Selasa, 18 Februari 2014

[Short Story Reading Challenge] Rahasia Bulan



Spesifikasi buku

Judul : Rahasia Bulan
Penulis :
1. Is Mujiarso - Taman Trembesi
2. Clara Ng - Rahasia Bulan
3. Linda Christanty - Mercusuar
4. Ve Handojo - Vino Tidak Datang
5. D. Jayadikarta - Mereka Benci Aku Banci
6. Alberthiene Endah – Secangkir Kopi di Starbuck
7. Indra Herlambang – Merindu Randu
8. Ade Amui - Dinding
9. Yetti A.K.A - Numi
10. Rahmat Hidayat - Dua Lelaki
11. Stefanny Irawan - Aku ingin Kepastian, Clarissa
12. Dalih Sembiring - Sebuah Ruangan Berdinding Abu-abu
13. Nuage Kusuma - Lari
14. Ucu Agustin - Anak yang Ber-Rahasia
15. Djenar Maesa Ayu - Lolongan di Balik Dinding
16. Andrei Aksana - Menanti Pelangi
Editor : Is Mujiarso
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Jakarta, Januari 2006
Halaman : 232 halaman
Sinopsis :
Ada yang diam-diam bergerak dalam khasanah literer kita. Sosok-sosok gay dan lesbian mendiami ruang-ruang yang sebelumnya kosong dalam karya fiksi.
Tema homoseksual melimpahi halaman-halaman novel, dari yang masih berupa tempelan dan kilasan, sampai yang telah menukik ke dalam. Tutup matamu dan ambil saja secara acak novel dari tumpukan di toko buku, dan di sana, kau akan menemukan tokoh laki-laki yang jatuh cinta kepada sesama lelaki ataupun perempuan yang jatuh cinta kepada sesama perempuan.
Apakah lantas kita bisa berkata, telah lahir genre baru dalam fiksi kita? Atau, kita hanya boleh berprasangka bahwa semua ini hanya tren belaka, yang lahir dari tuntutan instan komodifikasi seiring dengan fenomena booming buku fiksi? Baca dan buktikan sendiri dalam kumpulan cerpen ini.
~o0o~

Pasti begitu membaca sinopsisnya, kita akan langsung tahu buku antologi ini mengangkat tentang apa. Yak! Tentang cerita-cerita yang mengangkat dunia kaum homoseksual. Sebuah tema yang sampai saat ini jarang saya temui dalam sebuah karya fiksi.

Di sinopsisnya seakan mengatakan bahwa dunia sastra fiksi sudah mulai marak mengangkat genre ‘baru’ ini tapi saya merasa masih langka ya? Malah saya pingin nyoba menutup mata dan memilih secara acak novel di toko buku dan pasti takkan saya dapati cerita yang menyangkut tentang homoseksual. Hal inilah yang membuat saya tertarik untuk membaca buku ini.

Begitu membuka daftar isi, saya cukup senang mendapati beberapa nama yang familiar saya ketahui sebagai penulis fiksi yang handal dan cukup dikenal—terutama oleh saya yang notabene baru menekuni hobi membaca dan mereview. Judul buku menggunakan judul cerpen karya Clara Ng yang adalah penulis favorit saya. Karena itulah cerpen yang pertama saya baca itu ‘Rahasia Bulan’ tapi jujur saya kurang menikmati cerpen ini. Sejak awal membaca saya sudah bisa menebak jalan ceritanya dan di dalam cerita ini tak ada konflik yang mampu membuat emosi saya naik turun. Malah seperti membaca jadwal harian ibu rumah tangga yang ternyata di tengah jadwalnya memiliki jadwal khusus yakni berkencan dengan sahabat yang ternyata adalah kekasih gelap sesama jenisnya.

Nah… Karya Alberthiene Endah adalah karya kedua yang saya baca dan alhasil saya suka karena penulisannya yang detail dan jalan cerita yang tak tertebak membuat saya puas membacanya. Selain itu suasana rumah tangga Fere-Yayuk terasa realistis. Banyak kita temui suasana rumah tangga semacam istri yang berubah cuek pada penampilan, tak mengurus badan, membiarkan lemak bertebaran di sekujur tubuh, menjadi malas bersolek hanya karena dalih sibuk mengurus rumah hingga tak mau mendengarkan suami karena terus ingin menang dengan pembenarannya sendiri, dan langsung membuat saya memaklumi serta tak menyalahkan para lelaki yang pada akhirnya memilih berselingkuh karena keadaan di rumah seperti itu. Ya, Fere pun jadi lebih betah duduk-duduk di Starbuck berjam-jam sepulang kerja demi menunggu seorang Julie ketimbang pulang ke rumah yang dia rasa lebih mirip seperti neraka.

“Sayang, api adalah api. Kecil atau besar tetap bisa membakar.”
Kutipan dari cerpen ‘Merindu Randu’ karya Indra Herlambang ini cukup membuat saya berpikir, benar juga ya? Saya langsung seperti mendapat pencerahan. Bahwa kita tak bisa meremehkan hal kecil. Karena sekecil apapun perkara yang kita sepelekan tanpa kita tahu kelak bisa menjadi perkara besar. Tak disangka Indra Herlambang dapat memukau saya dengan pemilihan kata yang berima dan penuh makna. Gaya bahasa yang dia pakai juga puitis namun masih mudah untuk ditelaah oleh pembaca ‘dangkal’ macam saya. Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, Indra Herlambang sukses membuat saya bisa menikmati serta menuntaskan cerpennya—tak seperti beberapa cerpen yang hanya sekilas saja saya baca lalu saya tinggalkan dan beralih ke cerpen berikutnya—dan meninggalkan kesan. Pokoknya cerpen ini saya acungi dua jempol.

Cerpen keempat yang berhasil selesai saya baca hingga akhir adalah karya Djenar Maesa Ayu. Meski seluruh cerpennya narasi, tak ada secuilpun dialog namun begitu membaca bagian awal, saya sudah merasa penasaran dan makin penasaran ketika makin jauh dibaca. Djenar Maesa Ayu sepertinya sengaja menuliskan dia, dia dan dia tanpa menyebutkan nama dan ciri fisik tokohnya bahkan gendernya. Dan hingga akhirnya, saya seolah terjebak dengan pikiran saya sendiri yang seperti sudah diarahkan untuk menebak gender yang salah di tokoh utama itu. Saya melongo di akhir cerita.

Ini kutipan percakapan terfavorit saya dari 16 cerpen dan dari beberapa banyak percakapan yang dituliskan oleh para penulis dalam buku ‘Rahasia Bulan’ ini saya memilih percakapan dalam cerpen ‘Dua Lelaki’ ini karena… yah… saya juga pernah berpikir hampir serupa seperti kutipan di bawah ini.
“Kau tahu. Hujan seperti ini serupa arsir. Sering kubayangkan Tuhan serupa kanak-kanak, dengan penggaris dan pensil menggarisi dunia dengan hujan….”
“Segala dongeng tentang Tuhan itu….” Lelaki bermata biru menguap lebar.
“Aku tahu, kaupikir itu konyol. Tapi coba bayangkan sendainya Tuhan menggarisi dunia dengan krayon, kita akan punya hujan yang berwarna!”

Hanya bedanya saya mengasosiasikan Tuhan layaknya anak kecil yang suka main rumah-rumahan. Hehehe….

Nah, terakhir, sebagai penutup karena akan jadi terlalu panjang jika saya membahas semua cerpen—yang bahkan beberapa sudah saya tinggal sebelum habis dibaca—saya hanya bisa mengatakan buku ini recommended untuk dibaca. Meski terbitnya sudah lama dan pastinya tak bisa lagi didapatkan di toko buku, namun jika para penyuka cerpen melihatnya di perpustakaan, saran saya jangan diabaikan. Pinjamlah dan bacalah. Karena kita bisa melihat sisi lain kehidupan manusia yang sering dipandang negatif. Dan pasti kita jadi memahami kenapa mereka memilih jalan menyimpang itu.

Minggu, 16 Februari 2014

Make Your Choice


[Clara Ng Reading Challenge] Tokoh Terfavorit dari novel Clara Ng



Sebetulnya meski saya menyatakan diri sebagai penggemar novel-novel karya mbak Clara Ng, namun baru ada 3 buku yang saya baca yaitu Malaikat Jatuh, Ramuan Drama Cinta dan Uttuki. Sehingga mungkin hanya sebatas tokoh-tokoh di dalam novel itu saja yang bisa saya pilih menjadi yang terfavorit.

Saya penggemar baru dari seorang penulis serba bisa, Clara Ng. Mulai tahun 2012 saya mulai tekun membaca—meski sejak dulu punya minta membaca tapi bukan sesuatu kegiatan rutin—dan menulis sehingga begitu membaca Malaikat Jatuh saya langsung jatuh cinta pada karya Clara Ng. Lalu mulai tahun ini yakni 2014, saya baru coba-coba memberanikan diri mengikuti Reading Challenge semacam ini.

Sebelum saya sebutkan tokoh mana yang menjadi favorit, saya mau bercerita kesan yang saya dapat setelah berhasil menyelesaikan ketiga novel itu. Awal baca Malaikat Jatuh, saya langsung tertarik dengan segala cerita yang tertulis di dalamnya. Begitu terasa suram namun juga sarat akan nilai positif. Terlebih gaya menulis mbak Clara Ng yang lincah dan tidak membosankan membuat saya kagum. Cerita-cerita yang dituangkan di buku itupun juga variatif namun masih dalam satu tema yang sama yakni tentang perempuan dengan berbagai latar belakangnya. Sejak membaca Malaikat Jatuh saya mulai mencoba mencari buku karya beliau lainnya dan sesampainya di Perpustakaan Wilayah—jujur saya suka minjam di sana secara gratis daripada beli—saya menemukan novel Ramuan Drama Cinta. Di novel itu saya dibuat tak paham dengan bagaimana karakter menulis mbak Clara Ng. Biasanya setiap penulis mempunyai genre yang menonjol di masing-masing cerita yang ditulisnya. Namun dalam novel Ramuan Drama Cinta, saya menemukan rasa lain. Awalnya membaca judulnya saya merasa kok judulnya norak ya? Kesannya kayak terlalu roman piciran gitu. Atau terlalu biasa kalau saya boleh berpendapat namun begitu membaca isinya, bikin tertawa dan senyum-senyum sendiri. Benar-benar komedinya itu kena. Dan lagi-lagi ide ceritanya segar dan kreatif. Benar-benar sebuah paket komplit kalau saya membaca buku karya mbak Clara Ng. Dia bisa menulis segala genre.

Dari Ramuan Drama Cinta saya baru menemukan bahwa buku ini punya seri lainnya namun sayang, di Perpustakaan Daerah di Semarang tempat langganan baca buku tidak saya temukan. Saya mencari di toko buku pun Jampi-jampi Varaiya juga tak ditemukan. Sayang sekali padahal saya penasaran bagaimana cerita Keluarga Karbohidrat aka Keluarga Raya, dan tokoh penting lainnya ketika terdampar di Kerajaan Varaiya, antah berantah yang bahkan tak bisa saya temukan di peta Indonesia.

Nah, dari tiga buku tersebut saya memfavoritkan… Jeng-jeng… Saya lumayan bingung. Karena semua tokoh yang dituliskan memiliki karakter yang kuat namun dari sekian banyak tokoh itu yang lumayan membekas itu Tsungta Zvar. Bukan tokoh utama namun lumayan berperan penting dalam cerita di novel Ramuan Drama Cinta. Karena Tsungta jugalah saya sangat penasaran dan ingin membaca juga novel Jampi-jampi Varaiya. Tokoh Tsungta meski dideskripsikan sebagai si sumber kekacauan namun karakternya yang gigih dan rada katrok itu cukup membuat saya berkesan. Tak seperti biasanya ketika membaca novel saya selalu memfavoritkan tokoh yang berpenampilan sempurna serta memiliki karakter misterius yang terkesan dingin namun berbeda dengan ini saya menyukai Tsungka yang sering bikin ngakak.

