di sinilah konflik bermula. Tris memilih Dauntless sebagai faksi barunya. Disamping berusaha mendapatkan peringkat 10 besar saat inisiasi agar dia tak menjadi factionless, Tris harus berusaha menyembunyikan identitas divergent-nya itu. Bersama Four sang instruktur, Tris mencoba bertahan hidup serta membantu faksi lama dan barunya lepas dari cengkeraman Jeanine, Pemimpin Erudite yang berniat membasmi Abnegation lewat tangan Dauntless.

Berikut kutipan favorit yang kutemukan dalam novel ini:

"Cara terbaik untuk membantu seseorang itu cukup berada di dekatnya."--Tris; hal. 219

"Sopan santun adalah kepalsuan yang dikemas dengan cantik."--Christina; hal. 98

Terakhir, 4,5 bintang dari 5 bintang untuk novel ini.

Selasa, 22 September 2015

[Review] FOUR: A Divergent Collection


FOUR
A Divergent Collection

Penulis : Veronica Roth
Penerjemah : Esti Budihapsari
Penerbit : Mizan Fantasi
Terbit : Cetakan IV; Maret 2015
Halaman : 288
ISBN : 978-979-433-859-9
Sinopsis :
Dua tahun sebelum Beatrice Prior menentukan takdirnya, putra pemimpin Abnegation melakukan hal yang sama. Tobias Eaton berkhianat dari Abnegation berpindah ke Dauntless, dan berubah menjadi Four. Mencari kebebasan dan kehidupan yang bebas dari masa lalu. Ternyata di Dautless pun Four masih meragukan pilihannya. Apabila secara tak segaja dia mengetahui persekongkolan antara pemimpin Dauntless dan Erudite. Sementara, sang Ibu yang teryata masih hidup menginginkan bergabung dengan Factionless.

Haruskah Four kembali berkhianat? Pantaskah faksi ‘tanpa pamrih’ yang teryata menyembunyikan moster sekejam Marcus Eaton diselamatkan? Four dihadapkan pada pilihan sulit. Mungkinkah pengkhianatan memunculkan kebebasan?

Four: A Divergent Collection mengisahkan perjalanan Divergent Trilogy dari sudut pandang Tobias Eaton. Dengan bonus tiga kisah eksklusif bersama Tris. Kisah pelengkap Divergent Trilogy yang romantis dan penuh aksi.

***

Novel yang paling tipis dari antara 4 novel Divergent ini memiliki beberapa bagian sebagai berikut: The Transfer, The Initiate, The Son, The Traitor dan 3 bonus exclusive scene yang maha pendek. Dan semuanya mengisahkan awal mula seorang Abnegation, Tobias Eaton menjadi seorang Dauntless, Four.

Meski aku punya 4 bukunya lengkap tapi yang aku baca pertama justru Four. Kenapa? Karena sudah nonton Divergent dan Insurgent jadi sedikitnya tahu ceritanya seperti apa. Lalu Allegiant habis ini akan aku baca. Hehehe~ Oke, Mari kita bahas perbagian.

THE TRANSFER
"Kau sendiri yang akan menanggung konsekuensi dari pilihanmu."--Tori; hal 19

Seperti Tris, Tobias juga melakukan simulasi sebelum pemilihan faksi dan dia terpilih di Abnegation. Tapi... rupanya itu tidak dia turuti. Dia tidak mau disiksa lagi oleh Marcus, ayahnya. Dan hingga saat pemilihan, Tobias masih belum menentukan faksi mana yang akan dipilihnya. Lalu di detik terakhir, akhirnya dia memilih Dauntless demi untuk mendapatkan kebebasan serta membalas dendam pada sang ayah--karena faksi yang paling dibenci Marcus adalah Dauntless. Di sinilah awal mula kenapa Tobias berubah menjadi Four. Rupanya karena dia hanya memiliki 4 ketakutan saja. Jumlah ketakutan paling sedikit yang pernah ada.

