Tampilkan postingan dengan label Novel Terjemahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel Terjemahan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Februari 2016

[Review] THE LEAP



Penulis: Jonathan Stroud
Penerjemah: Jonathan Aditya Lesmana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 240 halaman

Terbit: Oktober 2011

ISBN: 978-979-22-7606-0

Sinopsis:
Festival Raya. Semua permainan dan hiburan berlangsung: Juggler, akrobat, pertunjukan burlesque, karnaval, egrang, dan banyak lagi. Tapi bukan itu yang dicari Charlie di sana.



Max akan ada di sana. Ia akan bergabung dengan Dansa Besar, dan begitu melakukannya Max takkan bisa kembali. Ia akan menjadi penghuni abadi tempat itu. Charlie harus menghentikannya dan membawa sahabatnya kembali. Ia ingin membuktikan pada ibunya, para dokter, dan orangtua Max bahwa Max belum meninggal. Sahabatnya itu pasti kembali.


Hanya pada malam harilah Charlie bisa mengejar Max, mengikuti jejaknya. Ia takkan pernah menyerah, meski harus melompati batasan dunia sekalipun, dan tak peduli berapa pun harga yang harus ia bayar.

Karena Charlie tahu hal yang mustahil itu benar-benar terjadi.
***

Covernya menipu. Sungguhan! Dan kalau dibaca dari sinopsisnya memang sinkron sih dengan covernya yang bernuansa festival sama sirkus-sirkus gitu tapi isinya sama sekali berbeda. Suasana festival cuma muncul di bab terakhir. Cuma itu saja.

Charlie si gadis yang dikira gila--atau dia memang gila ya?--berusaha mencari sahabatnya lewat dunia mimpi. Makanya Charlie selalu semangat bila waktunya tidur. Max sang sahabat dinyatakan meninggal setelah tenggelam di kolam dekat penggilingan gandum tapi Charlie bersikukuh bahwa Max cuma pergi ke dunia lain bukannya meninggal. So, Charlie berusaha keras untuk ke dunia itu membawa Max pulang sebelum Max datang ke Festival dan berdansa. Karena kalau Max sudah berdansa dengan para penghuni sana maka ingatannya akan menghilang dan dia resmi menjadi penghuni dunia itu.

Dalam novel ini ada dua sudut pandang orang pertama. Sudut pandang Charlie dan James, kakak laki-lakinya. Melalui dua sudut pandang ini, kita dibawa untuk mengikuti cerita antara pikiran imajinatif dan rasional dan kita dibawa untuk memilih sudut mana yang mau dipercaya. Sudut pandang James kah? Yang menganggap Charlie hanya mengalami keterguncangan akan kepergian Max lalu timbullah dunia khayalan yang seakan mengatakan bahwa Max tidak mati tapi dibawa oleh sesosok di dalam air kolam yang memiliki mata sehijau lumut. Atau sudut pandang Charlie yang benar-benar pergi bolak-balik dari dunia nyata dengan dunia lain di mana dia harus berjalan dan mengehindari serangan serigala-serigala supaya cepat menemukan Max sebelum Dansa besar digelar.

Endingnya? Terjawab sudah bagaimana kebenarannya. Pandangan James atau Charlie kah yang benar. Dan karena sepanjang alur dari awal hingga hampir akhir terasa datar dan suram, pada akhirnya aku ikut hanyut dalam cerita, tegang dan terharu di bab-bab terakhir. Apalagi bagian yang Charlie akhirnya bisa berdansa dengan Max. Seolah segala penderitaan, kesedihannya saat pencarian lepas sudah.

3 bintang dari 5 bintang untuk The Leap.

Kamis, 11 Februari 2016

[Review] SLAWTER


SERI DEMONATA #2
SLAWTER
Penulis : Darren Shan
Penerjemah : Poppy D. Chusfani
Penerbit : GPU
Terbit : Mei 2010
Halaman : 328
ISBN : 978-979-22-5769-4
Sinopsis :
David A. Haym, sutradara film horor terkenal, berniat membuat film horor paling menakutkan yang yang pernah ada. Ia menjanjikan monster-monster canggih yang belum pernah ada, yang dijamin bisa membuat penonton terpaku ketakutan di kursinya. Dervish direkrut sebagai penasehat film berjudul Slawter itu. Karena tidak mau ambil risiko, ia mengajak Grubbs dan Bill-E bersamanya ke lokasi syuting.

Siapa sangka tempat itu berubah menjadi ladang pembantaian yang berdarah-darah ketika pintu neraka terbuka dan iblis-iblis sungguhan bermunculan---melempar, meremukkan, dan mencabut nyawa semua manusia yang mereka jumpai tanpa pandang bulu.

Satu hal yang pasti: jangan pernah melakukan perjanjian dengan iblis.

***

Petualang Grubbs, Dervish dan Bill-E kembali lagi. Sehabis kembali dari jagad raya iblis, Dervish tak lagi bisa sama seperti dulu. Sering setiap malam bermimpi dan berkali-kali menyakiti Grubbs. Makanya tawaran sang Sutradara untuk menjadikan Dervish penasehat film itu lumayan menggoda soalnya dengan kesibukan mungkin Dervish akan melupakan traumanya.

Ini lokasi syuting film horor. Yang dibuat dengan rahasia di sebuah kota terbengkalai dan didandani sesuai konsep film. Ada sebuah ruangan yakni gudang D yang tak boleh siapa pun masuki. Itulah biang masalah, itulah tempat di mana iblis-iblis muncul oleh karena sebuah perjanjian konyol.

Dimulai dengan Emmet yang menghilang setelah diterkam iblis bohongan--yang menurut Grubbs asli, pembunuhan-pembunuhan berikutnya pun terjadi dan puncaknya di akhir syuting, banyak iblis muncul dari ruang D termasuk master iblis yang Grubbs sang takuti, Lord Loss. Membunuhi semua orang yang mereka temui. Dervish, Grubbs, Bill-E serta beberapa yang selamat lain berusaha keluar dari Slawter, melubangi perisai yang menutup kota buatan itu lalu menyelamatkan diri.

Di sini aku tak begitu menyukai Bill-E. Dervish dan Grubbs amat menyayangi dia dan selalu bersikap protektif padanya seolah dia barang pecah belah yang rapuh. Justru aku suka dengan tokoh lain yaitu Juni dan Bo. Juni yang di awal tampak kalem, lembut dan bahkan takkan mukul orang berubah menjadi sosok kuat lalu Bo si artis manja dan congkak dengan berani mengajukan diri menjadi umpan iblis supaya yang lain bisa lolos keluar dari Slawter.