Andai Jampi-jampi Varaiya cetak ulang… saya pasti tak segan untuk membelinya… 

Rabu, 29 Januari 2014

[Short Story Reading Challenge] BH




Judul : BH
Penulis : Emha Ainun Najib
Penyunting : Kenedi Nurhan
Penerbit : Kompas
Terbit : Jakarta, Januari 2005
Halaman : x + 246 hlm
Ukuran : 14 cm x 21 cm

Sinopsis :
“LELAKI pertama yang meniduriku adalah suamiku sendiri dan lelaki yang mencampakkanku ke lelaki kedua adalah suamiku sendiri, dan untuk perempuan yang begini busuk dan hampir tak mampu lagi melihat hal-hal yang baik dalam hidup ini, maka lelaki kedua hanyalah saluran menuju lelaki ketiga, keempat, kesepuluh, keempat puluh, keseratus, ketujuh ratus…”
• Lelaki ke-1000 di Ranjangku
DALAM dunia penulisan cerita pendek atawa cerpen, nama Emha Ainun Najib memang jarang terdengar. Itu karena di bidang ini Emha tak begitu produktif, tidak seperti halnya ia menulis esai dan member ceramah. Cerpen-cerpen yang terhimpun dalam buku kumpulan ini, BH, bahkan tercatat hanya berasal dari rentang masa 1977-1982. Tentu saja ini gejala menarik. Namun lepas dari semua, tak kalah menariknya adalah mengikuti bagaimana Emha bercerita lewat cerpen-cerpennya dengan cara membaca langsung karya-karya yang terhimpun dalam kumpulan ini.
~o0o~

Ada 23 cerpen di dalam buku yang diberi judul sampul ‘BH’ ini. Awalnya agak heran. Biasanya setiap antologi yang aku baca pasti judulnya kebanyakan diberi judul dari cerpen yang terdepan, tapi ini lain. ‘BH’ adalah cerpen dengan nomor urut 18. Nomor yang hampir terakhir. Membuatku bertanya-tanya kenapa bapak Emha Ainun Najib atau pihak redaksi Kompas memberikan buku ini judul ‘BH’. Sehabis membaca keseluruhan cerpen aku baru mengerti kenapa kumcer ini diberi judul BH. Singkatnya begini, bukankah BH atau sering kita sebut Bra itu identik dengan barang milik perempuan? Dalemannya perempuan, benda yang bersifat pribadi? Nah, dari sekian banyak cerpen yang kubaca aku menemukan semuanya berpusat pada wanita—dan waria—dan mengupas tentang kisi-kisi kehidupan makhluk Tuhan yang disebut perempuan ini.

Buku ini ditemukan adikku di perpustakaan wilayah dan awalnya aku agak tidak berminat untuk ikut membaca karena selera bacaan kami berbeda. Aku lebih ke bacaan ringan yang tak terlalu ‘nyastra’ dan ‘berat’ dengan bahasa yang belibet seperti seleranya. Namun sehabis membaca buku ini persepsiku langsung berubah. Saat iseng-iseng kubuka, yang awalnya kukira cerpen dengan diksi yang berat dan cerita yang harus bikin dahi berkerut, eh… ternyata saat kubaca tak terlalu bikin otak puyeng. Cak Nun—panggilan populernya begitu kalau ada yang kurang tahu—menuliskannya dengan bahasa yang ringan dan dengan isi cerita yang dalam kehidupan sehari-hari di sekeliling kita ini sering kita jumpai—tapi pasti tak begitu kita perhatikan. Contohnya di cerpen pertama yang berjudul, ‘Lelaki Ke-1000 di Ranjangku’. Di situ dengan penulisan yang menggunakan sudut pandang aku, Cak Nun membuat pembacanya merasa menjadi sang tokoh utama. Cerita ini menyuruh pembaca untuk memahami perasaan seorang pelacur. Kehidupannya dan latar belakang kenapa dia melakukan pekerjaan haram itu. Kejenuhannya dalam hidupnya namun masih tetap tak menyerah menjalaninya. Membuat kita makin merasa bahwa terkadang keegoisan dan sikap tak mau mendengarkan pendapat orang lain—khususnya orang tua—dapat menjerumuskan kehidupan kita karena kita tetap ngeyel memilih jalan yang salah.

Karena banyaknya cerpen di dalam buku ini aku kupas cerpen yang berjudul, ‘BH’ ya? Ceritanya cukup sederhana. Seorang Santri yang bersahabat dengan Niken, seorang waria yang selalu mendapatkan cerca. Awalnya aku tak menyangka kalau sosok Niken yang diceritakan oleh Santri tersebut adalah seorang waria. Di awal cerita si ‘aku’ ini membuat pembaca berpikiran negative tentang dia. Tentu saja berpikiran negative soalnya dia berada di kamar si cewek—Niken—ini berdua saja dan si Niken juga tengah ganti baju. Namun makin ke tengah makin terjelaskan alasan seorang Santri itu dekat dengan Niken meski dia juga ikut mendapat cemooh dari orang-orang sekitar. Karena latar belakangnya sebagai seorang Santri yang tak pantas dekat seorang seperti Niken yang pasti dianggap ‘buruk’ dan dipandang sebelah mata.

Sebagian besar cerpen ini menggunakan sudut pandang orang pertama. Di dalamnya terdapat bermacam-macam cerita dan setting. Mulai dari jaman pewayangan macam Pandawa dan Kurawa, mengangkat cerita tentang Pelacur, Penjudi, Waria, seorang Borjuis yang suka berpesta, Pegawai kantoran dan lain sebagainya. Cak Nun menuliskannya dengan gaya yang terasa sekali cita rasa Indonesianya dan tentunya menganggung nilai-nilai kemanusiaan. Buku yang sangat direkomendasikan.

Selasa, 21 Januari 2014

[ Short Story Reading Challenge] Malaikat Jatuh & Cerita-cerita Lainnya



Judul : Malaikat Jatuh dan Cerita-cerita lainnya
Penulis : Clara Ng
Editor : Hetih Rusli
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : Agustus 2008
Halaman : 176 hal
ISBN : 979-22-3935-9 / 978-979-22-3935-5

Sinopsis :
Beppu, manusia bersayap cacat. Sayapnya hanya sebelah tidak dapat mengangkatnya terbang meniti angin.
Louissa Manna, seorang ibu berusia ratusan tahun. Dia telah memakan jantung manusia bersayap untuk mendapatkan hidup abadi.
Pada pertemuan mereka yang dipenuhi kekejaman, Beppu dan Manna berjuang mempertahankan kewarasan, kesucian dan di atas semuanya, cinta.
Sepuluh cerita. Tentang wajah perempuan. Dari ibu sampai pelacur, dari perawan sampai hanya pemeran. Semuanya dibingkai dalam dongeng-dongeng malam kematian dan narasi kelam.

Ada 10 cerpen dengan cerita yang beragam di dalam buku ini yaitu:
1. Malaikat Jatuh
2. Negeri Debu
3. Makam
4. Di Uluwatu
5. Lelaba
6. Hutan Sehabis Hujan
7. Akhir
8. Barbie
9. Bengkel Las Bu Ijah
10. Istri Paling Sempurna

Buku ini adalah awal mula aku menggemari karya Clara Ng. Karena meski Clara Ng menuliskannya dengan bahasa yang ringan tapi setiap kata yang terangkai terasa tak membosankan. Membuatku begitu menikmati membaca setiap cerita yang tertuang dari awal hingga akhir.

Cerita yang tertuang dalam buku ini rata-rata terasa suram namun justru sangat aku suka. Yang membuatku terkesan adalah cerita 'Malaikat Jatuh'. Cerita fantasi tentang betapa seorang ibu--yang hidup abadi--rela melakukan segala cara demi membuat anaknya hidup meski akhirnya apa yang dilakukannya berakibat buruk untuk anak itu sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Sejak awal cerita, konflik sudah nampak lewat perdebatan mertua Manna dengan Manna sendiri karena sakitnya Mae, sang anak. Hingga akhirnya konflik makin bertambah setelah sang anak berhasil disembuhkan--namun ada efek samping. Konflik-konflik yang terjadi itu membuatku dapat memetik sesuatu terkadang rasa cinta itu bisa membuat seseorang berbuat egois dan buta. Seperti Manna yang terlalu sayang pada Mae dan tak ingin ditinggalkan oleh orang yang dikasihinya lagi membuatnya bersikap seolah menutup mata atas perbuatan Mae setelah ia sembuh.

Di cerita kedua, 'Negeri Debu'. Kisah seorang anak yang memiliki ibu seorang Pelacur. Nampak sekali bahwa anak yang usianya masih teramat kecil ini lari dari kenyataan hidup dan membuat dunia imajinasinya sendiri. Setiap dia mengalami hal yang menyesakkan di dunia nyata, dia akan pergi ke negeri debu yang terletak di bawah kolong tempat tidur. Sebenarnya ceritanya cukup sederhana dan membuatku teringat semasa kecil dulu aku juga suka berimajinasi. Tapi ending dari cerita ini lagi-lagi membuatku merasa miris dan prihatin. Sekali lagi Clara Ng menuliskan cerpennya dengan ending yang tak tertebak.

Cerita ketiga, 'Makam'. Dengan memakai sudut pandang orang pertama, penulis membawa pembaca merasakan betapa sayangnya sang anak pada ibu yang sudah merawatnya sejak dia ditemukan di sebuah area pemakaman. Dan merasakan juga betapa dia merasa kehilangan lewat flashback yang diceritakannya. Lalu di ending pembaca dibuat terkejut dengan jati diri sebenarnya sang ibu.

Lalu cerita yang membuatku terkesan lainnya adalah Barbie. Ini bukan cerita tentang ibu dan anak lagi namun sebuah oengkhianatan. Meski layaknya Toys Story yang tokohnya adalah mainan yang dibuat hidup memiliki perasaan dan pikiran seperti manusia begitu juga cerita ini tapi sangat salah jika dikatakan isinya ditujukan untuk anak-anak. Sebenarnya ceritanya cukup umum. sering diangkat. Tapi gaya menulis Clara Ng dan ending yang lagi-lagi tak terpikirkan membuatku cukup terkesan.

Kesepuluh cerpen tersebut hampir 90 persen menggunakan sudut pandang orang pertama. Membuat pembaca merasa mengalami sendiri menjadi sang tokoh utama. Aku tak terlalu menemukan kekurangan selain ada cerita yang idenya sudah lumayan sering diangkat seperti kisah Barbie tadi dan juga Istri Paling Sempurna yang ketika dibaca lebih terasa seperti membaca buku diary hanya saja yang menceritakannya adalah seorang laki-laki yang teramat mencintai istrinya.

Jadi kesimpulannya aku tak bisa melabeli buku ini ditujukan untuk remaja anak-anak tapi tak bisa juga melabeli buku ini untuk orang dewasa karena didalamnya ada berbagai cerita yang beragam dengan banyak sudut pandang, dari seorang anak, ibu, seorang kekasih yang terkhianatai, suami dan banyak lagi.

Sedang belajar mereview buku. Jadi harap maklum kalau review-annya nggak teratur.

Senin, 13 Januari 2014

First Time Reading


Malaikat Jatuh dan Cerita-cerita Lainnya
Judul di atas adalah buku pertama yang kubaca dari karya yang dibuat mbak Clara Ng. sejak itu aku mulai memburu karya-karya dia selanjutnya--walau sampai sekarang masih membaca tiga buku sih. Hehehe...

Dalam antologi cerpen berisikan 10 cerita itu aku dibuat terbengong-bengong, kagum sekaligus miris. Khususnya di cerpen Malaikat Jatuh dan Negeri Debu disitu aku dibuat terkejut dengan ending yang nggak ketebak. Lalu setelah habis membaca semuanya aku cuma bisa membatin, ini beneran buku cerita untuk anak-anak? apalagi pas baca Barbie. Lagi-lagi bertanya-tanya ini beneran cerpen anak-anak. Namun terlepas dari cerpen ini untuk kalangan pembaca berusia berapa, aku kagum dengan cerita-cerita yang ditulis di buku. Isinya nggak mainstream dan penuh pesan moral. Jempol spuluh buat mbak Clara Ng.

Awal mula aku memilih Malaikat Jatuh, padahal ada banyak buku-buku--yang pastinya seru--lainnya di rak Perpustakaan Daerah adalah awalnya karena judul. Sejak lama aku suka membaca novel fantasi yang menceritakan tentang makhluk bersayap sama cerita-cerita macam vampir dan sebangsanya gitu. Dan... judul Malaikat Jatuh sukses menarik perhatianku. akhirnya kupinjam dan kubawa pulang. Terus begitu baca cerita pertama aku terpesona lalu dalam 2 jam aku sudah membaca semuanya, urut dari awal hingga akhir. Padahal biasanya kalau aku baca antologi, aku milih-milih alias loncat-loncat. Kubaca yang judulnya menarik saja.

Sebagai penutup... Aku berharap buku ini dicetak ulang karena aku pengen ngoleksi buku kece ini. :)

Senin, 30 Desember 2013

Di Semarang, Aku Merindumu

~o0o~

Tami nampak lelah. Kakinya melangkah terseret seraya sesekali menutup mulutnya yang menguap karena terlampau mengantuk. Untungnya daerah sekitar rumahnya terbilang aman sehingga meski hari telah larut dan kini dia berjalan sendirian, dia tak merasa terancam.
Tep! Langkah kakinya berhenti begitu sekelebat dia melihat seseorang baru saja berlari meninggalkan rumahnya setelah memasukkan sesuatu ke dalam kotak pos yang terpasang kokoh di pagar rumah.
Tami mempercepat laju langkahnya. Merasa penasaran oleh apa yang diletakkan orang asing yang berpakaian serba hitam tadi. “Tidak mungkin dia Pak Pos. Jam sepuluh malam mana ada Pak Pos?” gumamnya.
Sesampainya dia di depan pagar, dibukanya dengan terburu-buru kotak pos bernomor 254. Seketika dahinya mengernyit heran ketika didapatinya sebuah amplop berwarna pink tergeletak di dalam kotak. Ragu-ragu, tangan Tami terjulur mengambil amplop itu dan membukanya pelan-pelan. Sungguh, dalam hati dia merasakan keanehan. Jarang sekali dia mendapat surat. Jaman sekarang dengan hanya menggunakan fasilitas internet atau ponsel, segalanya bisa cepat tersampaikan dan perlahan—kecuali lembaga instansi—sedikit orang yang menggunakan jasa surat menyurat.
“Eh? Kunci?” pekik Tami tertahan. Dia heran kenapa amplop yang tak ada nama pengirimnya selarik pun memberinya kunci warna silver dengan goresan nomor seri di kepala kunci. Apa maksudnya? batin Tami.
Seraya melangkahkan kakinya masuk ke rumah kontrakannya yang terletak di jalan Kauman. Tami masih saja terus menebak-nebak siapa yang mengiriminya kunci dan apa tujuannya.
Dimasukinya ruang tamu ukuran 3 x 4 meter itu lalu dihempaskan tubuhnya yang lelah ke sofa. Matanya terpejam. Otaknya sudah tak mampu berpikir karena sudah capek bekerja seharian. Akhirnya tak perlu menitan waktu, Tami sudah terlelap di sofa tanpa mengganti seragam kerjanya terlebih dulu.