Di sini aku bisa merasakan kebencian Tobias pada Marcus namun segala siksaan sang ayah tak bisa dia tangkis. Dari sudut pandang Tobias, buku ini dituliskan dan dia selalu menyebut nama Marcus bukan ayah. Ini mengindikasikan bahwa dia tak menganggap sosok Marcus adalah ayah melainkan hanya manusia sadis yang berpura-pura pada khalayak ramai menjadi seorang dewan Abnegation yang patut dijadikan panutan. Di sini kita tahu, bahwa Abnegation tak sebaik itu. Dan sama seperti Tobias, aku juga suka dengan pilihannya meninggalkan faksinya dan memilih Dauntless. Betapa pilihannya itu akan memukul telak sang ayah dan akan mempermalukannya.

THE INITIATE
"Sering kali kematian datang tanpa memedulikan kau sempat mengucapkan selamat tinggal atau tidak."--Amar; hal. 79

Sikap Four yang menutup diri dan tak mau bersosialisasi perlahan ditarik keluar oleh Amar yang menjadikan sosok Amar penting bagi Four. Di bab ini kita akan mendapati Four berjuang di inisiasi sekaligus bersama Amar berusaha menutupi sebuah fakta bahwa mereka adalah Divergent. Di sini juga Four menemukan teman-teman akrab berkat dirinya yang bersedia membantu Shauna melatihnya bertarung. Tapi segalanya ada pasang maupun surut. Four dan Amar dicurigai dan diadakan evaluasi simulasi ketakutan pada mereka berdua. Four berhasil mengelabui tapi Amar? Bisa kalian temui nasibnya bila membaca buku ini lebih jauh. Hehehe~

“Aku bukan Tobias Eaton. Tidak lagi. Tak akan pernah lagi. Aku seorang Dauntless.”—Four; hal 127

Setelah melewati masa-masa berat dalam inisiasi dengan segala tantangannya pada akhirnya Four resmi menjadi anggota faksi Dauntless dan mendapatkan ranking 1 mengalahkan sang rival, Eric dari Erudite. Namun masalahnya dengan Eric tak sampai di sini. Tapi setidaknya dengan hasil yang didapat, Four tak lagi bisa diremehkan hanya karena dia berasal dari Abnegation.

THE SON
Kondisi sulit membuat orang lebih kuat. Kau tak tahu seberapa kuat seseorang hingga mereka mendapatkan ujian.”—hal. 145

Melewati masa inisiasi kini tibalah masa di mana Four harus memilih pekerjaannya. Namun ada tawaran menarik yang Max, sang pemimpin Dauntless berikan pada Four. Four pun dengan perasaan gamang menyanggupi bahwa akan mengikuti serangkaian tes yang diberikan. Tentu saja disitu dia bertemu lagi dengan sang rival, Eric. Makin benci aku pada tokoh Eris saat membaca bagian ini.

Suatu ketika Four menemukan surat yang menyelip di dalam apartemennya. Lewat surat itu akhirnya dia bertemu dengan seseorang yang telah lama dia kira mati. Dan lewat pembicaraan mereka, pandangan Four soal tawaran Max sedikit terbuyarkan.

“Mungkin ada kecenderungan masokhis dalam diriku, bahwa aku menggunakan sakit untuk mengatasi rasa sakit yang kualami.”—Four; hal. 172

Sehabis bertemu dengan seseorang yang rupanya selama ini tak mati melainkan pergi dan menjadi factionless, Four merasa begitu sedih dan terluka. Pandangannya mengenai sosok itu dan seperti apa faksinya berubah total menjadi tak sebaik dulu. Sebagai pelampiasan Four membuat sebuah tattoo di sekujur punggung. Ngomong-ngomong sewaktu nonton Insurgent aku suka sama pola tattoo-nya Four tapi kok aku merasa gambar tattoo yang di film beda dengan apa yang dituliskan di sini ya? Atau akunya yang tak begitu paham deskripsinya? Entahlah…