Seperti biasa, novel karya Darren Shan itu menegangkan dan sadis. Kekurangan di buku Lord Loss tak terulang di sini yaitu menulis kalimat tanpa subyek. Di sini nyaris tak ada. Tapi di bab-bab awal hingga setengah lumayan sedikit bikin bosan karena baru menceritakan mimpi-mimpi Dervish setelah pulang dari dunia Iblis, suasana syuting dan keadaan Grubbs dan kegiatannya barulah ketegangan tak berhenti hingga akhir sejak Emmet hilang.

Bintang 3 dari 5 bintang untuk novel ini.

Selasa, 02 Februari 2016

[Review] LORD LOSS


SERI DEMONATA #1
LORD LOSS
Penulis : Darren Shan
Penerjemah : Poppy D. Chusfani
Penerbit : GPU
Terbit : November 2009
Halaman : 320
ISBN :978-979-22-5107-4
Sinopsis :
Ayah, ibu, dan kakakku habis dibantai. Di dekat jasad mereka, tampak sosok-sosok yang bahkan dalam film horor paling menakutkan pun tidak pernah kulihat. 

Semua mengira aku hanya mengkhayalkan makhluk-makhluk neraka itu. Dari pamanku, Dervish, aku tahu keluargaku pernah membuat perjanjian dengan iblis demi menyelamatkan keluargaku yang mengidap penyakit keturunan tak tersembuhkan. 

Kini, bersama Dervish, gilirankulah menghadapi makhluk-makhluk neraka itu!

PERINGATAN
Membaca buku ini bisa menyebabkan susah tidur, mimpi buruk, dan sulit membedakan fiksi dari kenyataan.

***

Sesuai peringatan. Dua hari lalu setelah tutup buku karena ngantuk, aku bermimpi buruk. Hahaha!!! Novel ini yang katanya rate Remaja kok sadisnya melebihi ratenya ya? Tapi... aku suka horor!

"Lord Loss adalah penjaga kesedihan," kata Dervish. "Dia menyerap kesakitan dan penderitaan manusia. Sebuah pemakaman adalah sebuah hidangan lengkap baginya. Seseorang yang kesepian dan cenderung mudah bunuh diri adalah camilan lezatnya. Dia senang sekali merengkuh ketakutan dan kesedihan kita, mendorong kita untuk merasakannya jika perlu, kemudian menyerapnya sampai kering dan menjadi kuat karena kelemahan manusia."--hal. 221

Dikisahkan Grubbs kehilangan Ayah, Ibu dan Gret oleh karena orang tuanya memilih menantang Lord Loss main catur. Sang Ayah dan Ibu kalah maka ketiganya dibantai Lord Loss dan kedua familiarnya Vein dan Artery. Grubbs sempat mendekam di RSJ untuk beberapa waktu karena dianggap gila saat dia menyatakan bahwa keluarganya dibunuh iblis. Berkat pamannya--Dervish--dia berusaha cooperative pada dokter dan akhirnya dinyatakan sembuh. Nah, pertanyaanku adalah, kan kalau dia berbohong dan menyasarkan pembunuh keluarganya adalah manusia, siapa yang dia tuduh? Itu tidak dijelaskan.

Dervish mengajak Grubbs tinggal bersamanya dan rumahnya luar biasa seram, kelam dan gothic. Paman Dervish andai aku ini keponakanmu. Hahaha! Bayangkan, rumah besar ala mantion abad pertengahan, terus di dalamnya ada senjata, furniture kuno dan ada foto-foto keluarga besar Grady sejak jaman buyut hingga sekarang. Betapa suramnya, sebelas-dua belas dengan museum.

Di Vale, Grubbs mendapatkan seorang teman yang rupanya menganggap dirinya adalah anak Dervish--karena betapa pedulinya lelaki itu pada Billy setelah ibunya meninggal. Nah, mereka akrab dan mulai dari sini rahasia keluarga Garadex atau Grady terkuak. Rupanya secara turun temurun keluarga Grubbs mendapat kutukan yaitu menjadi Serigala Siluman. Dan yang sudah berubah menjadi binatang buas itu tidak akan bisa kembali menjadi manusia. Maka keluarga akan mendapatkan pilihan menghubungi 'Domba' yaitu sebuah organisasi atau kelompok yang memang bertugas membunuh siluman serigala saat keluarga tidak tega membunuh atau menantang Lord Loss main catur supaya iblis itu menyembuhkan sang anggota keluarga yang terjangkit kutukan.

So, Grubbs akhirnya terpaksa kembali bertemu dengan iblis-iblis menakutkan yang telah membunuh keluarganya. Dengan mempertaruhkan nyawa seperti yang dilakukan orang tuanya, dia menantang Lord Loss dan dua familiarnya. Apakah Grubbs dan rekannya menang lalu keluarga barunya sembuh dari kutukan? Silakan baca sendiri.

Kesanku sehabis membaca novel ini sih, UWOW! Baru di awal sudah ada korban mutilasi saja yang bila dibayangkan cukup menyeramkan. Tapi setelah Grubbs di RSJ lalu di rumah Dervish lumayan membosankan karena ini seperti baru perkenalan. Tidak ada konflik. Barulah setelah pertandingan catur dengan Lord Loss, keseruan kembali terjadi.

Kekurangan novel ini adalah di covernya. Judulnya kan LORD LOSS ya? Kenapa covernya malah Artery? Terus tidak menarik minat pula. Cover versi aslinya jauh lebih bagus. Selain itu memang inilah gaya tulisan Darren Shan. Sering menuliskan kalimat tanpa subyek. Contoh: Bergegas keluar kamar. Geraman dan gemeretak gigi. Dan lain-lain. Tapi tidak terlalu mengganggu. Lama-lama terbiasa juga. Hahaha!

Nah, ending-nya? Paragraf-paragraf terakhir twist banget. Aku sudah ketar-ketir eh ternyata... Dasar Dervish.

4 bintang dari 5 bintang untuk novel ini.

Sabtu, 30 Januari 2016

[Review] THE BLOOD OF OLYMPUS


Penulis : Rick Riordan
Penerjemah : Reni Indardini
Penerbit : Mizan Fantasi
Terbit : November 2014
Halaman : 528
ISBN : 978-602-1306-71-0
Sinopsis :
Api Yunani berkobar ... Membakar sebagian besar monster.
Tanah menggemuruh.
Semua gelembung membran berlendir meletus, mengepulkan debu.
Setetes darah jatuh dari dagu Percy ... mendarat di tanah ...
mendesis seperti di wajan.
Darah Olympus mengairi bebatuan kuno.

Para raksasa bangkit, menyebar di sepenjuru dunia. Mereka mengumpulkan bala tentara--dewa-dewi yang terbuang dan para monster--yang rela menghancurkan demigod. Mereka memburu darah dua demigod, demi membangkitkan Gaea, sang Ibu Bumi.

Ketujuh demigod pemegang ramalan berusaha bertahan hidup dari serangan serta menyatukan Perkemahan Blasteran. Mereka bahkan tak bisa mengharapkan bantuan para dewa.