“Wah... Pas banget! Dapat loker bernomor 109!” ucap Tami sedikit memekik girang. Alhasil beberapa mahasiswa yang berlalu lalang menoleh ke arahnya heran. Tak terkecuali dengan sosok pemuda berkemeja hitam lengan pendek yang sedang membuka loker tak jauh darinya.
“Hebohnya... Memangnya ada apa dengan nomor itu? Nomor keramat ya?” Pemuda itu menyenderkan sikunya ke pintu lokernya yang sudah tertutup lalu menatap Tami disertai senyuman mencemooh.
Tanpa menatap balik ke arah orang yang tiba-tiba berseloroh, Tami menyahut. “Soalnya 109 adalah tanggal lahirku,” jawabnya lancar masih disertai senyuman bahagia. Namun tak berapa lama dia sadar bahwa orang yang mengajaknya bicara tak dia kenal. Sontak Tami menengok ke kiri tempat di mana pemuda berlesung pipit itu masih berdiri menyandar. “Eh? Siapa kau?” Wajah terkejutnya muncul.
“Hahaha! Lucu sekali ekspresimu itu,” selohornya sambil tergelak. Lalu dia pun melangkahkan kaki mendekati Tami seraya mengerling genit. “Kau pasti Mahasiswa baru, makanya tak tahu. Kenalkan, aku Andreas Itsuki. Mahasiswa paling berkarisma di kampus.” Dia menyombongkan diri cenderung narsis.
Kali ini Tami lah yang gantian tergelak. “Hahaha! Apa? Berkarisma? Ish! Sombong!” Setelah berucap dengan cueknya Tami berlalu dari hadapan Seniornya. Tak lupa, dia melirik singkat ke arah pemuda itu dan tak sengaja matanya tertumbuk pada nomor loker pemuda tengil berambut coklat acak-acakan yang tadi berseloroh sombong.


Tami membuka matanya tiba-tiba dengan sorot terkejut. Jantungnya berdetak tak beraturan. Nafasnya menghembus dengan memburu. Mimpi itu atau lebih tepatnya kenangan masa lalu yang kembali di dalam mimpi telah mengagetkannya dan langsung mengingatkannya pada sesuatu.
“Kunci itu! Nomor di kunci itu sama dengan nomor loker Andre!”
Tami cepat-cepat berdiri lalu meluncur keluar rumah tanpa mengganti dulu seragam yang dikenakannya atau merapikan rambutnya yang acak-acakan disertai wajah kucel yang nampak kelelahan. Terus, Tami berlari menyusuri gang sempit menuju jalan raya di mana dia dapat menyetop angkutan atau taksi yang lewat.
Di dalam taksi pun, ditatapnya terus dengan sorot mata berkaca-kaca kunci yang dia pegang sambil terus bergumam, “106... Kuharap apa yang kupikirkan benar. Bukankah memang tabiatnya begitu? Suka bikin pusing.” Tak berselang semburat merona muncul di pipi Tami disertai senyuman bahagia. Kenangannya melayang pada kejadian di masa lampau di mana Andre dapat meyakinkannya bahwa perasaan yang mengendap di hatinya adalah cinta. Dan pemuda itu berhasil mendapatkan hati Tami.

“Cinta itu bullshit!” sentak Tami begitu Andre menyatakan perasaannya.
Senior yang sudah dia kenal satu semester lebih itu memang dikenal sebagai Playboy. Dan sesuai dengan yang Andre katakan ketika mereka pertama bertemu, pemuda ber-iris mata hitam kelam itu cukup populer di kampusnya. Wajahnya yang tampan karena berdarah campuran Jepang-Indonesia itu cukup membuat sebagian besar gadis di kampus mengidolakannya ditambah dengan mulutnya yang manis dan senyum berlesung pipitnya yang dengan murah diumbar. Namun segala kelebihan itu tak membuat Tami terpesona malah membuat gadis itu menaruh rasa muak. Hanya karena masih tersimpan luka di hatinya. Ketika dia melihat sosok Andre, dia juga melihat sosok lelaki yang pernah menyakitinya. Sehingga sejak hatinya disakiti oleh seorang pemuda bernama Dhani itu, dia menjadi apatis pada apa yang namanya cinta.
Akan tetapi sikap dingin Tami itulah hal utama yang berhasil menyita perhatian Andre dan lama kelamaan menyukai gadis ber-style tomboy, ceria tapi bisa bermulut pedas, blak-blakan kalau dia tak menyukai sesuatu. Sehingga karena Tami, Andre mampu melakukan segala cara agar gadis itu takluk meski harus memotong urat malu dan egonya sekalipun.
“Baiklah! Akan kubuktikan rasa cintaku ini, Dear.” Andre mengerling—seperti kebiasaannya sehari-hari. “Tunggu saja kejutan dariku,” tambahnya lalu berlalu dari hadapan Tami. Begitu pemuda itu membalikkan tubuh, raut wajahnya berubah muram. Topeng muka ceria itu meluruh seketika. Sebenarnya kata-kata Tami cukup menyakiti hatinya. Namun dia tak mau berputus asa.
Sejak langkah pertamanya berbalik meninggalkan Tami, Andre langsung memutar otak bagaimana caranya agar cintanya yang sungguh-sungguh itu bisa tersampaikan pada gadis berambut cepak yang senantiasa memakai kemeja kedodoran itu.


“Lalu keesokan harinya, kau membuatku pusing dengan segala kelakuan ajaibmu itu. Tapi idemu boleh juga. Jenius…” Tami terkekeh. “Dan sekarang kau mengulanginya lagi? Aish! Kau tega sekali, Ndre,” ucap Tami kepada kunci yang ditentengnya tinggi-tinggi sejajar dengan wajahnya seolah di matanya kunci itu adalah Andre. Raut wajah gelinya berubah jengkel.

“Selamatkan aku dari semut terbesar se-Semarang. Kalau dalam 30 menit kau tak menemukanku. Kau akan mendapati berita di koran Suara Merdeka esok hari. Telah ditemukan mayat seorang pemuda tampan nan berkharisma yang mati karena kelamaan menunggu gadis yang dicintainya menyelamatkannya dari cengkeraman semut.
Dari yang mencintaimu,
Andreas Itsuki.”
Tami mengernyit antara terkejut dan heran setelah membaca isi dari secarik kertas yang menempel di lokernya. “Menyebalkan! Kalau mau mati, mati saja sana! Tak perlu pakai menulis surat yang aneh-aneh begini,” dengusnya kesal. “Apaan tuh semut terbesar se-Semarang???”
“Paling Marabunta. Kau tak tahu memang?” Sahabatnya Riska yang ikut membaca surat Andre bersamamu menyeletuk.
Tami menoleh. Menatap dengan sorot yang menandakan dia tak tahu apa dan dimana itu Marabunta.
“Hahaha! Kau benar-benar tak tahu?” Riska terkikik. “Ayo kuantar! Dekat kok dari kampus kita.”
“Aish! Andre itu benar-benar merepotkan!” dengusnya sebal. Setelah itu dia meremas kertas dari Andre dan membuangnya ke tempat sampah terdekat. “Tak perlu diantar. Aku tak mau ke sana! Siapa yang perduli pada orang gila satu itu.”
Seraya menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu Riska angkat bicara, “Tapi dia so sweet banget lho… Beneran nggak mau ke sana? Menjadi sang penyelamat yang menyelamatkan pangeran dari cengkeraman monster semut?” godanya masih disertai tawa tertahan melihat wajah sahabatnya yang ditekuk.
“Riska! Berhenti ketawa! Aku tak akan ke sana! Titik!” Tami bersikukuh menolak.


Tami terkikik pelan mengingat betapa dia panik begitu sampai di gedung Marabunta, tepat di mana patung semut besar terpasang di atap gedung. Setelah dia membaca secarik kertas dari Andre, Tami memang tak langsung menggubris. Akan tetapi begitu dia menerima telepon dari nomor tak dikenal yang mengabarkan bahwa ada orang gila yang tak mau turun dari atap gedung sebelum dia datang, terpaksa Tami harus meluncur ke sana. Begitu Tami muncul, dia dipaksa untuk menerima cinta Andre. Andre mengancam akan terjun jika Tami tak mau berpacaran dengannya. Tentu saja Tami menolak. Mulutnya berat untuk berkata ‘ya’ dan malah memarahi Andre yang keras kepala. Begitu Tami membalik badan hendak pergi, Andre terjun dengan sukses. Seketika orang-orang yang berkerumun menjerit panik. Begitu Tami berbalik, dia dapati Andre tergeletak di paving halaman Marabunta. Seketika Tami pingsan saat matanya menangkap sosok Andre yang tak bergerak.
“Hahaha! Itu adalah tipuan paling hebat sepanjang sejarah, Ndre.” Tami berucap sampil tertawa. Namun kontras dengan matanya yang mulai mengeluarkan air mata. “Kupikir kau mati. Ternyata kau dan orang-orang itu termasuk Riska berkomplot menipuku. Hahaha!”
Sopir Taksi yang menyupir memandang heran Tami dari kaca namun sang Sopir enggan untuk bertanya. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala lalu matanya kembali fokus pada jalanan pusat kota Semarang yang masih ramai oleh mobil-mobil padahal ini sudah larut malam. Tentu saja kota ini tak akan pernah sepi. Kota besar seperti Semarang tak pernah sekali pun tidur.
Taksi berhenti ketika sampai di gedung tinggi yang berjarak ratusan meter dari Tugu Muda. Tami turun setelah membayar ongkos. Begitu kakinya menjejak di tanah, kepalanya mendongak. Senyuman manis terukir dan matanya lekat menatap gedung tempatnya menimba ilmu dua tahun yang lalu.
“Kau pasti ada di dalam sana, kan, Ndre?” gumamnya.
Kaki beralaskan sandal jepit yang buru-buru dia pakai tadi, kini mulai melangkah memasuki gerbang. Anehnya, Satpam tak ada di posnya. Pintu gerbang dibiarkan tak terkunci. Hal ini semakin meyakinkannya bahwa segalanya memang dirancang Andre untuk memudahkan dia masuk ke dalam gedung.
Mata Tami terpaku pada pohon Akasia besar di tengah-tengah taman. Terlintas sekelebat kenangan yang cukup menyesakkan baginya. Di bawah pohon itu, dia bertengkar dengan Andre untuk yang pertama dan terakhir kali. Sebelum kejadian itu, Andre tak pernah sekali pun menunjukkan wajah penuh amarah dan membentaknya. Sehingga pertengkaran hebat itu adalah satu-satunya hal besar nan gawat yang terjadi dalam hubungan mereka berdua yang akhirnya berujung pada perpisahan panjang.

“Benar kan kataku dulu? Cinta itu bullshit! Hanya dongeng isapan jempol yang manis didengar namun pahit dirasakan. Apanya yang akan selalu mengejarku? Apanya yang akan selalu bersamaku dengan setia? Kau sama saja dengan Dhani. Kalian suka sekali member harapan palsu!” ucap Tami penuh emosi. Dia berusaha menahan air matanya agar tak melesak keluar. Terlalu gengsi untuknya menunjukkan sisi rapuh dirinya.
Andre meraih tangan Tami erat. Meski gadis itu bersikukuh melepaskan tautan tangan itu tapi Andre tak berniat melepaskannya membuat Tami akhirnya pasrah daripada harus kesakitan oleh karena cengkeraman tangan Andre.
“Cinta memang benar-benar ada dan kau tahu betul itu. Kau tengah merasakannya! Tapi kau terus menyangkalinya. Aku mencintaimu, bukan yang lain. Aku memilihmu! Apa kata-kata ini belum cukup untuk memuaskanmu?”
“Ash! Kalau mau pergi, pergi saja sana! Tak perlu menggombal segala! Setelah kita terpisah ribuan mil. Paling dengan cepat kau mendapat penggantiku? Jarak kita dekat seperti ini saja kau suka tebar pesona sok ramah pada yang lain. Apalagi di belakangku?” seloroh Tami. “Pergi kau! Aku ingin sendiri!” Tami menyorotkan tatapan tajam pada Andre.
Pemuda itu pun menghela nafas berat lalu dengan gontai melangkah pergi. Pada langkah yang kesekian, Andre berbalik ke arah Tami. “Mari kita buktikan apa perasaanku atau perasaanmu yang bertahan lama. Suatu saat, aku pasti akan kembali dan melihatnya,” ucapnya cukup lantang.
“Oke. Ayo kita lihat!” sahut Tami. “Pasti kau yang tak bertahan.” Tami pun bergumam lirih.
Sepeninggal Andre, Tami menangis sepuas-puasnya di toilet kampus. Hatinya rasanya remuk mengingat bahwa dalam waktu dekat kekasihnya akan pergi jauh darinya. Andre akan pulang ke Jepang karena urusan perkuliahannya sudah selesai.