THE TRAITOR
“Rasa bersalah mengingatkan kita agar kita berusaha melakukan yang lebih baik di masa mendatang.”—hal. 248

Di bab ini akhirnya mencapai masa Four menjadi instruktur inisiasi dan bertemu dengan Tris. Aku jadi tahu apa yang dipikirkan Four saat bertemu Tris. Karena di sini semuanya sudut pandang dia. Dan dari apa yang dilihatnya rupanya alas an dia jatuh cinta pada Tri situ tak hanya karena gadis ini unik, berani dan kuat melainkan ada factor lain. Dia merasa telah mengulang masa lalu. Hanya saja posisinya berbalik dari yang dulu dia peserta inisiasi yang dilatih Amar, kini dirinya yang berada di posisi Amar. Di sini juga aku mengerti akan pertenangan batin Four apakah dia harus memperingatkan faksi Abnegation soal penyerangan atau mendiamkan saja apa yang akan terjadi. Memikirkan akan tawaran sang ibu dan berusaha untuk merubah pikiran sang pemimpin Dauntless bahwa aturan yang diterapkan Eric itu tidak beres. Terakhir, di bab ini berkat Tris, Four mampu mengatasi rasa takutnya pada sang ayah dan berani mengatasinya.

Untuk bonus exclusive scene-nya silakan dibaca sendiri saja. Aku jadi merasa ini malah kayak ringkasan cerita ketimbang review. Hahaha!

Kesanku sehabis membaca novel ini, ya asik aja dibacanya. Bahasa yang ringan dan tak terlalu kaku membuatku mengalir saja. Tapi ada kejanggalan. Seperti menyempil kata ‘nggak’ beberapa kali padahal kebanyakan bahkan 90% mengginakan kata ‘tidak’. Lalu ada kalimat yang kesannya tidak efisien karena ada pengulangan keterangan. Sehingga kok berasa bertele-tele. Tapi selain itu, keseluruhan cerita bisa dinikmati. Oh ya, tokoh yang aku sukai malah justru sang tokoh pembantu yakni dua teman Four, Zeke dan Shauna. Sepasang Dauntless yang menyenangkan sekaligus keren. Kenapa keren? Silakan baca waktu bagian Shauna dan Zeke disuruh Four mengancam Peter. Cocok sekali mereka jadi preman pembela kebenaran.

Oke. Aku beri 4 bintang dari 5 bintang untuk Four yang sudah berhasil membuatku ingin membaca trilogy Divergent.

Rabu, 09 September 2015

[Review] TERTINGGAL WAKTU


SINOPSIS
Rin berkejaran dengan waktu. Semua orang tahu itu. Tapi, Rin tidak mau dianggap berbeda. Meski waktunya tak lagi lama. Rin bergegas mimpi. Meski waktu yang dia punya bisa jadi membatasi. Menjadi seseorang yang berprestasi dan bisa membanggakan manusia di sekitarnya lewat hal yang dia suka: bola voli. Lewat pertandingan voli, Rin mempertaruhkan waktu juga rasa cemas orang-orang yang dia sayang.

SPESIFIKASI BUKU
Penulis: Khairani
ISBN: 9786020265513
Cover: Soft Cover
Editor: Pradita Seti Rahayu
Ukuran: 12.5 X 19.5
Harga: Rp. 34,800 (Menang GA dari Penulis)
Terbit: 10-Jun-2015
Tebal: 172 hlm
Design Cover: Hadi
Penerbit: Elexmedia Komputindo
Genre: Romance Inspiratif
Rate: Teen/Remaja

REVIEW
Baru selesai baca setelah 2-3 minggu nggak diselesaikan setelah diterima. Alasan nunda baca sebenarnya sepele dan memang kebiasaan, kurasa ceritanya terlalu mainstream. Dan kebetulan Percy Jackson #5 ku dipulang teman (dia pinjam nggak bilang & masih plastikan. Kampret bener.) alhasil tergoda baca Percy dulu lalu beberapa buku lain yang baru beli. Hehehe~ (Semoga penulisnya nggak baca. Amin!!!)