Waktu yang dimiliki Percy dan kru Argo II tidak banyak. Pembagian tugas dilakukan, peran masing-masing ditentukan. Mereka harus bergegas mencegah kebangkitan Gaea, dalam sebuah pertarungan hidup dan mati.

***

Kisah 7 pahlawan dalam ramalan akhirnya sampai di penghujung. Argo II hampir sampai di Athena dan rombongan Nico, Reyna dan Pelatih Hedge juga sudah memasuki benua Amerika. Dua kelompok ini akan menjadi penentu kesuksesan misi penyelamatan dunia.

Aku kurang setuju bila disebutkan ada 7 tokoh utama dalam seri Heroes of Olympus. Karena Reyna dan Nico juga memiliki peran penting dalam misi perdamaian memersatukan bangsa Yunani dan Romawi. Makanya cukup senang aku, kala menemukan Nico mendapat porsi di novel ini--karena di seri sebelumnya Nico tidak mendapat bagian sorot utama dari penulisnya.

Sebelum sampai di Akropolis, rombongan Argo II singgah ke Delos demi menemui dewa-dewi kembar--Apollo dan Artemis--guna mendapatkan obat dari tabib. Memang sih mereka tidak mendapat obatnya dan seakan Rick memang memperpanjang perjalanan mereka tapi aku sangat terhibur dengan bagian Leo yang mencoba bertawar menawar dengan Apollo. Dengan jenius dia membuat sebuah alat musik dan sekali lagi aku suka dengan karakter Leo--kalau Apollo sih sejak novel Percy aku sudah sangat suka. Karakter unik berjumpa dengan karakter unik, membuat setiap adegan di Delos membekas susah buat dilupakan.

Di tim Nico dkk, adegan favoritku adalah sewaktu Nico bersama Will. Aku merasa karakter Will kok 11-12 dengan Leo ya? Kocaknya, cueknya, pedulinya. Terus berkat Will, Nico bisa move on dari Percy--puji Tuhan! Nah, kalo Nico sama Will aku setuju banget. Sifat mereka itu serasa cocok saling melengkapi, beda bila Nico dengan Percy. Sayangnya Nico-Will kurang banyak dituliskan, padahal baru ini aku menyukai couple boy x boy dalam novel Percy dan HoO. hahaha~

Meski Nico merasa amat menyesal sudah membunuh dua nyawa tapi aku amat bersyukur dua manusia itu lenyap. Karena ditilik dari kejahatan Octavian dan Bryce, mereka memang pantas mendapatkannya. Kalau keduanya diberi hidup pun, aku sangsi mereka bakal bisa berubah lebih baik. So, Nico sayang... Jangan terlalu merasa bersalah. Will tak benci kamu kok.

Cerita petualangan di seri terakhir HoO ini lumayan seru dan sama seperti yang lainnya, menambah pengetahuan baru di otakku. Tapi memang betul bahwa segala sesuatu tak ada yang sempurna. Kekurangan novel ini menurutku adalah ending nya kurang... apa ya? DUARRR!!! gitu. Sejak seri satu, kita digiring untuk merasa bahwa Gaea bangun maka malapetaka dahsyat terjadi. Makanya selama berminggu-minggu bahkan bulan, Tim 7 melakukan perjalanan, membasmi banyak musuh juga melalui banyak kesulitan, menyusuri berbagai petuah atau petunjuk sesuai dengan yang dikatakan dewa-dewi. So, bila mereka gagal pun dan Gaea bangkit, harusnya ada hal spektakuler yang terjadi. Tapi apa? Cuma gitu. Dengan gampangnya sang 'Kiamat' diciduk Leo. Beda dengan ending Percy Jackson yang kedahsyatan perangnya kerasa sekali sampai berbagai kota porak-poranda tak cuma di satu tempat. Terus yang namanya perang pasti ada korban dan membuat pembaca ikut merasa kehilangan. Nah, di sini tidak kutemukan. Bahkan aku tak ikut sedih saat Leo dinyatakan mati karena dalam kepalaku pasti tidak mati.

Kesimpulannya sebagai seri terakhir, kurang greget. Seri HoO ke empat menurutku yang paling greget. Ada sedih, tegang, lucu, dan lain-lain.

Berikut kutipan yang aku favoritkan:
"Rasa sakit terkadang tidak boleh serta-merta dienyahkan. Rasa sakit mesti dihadapi, bahkan diterima."--hal. 403
Cuma itu. Hehehe~ sudah selesai lumayan lama dan baru niat review sekarang so, sebagian kutipan favorit lupa ada di mana. Wkwkwk~

Terakhir 4 bintang dari 5 bintang untuk Blood of Olympus. Harapanku sih ada kelanjutannya tapi sepertinya tidak ada ya? Sayang sekali padahal berkat novel Percy dan HoO aku jadi makin suka tentang mitologi lho.

Selasa, 19 Januari 2016

[Review] YAKUZA MOON

YAKUZA MOON
Penulis : Shoko Tendo
Penerjemah : A.S. Laksana
Penerbit : Gagasmedia
Terbit : Cet. kelima, 2009
Halaman : 252
ISBN : 978-979-780-268-4
***

Ada kesan tersendiri sehabis membawa buku ini. Awalnya lumayan bosan dengan alurnya yang kurang greget, tapi makin ke belakang aku ikut emosi dengan setiap kisah yang dituliskan Shoko Tendo ini. Bagaimana tidak? Ada haru di dalamnya, lebih banyak penderitaan selama perjalanan hidupnya tapi lewat kisah ini aku menjadi sadar bahwa segala sesuatu ada sebab dan akibatnya.

Shoko memulai kehidupannya menjadi yanki di usia 12 tahun karena mengikuti kakaknya juga ada masalah di rumah--sang ayah kerap pulang dengan keadaan mabuk dan membawa hostest-hostest lalu dia juga sering dipukul. Sejak itu Shoko mulai lebih dalam terlibat dalam kekerasan antar geng yang menjadikannya harus berada di sekolah khusus untuk anak bermasalah juga kakaknya yang ditahan di penjara.

Gadis ini memang berasal dari ayah yang seorang yakuza tapi dalam buku ini, latar belakang ayahnya tidak terlalu berperan besar yang menjadikan seorang Shoko seperti ini--pecandu obat terlarang dan juga sex.Dirinya sendirilah yang membuat kehidupannya terperosok ke dalam dunia gelap. Nah, belakangan akhirnya Shoko menyadari bila dulu dia bersekolah dengan baik meski teman-temannya banyak mengucilkan karena dia anak yakuza dan juga dia tak menjadi seorang yanki, pasti hidupnya takkan seburuk ini.