“Dan keesokan harinya kau benar-benar pergi. Sangat jauh...” Tergurat raut muram di wajah Tami. Seketika dia menggeleng cepat. “Tidak! Tami, kau tak boleh sedih! Bukankah Andre sudah kembali sekarang dan ini adalah bukti dari perkataannya dulu? Dia masih mencintaimu. Ayo lanjut melangkah!”
Tami sampai di depan lemari loker yang berderet rapi di sepanjang koridor Fakultas Kedokteran. Tangan berjari lentik itu tak langsung memasukkan kunci ke lubangnya namun malah sibuk menatap seraya tersenyum ke segala penjuru. Kenangannya bersama Andre sungguh indah dan selalu berhasil meletup-letup bahagia jika teringat olehnya. Akan tetapi kerinduan ini, ketidakbertemuan mereka selama lima tahun agak membuat Tami sangsi. Apakah Andre masih seperti dulu?
“Astaga! Surat lagi?” rutuk Tami. Dia menemukan amplop yang sama persis dengan amplop yang tergeletak di kotak pos miliknya. “Aish! Mau apa orang itu?” Dengan cepat dia membukanya dan lagi-lagi menemukan kunci. “109. Kenapa aku jadi merasa dipermainkan ya? Menyebalkan!” Tami terus menggerutu tapi sebenarnya dalam hati dia cukup berdebar penasaran oleh kejutan yang akan muncul nanti.
Tami berjalan tiga langkah ke kiri. Matanya menatap lekat loker bernomor 109. Dulu ini adalah miliknya dan sekarang entah bagaimana, kenapa Andre bisa mengosongkan kedua loker itu? Dia tak habis pikir dengan isi otak Andre.
“Oke, aku buka.” Dia berdoa dalam hati. Berharap bukan hal menjengkelkan atau hanya clue menuju ke tempat lain. Ternyata harapannya meleset. “Lagi-lagi amplop pink!” Tami sudah mulai naik darah, merasa dipermainkan.
Wajahnya nampak cemberut menahan kesal. Matanya hanya menatap amplop pink yang tergeletak di dalam sana. Dalam hatinya, dia tak sabar ingin segera bertemu dengan Andre tapi yang ada malah teka-teki yang dia temui.
Kalau ketemu, mati kau, Ndre! rutuknya dalam batin. Tangan itu akhirnya terulur juga. Seketika terbelalak lah mata itu begitu dia dapati isinya berbeda.
“Kartu Pos?! Aish! Menyebalkan!!! Kalau tak berniat ingin muncul di hadapanku lebih baik tak usah seperti ini! Aku lelah! Ngantuk! Malah dipermainkan!” Tami memekik. Aura amarah itu merasuk dan akhirnya meledak. Dia lempar jauh-jauh kartu pos bergambar gunung, bertuliskan Ungaran Mountaint itu lalu melangkah hendak pulang.
Tep! Tep! Tep!
Suara langkah kaki menghenyakkan jantungnya. Tami pun langsung berbalik. Matanya membulat sempurna dan seketika berkaca-kaca.
“Kau masih sama ya? Galak, tak sabaran dan—”
Suara itu berhenti berucap di saat kedua lengan Tami sudah merengkuh tubuh jangkung itu. “Menyebalkan! Menyebalkan!” Tami memukul-mukul punggung pria yang dipeluknya.
“Hahaha! Kalau ini bukan seperti Tami yang kukenal. Tapi aku suka.” Pria itu terbahak. “Kau pasti sangat merindukanku bukan? Makanya jadi out of character begini. Hahaha!” Lagi-lagi dia tergelak.
“Sial! Aku membencimu!”
“Sama. Aku juga mencintaimu!”
“Aish!” Antara rasa jengkel dan rasa bahagia yang membuncah membuat Tami merasa bingung sendiri sambil mengacak-acak rambut. “Kau!” tunjuk Tami tepat di depan hidung Andre. “Traktir aku makan! Aku lapar!” perintahnya yang langsung mendapatkan gelak tawa dari pemuda berlesung pipit itu.
“Oke! Mari kita berburu warung makan yang buka lewat tengah malam.” Digandengnya tangan Tami dan mereka menyusuri koridor dengan langkah santai.

~o0o~

Saat subuh, Tami bergulat dengan rasa kantuk yang masih saja membuat matanya sayu dan lengket.
Hei mata! Sayang sekali kan kalau matahari terbit yang indah di gunung Ungaran, kita lewatkan begitu saja??? pekik Tami dalam hati berusaha membangungkan semangat yang masih tertidur.
Dia tepuk-tepuk pipinya. Mengumpulkan kesadaran yang masih saja beterbangan di seputarnya. Hingga suara nyaring memecahkan gendang telinga itu berkoar hebat.
“TAMI!!!”
“HEI! Andre! Hentikan suara cemprengmu itu??? aku tidak tuli!” Tami balik berteriak ketus.
“Ck! Itu semua kulakukan agar kau tak mengantuk, Dear...” Suaranya berubah manja. Tangan Andre meraih tangan Tami. Kencang seolah meski badai lewat kedua tautan itu takkan terlepas.
Tami memutar bola mata jengah. “Ya, aku tahu! Ini juga sudah kuusahakan membuka mata,” balas Tami dengan suara malas dan lirih.
Selanjutnya Andre masih saja menggandeng tangan Tami erat seraya membimbingnya berjalan di jalan setapak yang menanjak. Mereka melalui jalanan berbatu-batu ini agar bisa sampai di puncak gunung.
Aish! Harusnya kemarin malam kami membangun tenda saja di puncak jadi tak perlu susah-susah naik lagi di keesokan harinya.
Tami terus menggerutu dalam hari. Memang dia sungguh bahagia dengan kepulangan Andre. Tapi apa-apaan ini? Postcard yang Andre berikan di loker bernomor 109 itu ternyata bertuliskan ajakan untuk naik ke gunung Ungaran. Katanya puncak gunung adalah pos terakhir yang harus Tami tempuh agar mendapatkan kejutan yang sebenarnya dari Andre. Karena itu dengan terpaksa Tami mengiyakannya dan sekarang di sini lah mereka berada, di beberapa ratus meter dari puncak gunung berudara dingin pas saat tahun baru tiba.
“Sampai!” Andre tersenyum senang. Dikepalkannya kedua tangan lalu diangkatnya tinggi-tinggi ke atas sambil menatap hamparan awan gelap di depan sana. “Untung matahari belum terbit.”
“Ya-ya-ya! Untung belum terbit. Kau masih saja kekanakan. Berapa umurmu sekarang, Ndre? Kegiatan ini sudah lama tak kita lakukan, kan? Terakhir itu—”
“Iya yang terakhir itu waktu acara inisiasi untuk anggota baru Mapala, kan? Kau syok berat waktu tragedi bebek terbang itu. Hahaha! Lucu rasanya membayangkan wajahmu yang kayak kepiting rebus. Tapi berkat kenangan hiking di malam tahun baru itu pulalah kita jadi saling mengenal. Yah… walau pertemuan pertama kita itu saat kau kegirangan dengan nomor lokermu sih tapi kenangan di sinilah yang paling berarti. Aku tahu namamu dan menjadi pahlawanmu. Benar, kan?” Andre mengusap-usap kepala Tami namun buru-buru Tami hempaskan.
“Sudahlah! Aku malas mengingatnya. Pulang dari sini kau harus memijit kakiku!” tuntut Tami. Wajahnya cemberut.
“Sure, my Lady. Disuruh menikahimu pun aku mau.” Andre tertawa jahil. “Tapi di acara pernikahan kita nanti jangan ada tragedi bebek terbang lagi ya? Sudah cukup sekali saja celana dalam bergambar bebekmu terekspos saat naik gunung gara-gara celana jeans-mu robek. Hahaha!” Andre makin tergelak keras-keras dan bogem mentah didapatnya di perut. Membuat pemuda ini terbatuk-batuk. “Kejam!”
“Biar! Siapa suruh kau meledekku!” Semburat merah muncul di pipi Tami entah karena marah atau karena malu tak ada yang tahu. Sehingga Tami mengalihkan fokus pandangnya ke arah hamparan awan yang menguning keemasan. Ternyata matahari sudah mulai terbit. Tubuhnya membeku, matanya terpaku pada pemandangan indah di depan sana.
“Indah, kan?” bisik Andre. Kedua lengan itu melingkar kuat di bahu Tami lalu dia sandarkan dagunya ke bahu Tami. “Lebih indah dari yang dulu. Karena hanya ada kita berdua di sini.Hah… Benar-benar perayaan tahun baru yang istimewa.” Senyuman lebar terukir dan dikecupnya singkat pipi Tami.
Tami meremas tangan Andre yang melingkari pinggangnya sembari tersenyum. “Terima kasih, Ndre... Terima kasih kau sudah kembali.” Tami balas berbisik.
“Kalau begitu. Balas semua ini dengan kata ‘ya’? Kau mau?”
Tami mengernyit bingung. Dia tak mengerti maksud Andre. “Maksudnya?”
Andre melepaskan pelukannya lalu menghadapkan tubuh Tami kepadanya. “Balas ‘ya’ ketika aku bertanya, maukah kau menikah denganku?” ucapnya. Mata itu menyorot lekat-lekat manik mata Tami.
Tami mendadak beku. Dia merasa bahwa semua ini tak nyata. Hanyalah sebuah fatamorgana. Ini terlalu indah baginya. Segala kerinduan yang selama ini dia jalani seakan-akan membuatnya berpikir bahwa apa yang dia rasa takkan pernah ada ujung yang bahagia. Perlahan kedua mata bulat itu berkaca-kaca. Tinggal tunggu satu kedipan mata untuk meneteskannya.
“Hei, Tami! Kenapa mendadak kau begini?” Andre mengguncang-guncang bahu Tami karena gadis itu tak bergerak juga.
“Ak-aku...” Mulut Tami seolah direkatkan oleh lem super. Dia ingin berkata dengan lantang bahwa dia mau. Bersedia. Tapi entah mengapa dia malah menjadi orang gagu.
“Ah, ya sudahlah. Diam berarti setuju. Sepulang dari gunung, aku akan melamarmu di hadapan orang tuamu di Pati. Bersiaplah.” Andre menentukan secara sepihak.
“Eh?!” Tami melongo. Matanya membulat lebar.
“Aish! Tak perlu memekik. Ayo kita nikmati saja matahari terbit pertama tahun ini!” Andre kembali memeluk Tami dari belakang. Tersenyum ceria sembari menatap hamparan awan keemasan yang semakin lama semakin terang karena biasan sinar matahari pagi yang menyorot.

Tamat

Kamis, 19 September 2013

Pengalaman ke Perputakaan




Yak! Ke Perpustakaan? Dengan bangga aku aku akan bilang, sejak aku sekolah aku hobi banget ke perpustakaan. Dulu jaman SD aku suka minjem buku-buku bacaan yaitu majalah Bobo dan buku cerita anak lainnya di Perpustakaan Sekolah ataupun Perpustakaan Bimbel. Terus semasa SMP aku mulai kenal yang namanya Perpustakaan Wilayah dan penasaran pengen bikin kartu anggotanya sampai sekarang aku rutin ke PErWil. Selain itu hobi bacaku bikin aku nggak cuma ke Perpus, tapi juga rental komik dan novel. Pokoknya kalau nggak baca, itu rasanya ada yang kurang. Tapi nggak termasuk penggemar bacaan buku-buku pelajaran. Hehehe~ Selain itu profesiku juga mengharuskan aku banyak baca. apa ada guru PAUD yang nggak tahu soal dongeng atau cerita anak-anak? Nggak jadi guru kreatif dong? Pokoknya ke perpus itu selain irit juga asyik kok.

Menurutku perpustakaan sekolah ataupun di perpustakaan wilayah kurang komplit ya bukunya. Rata-rata koleksinya lama semua jadi kalau pengen up to date sama buku-buku (khususnya novel) aku larinya ke rental atau beli sendiri novelnya.

Harapanku sih, perpustakaan di Indonesia selalu up date sama buku-buku. Jadi kalau orang-orang yang berkocek minim tapi pengen menggali ilmu atau dapet hiburan ya larinya ke perpus. Masih banyak orang-orang yang nggak hobi ke perpus. Malah beberapa murid lesku kalau ditanya letak PerWil itu di mana pada nggak tau. Astagah!!! Padahal deket banget dengan rumahnya.