Kenapa mainstream aku bilang?
1. Isinya tentang cewek berpenyakit yang terancam mati.
2. Ada murid cowok berandal trouble maker di sekolah.
3. Ada teman cowok yang sejak kecil perhatian dan memendam perasaan.
Tiga point di atas banyak kujumpai di beberapa novel dan cerita di film drama atau serial.

Settingnya Indonesia tapi nama-nama tokohnya mayoritas nama asing. Usulku sih kalau bikin novel nama tokoh-tokohnya disesuaikan latar belakang asal tokohnya biar lebih berasa gitu suasananya. Apalagi ini Makasar, kan? Aku malah tertarik orang daerah sana nama-nama yang khas itu apa saja.

Nah, ini kelebihan novelnya. Ada amanat yang terkandung di dalamnya. Memgajarkan bahwa meski kita memiliki kelemahan yang bisa saja fatal tapi tetaplah punya tekad. Terpuruk dan meratapi nasib nggak akan menyelesaikan masalah. Malah semakin membuat diri sendiri makin stres dan jiwanya mati mendahului tubuh (apaan itu kalimat?). Rin, memiliki kebocoran di jantungnya sejak lahir. Tubuhnya lemah dan tidak bisa melakukan hal-hal yang berat secara fisik, tapi dia tetap ngotot ingin menjadi altlet voli--yah, walau setelah tanding dia langsung pingsan. Bertemulah dia dengan Arga, sang biar onar yang rupanya Rin menyadari ada kebaikan di sana. Dengan cara menyita dan menyimpan cincin peninggalan Mama Arga, Rin mengajukan 3 permintaan. Jadilah mereka makin dekat dan Arga perlahan berubah.

Dengan memakai sudut pandang orang ketiga, Khairani sudah cukup bagus menuliskan diksinya yang memang ringan khas remaja. Dan aku mendapati bahwa gaya ngomong Arga dan Rin beda. Arga pakai kau dan Rin yang lebih lembut pakai kamu. Aku suka. Karena karakter mereka jadi makin kuat.

Oke. Finally... Aku kasih bintang 3 dari 5 bintang buat novel ini.

Minggu, 23 Agustus 2015

[Review] The Mirror Twins



The Mirror Twins

Penulis : Ida R. Yulia
Penerbit : Grasindo
Halaman : 177
ISBN : 978-6023-750573
Harga : 49,000
Orang-orang mengenalku dan saudara kembarku, Vincent, sebagai The Mirror Twins, Kembar Cermin. Meski wajah kami sangat mirip, ia berusaha menjadi sosok yang berbeda denganku, sengaja atau tidak. Aku kidal, ia tangan kanan. Aku cerdas dan aktif di sekolah, ia tak peduli dengan sekolah. Aku gadis remaja baik-baik, ia cowok nakal dan suka berbuat semaunya sendiri. Dan, ini yang membuatku kesal sekaligus sedih; aku sangat menyayangi Mom, ia justru cenderung tak betah berada di dekat Mom.

Sampai kemudian sebuah tragedi menimpa keluarga kami. Whitney, kakak tertua kami, membawa lari uang bosnya sebesar 250 ribu dolar. Jumlah yang fantastis, mampu membuat orang sekaliber Reynold Hendale - sang bandar narkotika - melakukan tindakan brutal; menjebol rumah kami, membuat Mom menderita, hingga menculik aku dan Vincent, sampai melintasi perbatasan Indianapolis.

Kami adalah Kembar Cermin. Kisah penculikan kami hampir menyerupai Hansel dan Gretel. Hanya saja, jika Hansel meninggalkan remah roti sebagai jejak agar ia dan adiknya bisa menemukan jalan kembali ke rumah, Vincent justru meninggalkan bercak darah.

Aku bahkan tak yakin kami bisa kembali pulang.