Buku ini--sepertinya tidak begitu cocok disebut novel ya?--mengajarkan bahwa apapun tindakan atau keputusan yang kamu ambil, pasti akan ada dampak yang ditimbulkan. Entah itu baik atau buruk. Apa yang kau tabur itulah yang akan kau tuai. Di sini tak hanya kisah Shoko saja yang aku amati namun juga sang kakak, Maki. Seperti Shoko, kehidupannya juga amburadul. Dia juga memilih lelaki yang salah dan membuat tak hanya kehidupannya tapi juga kehidupan Shoko dan juga ayahnya ikut terseret masalah. Andai Maki mau mendengar nasehat Shoko bahwa Itchan bukanlah laki-laki yang baik, pasti dia takkan hidup melarat dan terbelit hutang, Shoko juga takkan ikut melaratnya karena juga ikut memberikan uang untuk Maki-Itchan, Shoko takkan harus menggugurkan kandungannya karena cemas takkan bisa menghidupi dan Shoko takkan memutuskan bercerai dengan pria paling baik, Taka.

Ada gemas karena sikap sang ayah yang terus saja membela Maki, Shoko yang masih mau saja membantu Maki tapi juga ada amarah juga sedih saat membaca buku ini. Tak kusangka, dalam kisah nyata ada kehidupan sekeras Shoko.

Berikut kutipan-kutipan bagus yang membangun:
  • "Kita harus bertanggung jawab atas segala perbuatan kita sendiri."-- hal. 39
  • "Kukira, manusia memiliki kemampuan untuk menumpahkan air mata demi keuntungannya sendiri, bahkan ketika mereka tidak menderita, bahkan ketika mereka tidak bersedih."--hal. 181-182
  • "Makanan selalu terasa lezat saat kita makan bersama seperti ini."--hal. 189
  • "Kita tak pernah tahu bagaimana segala sesuatunya berujung."--hal. 210
4 bintang dari 5 bintang untuk Yakuza Moon yang berhasil membuat aku dari pertengahan hingga akhir tak bisa berhenti membaca. Yah, walaupun ending-nya tak terasa sebagai happy ending. Tapi ini kan memoar, jadi wajar bila segala sesuatu tak harus berakhir dengan manis. Hah, sayang... kenapa Shoko tidak bersama Taka lagi?!

Minggu, 03 Januari 2016

[Review] THE HOUSE OF HADES


Penulis : Rick Riordan
Penerbit : Mizan Fantasi
Terbit : Februari 2014
Halaman : 640
Sinopsis :
Semua pilihan mengandung risiko.
Kau boleh percaya... atau mengabaikannya.
Tapi, ingat, apa tujuanmu?

Setelah terjatuh ke dunia bawah, Percy dan Annabeth disiksa oleh rasa lapar dan dahaga serta suara tangisan tak terperi yang membuat pikiran mereka kacau. Tak hanya itu, para monster yang telah mereka bunuh pun bermunculan, bermaksud membalas dendam. Sementara di langit, kru Argo II mati-matian mempertahankan kapal dari serangan para putra Gaea, kura-kura raksasa, dan seorang dewa berkaki busuk.

Di tengah petualangan menantang itu, kecerdasan dan jiwa kepemimpinan mereka ditantang. Pilihan harus diambil, keputusan besar harus dibuat, sedangkan kematian menghantui dan masa depan dunia menjadi taruhan. Akankah mereka membuat keputusan dan memilih jalan yang tepat?

***

Aku jarang mengomentari cover novel dalam sebuah review. Tapi, cover ini bagus. Aku sungguhan suka. Kalau tidak melihat cover ini, mungkin bayanganku tentang Argo II sejak pertama baca--di novel sebelumnya--beda jauh pakai banget. Banyak hal atau kata dalam novel Percy maupun HoO yang susah untuk dibayangkan. Bagaimana bentuk para makhluk, monster maupun dewa, deskripsi tempat dan suatu benda, aku sering lumayan susah untuk membayangkan walaupun sangat menikmati betapa serunya petualangan Tim 7 orang dalam ramalan ini. Ini juga kekurangan dalam novel HoO dibanding Percy Jackson, yakni kurang gambar ilustrasi. Malah nyari tak ada, beda dengan Percy Jackson yang hampir tiap bab ada gambarnya.

Oke, mengesampingkan gambar ilustrasi yang tak ada di House of Hades, ceritanya semakin seru. Selain itu ada dua bagian dalam novel yang membuatku terharu sekaligus sedih--kebetulan adekku juga muter lagu Remembernya Josh Groban, klop sudah hati ini teriris pilu #lebay soalnya itukan juga lagu backsound-nya film Troy saat Hector mati gara-gara perang. Ish, makin melantur. Yah, walau adegannya tak sedramatis perang Troya tapi sama nyeseknya.

Bagian nyeseknya adalah:

  • Saat Nico dan Jason menghadapi Cupid. Sama seperti Jason, sebelumnya Cupid kugambarkan seperti malaikat-malaikat bayi bugil bawa-bawa panah. Tapi di sini? Dia sendiri yang bilang bahwa kematian (Thanatos) jauh lebih ramah daripada cinta. Cupid berhasil membuat Nico mengaku bahwa dia memendam perasaan pada Percy. Dituliskan dengan dramatis yakni ada kilasan-kilasan masa lalu antara Nico dan Percy yang membuatku ikut merasakan betapa sedihnya ingin membenci tapi tak bisa membenci malahan perasaan suka makin tumbuh subur. #IniBukanCurhat Sehabis baca, aku makin bersimpati pada Nico. Sedang Percy? Kok tak begitu suka. Apalagi hingga sebelum jatuh ke Tartarus Percy masih saja berprasangka negatif pada Nico membuat Jason juga tak begitu percaya pada siapa Nico berpihak.
  • Sepanjang kisah Bob yang menemani dan membantu Percy dan Annabeth di Tartarus. Piye perasaanmu? Andai ada di posisi Bob? Di masa lalu, Percy, Nico, Thalia bertarung dengan Lapetus di dunia bawah. Lapetus jatuh ke sungai Lethe (maaf kalau salah tulis, aku susah ingat nama-nama), hilang ingatan lalu dititipkan kepada Hades yang justru Lapetus yang dinamai Percy, Bob dijadikan budak yang harus bersih-bersih. Karena Nico--lagi-lagi menolong secara tak langsung--menengok Bob dan suka menceritakan soal Percy, kini Bob mati-matian menolong Percy dan Annabeth hingga bisa memasuki pintu ajal. Sedang dia sendiri na'as, dikeroyok banyak monster dan terancam dibunuh Tartarus. Padahal Percy mah apa atuh? Ingat Bob aja tidak apalagi nengok. Oke, Percy. Berterima kasihlah pada Nico! Oh iya, si Kucing keren yang berubah jadi Singa dan raksasa, Damasen juga berkorban nyawa buat Percy dan Annabeth. Yeah, tokoh utama selalu menang dan figuran selalu dijadikan korban. #LirikRickRiordanTajam Tapi ada hal yang bisa kupetik. Hukum karma atau hukum tebar tuai itu ada. Andai di masa lalu Percy dkk membunuh Bob, misi ke Pintu Ajal takkan berhasil.