(tulisan ini diikutkan dalam Libary Giveaway di http://luckty.wordpress.com/2013/09/14/library-giveaway/)

Senin, 01 Juli 2013

Impian Masa Kecil dan Sekarang

Semasa kecil banyak impian yang kuingini. Melihat bu guru yang baik, aku langsung ingin jadi guru. Melihat betapa lucu atau kerennya sebuah tokoh di salah satu tayangan Televisi aku langsung ingin menjadi sepertinya. Dan masih banyak lagi contohnya. Yang paling membekas dan berhasil bikin senyum-senyum adalah cita-citaku menjadi Power Rangers sang Pembela kebenaran. Dulu aku dan adikku yang usianya cuma kepaut 2 tahun sangat suka menonton serial itu. Melihat awan-awan di langit langsung bilang, "Itu robotku!" Sampai-sampai pernah kebawa mimpi. Di mimpi itu aku menjadi Ranger Merah--yang notabene adalah ketua dari semua ranger. Sampai sekarang aku penggila warna merah mungkin karena itu kali ya?

Beranjak dewasa, aku sengaja masuk ke SMK jurusan Akuntansi karena aku melihat para pekerja kantoran itu kok sepertinya keren dan menjanjikan. Tidak bekerja kasar, hanya duduk di belakang meja dan sepanjang hari menghadap komputer. Dulu komputer adalah barang mewah bagiku. Hal yang jarang kulihat atau pun kupegang. Jaman SMP, 1 komputer dipakai untuk 2-3 orang dan aku yang sering disingkirkan dan cuma bisa memandangi komputer itu tanpa mengoperasikannya. Dulu aku sangat pendiam dan hanya punya 1 teman akrab makanya aku tak berani protes ketika komputer itu dimonopoli mereka.

Akhirnya segala impian itu tak terwujud. Bahkan mimpi menjadi guru pun tak terwujud sepenuhnya. Tapi tak apalah. Mungkin ini sudah digariskan. Bukankah Tentor atau Guru PAUD sukarelawan itu juga bisa disebut guru atau pendidik?

Nah, dan sekarang aku bermimpi menjadi seorang penulis Best Seller. Aku berusaha setiap hari menulis dengan baik--walau tetap saja aku menganggap tlisanku belum bagus benar. Dan Puji Tuhan, novel pertamaku segera terbit di bulan ini.

"Diikutsertakan dalam Giveaway Tuppy, Buku dan Bipang di www.argalitha.blogspot.com"

Sabtu, 22 Juni 2013

Dongeng Salah Kaprah


Alkisah hiduplah 4 bersaudara di sebuah desa terpencil jauh dari kota besar. Meski mereka bukan saudara kandung namun mereka selalu hidup rukun, damai dan aman sentosa. Em... Bo’ong ding! Silakan dilihat saja kenyataan ini.

“Mpok! Kalau nyuci yang bersih dong! Bekas ingus gue di rok masih ada nih!” teriak Riana yang biasa dipanggil Dede—karena anak paling bontot.

“Mika!!! Apa-apaan nih? Kenapa lantainya masih ada debu? Cepet pel lagi! Lu kan tau, gue alergi debu!” protes si sulung Dethy.

“Emak! Mika bikin rok gue gosong kena setrikaan kelewat lama. Padahal gue belinya jauh-jauh ampe Grogol.” Si nomer 2 yang bernama Risma mengadu pada Emak yang lagi sibuk mantengin bapak-bapak di seberang jalan pada teriak-teriak heboh nyemangatin ayam jado yang diadu.

“Terus? Masalah buat gue?” sahut Emak. “Mika! Bilangin ke bandar kalau Emak masang taruhan buat si Jalu!” si Emak ikutan nyuruh-nyuruh.

Yang dipanggili sejak tadi nggak nyahutin. Alhasil semua pada heran. Mereka berempat yang tadinya rempong ngomel-ngomel sama nyuruh-nyuruh ini itu beralih nyari’in di mana Mika dan ternyata... Eng! Ing! Eng! Mika lagi molor di kolong kasur, Pemirsa.
Ngumpet di sono ampe ketiduran. Dasar Mika!

“Woy! Bangun, Woy! Kerjaan lu masih banyak!” Dengan sadisnya Emak nyodok-nyodok Mika yang sedang mendengkur pakai sapu ijuk.

Mika pun bangun dengan rasa sakit yang amat sangat karena sapu itu kena tepat di jidat serta bagian tubuhnya yang lain.

“EMAK! SAKIT! Hiks! Tega niannya caramu, membangunkan diriku,” keluh Mika. Selanjutnya malah nyanyi lagunya Afgan pake acara
ngeganti liriknya.

“Diem! Suara lu tuh cempreng! Malu tau ama cicak!” Ucapan pedes nggak pake cabe terlontar dari mulut Dethy. Dia berkacak pinggang sambil melotot.

“Mpok, lu cuci rok gue lagi.”

“Trus, lu pel lantainya lagi ampe bikin semut kepleset.”

“Lu tambal rok gue yang bolong kena setrika.”

“Kalau itu, nggak bisa. Kan Emak nggak pernah ngasih duit.” Mika membela diri sambil lirik emak yang udah ngacir, lanjut liat ayam jago lagi tarung.

“Gue tau lu nggak gablek duit, makanya gue suruh lu nembel bukan ganti, Budek! Cepet kerjain!” ujar Risma lalu nyusulin emak keluar dari kamar Mika.

“Awas lu! Kalau kagak dikerjain,” ancam Dethy dan Dede kompak. Mereka berdua mengamit lengan Mika di dua sisi dan menyeretnya keluar kamar.

***

Beberapa hari kemudian, ketika Mika belanja di pasar membeli bahan makanan. Matanya tertarik pada kerumunan orang yang mantengin sesuatu. Karena rasa penasarannya yang kelewat tinggi dia ikut menyeruak masuk. Sungguh sulit ternyata bisa melihat hal yang membuatnya penasaran.

“Mpok, ada apa sih?” tanya Mika pada wanita yang ada di depannya.

“Ada sayembara,” jawabnya.

“Sayembara apa?”

“Kagak tau, aye cuman bisa baca tulisan yang gede doang. Kalau tulisan kecil-kecil di bawahnya kagak kebaca, Nak,” ujar si Mpok pake logat Betawian yang sangat fasih. Ternyata matanya rabun.

Mika sungguh penasaran dengan apa isi sayembara itu tapi karena tubuh kecil kurang gizinya tak dapat menjangkau papan pengumuman itu, dia pun menyerah dan mundur. Terlebih lagi saat dia teringat betapa buasnya ketiga saudari serta emaknya saat mereka kelaparan. Sehingga membuatnya bergidik ngeri dan melanjutkan acara belanjanya di pasar tradisional terdekat.

Mika pun pulang dengan membawa sekeranjang belanjaan dan kantong kain warna merah yang berisi uang receh. Kok uang receh? Ada yang penasaran? Yak, ternyata Mika hobi korupsi kecil-kecilan, Pemirsa. Selama ini Mika selalu menyimpan uang receh kembalian dari hasil belanja ke kantong yang dia jahit sendiri sisa kain perca punya Emak lalu dia simpan di suatu tempat. Maklumlah emaknya yang kejam itu tak pernah memberinya uang. Hanya makan dan tempat tinggal saja yang didapatkan sejak dia dipungut Emak.

Saat sedang asyik-asyiknya melenggang pulang ke rumah. Mendadak terdengar suara gaduh di belakang sana.

Drap! Drap! Drap! Suara deru langkah segerombolan orang berlari. “Aden! Berhenti!” teriak salah satu pelari. 4 orang
berlari-lari bak pelari maraton mengejar-ngejar seorang laki-laki bertubuh tinggi, putih plus ganteng.

Mika yang melihat kejadian itu hanya meminggirkan posisinya kepinggiran jalan seolah-olah mempersilakan mereka kejar-kejaran tanpa halangan. Mika terkesima dengan kegantengan laki-laki tadi.

Beberapa menit kemudian, sehabis belanja. Mika selalu mampir di sebuah pohon besar yang banyak dijauhi orang karena konon katanya banyak Demit bergentayangan di situ. Namun tidak bagi Mika. Dia sudah anggap pohon itu adalah tempat persembunyian yang aman bagi uang recehnya. Lantaran kalau di rumah takut ketahuan orang rumah.

“Hei! Sedang apa kau di situ?” tanya Mika ketika melihat seseorang duduk-duduk di salah satu dahan pohon yang besar dan rimbun oleh dedauan. Untung mata Mika peka kalau tidak tuh orang sudah dikira monyet atau setan nangkring.

“Menghitung jumlah daun,” jawabnya tanpa mengindahkan pandangannya dari langit. Dia masih tak menoleh ke belakang di mana Mika berada.

Busyet! Kurang kerjaan amat ngitung daun? Tapi kalau dia masih nangkring di situ bagaimana gue bisa nyimpan duit? batin Mika.

“Apa lu tahu kalau pohon itu banyak ulernya?” Mika mulai berkata.

“Eh? Uler?” Dia diam sesaat lalu, “Hyaaa! Uler! Jijik! Eh-eh,” Dia sontak kaget dan bergerak ketakutan. Alhasil keseimbangannya goyah dan...

“Awas!” Mika terkejut lalu refleks berlari menolongnya.

“AUW!!!”

Setelah itu hening sesaat.

Laki-laki yang nangkring di pohon tadi mengerjap-ngerjapkan matanya. Merasa keheranan dengan kondisinya sekarang. “Eh? Kok jatuhnya empuk? Tanah itu empuk ya?” Dia mulai bersuara. Saat dia sadar akan ketidakberesan tanah yang ada di bawah pantatnya, dia pun melihat ke sesuatu yang dia duduki. “Hyaaa! Siapa ini? Hei, Nona bangun! Hei!” Cepat-cepat dia memindahkan pantatnya dari punggung Mika dan mengguncang-guncang tubuh tak berdaya itu agar sadar kembali.

“AUW!” Mika mengerang saat tubuhnya mulai mencoba digerakkan. “Punggung gue! AUW!” keluh Mika masih dengan posisi tengkurap.

“Hei, kau tidak apa-apa?”

“Lu nggak denger—” Mika mendadak diam ketika melihat wajah oknum yang membuat punggungnya encok. Dia tertegun melihat
ketampanannya tapi merasa familiar oleh wajah itu.

“Apa? Punggungmu patah tulang? Sini-sini aku lihat.” Laki-laki tampan berambut kecoklatan dengan penampilan modis itu hendak membuka baju Mika yang masih saja tengkurap tak berpindah tempat dan melihat kondisi punggung Mika.

Duaggg!

Kaki Mika berhasil menendang laki-laki itu meski wajahnya meringis karena punggungnya sakit lagi. “Kyaaa! Apa-apaan lu dasar mesum!”

“Aduh! Aku kan hanya ingin melihat kondisimu!”

“Kalau pakai acara buka baju segala, mending nggak usah! Pergi sana! Das—AUW!” Mika yang hendak bangun kembali merasa kesakitan.

Dengan sigap laki-laki itu memapah dan membantu Mika bangun.

Mika terkesiap ketika memandang wajah laki-laki itu dari jarak dekat. Gantengnya… Menyilaukan… batinnya. Jantungnya dag dig dug jeduk Jeduk!

“Iya, aku tahu kalau aku tampan tapi kau tak perlu menatapku seperti itu,” ucapnya ke-pede-an.

“Cih! Dasar narsis,” dengus Mika lalu, “WAHHH!!! Recehanku!!!” pekiknya ketika mata bulat itu menangkap fenomena uang receh bertebaran di tanah. Disingkirkannya papahan si lelaki ganteng karena dia mau cepat-cepat menyelamatkan tabungannya sebelum dipatok burung. Tapi...

Brukkk!

“AUW!” Dia kembali tengkurap di tanah. Punggungnya benar-benar sakit sehingga dia tak mampu membungkuk dan memunguti recehannya.

“Gyahahaha~ Makanya jangan sok kuat. Dipapah nggak mau! Cuman recehan jatuh aja sampai segitunya sih? Ckckck~” Si lelaki ganteng tertawa melihat kelakuan nista Mika.

“Diam lu!”

Duaggg!

Lagi-lagi Mika menendangnya tapi dengan gesit laki-laki itu menghindarkan kakinya dari tendangan Mika.

“Meleset,” ujarnya mantap.

Mika hanya mendengus kesal dengan muka masih menahan sakit punggung.

Tak berapa lama setelah lelaki itu memunguti recehan demi recehan yang menyebat di tanah. Dia akhirnya menjejeri Mika yang duduk bak patung dengan punggung menyender di pohon Pete.

“Nih, uangmu.” Dia menyodorkan kantong merah isi receh pada Mika.

“Makasih.” Mika tersenyum. Dia senang, ternyata orang yang duduk di sampingnya tak hanya wajahnya yang tampan tapi hatinya
juga baik.

Tunggu! Kalau dia bukan Kriminal terus ngapain tadi dia diuber-uber orang-orang berbadan gede itu? Kayak buronan saja, batin Mika keheranan.

“Nama lu Aden ya?” Mika membuka obrolan.

Lelaki itu mengernyit lalu menggeleng kepala. “Sok tau.”

“Terus kenapa tadi orang-orang yang ngejar-ngejar elu manggil Aden? Lu punya utang terus dikejar Depkolektor ya? Dari mukamu sih bakal laku dijual tuh buat bayar utang.” Mika mantengin muka lelaki itu lekat-lekat. Dalam hati masih saja terkagum-kagum dengan kegantengannya.