***

Mengisahkan tentang saudara kembar yang saling bertolak-belakang, Vincent dan Emma. Keluarga yang dibilang kacau setelah sang ayah meninggal ditambah kasus Whitney--si sulung penyebab si kembar diculik oleh sebab Whitney membawa lari uang Reynold sang bos bandar narkoba membuat konflik dalam novel ini semakin menarik untuk dibaca.

Penulis menuliskannya menggunakan sudut pandang orang ketiga. Tapi sepertinya yang paling banyak kena sorot Vincent. Tidak apa-apa sih, walau di sini, dilihat dari sinopsisnya tokoh utamanya tak hanya Vincent namun juga Emma tapi menurutku Vincent lah yang memang karakternya paling menonjol setelah itu barulah Emma.

Vincent si bocah biang onar, pembangkang tapi sebenarnya juga cerdas dan memiliki bakat menggambar berhasil menyita perhatianku. Dia seperti remaja kebanyakan yang ingin dianggap dewasa tapi juga memang sifat kekanakannya masih tampak. Membuat karakter Vincent manusiawi soalnya banyak kutemukan karakter tokoh utama di novel-novel terlalu sempurna sampai kamu akan berpikir nggak bakal kamu temui di dunia nyata. Adegan yang paling bikin greget adalah saat Vincent coba-coba ke Misha Bar. Dia ditolong Alan, tapi bukannya terima kasih malah marah-marah. Rasanya ingin ketendang Vincent atau kumaki-maki. Hahaha! Lalu Emma yang juga adalah gadis cerdas dan keras. Dan aku menemukan sesungguhnya karakter keduanya memiliki kemiripan. Vincent dan Emma sama-sama keras satu sama lain. Jadi keduanya tidak semuanya bertolak-belakang.

Sewaktu baca, ada beberapa adegan yang membuatku trenyuh dan ikut hanyut ke dalam kisah si kembar. Pertama saat sang ibu meminta Vincent menggambarkan foto masa kecilnya dengan Emma, kedua saat aksi kabur si kembar dan saat bagian terakhir di mana pesta ultah kecil-kecilan diadakan. Jujur, mataku sempat berkaca-kaca. Wkwkwk!!!

Banyak hal yang bisa dipetik dari kisah ini. Soal... pasti segala sesuatu masalah ada alasannya. Seperti Vincent yang berubah menjadi berandal tak terkendali dan bahkan seperti membenci ibunya. Kadang kita cuma melabeli seorang itu nakal, seorang itu buruk dari sikap dan tampilannya saja tanpa mau tahu apa yang ada di balik hal yang membuatnya seperti itu. Tanpa pernah ibunya tahu, Vincent membencinya karena ibunya yang sempat terpuruk saat ayahnya meninggal dan selama setahun abai pada keluarganya. Dan juga keluarganya seperti Whitney, Emma bahkan sang Ibu melihat Vincent memiliki pergaulan yang buruk, memang sih buruk tapi tanpa mereka mengerti justru disitulah Vincent merasa diterima dan mendapatkan teman. Makanya dia lebih betah di bengkel ketimbang di rumah dan bertemu dengan orang-orang yang menatap dengan sorot menghakimi. Aku juga jadi mengerti kenapa adekku lebih betah main daripada duduk di rumah. #MalahCurhat :v

Oh iya... Untuk setting nggak usah diragukan lagi. Baca novel ini seperti baca novel terjemahan. Soalnya pendeskripsian tempat, suasana berikut kebiasaan para tokohnya sudah serasa benar-benar kayak di Amerika. Sudah melebur ke dalam cerita.

Kekurangan dari novel ini adalah kurang panjang dan kurang detail. Alurnya kecepetan. Hehehe~ #peace (Miss, habis ini boleh minta versi lengkap pemotongan jari?) Begini, dalam novel ini separuh lebih menuliskan tentang kehidupan keluarga Atherton dan banyak konfliknya barulah penculikan terjadi. Jadi kalau dibilang cerita ini mengambil dari kisah Hansel dan Gretel sangat jauh beda. Paling persamaannya cuma jejak. Menurutku, kasus penculikan seperti bukan kisah utama dalam novel ini tapi kisah perpecahan keluarga dan penyelesaiannya yang lebih banyak diungkapkan. Akan lebih bagus kalau kisah Whitney juga dituliskan. Misal: adegan dia disiksa mungkin. Hehehe~

Oke! Aku kasih 4 bintang dari 5 bintang untuk novel ini.