Ada bagian sedih bin nyesek pastilah ada juga bagian happy--atau lucu menurutku--dan tentu saja keren, kan? Ini nih yang aku suka. Cekidot:

  • Leo terdampar di pulaunya Calypso. Interaksi mereka mmanis dan terasa wajar juga lucu. Jadi beda dulu saat Percy yang terdampar di pulau. Bagi yang tidak tahu. Calypso ada anak Atlas yang dihukum dewa terasing di Ogygia. Di sini disebutkan sudah 3 pahlawan yang terdampar di sana--tidak termasuk Leo. Dia dikutuk akan mencintai Pahlawan yang terdampar tapi Pahlawan akan memilih untuk pergi dari pulau. Nah, beda dengan Pahlawan lain, Leo awalnya tak disukai Calypso. Mengatai ceking, pendek dan lain sebagainya karena biasanya Pahlawan yang terdampar ya fisiknya tampan sempurna (Percy tampan?). Tapi berlalunya waktu interaksi merekalah yang membuat Calypso jatuh cinta. Jadi untuk kali ini Calypso tidak mencinta karena fisik luar. Yah, walau akhirnya Leo juga meninggalkannya sih. Apakah di buku selanjutnya Leo bakal menepati janjinya untuk menjemput Calypso?
  • Hazel dan Jason bernegosiasi dengan perompak yang membuat kapal mereka tak bisa berlayar karena Argo II ditahan kura-kira raksasa sebesar pulau (aku malah keingat One Piece :v). Lucunya dimana? Simpel sih. Cowok yang sejak lahir ditakdirkan jadi pemimpin, berpenampilan sempurna, gagah dan berkharisma tampak sangat lucu--bila dibayangkan--harus mencuci kaki bulukan sang perompak dan dengan gampangnya ditendang hingga mencelat tepat di mulut kura-kura. Menurutmu tidak lucu, tapi bagiku ini lucu dan... ironis. #KibarBenderaAntifansJason
  • Frank saat menghadapi ratusan sapi gila di Venesia juga saat melawan monster-monster di bawah tanah. Frank yang dalam pandanganku adalah cowok gemuk, imut-imut, kalem berubah menjadi cowok tangguh yang fisiknya berubah lebih kuat karena restu Mars. Bayangkan saja seorang diri membunuhi sapi gila dengan background kota Venesia yang terasa romantis. Epic sekali kan. Dan tambahkan adegan saat Frank dengan gagahnya mengatur ratusan mungkin ribuan para zombie romawi saat melawan monster. Andai ada filmnya pasti akan bagus banget.


Beda dengan Mark of Athena yang hanya berfokus pada 4 demigod saja, di sini fokusnya lebih banyak yaitu, Leo, Piper, Jason, Annabeth, Percy, Hazel dan Frank. Oh, semuanya mendapat bagian. Membuat tak hanya aku yang makin paham karakter dan kemampuan tiap-tiap tokoh tapi antar sesama tokoh juga jadi semakin memahami dan solid. Contoh: Hazel-Jason waktu kejadian kura-kura. Awalnya kedua orang ini tak begitu akrab, bahkan Hazel masih menyimpan rasa tak suka pada Jason sehingga di kepalanya masih ada pikiran negatif soal Jason. Dijelaskan apa yang membuat Hazel tak suka juga sebaliknya apa yang membuat Jason tak nyaman bila bersama dengan Hazel saja. Tapi makin tantangan mereka lalui, makin mereka saling mengerti kelebihan masing-masing.  Begitu pula dengan Jason-Nico. Bahkan di antara mereka semua hanya Jason yang mengerti pangkal masalah Nico, kenapa selama ini dia lebih suka menyendiri. Leo yang memberi Frank hadiah tempat untuk kayu bakarnya yang rentan terbakar supaya dia tak takut lagi, dan lain sebagainya.

Tak lupa, aku menemukan quote-quote yang bagus:

  • "Tapi, sihir tidaklah jahat atau baik. Sihir adalah alat, seperti pisau. Apakah pisau jahat? Hanya jika pemegangnya jahat."--Hecate: hal. 20
  • "Cinta bukan permainan! Cinta bukan kelembutan penuh bunga! Cinta adalah kerja keras--pencarian tanpa akhir. Cinta menuntut segalanya darimu--terutama kebenaran. Hanya setelah itu cinta membuahkan ganjaran."--Cupid: hal. 302
  • Kau tak bisa memburu-buru kesempurnaan."--Leo Valdes: hal. 421


Terakhir, aku kasih ranking 4,5 bintang dari 5 bintang untuk Heroes of Olympus #4 ini. Yuk cuz ke seri berikutnya!

Kamis, 31 Desember 2015

[Review] THE MARK OF ATHENA



THE HOUSE OF OLYMPUS #3: THE MARK OF ATHENA
Penulis                 : Rick Riordan
Penerjemah       : Reni Indardini
Penerbit              : Mizan Fantasi
Terbit                    : Oktober 2012
Halaman              : 616
ISBN                      : 978-979433-740-0
Sinopsis               :
Ikuti Tanda Athena
Balaskan dendamku

Rencana Annabeth menjemput Percy dengan damai ternyata gagal dilakukan. Leo mengacau membuat perkemahan Jupiter memburunya. Namun, misi Ramalan Tujuh harus tetap dilaksanakan. Diabayngi kejaran para mata-mata dan pasukan demigod Roma, Percy, Frank, Hazel, Jason, Piper, Leo dan Annabeth tetap berusaha mencegah rencana jahat Gaea, berlayar menuju negeri kuno di Roma.

Dalam perjalanan penuh tantangan itu, Annabeth yang baru saja merasakan sedikit kebahagiaan setelah bertemu Percy, menyimpan kegalauan. Titah sang Ibu, Athena, untuk mengikuti Tanda Athena dan menghancurkan Roma terus membebaninya. Haruskah dia mengkhianati Percy dan teman-teman Roma barunya demi mengikuti Tanda Athena?

Bersama empat narator, Mark of Athena akan membawa kita ke dalam petualangan melintasi angkasa dan samudra yang penuh jebakan dan terror mengerikan.
***
Aku pikir, setelah membaca The Lost Hero dan langsung lompat membaca HoO #3 ini akan terasa ganjil. Pasalnya kisah sebelum ini tidak aku ketahui seperti apa. Rupanya tanpa membaca Son of Neptune dan langsung membaca ini tak terlalu terasa ada janggal—meskipun kuakui aku lumayan penasaran soal kisah Percy, Frank dan Hazel di Alaska.