“Enak aja! Keluargaku kaya, jadi nggak mungkin aku punya utang.” Dia mencak-mencak Tapi setelah sadar bahwa dia kelepasan bicara dia kembali duduk tenang. “Lupakan kata-kataku tadi,” Lanjutnya.

“Mencurigakan...” gumam Mika. Tak berapa lama Mika menepuk jidat. “Ah! Lupa. Gue harus buru-buru pulang. Kalau nggak cepet-cepet masak bisa kena sodok sapu ijuk lagi sama Emak.” Mika mencoba berdiri tapi lagi-lagi dia terduduk karena punggung kembali merasakan kesakitan luar biasa.

Sigap, lelaki itu langsung menopangnya yang hampir ambruk. “Sakit banget ya?” Pertanyaannya mengindikasikan bahwa dia merasa
bersalah.

“Ya iyalah! Masa gue pura-pura?!” Mika sewot. “Lu tanggung jawab! Anterin gue pulang!” perintah Mika.

“Oke. Oke Aku antar. Rumahmu di mana memangnya?”

“Noh, Dusun Cilembu,” jawab Mika seraya telunjuknya mengacung ke arah jalanan di depan sana.

***

Di rumah Juragan Kelapa Sawit, Antares…

“Suamiku… Hiks! Anak kita kapan pulangnya, Suamiku?” Nyonya Antares lari tergopoh-gopoh menyongsong suaminya yang baru
nyeramahin anak buah yang sudah gagal nangkep anaknya yang kabur.

“Tidak tahu, istriku. Kita serahkan saja pada Tuhan,” jawabnya bijak.

“Hiks! Anakku, Chokro. Bagaimana kabarmu di sana, Nak…”

“Tenanglah, istriku. Dia pasti baik-baik saja. Toh, dia kabur juga bawa bekal emas sekilo ama segepok duit. Pastinya baik-baik saja lah,” ucapnya tenang.

“Suamiku! Kenapa bisa tenang begitu? Hiks! Ini anak kita bukan anak tetangga?! Hiks! Kalau diculik gimana? Kalau dirampok gimana? Hiks! Kau ini nggak ada khawatir-khawatirnya sih! Srooottt!” cerocos Nyonya Antares seraya buang ingus. “Ini semua salahmu juga sih. Kenapa harus maksa Chokro buat nikah sama putri Bupati Suryo? Tuh! Dia jadi kabur, kan?” Nyonya Antares pun ngambek dan pergi meninggalkan Tuan Antares yang masih berdiri sambil mangap gegara sapu tangan bekas ingus yang dipakai istrinya diletakkan seenaknya di telapak tangannya yang suci tak bernoda.

***

Malam ini Mika selalu terbayang-bayang dengan laki-laki misterius terganteng yang pernah ditemuinya yang mengaku bernama
Chokro. Padahal seraya berjalan pulang, Mika dan dia sudah ngobrol ngalor ngidul sampai cerita tentang statusnya sebagai anak pungut yang tersia-sia.

“KYAAA!!! Andai jodohku Putra dari Saudagar Antares yang kekayaannya nyaingin Sultan Jogja, pasti aku akan hidup makmur,
bahagia dan aman sejahtera.” Celotehan Dethy yang sedang asyik mengobrol dengan Risma dan Dede membuat Mika terbuyarkan dari lamunannya akan laki-laki tadi.

Mika yang sedang termehek-mehek mengiris bawang menghentikan aktifitasnya dan mencoba menguping. Entah kenapa topik itu membuatnya tertarik. Apalagi ketika Dethy, Risma dan Dede menyebut tentang Sayembara pencarian Putra Juragan Antares. Dia jadi teringat dengan Sayembara yang ditulis di papan Pengumuman di pasar.

“Jiah! Tapi sayangnya hadiahnya hanya imbalan uang bukan tuh lelaki kece bin tajir. Harusnya kayak di dongeng-dongeng dong.

Bagi yang menemukan tuh orang kalo perempuan dijadiin menantu kalo laki-laki diangkat anak. Nggak rugi juga kan dapet menantu cakep kayak aku?” terang Dethy ngarep pake narsis.

“Tul, Mpok! Si Chokro udah gue incer sejak lama. Kan dia itu senior di Padepokan Pencak Silat yang baru gue ikutin. Padahal gue udah luluran mahal-mahal, beli make up sama pakai baju-baju sekseh tiap ke Padepokan bermodal isi celengan Jago biar suatu hari gue bisa dilirik dia. Eh… Dia malah nggak nongol lagi gegara kabur dari rumah. Elu juga udah capek-capek tiap hari sok baik ngeboncengin gue pake sepeda kebo punya almarhum Babe, biar bisa ngelirik tuh orang, kan?” tanya Risma sambil lirik si bungsu Dede.

“Ho’oh! Sialnya napa lu nggak bilang kalau Chokro lama nggak masuk?!” sembur Dede dengan mode suara ngamuk.

Risma terkekeh. “ Lumayan, Dek. Gue nggak perlu jalan kaki ke Padepokan.”

“Hei! Mika! Kok diem?! Ayo iris lagi!” suruh emaknya yang barusan datang ke dapur di mana dia berada.

“Iya, Mak.” Mika kembali berkutat pada bawang yang diirisnya sambil sesekali mengusap matanya yang perih. Jadi sayembara di
Pasar tadi itu adalah pencarian anak Juragan Antares?Dan anak Juragan itu namanya Chokro? Kok sama kayak nama orang tadi? Jangan-jangan...

***

Sehari berselang setelah Mika yang kena sial—atau beruntung—ketimpa laki-laki ganteng jatuh dari pohon. Seperti biasa emaknya kembali nyuruh dia belanja. Ketika dia pulang dan melewati pohon keramat sambil bersiul, langkahnya berhenti mendadak melihat sosok item-item duduk selonjoran sambil senderan di batang pohon.

“Eh? Itu kan si Chokro?” gumam Mika. “Woy!” teriaknya. Sengaja dia menjaga jarak dari Chokro agar nggak ketiban sial. Udah cukup dia sakit pinggang kayak nenek-nenek kena osteoporosis gara-gara ditimpa tubuh jangkung yang beratnya minta ampun.

Si Chokro mendongak. Dilepasnya topi item yang bertengger menutupi wajahnya sewaktu tadi tidur. Wajahnya senyum-senyum kayak abis menang lotre waktu liat mukanya Mika.

“Hai!” sapanya ramah.

Senyuman laki-laki itu membuat Mika mendadak speechless, kaku dan terpana. Senyumnya manis banget. Kira-kira itu yang dibatinin Mika.

“Apa kau sudah sembuh, Mika?”

“Apanya yang sudah sembuh?”

“Punggungmu.” Dia menunjuk-nunjuk pinggang Mika.

“Sudah kok.” Mika mengangguk sambil tersipu. Laki-laki yang sudah menyita sebagian besar pikirannya ternyata datang ke sini hanya untuk bertemu dengannya. Mimpi apa aku semalam?


“Nah, berarti bener dugaan gue semalem. Lu anak yang kabur itu, kan?” tebak Mika dan langsung membuat Chokro terbelalak matanya.

“Kok tau?”

“Iyalah. Masak lu nggak liat pengumuman sayembara yang banyak nempel di di mana-mana? Lu juga nggak nyadarkah kalau banyak orang yang nyariin lu gegara imbalan yang dikasih Juragan Antares gede,” kata Mika, cerita panjang lebar. Sebelum Chokro kabur,
Mika lanjut ngomong. “Nggak usah takut. Gue nggak bakal ngadu soal lu kok, meski gue suka ngeliat duit sih. Lu kabur pasti
punya alesan. Bener nggak?” Mika tersenyum dan seketika membuat hati Chokro sejuk bak ditiup-tiup angin.

“Makasih.” Chokro balas tersenyum. “Aku hanya nggak mau dijodohin. Aku pengen nentuin siapa istriku nanti. Cuma itu, tapi sepertinya Bapak nggak mau mendengar.”

“O... Begitu...” Mika mengusap-usap punggung Chokro yang mulai menampakkan raut wajah sendu. “Yang sabar ya? Pasti bapakmu suatu saat mau nerima pendapatmu. Tapi kayaknya kalau lu kabur begini kasihan orang tuamu, kan? Mereka pasti khawatir, anaknya nggak pulang-pulang.”

***

Mika berlari kesetanan ketika perjalanan santainya yang diselingi cengiran bahagia berhenti saat dia melihat hiruk pikuk rumahnya di kejauhan.

“Loh? Loh? Emak! Mpok! Kenapa ini? Kok barang-barang kita dilempar keluar rumah sih?” tanyanya heran dan bingung. Tak ada sahutan dari ke empat orang yang kini sedang menangis histeris.

“Emak lu udah nunggak utang banyak! Sekarang udah jatuh tempo. Jadi rumah ini disita.” Laki-laki berotot dan bertubuh gede lah yang malah menjawab pertanyaan Mika.

Mika melongo. Dihampirinya lah Emak serta mpok-mpoknya dan Dede yang pada mewek di pojokan. “Terus kita tinggal di mana Mak? Mpok?” Mika ikutan meluk-meluk tubuh keluarganya tapi dengan tega Risma mendorong Mika hingga jatuh.

“Au ah! Lap!” sahutnya sengak.

***

Di halaman rumah Juragan Kelapa Sawit, Antares. Nampak seseorang yang terus meronta dan sedang dicengkeram kuat kedua lengannya oleh orang-orang bertubuh gede. Dia sepertinya menolak mentah-mentah masuk ke rumah besar di mana bahan bangunannya didominasi oleh kayu tersebut.

“Lepas nggak?! Tanganku sakit tau!” teriaknya masih dengan tubuh yang berusaha lepas dari cengkeraman 2 orang itu.

“Chokro!” Teriakan penuh haru terdengar begitu seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumahnya. “Akhirnya kau pulang juga, Nak.” Sang ibu langsung memeluk anaknya kencang seiring dengan dilepaskannya cengeraman 2 orang tadi pada lengan Chokro.

“Kalau nggak ketangkap aku juga nggak mau pulang, Bu.”

“Kok gitu sih, Nak? Padahal ibu sedih banget kamu nggak pulang-pulang.”

“Habisnya Ibu nggak bantuin nolak waktu Bapak ngejodohin aku dengan anaknya pak Suryo.”

“Sekarang ibu sadar kok. Asal kamu nggak kabur lagi. Ibu akan bujuk Bapak buat nggak jodohin kamu. Cinta memang nggak bisa dipaksain,” ucap sang Ibu sembari menggiring anaknya masuk ke dalam.

***

“Wah... Kamu yang lunasin hutang Emak dan bikin kita semua bisa balik lagi ke rumah? Hebat kamu Mika!” teriak emaknya girang setelah dia sampai di muka pintu rumahnya. Setelah itu Emaknya sibuk memeluk ketiga putri kandungnya. Karena takut disemplak lagi kayak dulu, Mika cuma menatap dengan senyum masam pemandangan menggembirakan di depan sana.

Maaf, Chok. Ini demi keluargaku. Gue butuhk uang imbalan itu. Gue harap lu di sana baik-baik saja dan tak lagi dipaksa menikahi orang yang nggak lu sukai. Gue janji, suatu saat gue bakal mengembalikan uang ini sama lu, Chok. Gue sumpah. Mika membatin
miris tanpa sadar matanya berkaca-kaca.

***

Mika sejak menolong melunasi hutang emaknya, kini keadaannya sedikit membaik. Emaknya tak lagi bersikap semena-mena. Meski saudara-saudara tirinya masih suka nyuruh-nyuruh tapi tak lagi seburuk dulu. Jika sikap mereka kembali kelewatan, emaknya sering membelanya. Tapi segalanya tak lagi sama. Di dalam hati Mika serasa ada yang hilang. Dia tak lagi merasa bahagia. Rasa bersalahnya pada Chokro dan perasaan lain yang menyempil dan bertumbuh perlahan membuat Mika lebih merasa tersiksa ketimbang perlakukan emak dan saudara-saudara tirinya dulu.

Chokro pun juga begitu. Tak ubahnya mayat hidup, dia sering terlihat melamun atau marah-marah sendiri di depan kaca. Dia merasa terkhianati karena Mika yang dipercayanya sepenuh hati rela menukarnya dengan uang imbalan.

Keadaan Chokro yang sekarang membuat kedua orang tuanya khawatir. Tuan Antares sampai kebingungan harus bagaimana padahal dia sudah mencabut perjodohan itu tapi masih saja Chokro tak seceria dulu. Lalu tercetuslah ide untuk mengadakan pesta tepat di hari ulang tahun Chokro. Penduduk di desa Srigunting, khususnya gadis-gadis belia yang cantik-cantik diundang agar Chokro tak murung lagi. Mungkin saja di pesta itu dia bertemu dengan gadis yang disukainya.

Pesta berlangsung meriah. Gadis-gadis cantik bertebaran di mana-mana. Tapi Chokro tak menampakkan minatnya padahal sang Ayah sudah mengenalkan banyak gadis padanya. Hingga suatu ketika matanya tertumbuk pada 4 orang gadis yang baru datang dan memasuki halaman rumahnya yang dihiasi banyak obor-obor dan makanan yang berjajaran di meja-meja panjang.

“Mika?” Chokro memekik tertahan. Sesaat mata kedua insan yang saling merindukan itu bertubrukan tapi sedetik kemudian Chokro membuang muka.