Sabtu, 01 Agustus 2015

[Review] Dongeng Ketiga Belas


Penulis : Diane Setterfield
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : November - 2008
Halaman : 608
Dimensi(L x P) : 135x200mm
Kategori : Suspense
Segmen : Dewasa
Text : Bahasa Indonesia

SINOPSIS BUKU

'Ceritakan padaku yang sesungguhnya'.

Permintaan sederhana itu mengusik hati Vida Winter, novelis ternama yang penuh rahasia. Bukankah selama enam puluh tahun ini dia telah mengarang banyak dongeng, tapi tak pernah mengungkapkan kisahnya sendiri? Namun, menjelang ajal, masa lalu tak dapat dihindarinya lagi, berapa pun banyaknya dongeng yang telah ditenunnya.

Maka Vida Winter mengundang Margaret Lea, penulis biografi muda, yang memiliki rahasia sendiri tentang kelahirannya, yang telah dikubur dalam-dalam oleh orang-orang yang paling dia kasihi, dan menciptakan bayang-bayang kelam yang membuntuti tiap langkahnya.

Inilah kisah Vida dan keluarga Angelfield: Isabelle yang cantik dan keras kepala, si kembar Adeline dan Emmeline yang liar, rumah besar Angelfield yang tua dan nyaris ambruk, serta semua penghuninya, hidup atau mati.

Sementara Margaret tenggelam dalam dongeng Vida, rahasia kelam itu lambat laun tersingkap, dan saat kebenaran mengemuka, kedua wanita itu pun harus menghadapi hantu-hantu yang selama ini membayangi hidup mereka.


***

Manusia menghilang ketika mereka mati... Namun ada pengecualian pada beberapa orang tentang hal ini. Karena dalam buku-buku yang mereka tulis, mereka tetap hidup... Dengan mukjizat tinta di atas kertas, mereka tetap terjaga. Ini semacam keajaiban.--Hal. 35

Kutipan di atas adalah isi pikiran Margaret Lea yang begitu menyukai buku--bahkan seluruh hidupnya dihabiskan bersama buku-buku di toko buku milik sang ayah dan menjadikan dirinya seorang penulis biografi tokoh-tokoh berpengaruh yang menarik minatnya--yang tentu saja sudah mati karena Lea tak begitu suka menuliskan kisah hidup orang masih ada.

Cerita bermula kala Margareth Lea mendapatkan surat dari seorang pendongeng terkenal, Vida Winter. Ada tawaran untuk Lea, bahwa dia diminta menuliskan biografi Vida Winter. Awalnya enggan. Bahkan sebetulnya tidak mau namun karena kata-kata, "ceritakan padaku yang sesungguhnya" cukup membuatnya tergelitik. Ditambah dia yang tak pernah membaca karya Vida, lalu hendak mencoba malah menjadi begitu suka dengan karya Vida, membuat Lea akhirnya setuju datang ke rumah Vida.

"Kita kadang-kadang menjadi sangat terbiasa pada kengerian yang ada pada diri kita, dan lupa betapa ngerinya hal tersebut pada orang lain.--Hal. 90

Siapa Vida Winter yang sesungguhnya?

Di novel ini kita akan dibuat penasaran oleh kisah-kisah yang diceritakan sang wanita tua ini juga perjalanan Lea dalam misi menguak misteri yang tersembunyi rapat di rumah keluarga Angelfield, keluarga Vida Winter sebelum dirinya mengganti nama dan menutup diri pada dunia.