Argo II selesai dibuat—aku jadi ingat kisah tiga sekawan Leo, Jason dan Piper di buku Demigod Diaries, lumayan wajib juga buku itu dibaca soalnya beberapa kali kisah disitu disinggung di novel ini. Team Annabeth dari Perkemahan Blasteran menyambangi Roma Baru bermaksud menjemput Percy. Awalnya kedatangan mereka diterima meski ada yang tak suka kedatangan demigod Yunani, tapi tak terlalu mengkhawatirkan. Percy jadi Praetor seolah menggantikan Jason, terlihat sekali dia diterima oleh Perkemahan Jupiter. Ada Tyson dan anjing neraka milik Percy yang bermain-main dengan Harpy yang bisa meramal, Ella. Annabeth berbincang-bincang dengan Reyna anak dewi Perang Romawi dan Leo yang mengajak Octavian jalan-jalan di Argo II. Lalu selanjutnya tiba-tiba Leo menembak perkemahan dan membuat semua pekemah Romawi marah besar. Mereka pun dikejar-kejar.

Perjalanan berlanjut ke Great Salt Lake. Argo II berhenti disitu karena ada kerusakan pada kapal. Leo perlu perunggu langit, kapur dan lainnya untuk memperbaiki kapal. Di sana Leo dan Hazel bertemu Nemesis, Dewi Pembalasan yang memberikan Leo kue keberuntungan serta beberapa wejangan untuk Leo. Dalam pencarian perunggu langit, dia bertemu Echo dan bekerjasama dengannya serta Hazel untuk ‘menolong’ Narcissus sekaligus membawa perunggu langit yang dipakai Narcissus untuk berkaca mengagumi wajahnya yang amat tampan—tapi saat baca ini rasanya pingin getok Narcissus dan para peri hutan fans-nya. Aku suka sekali dengan Leo yang selalu mengeluarkan humornya bahkan di saat genting sekalipun. Di sini dia bersikap konyol dengan berdandan ala cowok keren—yang tak keren—dan membuat Narcissus berpaling dari perunggu langit karena tak terima Leo mengolok-olok dirinya kalah cakep daripada Leo.

“Kau akan selalu menjadi orang luar, Nemesis memberitahunya. Roda ketujuh. Kau takkan menemukan tempat di antara saudara-saudara seperjuanganmu.”—hal. 81

Gara-gara nasehat itu, Leo jadi kepikiran. Tapi kalau dipikir-pikir ada benarnya juga sih. 7 orang, tapi ada 3 pasangan manusia yang berpacaran, sedang Leo? Masa sama Pelatih Hedge? Kalau aku ada di posisi Leo, aku bakal merasa seperti dikacangin. Tapi aku lumayan suka kalau Hazel sama Leo bukan sama Frank. Hahaha! Walaupun begitu, dari ketujuh demigod dalam ramalan, Leo salah satu yang paling ambil peran penting dalam kisah di novel ini. Justru aku rasa karakternya Leo terasa lebih kuat ketimbang Percy—yang sampai sekarang aku masih merasa dialah sang tokoh utama karena aku belum bisa move on dari novel Percy Jackson.

Keseruan dalam novel ini bergulir menuju petualangan mereka di Atlanta menemui Dewa Lau Kuno anak Gaea, bermaksud meminta tolong tapi malah Percy dan Frank hampir saja menjadi piaraan koleksi sang Dewa. Bertemunya mereka dengan udangsaurus yang membuat Frank, Leo dan Hazel tenggelam dan diselamatkan oleh kerabat jauh Chiron, membuat ketiganya menjadi makin saling memahami satu sama lain. Tim ini hanya diberi waktu enam hari dan semakin berkurang untuk menyelamatkan Nico di Angelo juga menggagalkan bangunnya Gaea. Lumayan surprise bahwa Nico punya saudara selain Bianca. Sepertinya sih bukan satu ibu—nah, ini juga yang membuatku sangat ingin baca seri sebelumnya, kayaknya part Nico lumayan banyak di sana. Ah, Nico… aku suka bocah ini. Sepertinya dia sayang Percy sampai-sampai dia mengatakan Percy adalah demigod yang paling kuat yang pernah dia lihat. Sweet…!!! Wkwkwkwk!!! Oh iya, sekilas baca ada penyataan Annabeth yang bilang Nico pernah menyukainya tapi Annabeth merasa Nico terlalu muda dan bukan tipenya. Benarkah? Di buku Percy Jackson and the Olympians yang seri ke berapa ya? Aku malah merasa ada ‘sinyal’ dari Nico ke Percy bukan ke Annabeth.

Bertemu berbagai monster dan makhluk mitologi, menjalani misi Hercules supaya bisa masuk Mediterania, mencari patung Athena Parthenos dan menyelamat Nico serta membunuh kembar raksasa dituliskan oleh Rick Riordan dengan begitu asyik, lincah dan mudah dipahami. Tak ada bagian yang membosankan dalam buku ini menjadikan kita tak bisa berhenti saat membacanya. Pokoknya aku suka novel-novel karya Rick. Ya sayangnya itu tadi, banyaknya tokoh utamanya di dalamnya—walaupun di sini di fokusnya ke 4 orang sebagai narasi yaitu Leo, Piper, Percy dan Annabeth—membuat karakter beberapa terasa mirip. Percy dan Jason misalnya. Tak ada kesan menonjol pada 2 orang itu. Beda dengan Leo bahkan Pelatih Hedge, ada karakter yang menonjol yang membuat mereka akan selalu diingat dan menjadi cirri khas mereka.

So, bagaimana dengan kelanjutannya? Apakah Tim 7 ini bisa mengagalkan Gaea bangun dan menemukan Pintu Ajal lalu menutupnya? Karena di akhir Percy dan Annabeth tertimpa musibah yang kupikir mustahil mereka masih hidup—tapi Nico dengan yakin bilang mereka hidup. Terus ke mana lagi mereka akan pergi? Di mana tuh Epirus? Yuk! Kita baca kelanjutannya—sambil terus mencari yang jual Son of Neptune dengan harga murah. Hahaha!

4,5 bintang dari 5 bintang untuk novel ini. Yang lagi-lagi membuatku selesai baca dalam 2 hari saja. Sangat jarang aku bisa selesaikan novel setebal bantal hanya dalam 2 hari.