Mika yang tampak berbeda namun sederhana karena hanya dia yang tak berdandan heboh melangkah mendekati Chokro lalu menyapanya lebih dulu dengan suara lirih meragu.

“Hai, Chok.” Mika mencoba tersenyum biasa meski jantungnya berdetak sangat cepat.

Chokro tak menjawab. Dia malah melangkah menjauh dari Mika seolah gadis itu tak nampak di matanya. Sigap. Mika mencengkeram lengannya.

“Gue tahu lu muak liat gue di sini, kan? Gue sadar, gue salah tapi apa yang gue lakuin itu terpaksa. Utang emak banyak banget jadi kami diusir dari rumah sebelum utang itu lunas.” Suara Mika semakin lirih. Kepalanya menunduk tak mau Chokro tahu bahwa dia kini sudah menangis. “Tapi gue janji bakal ganti duit imbalan itu biar gue dapet maaf dari lu.” Nampak Mika mengambil sesuatu dari kantong baju gombrongnya. Nongol lah kantong warna merah yang dulu selalu dipakai nyimpen receh. “Anggep ini uang muka. Lain kali, setiap hari gue bakal setor duit buat ganti duit itu.” Mika menyorongkan kantong merah itu ke arah Chokro tapi tak juga dia terima. Akhirnya Mika letakkan di telapak tangan Chokro dengan paksa lalu melangkah pergi ke arah luar area rumah Antares.

Chokro menatap punggung Mika sambil tertegun. Benaknya saling bertarung antara tetap diam atau menyusul Mika dan bilang bahwa dia sangat merindukannya. Tak berapa lama kaki itu berlari, menyusul Mika.

“Mika! Aku memaafkanmu karena...” Chokro nampak ragu untuk melanjutkan ucapannya. Semua orang pun serentak diam. Melihat ke arah Chokro. Setelah memantapkan hati, dia kembali menatap Mika yang sudah membalikkan tubuh menghadap padanya. “Karena aku mencintaimu!!!” teriak Chokro tanpa malu dan ragu.

Tamat

Black Day With Spooky Girl


Hannam-dong, Yongsan-gu, Seoul, Korea Selatan

“Nggak punya Yeojachingu sampai sekarang? Hahaha! Kau kalah, Min-ie . Yoochun-hyung yang tubuhnya subur saja bisa dapat Yeojachingu. Kenapa kau nggak bisa?” seloroh seorang pemuda berwajah imut—kalau tak mau dibilang cantik—dan bermata bulat, bernama Han Jaejoong.

“Walau aku agak gemuk yang penting kan, pesonaku tetap terpancar kuat jadi gampang ngedapetin yeojachingu. Dari pada magnae itu?” Yoochun yang merasa terhina tak terima. Dagunya mengedik sengak ke arah pemuda yang menjadi bahan pembicaraan.

Penghuni rumah sewa termuda itu, Shim Changmin hanya duduk mengkerut di sofa paling ujung sambil masang muka super masam.
Sedangkan pemuda lain yang duduk di sebelah Changmin nepuk-nepuk bahunya sambil tersenyum geli.

“Sudah terima saja kekalahanmu,” kata pemuda yang nepuk bahu Changmin itu. Kim Junsu namanya atau lebih sering dipanggil Dolphin karena suaranya yang merdu.

“Besok sudah black day lho... Jadi—”

Yunho, pemuda bermata tajam menyela omongan Jaejoong. “Terima hukumanmu besok!”

Dan semua yang ada di ruangan utama ketawa berbarengan kecuali...

“Aish! Kalian ini kejam! Tega banget sih ngebiarin aku kencan dengan makhluk bukan manusia seperti itu demi sewa gratis sebulan?!” pekik Changmin dengan ekspresi berlebihan. Kelihatan banget kalau dia belum bisa nerima kekalahannya.

***

Di salah satu area rumah yang disewa secara patungan dan dihuni oleh 5 orang namja . Tercetuslah pada suatu malam—karena kesibukan masing-masing: Jaejoong dan Yunho di Seoul untuk kuliah, Yoochun bekerja, Junsu dan Changmin yang masih nyandang status sebagai Pelajar SMU yang juga merangkap menjadi Trainee di sebuah Perusahaan Musik—sebuah kesepakatan bahwa mereka semua yang notabene tak punya seorang pun Yeojachingu, harus nyari sebelum Black Day. Kalau kalah, mau tak mau harus kencan sama Min
Ja Young, anak Pemilik rumah yang mereka tinggali.

Beberapa hari sebelum ide nyari Yeojachingu ini tercetus, Min-ahjumma pernah berkeluh kesah—sekaligus secara nggak langsung ngasih sayembara gitu deh—bahwa siapa pun Penghuni rumahnya yang mau kencan sama Ja Young maka dia bakal ngegratisin biaya sewa selama sebulan. Tapi tak ditanggapi oleh 5 Namja itu lantaran mereka tahu betapa menakutkannya Ja Young. Itu jugalah yang jadi kendala kenapa Ja Young tetap menjomlo dan bikin Min-ahjumma kebakaran jenggot lantaran takut anaknya nggak laku seumur hidup.

Black Day pun tiba...

“Sial! SIALLL!!!” Cangmin teriak-teriak kesal. Rasa geregetan itu memang sejak matanya melek sudah bersemayam tapi menjadi semakin naik dosisnya setelah dia memakai pakaian berwarna suram itu.

Kenapa harus ada Black Day? Dan kenapa juga aku harus menjomlo di tanggal 14 April? Kenapa??? Changmin ngomel-ngomel dalam hati. Bikin dia ngacak-acak rambut saking frustasinya.

“Sudahlah, Min-ie. Tak perlu memasang ekspresi kayak itu. Nanti bisa cepat tua lho? Nggak kayak aku, walau umur 100 tahun pun bakalan terus sweet seventeen. Hehehe...,” ucap Jaejoong, Roomate-nya yang duduk di pinggir ranjang tepat di belakang Changmin.

Pagi tadi dialah pelaku yang ngebangunin Changmin dengan semena-mena lalu milihin kemeja lengan panjang warna hitam itu untuk Changmin pakai dan sampai sekarang tak mau hengkang dari kamar si Magnae. Bisa Changmin lirik sosok Jaejoong tengah senyum-senyum mengejek dalam pantulan cermin yang dia tatap.

“Kenapa Hyung dulu harus setuju dengan ide gila si Dolphin, sih?” Changmin berbalik, menatap Jaejoong tajam. “Walau taruhan kita berlima, aku yang kalah karena nggak dapet Yeojachingu. Tapi hyung bela aku, dong! Masa, aku yang tampan ini harus ikut
Black Day? Ditambah nge-black day-nya bareng Alien nyeremin kayak gitu. Mau ditaruh di mana muka tampanku? Bisa turun pamorku di mata Yeoja jika aku yang paling populer seantero Sekolah, ketahuan kencan bareng makhluk nggak banget kayak gitu di
Restoran Jajangmyeon . Sial!” Changmin berteriak kesal tapi narsis. Lagi.

Pletak!

Jaejoong pun mendekat lalu menoyor kepalanya. “Sok kecakepan!”

“Hehehe....”

Mendengar kekehan mengejek, Changmin lantas menyorotkan mata ke orang yang menyembulkan kepala dari luar pintu kamar.

“Tuhan memang adil, Min-ie. Biasanya kami yang sering kau dikerjai. Sekarang nerima karmanya, kan? Hahaha!” Junsu semakin tertawa terbahak-bahak di ambang pintu.

“Sudahlah. Dengan memasang wajah kecut terpaksa begitu nanti Min-ahjumma ngerasa tersinggung lho, Min-ie. Kalau kau tak makan
Jajangmyeon bareng Ja Young yang juga ngelakuin Black Day. Lalu kencan dengannya sambil ngenalin gimana asyiknya jadi Yeoja biasa, uang sewa kau bayar penuh sebulan.” timpal Yoochun yang sosoknya tak nampak dari dalam kamar.

Changmin menghentakkan kaki kesal dan keluar dari kamar, disusul oleh Penghuni lain yang mengekorinya sambil berkasak kusuk.

“KALIAN SEMUA! Awas nanti! Akan kubalas! Pasti!”

Brakkk!!!

Suara pintu kebanting yang lumayan keras menghilangkan sosok Changmin yang menyedihkan tapi cukup membuat semua orang yang tersisa di dalamnya bahagia. Terbukti, sepeninggal Changmin mereka ketawa lagi dengan suara yang lebih kencang minus Yunho tentunya karena orang satu itu pelit ngeluarin suara. Hanya senyum tipis yang bisa dia keluarkan.

Tak berselang, 4 orang Namja itu buru-buru ngambil dompet, jaket dan benda lain lalu bergegas keluar ruangan untuk ngebuntutin Changmin. Bisa saja, kan? Changmin nggak ngelaksanain hukuman tapi malah asyik pergi ke tempat lain.

***

“NGGAK MAU!!!” tolak Jayoung. Dia pun kabur dari ruang tamu, di mana Changmin dan ibunya berada menuju ‘oasis’nya yang damai.

Ibunya sontak ngejar tapi nggak lupa ngegandeng tangan Changmin biar mau ikutan ke kamar Jayoung.

Brakkk!

Jayoung nutup pintu kasar. Ruangan bercahaya lampu minim dengan interiornya yang aneh atau bisa dibilang nyeremin. Menjadi tempatnya biasa ‘berteduh’ setelah melakukan bermacam-macam pekerjaan rumah yang mengharuskan dirinya bertemu dengan banyak orang dan terpapar sinar matahari yang bikin silau—bagi dia.

Brak!

“HYAAA!!!”

Changmin melompat keluar kamar karena kaget dengan penampakan benda-benda menyeramkan yang tergeletak di kamar Jayoung. Baru kali ini dia ngelihat kamar semenyeramkan ini. Bahkan Wahana permainan Rumah Hantu di Lotte World yang pernah dimasukinya kalah seram dibandingkan kamar Jayoung.

“Astaga, Jayoung-ah . Eomma hanya pengen kamu bisa kayak Yeoja normal yang suka shopping, jalan-jalan terus main ke taman hiburan, nggak jadi yeoja horor kayak gini.” Ibunya nyoba ngebujuk dengan nampilin muka melas supaya Jayoung ngerasa bersalah.

“Wah! Kalau aku jual tiket masuk untuk uji nyali di sini bisa laku keras nih!” Changmin yang syoknya sudah hilang malah berbalik jadi natap seluruh isi kamar Jayoung dengan terkagum-kagum. Naluri bisnisnya nongol.

Pletak!

Kepalan tangan melayang indah di kepala Changmin. Dia sudah sukses bikin Ibunya Jayoung tambah gondok. “Bukan saatnya memikirkan itu! Bujuk putriku biar mau pergi!” hardik Ibu Jayoung.

“Ya, maaf, Ahjumma! Maklumlah, saya kan punya bakat bisnis,” jawab Changmin santai sambil ngusap-usap benjol di kepalanya.

***

Cheonggycheon, Myeong-dong, Seoul, Korea Selatan

Akhirnya dengan air mata bombay sang Ibu—yang tak ketinggalan ancaman kalau tak mau pergi, Jayoung akan dipaksa masuk ke kelas menari, perawatan tubuh rutin, dan melakukan hal-hal merepotkan lain—dengan lunglai, Jayoung mau juga keluar rumah. Sekarang mereka sudah sampai di Cheonggycheon. Kawasan di mana ada sungai yang tertata indah dengan taman bunga yang diapit 2 jalan raya. Untung sekarang musim semi jadi bunga sedang bagus-bagusnya pada mekar termasuk bunga mawar merah di depan sana.

Tentunya karena Changmin yang pinter ngegombal alias ngebujuk Ibu Jayoung. Alhasil acara kencannya dengan si gadis aneh penyuka kegelapan itu seratus persen nggak bermodal karena dari rumah Jayoung, Cangmin dapat kartu kredit unlimited yang tinggal gesek.

Eits! Tentunya segala yang gratis itu ada imbal baliknya. Selain ngasih dana kencan, sang ibu yang frustasi itu juga ngasih list ke tempat-tempat yang harus Changmin datangi bareng Jayoung.

Jurus rayuan ala Changmin yang biasanya sukses bikin luluh Siswi-siswi di sekolahnya mulai dilancarkan. “Jayoung, lihat! Mawarnya indah dan wangi ya?” Changmin pun nyoba metik mawar merah sekuntum.

“Iya, semerah darah,” jawab Jayoung asal sambil ngamati mawar merah itu dengan senyuman iblis.

Crasss!

“Aduh!” pekik Changmin ketika tangannya tergores duri mawar yang tajam. Darah pun bercucuran dari jari-jarinya.

Mata Jayoung tiba-tiba berbinar-binar. Wajahnya kelihatan sumringah sambil natap telunjuk Changmin yang berdarah. Sigap,

Jayoung meraih tangan Changmin. “Wah…” Jayoung memegangi punggung tangan Changmin dan tangan satunya mengusap darah yang keluar di permukaan kulit jarinya.

“Hoh… Jayoung ternyata bisa punya ekspresi manis juga, ya?” Jaejoong terpukau.