Meski alurnya lambat dan saya dibuat harus membaca cerita yang bahkan sebelum Vida lahir, tapi cukup membuat penasaran akan kisah-kisah keluarga Angelfield. Vida memulai dengan kisah George yang terpuruk karena kehilangan istrinya. Oleh sebab diabaikan, putra George menjadi sosok anak nakal yang membuat sebagian besar pembantu rumah keluar. Lalu ada Isabelle, sang putri yang menyebabkan ibunya meninggal saat melahirkan dia, memiliki sifat-sifat yang tak lazim tapi memikat karena kecantikan dan kecerdasannya bahkan mampu membuat George sang ayah begitu menyayanginya--sampai-sampai bunuh diri karena Isabelle kabur dan menikah--juga Charlie, kakaknya yang membuat lelaki ini menutup diri dari dunia luar--tak pernah mau keluar dari kamar dan menghilang tiba-tiba setelah tahu Isabelle telah meninggal--terakhir ditemukan mayatnya yang sudah busuk dengan pistol di tangan.

Kisah bergulir pada si kembar, Adeline dan Emmeline, putri dari Isabelle. Kedua gadis cilik ini sudah aneh sejak kecil. Begitu liar dan bahkan berani menculik seorang bayi di desa hanya karena ingin main dengan kereta bayinya--dan bayinya ditinggal begitu saja. Lalu ketidakmauan mereka memakai bahasa Inggris pada umumnya. Mereka seolah punya dunianya sendiri dan memakai bahasa yabg hanya dipahami oleh keduanya.

Semasa itu, banyak keganjilan yang terjadi. Perubahan drastis Adeline yang semula begitu kasar, kini bisa cooperative bahkan suka membaca dan ikut berkebun dengan John Digence si tukang kebun yang sama setianya dengan Missus. Lalu bertemunya Lea dengan Aurelius yang dipercaya Lea bayi yang berasal dari peristiwa kebakaran rumah Angelfield. Juga misteri siapa yang mencelakai John hingga membuatnya mati.

Misteri terkuak satu per satu bukan hanya lewat pengakuan Vida Winter namun juga karena Lea yang berusaha menyelidiki sendiri dengan meminta bantuan dari orang-orang yang terkait dengan keluarga Angelfield juga pengamatannya saat beberapa kali berada di rumah Angelfield yang sudah hampir rubuh.

Endingnya sungguh tak terduga. Banyak kata, "ternyata" yang muncul di kepala saya. Ternyata Vida Winter yang di awal mengaku sebagai Adeline rupaya tidak. Ternyata Emmeline yang tinggal di rumah Vida dengan wujud buruk karena luka bakarnya yang parah juga diragukan kalau dia Emmeline. Dan tulang belulang siapa yang ditemukan di ruang perpustakaan saat perobohan rumah dilakukan. Dan jawaban-jawaban tak dinyana lainnya.

Meski dituliskan dengan sudut pandang Lea, namun ssesungguhnya Lea lebih seperti si pencerita kisah orang lain, dalam hal ini kisah keluarga Angelfield. Yah, meski Lea memiliki kisahnya sendiri yakni dia ternyata adalah kembar--tapi saudaranya meninggal--yang menjadikan dia alasan kenapa dipilih Vida untuk menjadi penulis biografinya, tapi kisah Lea seolah hanya menjadi selipan saja.

Saya menyukai buku ini, oleh karena saya menyukai kisah misteri. Walaupun cover bukunya tak sesuai dengan isi. Bukan karena tidak bagus lho. Lihat saja, cover hitamnya dan gambar-gambarnya indah menurut saya dan justru covernya yang menarik saya untuk membeli tapi tampak sekali cover itu seperti buku anak-anak dan terasa fantasi padahal isinya jauh dari fantasi. Misteri yang terasa dark, suram bahkan tidak cocok untuk remaja. Tapi setiap diksi dan setting yang detail dan penggambaran karakternya yang kuatlah yang membuat saya suka. Maka saya beri bintang 4 dari 5 bintang untuk novel ini.