Minggu, 27 Desember 2015

[Review] THE DEMIGOD DIARIES



Penulis : Rick Riordan
Penerjemah : Reni Indardini
Penerbit : Mizan Fantasi
Terbit : Cetakan IV, April 2014
Halaman : 344
ISBN : 978-979-433-775-2
Sinopsis :
Demigod muda yang budiman,
Takdirmu menanti. Kini, setelah kau mengetahui siapa sejatinya orangtuamu, kau harus mempersiapkan diri untuk masa depan penuh rintangan--bertarung melawan monster, berpetualang ke penjuru dunia, serta menghadapi dewa-dewi Yunani dan Romawi yang temperamental. Sungguh, aku sama sekali tidak iri padamu.
Kuharap buku ini bisa membantumu mempersiapkan diri untuk menyongsong petualanganmu sendiri. Seperti kata Annabeth, pengetahuan adalah senjata. Semoga berhasil, Pembaca Muda. Siapkan baju tempur dan senjatamu. Tetap waspada. Ingatlah, kau tak pernah sendiri!
RICK RIORDAN
Kerani Senior
Perkemahan Blasteran
Long Island, New York
***
Ada 4 cerita di dalam buku ini yaitu:
1. Buku Harian Luke Castellan
2. Percy Jackson dan Tongkat Hermes
3. Leo Valdez dan Misi Menemukan Buford
4. Putra Sihir

Cerita paling akhir dibuat oleh putra Rick Riordan. Isinya tetap mengangkat seorang demigod--yang dulu ada di pihak Kronos--dan juga orang biasa bernama Claymore. Di kisah terakhir kita bisa mengetahui sisi lain penjahat. Maksudnya seseorang berada di pihak yang salah pasti memiliki alasan yang bila kita pikirkan dan bayangkan bila kita ada di posisinya pasti juga akan berlalu demikian.

Cerpen "Putra Sihir" menceritakan tentang seorang Demigod, Alasbaster sang putra dewi Hecate yang mendatangi seminar seorang penulis terkenal, Doktor Claymore. Tanpa dia sadari pertanyaan dan kunjungannya kepada Doktor Claymore justru membuat sang Doktor jatuh ke dalam masalah. Pria ini dikejar-kejar Lamia karena hanya dia yang tahu di mana Alabaster tinggal.

Dilihat dari kata-kata Lamia, sepertinya setting cerpen ini sama dengan setting waktu di novel Lost Hero, diketahui dari Lamia yang menyebut-nyebut ibu bumi dan dia yang dengan cepat pulih, bukannya terbuyarkan dan kembali ke Tartarus, juga Alabaster yang menceritakan kekalahan perang beberapa bulan lalu.

Diksi yang ditulis Haley Riordan beda jauh dengan sang ayah. Lebih baku meski sama-sama asyik dibaca. Oh iya, sebelum bagian cerpen ada semacan kata-kata dari Rick Riordan yang menceritakan tentang cikal bakal novel Percy. Sweet juga rupanya. Kelihatan sekali bahwa sang ayah begitu menyayangi anaknya. Haley mempunyai GPPH dan Disleksia. Inilah yang membuat munculnya ide demigod.

Terus, cerpen favoritku justru cerpen nomor 1, "Buku Harian Luke Castellan". Para pembaca Percy Jackson di novel seri awal pasti membenci Luke. Aku juga. Tapi mulai seri akhir Percy Jackson, aku mulai bersimpati. Pas baca cerpen ini tambahlah rasa kasihanku pada seorang Luke. Ya seperti yang aku bilang di atas. Penjahat memiliki latar belakang kenapa mereka memilih berada di pihak musuh. Soalnya Luke sebenarnya tidak jahat.

Di cerpen ini menceritakan Luke saat masih bersama Talia dan belum menemukan Annabeth. Suatu saat, Talia memutuskan mengikuti kambing milik Zeus dan membuat mereka berdua memasuki jebakan.

Ada anak Apollo yang dikutuk berpuluh tahun terperangkap di dalam rumah dan tak bisa bicara. Justru Leucrota yang bicara memakai suaranya menggantikan dia. Demi kelangsungan hidupnya, Hal selama bertahun-tahun memancing demigod untuk masuk ke rumahnya. Leucrota memakan demigod itu sedang dia menggasak perbekalan mereka untuk dimakan begitu terus sampai dia bertemua Talia dan Luke.

Sebagai anak Apollo, Hal bisa meramal. Dia meramal masa depan Talia dan Luke juga memberikan senjata Aegis untuk Talia dan belati yang kayaknya bakal dipakai untuk bunuh diri di novel Percy Jackson #5.

Di sini aku berpikir, andai Hal tidak membantu 2 orang ini apakah perang melawan Kronos tidak ada?

Terakhir 2 novel lain dengan Percy Annabeth sebagai tokoh utamanya juga trio Leo, Jason Piper. Ceritanya seru dan lucu dengan gaya menulis Rick Riordan yang asyik seperti biasa. So, bagi penyuka novel Percy Jackson dan Heroes of Olympus, wajib juga baca ini. Soalnya meski ini cerpen tapi menyambung dengan novel-novel itu.

Bintang 4 dari 5 bintang untuk The Demigod Diaries.

Selasa, 24 November 2015

[Review] Trilogi Airhead, Being Nikki & Runnaway


AIRHEAD, BEING NIKKI, RUNNAWAY itu novel trilogi jadi kalo dipisah kok rasanya kejam seolah misahin orang pacaran yang udah sehati. #uhuk #kode

Berkisah tentang Emerson Watt yang biasa dipanggil Em, mengalami kecelakaan saat mengantar adiknya ke Stark Megastore demi untuk melihat idolanya perform, Gabriel Luna--namanya bagus btw, sebagus deskripsi tokohnya: mata biru, rambut pirang, logat britis, dan suara merdu. Em ketiban TV plasma super gede yang jatuh gara-gara senapan cat dari demonstran anti Stark Enterprize. Remuklah dia. Mati.

Kebetulan Nikki Howard, model ternama yang menjadi duta Stark pingsan tiba-tiba dan disinyalir mengalami mati otak. Akhirnya muncullah cerita bahwa otak Em yang masih bagus dicangkokkan ke otak supermodel. Jadilah, voila! Nikki Howards tapi inner-nya Emerson Watt.

Banyak konspirasi yang terjadi yang dilakukan oleh Robert Stark sang owner Stark Enterprize. Ada juga hasrat ingin mengguling sang ayah dan menggantikan posisi sang ayah yang timbul dalam diri Brandon--akhirnya kesampaian sih. Em yang semula cuma ordinary girl kudu dan wajib berperan menjadi cewek supermodel yang rupanya begitu ribet. Ditambah ibu asli Nikki yang menghilang tepat saat Nikki dan dirinya mengalami kecelakaan, sahabat yang lama dia taksir berubah jadi penjahat setelah Em dinyatakan mati--karena berusaha balas dendam kepada Stark Enterprise--dan pertaruhan nasib keluarganya membuat Em pusing tujuh keliling.