4 Namja yang mengintip dari balik tanaman merambat memandang adegan manis itu dengan muka berseri-seri. Baru kali ini mereka melihat Jayoung tangkas membantu orang yang terluka. Selama ini mereka lumayan tahu bagaimana Jayoung. Yeoja aneh yang suka hal-hal suram dan horor. Selalu ngomong sedikit tapi jleb! Tajam. Dan benar-benar tak seperti Yeoja kebanyakan.

Srakkk! Brukkk!

“AAA!!!” Teriakan kaget sekaligus kesakitan muncul dari mulut Changmin karena sekarang dengan sukses tubuhnya terkapar di atas tanaman mawar yang berduri. Jayoung lah tersangka yang sudah mendorong tubuh Changmin kelautan duri mawar dengan sadis.

“Hihihi~ Pemandangan yang indah… Rasanya kayak jadi Elisabeth Bathory saja. Hihihi~” Jayoung malah terkikik senang.

4 orang pengintip kencan orang, masih melongo antara tak percaya dan syok berat. Mereka terpaku beberapa saat, setelah otak bekunya mampu menerima peristiwa di luar nalar barusan, barulah mereka bertiga berlari tergopoh-gopoh menolong Changmin yang masih meraung-raung kesakitan dan berusaha bangun dari tempatnya terjatuh. Cukup sulit ternyata untuk bangun dari tumpukan tumbuhan manis nan berbahaya ini karena bajunya nyantol di duri-duri mawar.


“Percuma saja. Percuma melakukan apa pun juga. Kasihan Min-ie jika harus terus jalan-jalan bareng Jayoung.” Junsu berkata dengan lesu.

Changmin yang merasa dibela mulai kembang kempis hidungnya. “Dolphin! Kau memang yang paling pengertian.” Tak segan Changmin meluk Junsu tapi cepat-cepat dipisah Yunho.

“Tetap lanjutkan acara kencan! Aku jadi penasaran kenapa tuh Yeoja jadi sesadis itu.” Yunho berseloroh sambil ngelirik Jayoung yang berjongkok di pinggir sungai, lagi main air.

Ingin rasanya Changmin nonjok Yunho tapi sayang Yunho terlalu nakutin buat dilawan. Dia cuma bisa merengek minta pulang.

“Sudah. Sudah. Aku setuju tuh sama Yunho.” Jaejoong menengahi lalu merampas kertas list dari Ibu Jayoung yang tadi dikasih ke
Changmin. “Min-ie, Ajak Jayoung ke tempat selanjutnya,” perintah Jaejoong.

Changmin memasang puppy eyes biar Jaejoong dan ketiga kawan serumahnya kasihan tapi sayangnya gagal.

***

Pierre Garnaire, Gangnam-gu, Seoul, Korea Selatan

“Aduh!” Jayoung sweatdrop melihat di sekelilingnya semua berkerlip berkilau-kilau. Matanya memicing dan keringat dingin meluncur di keningnya.

“Di sini yang paling terkenal lezat kata si Pelayan tadi itu Cordon bleu. Kau mau pesan itu?” Senyum flamboyan—meski was-was
—terukir manis di bibirnya.

“Min-ie! Aku juga mau dong, Cordon bleu-nya?” Tak jauh dari meja Changmin dan Jayoung, Yoochun ikut-ikutan minta makan dengan nggak elegan.

Pletak!

Garpu yang tergeletak rapi di meja mendarat mulus di kepala Yoochun. Yunho geram melihat teman kampungannya itu. Sedangkan
Changmin yang beda meja dengan mereka berempat, pura-pura nggak kenal dan bertampang sok cool. Dalam hati dia merutuki nasib
kenapa punya teman senorak Yoochun.


59 menit 59 detik kemudian…

Keringat sejagung-jagung Jayoung makin deras mengalir dan akhirnya karena nggak tahan lagi dengan silaunya tempat di mana dia berada. Jayoung pun meraih gorden yang menempel apik di jendela besar Restoran dan...

Brettt!

Jayoung menarik gorden itu sekuat tenaga. Dipakainya gorden itu untuk menutupi seluruh tubuhnya yang berbalut gaun tanpa lengan warna pastel—tadi sempat pulang dan dipaksa ganti gaun sama ibunya—sampai ke mukanya.

“NO-NONAAA!!!” pekik salah seorang Pelayan. Changmin dan 4 namja lain melotot bin melongo melihat fenomena ganjil yang kembali
terulang.

“Anu, Ja-Jayoung… An-anu…” Changmin mulai panik. Selanjutnya sibuk meminta maaf pada Manajer Restoran yang datang dengan muka begis. Pengunjung lain ada yang terkikik geli, menatap horor penampakan Jayoung yang beraura gelap nan seram dan ada yang terpana tak berkedip sejak tadi melihat beberapa namja yang tampan dan keren.

“Nggak tahan! Nggak tahan! Pengen pulang!” Jayoung ngedumel sendiri sambil melangkah keluar dari Restoran.

***

“Sudah! Kita pulang saja! Sudah capek hati tahu ngeliat kelakuan aneh Jayoung!” keluh Jaejoong yang jadi juru bicara dari isi hati yang lain kecuali Yunho.

Dia malah merasa Jayoung itu unik dan lumayan merasa geli. Tak pernah sekalipun dalam 22 tahun hidupnya dia menemui Yeoja ‘sekeren’ Jayoung. Tapi sayangnya Yunho terlalu gengsi bilang, jadi teman-temannya menganggap Yunho sepemikiran dengan mereka.

“Hei, bukan kah list-nya masih belum semuanya dilaksanakan?” Yunho Angkat bicara. Semua serempak menatap Yunho aneh karena
wejahnya tak seekspresi dengan mereka. Wajah itu nampak tersenyum tipis.

“Hyung mau meneruskan? Nih, kartu kredit-nya.”

“Kami pulang ya. Jaga si Alien itu baik-baik!”

Yunho hanya tersenyum miring mendengar celotehan teman-temannya sebelum berjalan ke halte bus terdekat.


“Nonton film drama? Ngebosenin.” Yunho sibuk membaca secarik kertas di tangannya. Sejenak dia lupa keberadaan Jayoung yang
menjauh karena tertarik dengan poster pilm ‘Puss in Boots’. Begitu sadar, Yunho celingukan mencari Jayoung.

“Wah! Pilmnya seru tuh kayaknya.” Yunho yang mendekat tanpa Jayoung sadari dan tiba-tiba ngomong berhasil bikin Jayoung kaget.
Spontan dia membalik badan dan tak sengaja malah nabrak dada Yunho. “Ayo. Puss on Boots!” Ajak Yunho sambil ngegandeng tangan Jayoung erat.

Waktu berlalu tanpa terasa. Mereka berdua menyusuri trotoar, jalan pelan-pelan. Yunho seperti tak mau melepas genggaman tangannya pada Jayoung. Padahal Yeoja itu sejak keluar dari gedung bioskop merasa risih tapi tak cukup punya keberanian uat narik keras tangannya. Serasa ada sesuatu dalam dirinya yang bikin dia tak mampu untuk menolak perlakuan Yunho.

“Emmm...” Jayoung bergumam tak jelas. Mencari ancang-ancang untuk bicara tapi tak juga bisa ngomongin apa yang lewat di benaknya dan sudah mendesak sejak tadi untuk diungkapkan.

Yunho tak menoleh. Wajahnya tetap lurus mandangin apa yang terhampar di depannya. “Kalau mau mengatakan sesuatu, katakan saja,” ucapnya seolah tahu bahwa ada hal yang ingin Jayoung bicarakan.

“Em... It-itu... yang tadi... Si Puss itu...” Kegugupan melanda. Mulut Jayoung seperti kena lem super anti badai.

Kaki Yunho berhenti melangkah, alhasil Jayoung yang terus berjalan nunduk nubruk punggung tegap itu. “Aish!” Jayoung mundur selangkah. Pengennya sih mundur berlangkah-langkah tapi apa daya tangannya terbelenggu gitu.

“Ah, kau lapar tidak? Kita makan dulu, oke?” Yunho menggoncang-goncang gandengan tangan itu seraya tersenyum ramah.

Jayoung hanya diam, melirik sekilas lalu kembali natap aspal.

“Tenang. Aku tak seperti Changmin yang mata duitan, kok. Aku yang traktir. Kartu kredit punya Eomma-mu tak kupakai secuil pun.
Ayo!” Ditariknya kencang tangan Jayoung. Tak lama masuklah mereka ke sebuah warung Bulgogi .

“Eh? Tapi—” Jayoung mencoba nolak tapi tenaganya kalah jauh dari Yunho.

“Karena kita sama-sama sudah kenyang. Ayo, kau mau ngomong apa, hm?” Yunho yang kesehariannya jarang tersenyum, seharian tadi entah kenapa sering tebar senyuman lembut pada Jayoung.

Hening. Jayoung hanya nunduk kayak biasa.

“Baiklah, kalau kau tak mau bicara.” Yang tadi bertopang dagu kini kembali nyandarin tubuhnya ke sandaran kursi. “Aku tahu semua tentangmu jadi karena itulah aku tak begitu heran, kau malah memilih menonton ‘Puss in Boots’ ketimbang pilm horor. Itu kan yang mau kau tanyakan?”

Jayoung ngangguk gamang. Matanya mulai berani menatap Yunho.

“Tahu tidak? Selama ini aku memperhatikanmu. Kau itu gadis teraneh yang pernah aku kenal. Suka hal-hal horor, selalu memasang raut menyeramkan tapi di balik itu, kau berubah lembut ketika merasa iba melihat kucing yang terluka di pinggir jalan.”

Ja Young langsung melotot kaget. “Kenapa kau tahu soal kucing?” tanyanya lancar selancar seluncuran anak TK.

“Beberapa minggu lalu kau duduk berjongkok di pinggir jalan membantu kucing yang masuk selokan, kan? Aku mulai penasaran padamu sejak itu. Ternyata setelah tahu banyak hal tentangmu. Kau tak semenakutkan apa yang selalu nampak. Kau menyukai kucing, tapi
karena Eomma-mu alergi kucing kau tak bisa memeliharanya. Wajah galak yang terpampang dan hal-hal menyeramkan yang kau suka itu sebenarnya hanya kamuflase, kan? Aku juga tahu itu.” Yunho mendekatkan wajahnya ke arah Jayoung tapi Jayoung malah mundurin wajah. Jantungnya berdetak tak beraturan. Rasanya dia seperti tersanjung karena ada yang tahu sedetail itu tentang dirinya.

Tapi... Kamuflase?

“Kenapa ka-kau bilang kamuflase?”

“Eomma-mu pernah cerita kalau kau berubah begini sejak Eonni-mu yang kau anggap cantik sempurna dan selalu kau idolakan itu meninggal. Kau takut pada semua Namja karena Eonni-mu meninggal karena disakiti oleh namja. Benar, kan?” Yunho mengulurkan tangan lalu meraih tangan Jayoung. “Percayalah, tak semua namja itu jahat. Kalau ada yang menjahatimu kelak, bilang saja padaku. Aku akan melindungimu.” Matanya menatap lekat Jayoung. Berusaha mengalirkan kehangatan dan melunakkan hatinya yang sudah beku.

Tanpa Jayoung sadari, matanya mulai ngabur perlahan. Cairan hangat menggenang lalu mengalir, membuatnya langsung nunduk karena merasa malu ketahuan nangis di depan Yunho.

“Hei, menangislah. Mungkin dengan begitu rasa sakitmu selama ini bisa hilang. Tapi setelah kuharap kau kembali pada dirimu yang dulu. Oke?” Diusap-usapnya puncak kepala Jayoung penuh sayang. Alhasil Jayoung nangis makin keras.

***

Beberapa hari kemudian...

“Hei, hyung. Kok bisa sih kau menaklukkan Yeoja horor itu?” Junsu bertanya penasaran.
Yunho malah mendelik. “Hei, namanya Jayoung. Mengerti?!”
Seketika Junsu mengangguk takut.

“Wah... Kalau tahu Jayoung aslinya cantik begitu sudah kudekati dia dari dulu.” Changmin menatap keluar jendela dengan sorot berbinar.

Plak!

“Auw!”

Yunho tanpa aba-aba ngejitak kepala Changmin. “Kau dekati dia, awas kau!”

“Ampun, hyung.” Changmin mengusap-usap kepalanya seraya meringis.

“Anyway, thanks ya, Yun-ie. Berkat kau biaya sewa kita gratis sebulan.” Jaejoong merangkul Yunho sambil cengar cengir. Yoochun
yang sibuk ngemil sambil nonton Televisi mengangguk setuju.

“Siapa bilang gratis? Aku menolak penggratisan itu. Aku tak mau dibilang mendekati Jayoung karena ada maksud terselubung.
Mengerti?” Yunho berkacak pinggang.

Yoochun seketika langsung tersedak, “Tap-tapi, hyung?”

“Sudah, ah! Aku mau berkencan dulu dengan Yeoja-ku Min Jayoung,” pamer Yunho lalu melangkah keluar rumah.

“Hyung, tapi aku sudah terlanjur menghabiskan uangku, hyung.” Yoochun melanjutkan kata-kata yang terpotong.

“Betul, hyung!” Yang lainnya kompak memprotes.

“Bukan urusanku!”

Brak! Yunho menutup pintu keras.

End