Kalau dibandingkan The Mediator series, aku lebih suka The Mediator. Tapi Airhead trilogi juga patut dibaca soalnya ini bacaan ringan yang asyik dibaca saat senggang karena mengusung cerita yang nggak mainstream, detail pula--kau akan tahu seperti apa susahnya jadi model dan para pendukungnya. Gimana menderitanya jaga body, gimana sedihnya di tengah hingar bingar dunia gemerlap tanpa privasi, dan lain sebagainya. Oh ya, gara-gara suka baca Meg Cabot jugalah aku jadi tahu barang-barang branded kegemaran para sosialita. Setiap tulisan Meg Cabot selalu menuliskan segala model penampilan para tokohnya secara detail juga setiap karakter yang dia tulis memiliki ciri khasnya masing-masing. Kadang aku dibuat jengkel dengan Brandon maupun Nikki tapi juga dibuat kasihan. Begitu juga dengan Em sendiri, aku jadi ikut merasa susahnya dari yang tadinya bisa bebas ngapa-ngapain tidak memikirkan tubuh maupun style apa yang dipakai berubah harus merasakan siksaan memakai pakaian yang tidak nyaman juga perawatan tubuh yang sedemikian ribet.

Oh iya, ending... Semua berbahagia dan menemukan pasangan masing-masing. Aku suka sosok Nikki Howard di tubuh barunya yang mampu menaklukkan hati Gabriel Luna--dan menindas cowok itu tentunya. Nikki tuh semacam gadis manja, sombong khas karakter para cewek populer dalam cerita novel cuma yang tak nampak dalam dirinya tuh disiplin tinggi dan sifat mengintidasi yang justru membuat cowok sepopuler Gabriel Luna rela dijajah. :v

Terakhir, mungkin di Amrik sana novel ini bisa masuk teenlit tapi kok menurutku label teenlit kurang pas dengan novel ini.

Bintang 3,5 dari 5 bintang aku kasih buat Airhead trilogi.

Spesifikasi Buku:
Airhead: 352 halaman, Gramedia, November 2010
Being Nikki: 304, Gramedia, Februari 2011
Runaway: 328, Gramedia, Mei 2012
Dapat dari obral buku Gramedia dan online Shop penjual buku second.

Jumat, 20 November 2015

[Review] THE LOST HERO


THE LOST HERO

Penulis: Rick Riordan

Penerbit: Mizan Fantasi
Halaman: 585
ISBN: 978-979-433-6533-3
Sinopsis:
Tiga demigod baru bergabung di perkemahan Blasteran. Jason yang tidak bisa mengingat jati dirinya, Piper dengan rahasia masa lalunya, dan Leo dengan kemampuan mekaniknya yang luar biasa. Bersama-sama, ketiganya mengemban sebuah misi penyelamatan. Misi yang juga akan mengungkap sebuah rahasia besar di masa lalu mereka. Bergabunglah dengan para demigod dari Perkemahan Blasteran dan nikmati petualangan serunya!

***

Yang membaca Percy Jackson & the Olympians wajib lanjut baca seri Heroes of Olympus. Setelah di akhir seri Percy Jackson, Oracle memberikan ramalan, nah rupanya nggak sesuai perkiraan Apollo bahwa ramalan itu masih akan terjadi bertahun-tahun kemudian.

Diceritakan saat Sekolah Alam Liar berwisata di Grand Canyon, Jason mendadak ada disitu tapi siapa pun seolah sudah kenal lama disertai ingatan palsu soal Jason. Padahal Jason sendiri nggak mengingat mereka termasuk yang katanya pacarnya, Piper.--lebih tepatnya dia nggak ingat apapun selain bahwa namanya Jason. Nah, disitu aksi pertama para pahlawan bertarung melawan roh badai dan pelatih mereka Gleeson lenyap.


Sehabis itu bantuan datang. Annabeth dan Buck menjemput tiga demigod--Jason, Piper, Leo--untuk membawa mereka ke perkemahan blasteran. Dan keseruan-keseruan selanjutnya bergulir dengan asyiknya. Mereka yang naik naga, bertemu dewa angin, Medea, Midas, Anak Bumi, Gaea dan lain-lain. Lalu satu persatu larik ramalan terealisasi di setiap petualangan mereka dalam melaksanakan misi penyelamatan Hera.


Seru! Walau di awal agak kurang terbiasa soalnya biasa baca Percy yang pakai pov. 1 sekarang pakai pov. 3 yang fokus penceritaannya berganti-ganti tapi cukup terbantu karena di setiap awal bab baru ada nama yang tercantum yang pasti menjadi sorot utamanya dalam bab itu.


Aku suka Jason. Terus terang saja sejak baca di awal aku suka Jason. Aku sebal dengan Leo yang tengil. Oh, iya... Aku juga suka Piper yang menurutku nggak Aphrodite banget. Namun makin ke belakang, aku suka ketiganya sama rata. Mereka menonjol semua. Piper yang makin menarik dan cantik dengan gayanya sendiri serta kehidupan dia dengan sang ayah ada kesingkronan yang aku temukan yang membuatku membatin, oh pantes sifatnya begitu. Leo juga. Kecuali Jason. Pembawaan yang tenang itu pas dengan style Romawi yang pernah dituliskan.

Ada tokoh-tokoh menyebalkan yang diijinkan untuk hadir tapi juga membuatmu berubah pikiran dan tak jadi membencinya. Hera dan Gleeson. Hahaha~ Waktu baca pingin pites dua tokoh itu. Tapi kan ya namanya karakter, itu memang ciri khas mereka jadi tokoh-tokoh inipun diijinkan menolong--sedikit--para pahlawan dengan caranya sendiri.


Intinya nggak hanya imajinasi Rick Riordan yang keren dan detail, tokoh-tokoh sekecil apapun perannya mempunyai ciri khasnya sendiri dan karakter masing-masing tuh kuat. So, pantaslah kalau novel-novel karyanya jadi bestseller.


Berikut quote favorit yang aku temukan--dan sempat dituliskan sebelum lupa:
  • "Terus bergerak--itulah motonya. Jangan sesalkan yang sudah berlalu. Jangan berdiam diri terlalu lama di satu tempat. Itulah satu-satunya cara untuk menghindari kesedihan."
    --Leo Valdes, hal. 72
  • "Humor adalah cara yang bagus untuk menyembunyikan kepedihan."--Leo Valdes; hal. 86
  • "Untuk menjadi sempurna, kita harus merasa bahwa diri kita sempurna--janganlah menjadi orang lain."--Aphrodite, hal. 454
Udah. Tiga doang. Wkwkwk!!! Aslinya lebih banyak yang kutemukan tapi karena nggak ada kertas atau hape buat nyatat ya abis kelewat lupa deh quote kecenya ada di halaman berapa. Ternyata quote dari Leo lah yang paling banyak. Dia emang paling unik dari yang lain. Dia suka melucu namun rupanya melucu dan nggak pernah bersikap serius itu hanyalah sebuah pelariannya karena masa lalunya yang kelam dan hatinya yang terus menyalahkan diri perihal kematian ibunya.

Bintang 4 dari 5 bintang deh untuk novel ini. Tinggal menunggu kisah para pahlawan lainnya termasuk Percy yang katanya bertukar tempat dengan Jason. Aku penasaran seperti apa Camp Blasteran Romawi.